
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Ctas! Ctas! Ctas …!
Lecutan-lecutan rapat lagi cepat dilakukan oleh Gadra mengincar tubuh Bagang Kala yang bergerak cepat mengelak ke sana dan ke mari, membuat Gadra kian gusar.
Karena tidak kunjung bisa menjamah tubuh lawannya di depan tontonan calon istrinya, Gadra terpaksa mengeluarkan kesaktian tertingginya, yaitu Cambukan Neraka.
Cambuk birunya kini terbakar api biru. Sebagai putra seorang ketua Perguruan Cambuk Neraka, Gadra pastinya memiliki kesaktian yang bukan sekedar buat petantang-petenteng.
Namun, Gadra tidak pura-pura tidak tahu bahwa sehebat apa pun kesaktian cambuknya, tapi jika cambuknya tidak bisa menyentuh lawan, sama saja bohong.
Anik Remas yang sudah kadung memuja pengawal pribadinya itu hanya tersenyum lebar melihat Gadra yang sombong bisa mengalami kesusahan.
Ctas! Ctas! Ctas!
Ketika cambuk Gadra menghantam tanah, tanah itu terbakar cepat dan hangus. Ketika menghantam batang pohon, maka batang pohon itu terbakar sejenak lalu menyisakan bara yang menyala. Apalah jadinya jika kulit dan daging yang terkena Cambukan Neraka itu.
Wuss!
Giliran Bagang Kala beraksi. Ia melepaskan ilmu Angin Gulung Lembah.
Segulung angin yang tidak terlihat tapi bisa dirasakan, menderu di permukaan tanah dan menghempas hanya kaki Gadra. Hempasan angin yang seperti sepakan kaki raksasa itu membuat kedua kaki Gadra terangkat dan badan atasnya justru terbanting ke tanah.
Bdak!
“Akk!” jerit Gadra.
Namun, buru-buru Gadra bergerak bangkit.
“Angin Bumi!” teriak Bagang Kala seperti jagoan manga sambil menghentakkan sepasang lengannya ke arah tanah.
Wuss!
Satu gelombang angin keras berhembus menghantam tanah lalu memantul ke atas yang juga mengangkat tubuh Gadra ke udara.
Gandra yang terangkat jadi tidak bisa menguasai dirinya.
“Matilah kau, Lelaki Biadab!” teriak Bagang Kala terdengar sangat marah, sambil mengayunkan kedua tangannya bergantian melepas ilmu Angin Setajam Lidah.
__ADS_1
West! Set set!
“Aakkh!” jerit Gadra ketika dua gelombang angin setajam pedang menebas betis kanannya hingga putus dan perutnya hingga robek lebar.
Terkejutlah Lirih Lambai, Anik Remas, Gelisa dan Kelakar melihat kemarahan Bagang Kala yang bagi mereka terlalu berlebihan. Seharusnya Bagang Kala tidak sampai sejauh itu menghajar Gadra, jika ia hanya marah karena kekasaran Gadra kepada calon istrinya.
Namun, meski terkejut, tetapi Anik Remas selaku pemimpin, tidak berusaha menghentikan Bagang Kala. Berbeda dengan Lirih Lambai yang takut akan terjadi masalah yang lebih besar dan fatal.
“Kisanak, hentikan! Perbuatanmu cukup berlebihan!” teriak Lirih Lambai karena sudah melihat kaki kekasihnya putus satu dan isi perutnya melongok hendak muntah.
Gadra jatuh dengan sudah tidak memiliki peluang keberuntungan.
Namun, sepertinya Bagang Kala tidak peduli dengan teriakan si gadis cantik itu. Dia cepat menghampiri Gadra yang mengerang-ngerang seperti tarikan gas knalpot di bengkel, sambil kedua tangannya membekapi robekan lebar pada perutnya yang sudah banjir darah. Gadra sudah tidak bisa bangun.
Dengan kasar, Bagang Kala menjenggut rambut keriting Gadra dan sedikit menarik kepala salah satu orang yang telah membunuh kedua orangtuanya.
“Kau tahu siapa aku, Keparat?” tanya Bagang Kala yang membungkuk berbisik kepada Gadra.
Lelaki yang sedang meregang nyawa itu hanya mendelik dengan bibir bergetar menahan rasa sakit yang teramat sangat.
“Aku adalah anak dari Ki Balang yang kalian bunuh. Aku adalah adik dari Juminah yang kalian perkosa beramai-ramai lima belas tahun lalu!” bisik Bagang Kala yang samar-samar bisa didengar oleh Anik Remas.
Ketua Empat Perguruan Cambuk Neraka itu jadi memandang Bagang Kala dengan serius.
Ctas!
Satu deraan cambuk si gadis mendarat di punggung Bagang Kala, sampai-sampai punggung baju pemuda itu robek memanjang.
Bagang Kala hanya tersentak kecil saat cambukan mendera punggungnya. Ia menengok kepada Lirih Lambai di belakangnya dengan tetap memegangi rambut Gadra.
“Lepaskan dia, Kisanak!” perintah Lirih Lambai.
