Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Baut Mal 17: Putri Mahkota


__ADS_3

*Bajak Laut Malam (Baut Mal)*


 


Di perairan arah selatan dari Pulau Kabut ada lebih dua puluh pulau kecil yang memiliki jarak saling berdekatan, dalam arti bisa saling memandang pulau, bukan saling memandan orangnya. Dari sekian banyak pulau yang bertetanggaan itu, sebagian dihuni oleh manusia dan sebagian lagi pastinya dihuni oleh lelembut.


Saat ini, Kapal Bintang Hitam sedang berlayar di antara pulau-pulau tersebut. Masuknya kapal bajak laut di perairan itu jelas menjadi perhatian orang pulau. Mereka tergolong masyarakat yang tidak suka dengan kelompok bajal laut.


Namun, sering kali Arda Handara bersama Bayu Kikuk dan Cicirini melambaikan tangan kepada orang pulau yang memandangi mereka melintas.


“Anak-anak norak.” Itulah yang dipikirkan oleh Mimi Mama melihat tingkah Arda Handara cs.


Arah kapal mengikuti perintah Bewe Sereng. Dialah orang yang tahu ke mana mereka harus berlabuh. Sudah beberapa kali kapal itu berbelok dan melewati selat-selat antarpulau.


“Itu Pulau Botak, di sanalah Putri Mahkota bersembunyi bersama tangan kanannya,” kata Bewe Sereng kepada Dewi Ara.


“Apakah orang-orang Pulau Karang Hijau tidak pernah mencari di kepulauan ini?” tanya Eyang Hagara.


“Pernah, tetapi mereka sulit menemukan Putri Mahkota karena mereka tidak tahu wajah Putri Mahkota seperti apa,” jawab Bewe Sereng.


Ketika kapal hitam sudah jelas menuju ke pantai Pulau Botak yang hijau oleh pepohonan, warga yang melihat itu menjadi panik dan gempar. Kabar kedatangan kapal bajak laut segera mereka umumkan ke seluruh orang yang tinggal di pelosok pulau. Pemimpin masyarakat pulau yang digelari Tetua Pulau segera memobilisasi rakyatnya.


Dalam waktu yang selama durasi tausiyah Tetua Pulau, kaum lelaki Pulau Botak telah berkumpul. Jumlahnya hanya sekitar kurang dari lima puluh orang saja. Mereka semua bersenjatakan golok dan lembing-lembing kayu alami, beberapa bersenjata panah rakitan.


Mereka ramai-ramai pergi menuju ke satu-satunya dermaga kayu yang pulau itu miliki. Saat itu sedang surut, jadi kapal hitam tidak bisa merapat ke dermaga. Jika dipaksakan justru akan kandas di lumpur pantai.


Namum, ketika Dewi Ara terbang melayang dari kapal untuk mendarat di ujung dermaga, para kaum batangan Pulau Botak itu hanya terperangah takjub, seperti melihat bidadari turun dari kapal. Jangankan para lelaki yang masih muda atau tua berjiwa muda, Tetua Pulau yang berusia satu abad kurang tiga puluh tahun itupun ikut ternganga takjub. Untung tidak ada air hujan yang menetes.


Dewi Ara mendarat lembut di ujung dermaga, beberapa tombak di depan Tetua Pulau dan warganya.


Clap!


Tiba-tiba di sisi kiri Dewi Ara muncul sosok Eyang Hagara, yang sontak mengejutkan para lelaki pulau dan merusak suasana indah dalam pikiran mereka. Jelas mereka terkejut, terlebih melihat wajah seram Eyang Hagara yang tanpa hidung.


Belum selesai keterkejutan Tetua Pulau dan para lelaki pulau. Mereka melihat ada seseorang yang terbang dengan tongkat bersayap.


“Yihuuu …!” teriak Arda Handara yang girang terbang dengan Tongkat Kerbau Merah.


Jika Tikam Ginting dan Bewe Sereng memilih cara berlari di atas permukaan air, maka Mimi Mama memili berselancar di atas selembar papan.


“Semuanya bubar, kembali ke tempat masing-masing!” teriak Tetua Pulau kepada warga lelakinya. “Mereka datang bukan untuk menyerang!”


Perintah itu membuat para lelaki pulau saling berbisik dan bertanya-tanya. Mereka kemudian membubarkan diri dan meninggalkan dermaga. Namun, mereka tidak benar-benar pulang. Mereka memilih memantau dari tempat yang agak jauh karena Tetua Pulau dan beberapa orang terdekatnya memilih bertahan.


