Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
PHT 22: Bertemu Ratu Fatara


__ADS_3

*Penakluk Hutan Timur (PHT)*


Kini Alma Fatara berhadapan dengan sesosok makhluk wanita berambut panjang warna jingga dengan mata menyala merah.


Wanita itu tidak mengenakan pakaian. Namun, kedua dadanya ditutupi oleh dua cangkang besar seperti cangkang kerang yang sepertinya menyatu dengan kulit. Pada bagian punggung ada sirip ikan yang panjang. Pada batang tangan juga ada sirip yang lebih kecil. Pada bagian pinggul hingga ke paha ada lapisan sisik tebal berwarna perak. Sementara dari betis hingga ujung kaki adalah ekor ikan yang besar berwarna jingga. Bagian lututnya adalah dua lutut manusia yang putih mulus seperti kulit badannya.


Bisa dikatakan bahwa wanita separuh manusia separuh ikan itu berparas cantik, tetapi dia memiliki mulut yang agak maju, seperti orang yang memiliki gigi tonggos.


Di belakang wanita ikan itu ada sepuluh makhluk lain yang diam mengambang.


Kesepuluh makhluk itu seperti manusia, tapi seluruh tubuhnya ditutupi dengan sisik-sisik tebal berwarna putih perak. Mereka hanya mengenakan cawat yang terbuat dari tumbuhan air. Wajah mereka lebih mirip dengan kepala ikan raksasa, tanpa rambut. Kedua telapak kakinya berselaput seperti kaki bebek. Jari-jari tangannya pun berselaput. Di kedua lengan mereka terdapat sebuah sirip. Sirip besar dan panjang terdapat di punggung.


Sosok itu sangat sama dengan Siluman Ikan yang menjadi rakyat Alma Fatara di Telaga Emas. Pada dasarnya, Siluman Ikan memang asal aslinya dari Telaga Fatara. Siluman Ikan yang tinggal dan berkembang biak di Telaga Emas adalah kaum yang diusir dari Telaga Fatara oleh Ratu Fatara.


Saat ini, wanita ikan dan Alma Fatara yang murni wanita manusia sedang mengambang di kedalaman air Telaga Fatara.


“Siapa kau?”


Terkesiap Alma Fatara ketika ia mendengar pertanyaan satu suara perempuan. Padahal saat itu mereka berada di dalam air, tidak mungkin ada yang bicara seperti bicara di luar air.


“Siapa kau? Jawab!”


Alma Fatara kembali mendengar suara itu dan nadanya sedikit lebih membentak.


Ia tidak melihat bahwa makhluk di depannya itu berbicara. Namun, dia yakin bahwa sosok wanita ikan di depannya berbicara melalui telepati atau gelombang energi sejenisnya.


Alma Fatara yang tidak bisa berbicara di dalam air lalu mencoba berbahasa isyarat.


Dia menunjuk mulutnya lalu menggeleng-gelengkan telapak tangannya tanda “tidak”. Kira-kira dia mengatakan, “mulutku tidak bisa bicara.”


Alma Fatara lalu menunjuk-nunjuk ke atas permukaan telaga. Setelah itu, Alma Fatara berenang cepat naik ke atas.


Wanita ikan lalu berenang mengejar ke atas, diikuti oleh kesepuluh Siluman Ikan.


Tidak butuh waktu lama. Mereka semua memunculkan kepalanya di atas permukaan air. Di situ, wajah wanita ikan terlihat jelas. Posisi tempat mereka muncul cukup jauh dari posisi kapal Pasukan Penguasa Telaga, yang sedang merapat pada bidang es di tengah telaga.


“Aku Ratu Siluman, Ratu Kerajaan Siluman. Namaku Alma Fatara,” ujar Alma Fatara memperkenalkan dirinya.


Terlihat agak terkesiap wajah wanita ikan itu.

__ADS_1


“Apa tujuanmu berkeliaran di dasar Telaga Fatara?” tanya wanita ikan itu dengan suara yang serak-serak kering. Ketika dia berbicara, terlihat gigi-giginya seperti mata gergaji. Sepertinya dia akan sangat berbahaya jika diajak berciuman.


