Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pas Buyar 23: Pengkhianat VS Senopati


__ADS_3

*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)* 


 


“Jika Adi Senopati bertemu dengan Komandan Kumbang Draga dalam perjalanan, berhati-hatilah kepadanya. Aku ada dugaan, kepergian Gusti Ratu mungkin juga bermaksud menghindari para pengawalnya sendiri.”


Itulah pesan lain yang Mahapatih Duri Manggala sampaikan kepada Senopati Beling Tuwak. Sebagai mantan seorang senopati dan juga mantan tokoh pendukung pemberontak, Mahapatih Duri Manggala sangat mengenal karakter-karakter yang dimiliki oleh seorang tokoh pemberontak. Dan dia ada melihat gelagat pada sikap Komandan Kumbang Draga.


“Mungkin kau lupa atau memang tidak tahu bahwa Gusti Mahapatih adalah seorang tokoh pemberontak di masa lalu. Jadi dia bisa mengenali cara-cara adu domba yang kalian perbuat dan sekaligus mengenali gerak-gerik seorang pengkhianat,” kata Senopati Beling Tuwak kepada Komandan Kumbang Draga yang kini seorang diri berhadapan dengannya.


“Meskipun aku mati hari ini, kalian tidak akan bisa menyelamatkan Ratu Wilasin. Para pembunuh bayaran beramai-ramai mengejarnya. Dan kalian akan terlambat, Senopati. Apalagi Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas mengejarnya,” kata Kumbang Draga.


Cukup terkejut Beling Tuwak mendengar nama Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas disebut. Sebagai mantan seorang pendekar bebas, Beling Tuwak sangat tahu siapa itu Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas. Bahkan dia pernah melihat kemunculan Pembunuh Pertama.


“Jikapun Gusti Ratu berhasil kalian bunuh, maka kematianmu akan membuatmu tidak akan merasakan untung!” tandas Beling Tuwak. “Ambil pedangmu. Kita bertarung secara ksatria!”


Memang, saat itu Kumbang Draga tidak bersenjata, sebab pedangnya tadi dia lesatkan yang kemudian gagal mengeksekusi Beling Tuwak.


“Baik. Jangan menyesal jika kau nanti justru mati di pedangku!” desis Kumbang Draga.


Kumbang Draga lalu berjalan mendekati posisi pedangnya yang tergeletak di tanah berumput. Sementara beberapa prajurit bawahan Beling Tuwak tetap berdiri dalam siaga, siap setiap saat jika tiba-tiba ada perintah.


Tap!


Tanpa membungkuk, Kumbang Tuwak mengarahkan tangan kanannya kepada pedang. Senjata itu melesat naik menempel sendiri ke genggaman Kumbang Draga, seolah-olah ada magnet besar di tangannya.


“Hiaaat!” teriak keras Kumbang Draga sambil melompat mundur jauh dengan tubuh berbalik dan pedang terangkat tinggi. Meski mundur, tapi lompatan itu langsung mengarah kepada Beling Tuwak dan pedangnya menyala kuning seperti bara api.


Ting! Paks!


Dengan kerisnya, Beling Tuwak menangkis bacokan pedang yang mengincar kepalanya. Sementara tangan kiri meluruk masuk mengincar perut lawannya. Namun, Kumbang Draga sudah siap, sehingga telapak tangan kirinya juga sudah siap berbekal pukulan.


Meski agak tertekan oleh bacokan pedang yang bertenaga dalam tinggi, bahkan percikan kembang api mengenai wajahnya yang memaksa matanya agak menyipit, Beling Tuwak masih bisa beradu pukulan.


Beling Tuwak terdorong dua tindak dan nyaris jatuh terduduk. Sementara Kumbang Draga terdorong di udara, tapi bisa mendarat meski juga terhuyung.


Selanjutnya, kedua perwira itu kembali mengokohkan kuda-kudanya.


“Hiaaat!” teriak Kumbang Draga keras sambil kembali menyerang lebih dulu dengan jurus pedang yang garang.


Tang tang tang! Set!


Kumbang Draga membacokkan pedangnya dengan sekeras mungkin berulang-ulang, seperti tidak sedang bermain jurus, tetapi seperti orang mengamuk.

__ADS_1


Beling Tuwak berulang kali pula menangkis dengan kerisnya, sampai-sampai tangan kanan senopati itu gemetar menahan kuatnya pedang lawan membacok. Detik berikutnya, dia memundurkan perutnya menghindari sabetan pedang yang berganti arah.


Kumbang Draga yang bertarung seperti orang kesurupan, ternyata membuat Beling Tuwak agak keteteran. Sebelum ada serangan pedang yang masuk ke tubuhnya, Beling Tuwak memilih melakukan sesuatu.


Ting! Bress!


Sambil menangkis serangan pedang lawan, Beling Tuwak memunculkan sinar putih pada ujung-ujung jari tangan kirinya, tapi hanya sekelipan saja.


Namun, munculnya sinar-sinar kecil itu membuat Kumbang Draga terpaksa menahan serangannya untuk berjaga dari serangan tidak terduga.


Tertahannya serangan Kumbang Draga membuat Beling Tuwak cepat maju merapatkan diri kepada Kumbang Draga, sambil kerisnya dipindahkan ke tangan kiri. Tangan kanannya yang masih gemetar tidak akan maksimal jika dipakai menyerang.


Gilirang Beling Tuwak yang mengagresi Kumbang Draga dengan pertarungan jarak rapat. Seperti sedang berada di gang senggol yang sempit, keduanya bertarung bahkan saling tempel lengan, dada dan bokong. Jangan dipikirkan bagaimana cara bertarungnya.