“Hormatku, Pangeran,” ucap Tetua Pulau menjura hormat, saat Bewe Sereng sudah naik ke dermaga dan berada di sisi Dewi Ara. Bewe Serenglah yang membuat Tetua Pulau yakin bahwa yang datang bukanlah musuh.


“Aku datang bersama Gusti Permaisuri, Tetua Pulau,” ujar Bewe Sereng kepada Tetua Pulau.


“Horma kami, Gusti Permaisuri!” ucap Tetua Pulau sambil membungkuk menghormat kepada Dewi Ara. Tiga lelaki yang bersamanya juga ikut menjura hormat.


“Silakan, Tetua Pulau,” kata Dewi Ara dengan maksud agar Tetua Pulau berjalan lebih dulu ke darat dan tidak hanya berdiri menghalangi jalan.

__ADS_1


Mereka pun pergi untuk meninggalkan dermaga.


Sementara itu, satu perahu milik Kapal Bintang Hitam bergerak menuju dermaga. Di atas perahu itu adalah Setya Gogol, Lentera Pyar, Komandan Bengisan dan kedua anaknya, Bong Bong Dut dan kedua tabib wanita.


“Bagaimana kondisi Putri Mahkota, Tetua?” tanya Bewe Sereng sambil berjalan meninggalkan pantai.


“Baik-baik saja. Sejauh ini tidak ada yang mengetahui bahwa Putri Keken adalah Putri Mahkota Negeri Pulau Kabut,” jawab Tetua Pulau.


“Gusti Pangeran, jangan jauh-jauh!” teriak Lentera Pyar saat Arda Handara terbang menjauh meninggalkan wilayah pantai itu.


“Hahaha!” Arda Handara hanya tertawa di udara.


Dewi Ara yang melihat sekilas kepada putranya, hanya diam, yang berarti membiarkan Arda Handara berbuat demikian. Melihat junjungannya hanya diam, akhirnya Lentera Pyar dan Setya Gogol tidak bertingkah khawatir.


Para lelaki Pulau Botak yang masih bertahan di sekitar pantai, hanya senyam-senyum memandangi rombongan agung itu lewat di depan mereka. Sikap mereka seolah-olah menunjukkan bahwa para wanita mereka tidak ada yang secantik Dewi Ara, yang begitu terlihat anggun jika tidak sedang menunjukkan kesaktiannya.


“Tare Munele, cepat pergi kabarkan kepada Seser Kaseser bahwa Pangeran datang bersama Gusti Permaisuri!” perintah Tetua Pulau kepada lelaki dekatnya yang bernama Tare Munele.


“Baik, Tetua,” ucap Tare Munele yang tidak mau menyembunyikan usia separuh bayanya hanya karena dekat dengan wanita cantik.


“Oh iya, Tetua. Kapal kami perlu disembunyikan sementara. Jangan sampai penghuni pulau ini jadi sasaran kemarahan Negeri Karang Hijau karena dianggap menyembunyikan buronan kerajaan,” kata Bewe Sereng.


“Tunggir Lele, tunjukkan Karang Kembar agar kapal Pangeran bisa bersembunyi!” perintah Tetua Pulau kepada lelaki dekatnya yang lain.


“Baik, Tetua,” ucap lelaki separuh baya lebih tujuh tahun yang bernama Tunggir Lele. Ia lalu pergi meninggalkan rombongan yang sedang menuju ke kediaman Tetua Pulau.


Sementara itu, Arda Handara terus terbang di angkasa atas Pulau Botak. Ia bisa dengan jelas melihat kondisi alam di pulau tersebut.


Jika ada sawah yang dikelilingi oleh hutan, maka ada yang lebih membuat Arda Handara tertarik, yakni sawah yang sudah menguning emas di dalam kurungan pagar bebatuan yang tinggi.


Arda Handara lalu memutuskan terbang rendah di atas sawah yang dipagari batu-batu setinggi dua kali tubuh Eyang Hagara.


Set!


Tiba-tiba ada sebatang anak panah melesat menargetkan Arda Handara.


“Bebek lele!” pekik Arda Handara terkejut saat anak panah itu meleset beberapa jari dari tubuhnya.


Buru-buru Arda Handara meninggikan terbangnya sambil mencari makhluk yang menyerangnya secara diam-diam.


Setelah terbang berputar, Arda Handara akhirnya bisa melihat keberadaan seseorang berpakaian biru muda di balik pagar batu. Orang itu berlindung di tebalnya padi yang siap panen.