“Lelaki ini bukan calon suami yang baik bagimu, Nisanak. Kau akan menyesal jika hidup bersamanya,” kata Bagang Kala yang membuat si gadis terdiam.
Krek!
“Kakang Gadra!” pekik Lirih Lambai saat tiba-tiba Bagang Kala melesatkan tinju kanannya ke batang leher Gadra.
Terdengar jelas suara tulang remuk, yaitu tulang leher Gadra. Maka saat itu juga, tewaslah Gadra.
Bagang Kala melepaskan rambut Gadra, membuat musuhnya itu terkulai jatuh ke tanah. Sementara Lirih Lambai terdiam dalam berdirinya. Sepertinya dia syok.
__ADS_1
Sebenarnya dia tidak terlalu suka kepada Gadra, dia hanya menuruti keinginan orangtua yang menjodohkannya. Namun demikian, kematian Gadra tetap membuatnya terkejut dan merasa terpukul, bagaimanapun, lelaki yang jauh lebih tua darinya itu adalah calon suaminya.
“Jika lelaki itu adalah pembunuh ayah dan ibumu, apa yang akan kau lakukan kepadanya, Nisanak?” tanya Bagang Kala kepada Lirih Lambai.
“Aku … aku akan … aku akan membunuhnya,” jawab Lirih Lambai pelan dan terputus-putus seperti sinyal di dalam hutan.
“Itulah yang aku lakukan,” tandas Bagang Kala yang memberanikan diri untuk mengungkapkan alasan di balik pembunuhannya. Baginya, butuh keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya di depan wanita, apalagi wanita itu pakai cantik.
Anik Remas yang mendengar perkataan pengawalnya itu, jadi mengerti kenapa Bagang Kala sangat ingin mencelakai Gadra. Bukan karena berebut gunung atau lembah, tetapi karena ada cerita pahit di masa lalu Bagang Kala yang terkait dengan Gadra.
Baru saja Bagang Kala hendak meninggalkan Lirih Lambai, dari kejauhan muncul rombongan berkuda Ketua Lima, ayah dari Lirih Lambai. Selain murid-murid perguruan yang berseragam biru terang, ikut pula Suwirak yang berseragam kuning.
Tidak elok jika Bagang Kala harus buru-buru pergi meninggalkan sepasang kekasih itu, ia memilih diam menunggu tibanya rombongan Ketua Lima. Jika harus bertanggung jawab atas kematian Gadra, maka Bagang Kala tidak akan lari sebagai seorang pengecut.
Mereka semua memandang kepada kedatangan kereta kuda yang semakin waktu berputar, semakin dekat kepada mereka.
Akhirnya rombongan itupun tiba dengan menunjukkan wajah-wajah terkejut karena mereka melihat dengan jelas mayat Gadra.
“Apa yang terjadi di sini, Ketua Empat?” tanya Ketua Lima Sarang Asugara langsung kepada Anik Remas. Ekspresinya menunjukkan kemarahan.
“Aku mengizinkan pengawalku untuk membunuh lelaki keparat itu,” jawab Anik Remas lantang membela Bagang Kala, seolah tanpa beban menggantung.
Pembelaan yang ditunjukkan oleh majikannya membuat Bagang Kala terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Anik Remas yang merupakan salah satu ketua Perguruan Cambuk Neraka justru membelanya.
Awalnya, Bagang Kala sudah siap menjadi musuh bersama bagi semua ketua Perguruan Cambuk Neraka. Emosinya yang tersulut karena marah melihat kelakuan kasar Gadra, membuatnya sudah pasrah jika dia kemudian ternyata salah perhitungan dan strategi.
“Kenapa Ketua Empat lakukan itu? Gadra ini putra Ketua Dua,” protes Suwirak pula.
“Aku tanya kepada Ketua Lima dan kau, Suwirak. Jika Gadra itu adalah orang yang membunuh istri dan anak kalian, apa yang akan kalian lakukan kepadanya?” tanya Anik Remas.
Sarang Asugara dan Suwirak tidak langsung menjawab meski mereka tahu jawabannya, karena itu memang bukan sedang lomba cerdas cermat.
“Aku akan membunuhnya sebagai balas dendam,” jawab Suwirak di saat Sarang Asugara memilih tidak menjawab.
“Seperti itulah yang dilakukan oleh pengawalku. Aku yang bertanggung jawab atas kematian Gadra. Jika memang harus bertarung mati melawan Tolak Berang, akan aku ladeni!” tandas Anik Remas yang pasang dada demi pemuda yang dia senangi.
Bagang Kala jadi memandangi janda cantik itu tanpa berkedip. Ia sungguh tidak menyangka bahwa Anik Remas memilih siap berseteru dengan keluarga besarnya sendiri hanya karena membelanya.
“Bagang Kala, ayo kita lanjutkan perjalanan. Urusan lelaki mati itu biarkan Ketua Lima yang membawanya pulang!” seru Anik Remas kepada pengawalnya.
Bagang Kala pun berjalan ke kereta dan naik duduk di sisi Kelakar, kusir kereta kuda.
__ADS_1
“Berangkat!” perintah Anik Remas. (RH)