
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Empat Bunuh Lima adalah pertandingan penerbang skala kecil di mana tim tuan rumah terdiri dari lima penerbang dan tim tamu empat penerbang. Kali ini yang menjadi tamu adalah Arda Handara dan yang menjadi tuan rumah adalah Pasukan Domba Merah yang dikapteni oleh Jangka Kolor.
Sebagai tamu, Arda Handara diizinkan menunjuk tiga rekan lainnya dari Pasukan Domba Merah, selain Jangka Kolor. Tanpa sungkan dan malu, Arda Handara memilih Sanda Kolot sebagai rekan pertamanya. Hal itu membuat anggota Pasukan Domba Merah jadi dongkol, terutama Jangka Kolor, tetapi kekesalan itu mereka harus pendam di dalam dada.
Sebagai tanda bahwa ia adalah anak lelaki yang tampan, Arda Handara juga menunjuk Mini Menor ke dalam timnya. Dan yang satu lagi adalah si cebol yang suka tertawa, yaitu Cumi Bentol.
Sebelum pertandingan dimulai, kedua tim diberi waktu sebentar untuk menyusun strategi tempur di udara.
Keberadaan Sanda Kolot dan Mini Menor yang berbibir agak monyong tapi semarak berwarna merah, membuat Arda Handara sangat bersemangat.
“Karna ada dua anak cantik di dalam kelompokku, aku harus membuktikan bahwa aku adalah anak yang pintar,” ujar Arda Handara saat sesi briefing.
“Aku jadi penasaran ingin pembuktian,” timpal Sanda Kolot dengan lirikan yang indah.
“Tapi kalian harus ikuti perintahku,” tandas Arda Handara.
“Baik, karena saat ini kaulah kapten kami,” kata Sanda Kolot.
“Dengarkan taktikku. Sanda Kolot dan Mini Menor harus terbang di depan berdampingan. Jangan jauh-jauh. Cumi Bentol terbang jauh di samping memutari lapangan. Harus terbang sekencang-kencangnya. Nah, serang kelompok mereka dari belakang. Sedangkan aku akan terbang di belakang Sanda Kolot dan Mini Menor untuk berlindung,” papar Arda Handara.
Kalimat akhir Arda Handara justru membuat ketiga rekannya terkejut.
“Hah! Kau berlindung di belakang dua wanita?” tanya Cumi Bentol. “Kau kapten saat ini. Sangat memalukan jika terbang di belakang bokong Sanda dan Mini.”
“Hahahak!” Arda Handara malah tertawa yang membuat ketiga rekan barunya itu dongkol. Lalu katanya, “Aku kapten, jadi kalian harus patuh. Hahaha!”
Setelah rembukan, kedua tim siap mulai bertanding. Tim Empat telah siap di ujung kanan lalat dan Tim Lima siap di ujung kiri lalat. Masing-masing penerbang sudah menjepit tongkat penerbangnya dengan kedua paha. Mereka berbekal senjata empat bola, terdiri dari dua bola hijau dan dua bola merah. Tidak ada bola emas. Bola emas hanya boleh dipakai dalam latihan khusus atau dalam pertandingan resmi.
Sementara itu, Eyang Hagara duduk santai di tribun sisi kanan. Pelatih Banik Terong berdiri di sisinya dan akan bertindak sebagai hakim.
“Kedua pasukan bersiaaap!” teriak Banik Terong keras dan panjang.
Jangka Kolor mengangkat kepalan tangan kanannya, tanda bahwa timnya sudah siap.
Banik Terong lalu memandang kepada Tim Empat.
__ADS_1
“Arda, lakukan seperti yang dilakukan Kolor,” kata Cumi Bentol.
“Iya,” jawab Arda Handara, lalu segera mengangkat tangan kanannya dengan jari-jari mengepal.
“Tiga! Enam! Sembilaaan!” teriak Banik Terong kencang.
“Hahaha!” tawa Arda Handara mendengar hitungan tersebut.
Di saat Arda Handara tertawa, ketiga rekannya langsung melesat terbang mengudara. Di seberang sana, lima penerbang yang dipimpin oleh Jangka Kolor juga telah terbang.
Buru-buru Arda Handara menyusul terbang.
Sesuai taktik yang diatur oleh Arda Handara, Sanda Kolot dan Mini Menor terbang cepat berdampingan menuju udara tengah lalat. Keduanya siap menyongsong serbuan Tim Lima yang jumlahnya satu lebih banyak. Sementara Cumi Bentol langsung terbang berpisah jauh ke samping.
Arda Handara benar-benar melakukan rencananya dengan terbang di belakang kedua penerbang wanita itu.
“Anak pengecut!” maki Jangka Kolor saat mengetahui bahwa Arda Handara terbang di belakang Sanda Kolot dan Mini Menor.
Jika Arda Handara sekedar terbang di posisi itu murni sebagai formasi, mungkin masih bisa dipahami. Namun, terlihat sekali bahwa dia terbang dan berusaha bersembunyi dari pandangan lawan yang datang dari depan.
