
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Penerbang Nomor Jawu tahun ini, Pangeran Arda Handara, diundang khusus ke Istana bersama Eyang Hagara.
Informasi dari Gubernur Ilang Banyol tentang Pendekar Hagara, membuat Raja Titah Bang-or teringat dengan penerbang legenda dari Negeri Tanah Jawi. Karena itulah, Raja Titah Bang-or pun jadi menaruh hormat kepada Eyang Hagara.
Namun, dalam memenuhi undangan sang raja, Gubernur Ilang Banyol tidak ikut serta karena memang tidak diundang. Jadi, Ilang Banyol tidak mengetahui hal apa yang dibicarakan oleh Raja Titah Bang-or kepada Eyang Hagara dan Arda Handara.
Eyang Hagara dan Arda Handara dijamu makan ringan, yaitu makan ayam-ayaman kecil, seperti ayam bakar lada merah, ayam goreng kecap cap No. Jawu, ayam kukus isi toge manis, dan ayam cincang pedas cantik. Jika makan berat, menunya adalah ayam botak yang lebih besar.
Selain Raja Titah Bang-or, anggota Keluarga Kerajaan yang ikut makan ringan bersama kedua tamu adalah Permaisuri Mekar Ni-or dan Putri Babi-or saja.
Awalnya, hanya Raja dan Permaisuri. Namun, ketika Putri Babi-or datang dan membuka cadarnya tanpa sungkan, terkejutlah Arda Handara yang sudah idep yang namanya kecantikan, terbukti dia sudah bisa menilai kecantikan ibundanya.
Pangeran Arda Handara terkejut melihat kecantikan Putri Babi-or bukan karena giginya lebih mancung dari hidungnya, atau sang putri punya hidung seperti Eyang Hagara yang lucu. Tidak. Arda Handara terkejut karena memang Putri Babi-or memiliki paras yang cantik dan tidak terkesan cebol. Jadi, model wajahnya seperti gadis kecil biasa, meski model badannya tetap versi cebol. Namun, yang lebih membuat Arda Handara terkejut adalah wajah sang putri mirip dengan Ratu Tirana. Bisa dikatakan ini adalah Tirana versi bocil. Hanya, dia memiliki warna bibir emas.
“Hahaha!” tawa Arda Handara kemudian setelah melihat rahasia di balik cadar sang putri.
Tawa sang pangeran jelas membuat semua orang dewasa itu heran dan kerutkan kening. Namun, Arda Handara segera menjawabnya.
“Putri, wajahmu sangat mirip Ibunda Ratuku. Secantik Ibundaku tersayang,” kata Arda Handara.
“Oooh, hahaha!” tawa para orang dewasa itu akhirnya. Sementara sang putri hanya tersipu malu.
“Silakan, Pangeran. Silakan, Pendekar,” kata Raja Titah Bang-or sambil memotongkan paha ayam dengan pisau kecil, kemudian memberikan ke piring Eyang Hagara dan Arda Handara satu-satu.
“Terima kasih, Gusti Prabu,” ucap Arda Handara.
“Bukan Gusti Prabu, tapi Paduka Raja,” ralat Eyang Hagara.
“Oooh, hahaha!” tawa Arda Handara.
“Karena putriku sudah bergabung bersama kita, jadi aku ingin sampaikan langsung kepada Pendekar dan Pangeran,” ujar Raja Titah Bang-or.
“Silakan, Paduka Raja,” kata Eyang Hagara.
“Aku dan istriku ingin menjodohkan putriku Babi-or dengan Pangeran Handara,” kata Raja Babi-or langsung.
“Bebek lele!” pekik Arda Handara terkejut. Kali ini dia tidak pura-pura terkejut, tapi memang terkejut.
“Hihihi …!” tawa cekikikan Putri Babi-or mendengar model keterkejutan Arda Handara.
Sebenarnya Eyang Hagara juga terkejut. Itu jelas permintaan yang juga sekaligus perintah.
“Hahaha! Tapi aku masih kecil, Paduka Raja,” kata Arda Handara yang didahului dengan tawa cengengesannya.
__ADS_1
“Tidak masalah. Putriku bisa menunggu kau lebih besar sedikit, Pangeran. Bukankah begitu, Babi-or?” kata Raja Titah Bang-or, lalu minta pembenaran kepada putrinya.