Berdasarkan jenis senjatanya, pertarungan rapat itu merugikan Kumbang Draga yang membuat pedangnya tidak seluwes keris Beling Tuwak. Namun, ketika dia ingin membuat jarak, tarikan tangan kanan Beling Tuwak membuatnya gagal menciptakan jarak.


Tang tang seek! Tang tang seek!


Begitulah kira-kira bunyi peraduan pelan kedua senjata dan saling bergesek hanya satu jengkal dari wajah.


Set!


“Akk!” jerit Kumbang Draga saat bahu kanannya tersayat keris Beling Tuwak.


Set! Dak!


Paks! Zerzzz!


Set! Blar!


Telapak tangan Beling Tuwak melesat maju, demikian pula telapak tangan kiri Kumbang Draga. Dua pukulan bertenaga dalam tinggi itu saling bertemu dan saling dorong. Kedua pukulan kemudian saling mengeluarkan sinar kesaktian. Beling Tuwak mengeluarkan aliran listrik sinar hijau, sementara Kumbang Draga mengeluarkan pendaran sinar merah.


Masa adu kesaktian itu Beling Tuwak manfaatkan dengan serangan tangan kiri yang menusukkan keris ke arah dada lawan. Tidak mau mati oleh keris, Kumbang Draga cepat meledakkan tenaga saktinya.


Ledakan tenaga tercipta yang mementalkan keduanya dan jatuh dengan gaya berbeda. Beling Tuwak harus kehilangan kerisnya yang terpental ke tempat yang gelap. Sementara Kumbang Draga masih menggenggam pedangnya.


Sambil mengerenyit menahan rasa sakit pada lengan hingga dadanya, Beling Tuwak segera bangkit. Kumbang Draga pun segera bangkit, juga dengan wajah yang mengerenyit. Ia kembali menyalakan pedangnya.


Beling Tuwak tidak mencari kerisnya, tetapi dia mencabut serulingnya yang selalu diselipkan di lengan kanannya.


Selama menjabat di kerajaan yang sama, Kumbang Draga belum pernah melihat Beling Tuwak menggunakan seruling sebagai senjata. Namun demikian, espektasinya jauh lebih berbahaya tentang seruling itu. Karena itulah dia memilih membuang pedangnya begitu saja ke tanah, lalu ia melakukan gerakan khusus yang bertenaga.


Bsezz!

__ADS_1


Tiba-tiba kedua lengan Kumbang Draga diliputi sinar kuning terang seperti lilitan ular.


Fiuu fiuu fut fut …!


Di sisi lain, Beling Tuwak mulai memainkan serulingnya dengan irama tiupan beritme cepat, seperti omelan emak-emak cerewet. Meski demikian, alunannya tetap terdengar merdu, tetapi mengandung selipan nada-nada horor.


Kumbang Draga sempat menunggu reaksi dirinya saat mendengar irama seruling itu. Namun, karena mendengar irama seruling malam itu tidak membuatnya pusing, mual-mual, atau buang-buang air, dia memutuskan untuk melesat maju menyerang dengan kedua tangan menghentak.


Surzzz!


Fut! Huwarsss!


Dua gulungan spiral sinar kuning terang seperti pegas melesat cepat menyerang sang senopati.


Pada saat yang bersamaan pula, sambil melesat mundur, Beling Tuwak membunyikan satu tiupan pendek tapi kencang. Tiba-tiba dari dalam seruling itu muncul sinar biru besar yang bergerak sangat cepat berwujud kepala macan yang mengaum.


Sinar biru kepala macan langsung menerkam dua sinar kuning terang yang mengejar pergerakan tubuh Beling Tuwak.


Brassr!


Kumbang Draga tidak sempat menjerit terkejut saat melihat sinar biru besar itu menelan dua sinar kesaktiannya, lalu menerkam dirinya. Terkaman sinar biru kepala macan itu melemparkan tubuh Kumbang Draga jauh ke belakang.


Bduk!


Kumbang Draga jatuh keras di tanah berumput.


“Aaak!” Barulah Kumbang Draga mengerang kesakitan sambil menggeliat seperti orang yang persendiannya disegel semua. Gerakannya berat.


Namun yang jadi masalah, tubuh Kumbang Draga sudah mengepulkan asap tipis. Cahaya dua obor masih bisa menerangi kondisi tubuh Kumbang Draga yang mengalami luka bakar sembilan puluh persen. Mungkin hanya bagian tubuh yang terlipat yang tidak terbakar oleh ilmu Seruling Macan Panas Beling Tuwak.


“Air …!” erang Kumbang Draga lirih, tapi masih terdengar oleh Beling Tuwak dan para prajuritnya.


Beling Tuwak berjalan mendekati Kumbang Draga yang memang sudah tidak bisa berbuat banyak karena memang sedang menjelang kematian.


“Siapa dalang dari pengkhianatan kalian?” tanya Beling Tuwak kepada Kumbang Draga. “Berbuat baiklah di ujung hayatmu, Komandan. Mungkin saja itu bisa membuatmu masuk nirwana.”


“Air … air …!” sebut Kumbang Draga tambah kencang dari sebelumnya. Ia tidak mengindahkan perkataan sang senopati.


Kumbang Draga sudah berada di ambang kematian. Pandangannya sudah hilang dan pendengarannya sudah raib. Hanya rasa panas dia rasakan yang begitu menyiksa jiwanya.


“Ambilkan air!” perintah Beling Tuwak.


“Baik, Gusti!” sahut seorang prajurit.

__ADS_1


Satu prajurit segera pergi ke sungai yang tidak jauh. Dengan menggunakan cekungan potongan kayu, prajurit itu datang membawa air sungai.


Namun sayang, Kumbang Draga sudah tidak minta air karena dia sudah berakhir di alam dunia ini. (RH)


__ADS_2