Tanpa menyahut lagi, penerbang Kucang Tongol dan Balak Molor memisahkan diri dari rombongan untuk memburu Cumi Bentol yang terbang begitu kencang di pinggiran.
Jangka Kolor, Talang Jenglot dan Greges Epot telah mendekati Sanda Kolot dan Mini Menor dengan tangan telah menggenggam satu bola merah yang siap dilemparkan kepada lawan.
Sanda Kolot dan Mini Menor juga telah menggenggam bola merah.
“Kolor! Apa kau sungguh-sungguh ingin melempar Sanda Kolot?” teriak Talang Jenglot kepada Jangka Kolor. Justru dia yang agak panik.
Ternyata, pertanyaan Talang Jenglot mempengaruhi pikiran Jangka Kolor. Pikirannya membenarkan pertanyaan rekannya itu. Begitu tega rasanya jika dia menghantam wajah jelita Sanda Kolot dengan bola keras itu.
Tidak ada waktu untuk berpikir lama bagi Jangka Kolor, dia harus langsung mengambil keputusan, apakah akan melempar Sanda Kolot dan Mini Menor atau tidak sama sekali.
Karena tokoh utama yang ingin mereka incar berada di belakang kedua wanita cebol itu, Jangka Kolor akhirnya memutuskan naik ke atas, ke posisi yang lebih tinggi dari semuanya. Dengan naik ke atas, Jangka Kolor bisa dengan leluasa melihat keberadaan Arda Handara.
Arda Handara terkesiap melihat Jangka Kolor terbang naik.
Pada saat yang sama, Greges Epot yang tidak mau bersifat sayang, mengayunkan tangan kanannya untuk melempar Mini Menor. Dia tidak sayang untuk melukai Mini Menor yang memang kecantikannya tidak sebanding dengan Sanda Kolot.
__ADS_1
Sementara Talang Jenglot tidak melakukan gerakan melempar, dia menahan bolanya dalam genggaman. Dia akan berhadapan langsung dengan Sanda Kolot.
Di atas, Jangka Kolor juga mengayunkan tangannya untuk melempar Arda Handara dari atas.
“Buka jalaaan!” teriak Arda Handara kencang di tengah kondisi Tim Lima di atas angin.
Teriakan Arda Handara itu cepat ditindaklanjuti oleh Sanda Kolot dan Mini Menor. Kedua wanita itu cepat terbang berbelok ke kanan dan ke kiri membuka jalan bagi Arda Handara di belakang.
Ketika kedua penerbang wanita cebol itu berbelok, terjadi tiga serangan yang bersamaan dengan target yang berbeda.
Greges Epot melempari Mini Menor yang bisa menghindar dengan cara berbelok ke kiri.
Sementara Sanda Kolot terbang ke kanan meninggalkan Talang Jenglot yang memilih menahan serangan. Namun, Talang Jenglot yang bersikap sayang, justru tidak membuat Sanda Kolot bersikap sama. Sanda Kolot terbang berbelok sambil melempar Talang Jenglot dengan bola merah.
Pada saat yang sama, Jangka Kolor melesatkan bola tangannya. Dan pada saat yang sama pula, Arda Handara menekan mata kepala kerbaunya, membuat kecepatan terbang tongkatnya mengencang berkali lipat, meninggalkan bola Jangka Kolor yang lewat di belakangnya.
Bdak!
“Hakk!” jerit Greges Epot karena tahu-tahu Arda Handara telah sampai menyenggolnya dengan keras.
Di saat Greges Epot terpental terpisah dari tongkatnya, Talang Jenglot terbang menukik berputar-putar seperti mata bor menuju ke bidang kasur tebal di bawah. Kepalanya baru saja dihantam bola lemparan Sanda Kolot. Kedua penerbang itu gugur dalam waktu singkat.
Sementara itu, Jangka Kolor dilanda keterkejutan melihat kecepatan tiba-tiba Arda Handara itu.
“Kecepatan bola emas!” ucap Jangka Kolor.
“Cerdas sekali!” ucap Pelatih Banik Terong yang mendadak tegang di tribun.
“Hahaha! Baru mulai sudah dua yang gugur,” tawa Eyang Hagara. Dia juga kagum dengan kecerdasan keponakannya.
“Sudah lama. Aku kembali bisa melihat kecepatan Tongkat Kerbau Merah, tongkat yang selalu mengalahkanku,” kata Banik Terong.
“Hahahak!” Arda Handara tertawa dalam terbangnya setelah menyerempet Greges Epot.
“Tidak akan aku biarkan anak itu bergembira!” desis Jangka Kolor lalu mengejar Arda Handara yang kecepatan terbangnya kembali normal.
Di sisi lain, Cumi Bentol diburu oleh dua lawannya, yaitu Kucang Tongol dan Balak Molor. (RH)
__ADS_1