“Benar, Ayahanda Raja,” ucap Putri Babi-or seraya tersipu malu.
“Bagaimana, Arda?” tanya Eyang Hagara.
“Ya, tidak apa-apa. Kata Resi Muda, semakin banyak ayam, maka semakin banyak telur. Semakin banyak istri, semakin banyak anak. Benar kan, Eyang?” kata Arda Handara dengan menyebut nama gurunya di Istana.
Terkejut Raja Titah Bang-or, istrinya dan putrinya mendengar kata “banyak istri” dan “banyak anak”.
“Apa maksudnya dari banyak istri, banyak anak?” tanya Permaisuri Mekar Ni-or.
“Mohon maaf, Paduka Raja,” ucap Eyang Hagara. “Harus hamba katakan bahwa Pangeran Arda Handara sudah memiliki dua calon istri, yaitu Hijau Kemot putri Gubernur dan Sanda Kolot, penerbang wanita Pasukan Domba Merah.”
“Belelele!” pekik Permaisuri Mekar Ni-or. “Rupanya Pangeran Handara laris sekali di sini.”
“Tidak mengapa, tidak mengapa. Memang pada kenyataannya putriku mengenal Pangeran Handara belakangan dan datang belakangan,” ucap Raja Titah Bang-or lebih santai dan terkesan bijak. Lalu tanyanya kepada sang putri, “Bagaimana, putriku?”
“Jika aku mundur, maka aku akan mempermalukan nama harum Kerajaan. Aku akan menunjukkan bahwa akulah gadis yang pantas untuk Pangeran Handara. Jika Pangeran nantinya menginginkan anak yang banyak, aku bisa menjadi induk yang subur dengan badan tetap indah seperti sekarang. Bukankah wanita Kerajaan Separa terkenal sebagai wanita yang subur?” kata Putri Babi-or lancar selancar hasrat cintanya.
“Hahaha!” tawa Arda Handara. “Iya. Jika nanti kita punya anak yang banyak, mereka bisa kita pertandingkan siapa yang paling cepat merangkak. Hahaha!”
“Belelele!” kejut Raja Titah Bang-or dan Permaisuri, tapi kemudian mereka tertawa karena menyadari sang pangeran hanya berkelakar.
“Namun, mohon maaf, Paduka Raja. Pangeran memiliki kedua orangtua yang harus menyetujui perkara besar seperti ini. Jadi, meski Pangeran Arda setuju, tentunya akan lebih baik jika ada persetujuan dari ayahanda dan ibundanya,” ujar Eyang Hagara.
“Lantas, kapan kami bisa mendapat kepastian tentang pernikahan Pangeran Handara dengan putriku?” tanya sang raja.
“Hahaha!” Arda Handara hanya tertawa mendengar kata-kata Eyang Hagara yang membuat Paduka Raja agak mendelik.
“Baiklah, Ayahanda Raja. Aku akan menunggu kedatangan Pangeran Handara kembali. Aku akan menutup pintu hatiku dari lelaki lain demi menunggu Pangeran Handara,” kata Putri Babi-or berkomitmen.
“Hehehe!” Arda Handara hanya tertawa kecil mendengar kata-kata Putri Babi-or.
“Baik, baik,” ucap Raja Titah Bang-or seraya manggut-manggut. Permaisuri pun ikut manggut-manggut.
Itulah kesepakatan perjodohan antara Eyang Hagara yang mewakili Arda Handara dengan Keluarga Kerajaan.
Sekeluarnya dari benteng Istana, Eyang Hagara dan Arda Handara ternyata sudah ditunggu oleh Sanda Kolot dengan kereta burung botaknya.
Hanya Sanda Kolot tersayang yang akan mengantar Eyang Hagara dan Arda Handara ke Gerbang Halus, yaitu gerbang yang menghubungkan antara Negeri Keempat dan Negeri Kesatu.
Eyang Hagara dan Arda Handara sudah berpamitan kepada Gubernur Ilang Banyol dan para istrinya untuk kembali ke Tanah Jawi. Gubernur Ilang Banyol sudah menyarankan kepada Hijau Kemot agar pergi mengantar Pangeran Arda Handara sampai Gerbang Halus. Namun, rasa cemburu yang tinggi membuatnya berat untuk memberi lambaian perpisahan.
Pada akhirnya, hanya Sanda Kolot yang mengantar Arda Handara dan pamannya.