Set!


Orang itu kembali memanah Arda Handara, tetapi jarak yang jauh di atas membuat panah sulit menjangkau.


“Tidak kenaaa, tidak kenaaa! Hahaha!” teriak Arda Handara mengejek, lalu tertawa.


Arda Handara melesat terbang mendatangi posisi orang yang memanah dua kali itu.


“Awas, aku tangkap kau, Maling!” seru Arda Handara.

__ADS_1


Namun, orang itu cepat memanah lagi.


“Bebek lele!” pekik Arda Handara saat melihat gerakan cepat orang yang mirip anak perempuan itu. Dia buru-buru berbelok jauh.


Set!


Satu anak panah kembali melesat mengincar Arda Handara, tetapi masih luput. Arda Handara terlalu cepat terbangnya.


“Maliiing! Maliiing! Maliiing!” teriak Arda Handara dari atas.


Teriakan Arda Handara membuat orang di balik padi jadi agak panik, terlihat bahwa orang itu berdiri dan mengintip ke balik dinding lewat celah pagar batu.


Arda Handara melihat seorang lelaki separuh baya berlari cepat menerobos semak belukar menuju ke pagar batu sawah. Lelaki berpakaian hitam dan berikat kepala kain merah itu sampai melompat dan berlari di udara demi cepat sampai ke pagar batu. Dia telah memegang busur dan anak panah.


“Hoi, Paman! Ada maling padi! Dia bersembunyi di dalam!” Arda Handara meneriaki lelaki berkumis yang datang.


Arda Handara terus terbang berputar-putar di udara.


“Iya di sana malingnya, Paman! Tangkap, jangan biarkan lolos tikus besar itu!” teriak Arda Handara sambil menunjuk ke pagar batu tempat si pemanah berada.


Lelaki berkesaktian itu hanya memandangi Arda Handara di atas. Wajahnya terlihat tegang.


“Putri Keken! Putri Keken!” panggil lelaki itu bernada panik.


“Aku di sini, Paman!” teriak orang yang bersembunyi di balik pagar, suaranya seperti anak kecil perempuan.


Mendengar suara teriakan perempuan itu, Arda Handara jadi mendelik.


“Eh, anak perempuan,” ucap Arda Handara kepada dirinya sendiri.


Lelaki yang datang lalu berkelebat naik ke atas pagar batu, lalu sejenak mencari posisi orang yang dicarinya.


Saat menemukan sosok orang berpakaian biru, lelaki yang disebut “Paman” itu cepat melompat turun ke dekat orang yang ternyata adalah anak perempuan, kira-kira usianya empat belas tahun.


“Putri tidak apa-apa?” tanya lelaki itu cemas.


“Tidak apa-apa, Paman Seser. Aku hanya terkejut dan mengira anak lelaki itu orang jahat,” kata gadis kecil yang memiliki bibir agak mengerucut dan dagu yang pendek. Namun, di memiliki model mata yang cantik dengan alis yang agak tebal. Dialah Putri Keken.


“Aku tadi ingin memanahnya, tetapi karena dia anak kecil, aku khawatir salah menduga,” kata si lelaki berbadan agak gemuk itu. Dia adalah pengawal setia Putri Keken yang berstatus sebagai Tangan Kanan Putri Mahkota, namanya Seser Kaseser.


“Hei, Paman!” panggil Arda Handara yang sudah berdiri di atas pagar batu, tapi agak jauh dari kedua orang tersebut. Tongkat Kerbau Merah posisinya masih terselip di jepitan paha.


Seser Kaseser dan Putri Keken cepat memandang kepada Arda Handara yang posisinya lebih tinggi.


“Jadi Paman juga maling padi sama dengan anak perempuan itu?” tuding Arda Handara dengan mata didelik-delikkan, membuat Putri dan pengawalnya itu kesal.


“Hei, Bocah Kalong!” hardik Seser Kaseser marah. “Ini adalah sawah kami, kami bukan maling!”


“Bebek lele, aku salah kira!” ucap Arda Handara bergaya terkejut ala Orang Separa. “Maaf, Paman. Aku pergi dulu, sampai jumpa. Hahaha!”


Arda Handara lalu lepas landas dan melesat terbang lagi, meninggalkan daerah sawah itu.

__ADS_1


Putri Keken dan Seser Kaseser hanya memandangi dengan memendam kemarahan. (RH)


__ADS_2