Ternyata letak Gerbang Halus ada di dalam Kolosom Awan, di mana Eyang Hagara dan Arda Handara pertama muncul di negeri itu pada saat Pertandingan Tongkat Bola antara Pasukan Beruang Biru melawan Pasukan Ayam Emas.
__ADS_1
Di kala tidak ada pertandingan, Kolosom Awan tertutup bagi publik. Namun, karena Sanda Kolot adalah Penerbang Wanita Nomor Jawu dan Arda Handara kini seorang penerbang ternama dan nomor jawu, mereka diizinkan masuk ke dalam Kolosom oleh penjaga.
Menurut ceritanya, hanya orang sakti yang bisa memasuki Gerbang Halus karena untuk melihat keberadaan gerbang itu dibutuhkan kesaktian tinggi.
“Di sanalah gerbangnya,” kata Eyang Hagara kepada kedua orang pendek yang bersamanya. Ia menunjuk ke pojok undakan tribun.
“Pangeran Handara,” panggil Sanda Kolot.
Arda Handara menengok kepada gadis cantik jelita berambut biru terang itu. Tiba-tiba Sanda Kolot merangsek memeluk erat Arda Handara. Mau tidak mau, Arda Handara yang sudah sering dipeluk, balas memeluk erat. Namun maaf, belum ada desir-desir indah di dalam diri sang bocil, berbeda dengan Sanda Kolot yang merasa sedih dengan perpisahan itu.
Sanda Kolot lalu merenggangkan pelukannya dan menatap dalam mata Arda Handara. Bocah itu hanya tersenyum kepada Sanda Kolot yang begitu cantik jika dipandang dari jarak sedekat itu.
“Datanglah kembali untuk menikahiku, Pangeran. Aku akan setia menunggumu. Berjanjilah untuk datang kembali,” kata Sanda Kolot.
“Iya, aku pasti datang kembali. Aku akan datang bersama Brojol bajingku,” kata Arda Handara seraya tersenyum.
“Kau telah berjanji. Aku akan menunggumu,” kata Sanda Kolot dengan mata berkaca-kaca. Sepertinya dia memang sudah cinta setengah mati kepada Arda Handara.
“Kata Resi Muda, seorang anak lelaki, akan menjadi penjahat jika dia ingkar janji,” kata Arda Handara.
Sementara Eyang Hagara hanya membiarkan drama perpisahan itu terjadi. Maklum belum ada larangan berpacaran di bawah umur.
Ketika Sanda Kolot mencium pipi kanan dan kiri Arda Handara dengan bibirnya, bocil itu hanya tersenyum.
“Sampai jumpa, Sanda,” ucap Arda Handara sambil melepaskan tubuh Sanda Kolot.
Sang pangeran lalu berlari penuh semangat menaiki undakan tribun dan menghampiri Eyang Hagara.
Setibanya di sisi eyangnya, Arda Handara menengok ke belakang, kepada Sanda Kolot yang melambaikan tangan perpisahan. Ia pun tersenyum dan balas melambai.
Slep!
Tiba-tiba saja, Eyang Hagara dan Arda Handara lenyap seperti masuk ke lapisan alam yang lain. Ternyata, hilangnya wujud Arda Handara membuat Sanda Kolot menitikkan air mata kesedihan.
Tap tap tap!
Tiba-tiba Sanda Kolot mendengar suara langkah orang berlari. Ia segera menyeka air matanya dan menengok untuk melihat siapa yang datang. Ternyata yang datang adalah Hijau Kemot.
Melihat Sanda Kolot berdiri seorang diri, sedihlah Hijau Kemot dan dia berhenti.
“Kau terlambat, Kemot,” kata Sanda Kolot sambil berjalan mendatangi anak Gubernur itu.
“Hiks hiks hiks!” Hijau Kemot tidak bisa menahan kesedihannya. Dia menangis dengan mengeluarkan air mata, bukan air yang lain.
“Tapi, Pangeran Handara menitip kata untukmu,” ujar Sanda Kolot.
“Apa?” tanya Hijau Kemot cepat.
__ADS_1
“Pangeran Handara berjanji akan memenuhi syarat lain yang kau ajukan,” jawab Sanda Kolot.
Setelah berkata seperti itu, Sanda Kolot lalu berlalu meninggalkan Hijau Kemot yang masih berdiri mematung sedih. (RH)