“Aku mencari kerajaan kalian. Aku ingin bertemu Ratu Fatara,” jawab Alma Fatara.


“Untuk apa?” tanya wanita ikan.


“Aku seorang ratu, Ratu Fatara seorang ratu. Sama-sama ratu. Aku ingin berkenalan dan bersahabat,” ujar Alma Fatara. “Siapa kau?”


“Aku Panglima Nih Loh.”


“Kurang sopan!” bentak Alma Fatara tiba-tiba yang mengejutkan Panglima Nih Loh dan kesepuluh Siluman Ikan.


Ternyata bentakan Alma Fatara terdengar hingga ke kapal yang merapat di bidang es beku.


“Di sana ada penampakan!” tunjuk Kurna Sagepa yang pertama melihat bola-bola di permukaan air. Jauhnya jarak membuat kepala Alma Fatara dan kesebelas makhluk telaga terlihat seperti bola-bola yang mengapung.


“Terlalu jauh,” ucap Permaisuri Getara Cinta.


Kembali kepada dialog Alma Fatara dan Panglima Nih Loh.


“Beraninya kau seorang panglima bersikap tidak sopan kepada seorang ratu!”


Kemarahan Alma Fatara itu membuat Panglima Nih Loh jadi bingung bersikap.


Tiba-tiba Alma Fatara mengeluarkan dua sinar emas menyilaukan mata pada kedua tangannya yang ada di dalam air.


Terkejutlah Panglima Nih Loh dan kesepuluh anak buahnya. Mereka refleks bergerak mundur agak menjauhi Alma Fatara.


“Aku hanya minta untuk diantar bertemu dengan ratu kalian. Jika masih tidak sopan, jangan salahkan aku jika kalian bernasib lebih buruk dari ikan-ikan yang aku bekukan!” ancam Alma Fatara sekedar gertak.


Panglima Nih Loh bukan wanita ikan penakut, tetapi ia bisa merasakan tenaga sakti yang memancar dari ilmu Pukulan Bandar Emas yang dipamerkan oleh Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Panglima Nih Loh melunak dan berubah santun. “Silakan ikuti hamba!”


Panglima Nih Loh lalu masuk menyelam, Alma Fatara segera menyelam dan berenang di sisi Panglima Nih Loh. Kedua sinar emasnya ia padamkan. Sementara kesepuluh Siluman Ikan mengikuti di belakang.


Alma Fatara tidak khawatir kalau-kalau dia akan disergap dari belakang. Jikapun itu terjadi, ia bisa dengan mudah melumpuhkan semuanya.


Ternyata, Panglima Nih Loh tidak berani berbuat licik. Dari kesaktian yang dipamerkan Alma Fatara sudah menunjukkan tingkat berbahayanya wanita yang mengaku Ratu Siluman itu.

__ADS_1


Mereka berenang ke dasar yang cukup jauh. Hingga akhirnya, setelah melewati tebing batu yang melandai, mereka melihat di balik tebing, tepatnya di dasar telaga yang tersembunyi, ada sebuah bangunan batu berselimut terumbu karang yang indah berwarna-warni.


Di sekitar bangunan itu banyak ikan-ikan besar yang berseliweran. Ada juga beberapa Siluman Ikan yang terlihat. Ketika semakin dekat dengan bangunan itu, maka terlihat jelas bahwa itu adalah bangunan besar seperti istana, tetapi terlapisi oleh taman terumbu karang yang luas.


Panglima Nih Loh membawa Alma Fatara sampai di sebuah pintu gerbang tanpa daun pintu. Namun, pintu itu dijaga oleh selusin Siluman Ikan. Jika melihat para Siluman Ikan itu, Alma Fatara serasa pulang ke istana di Telaga Emas, di mana dia di sana sebagai Ratu Agung, di atas Raja Siluman Ikan.


“Gusti Ratu harap menunggu di sini. Hamba akan menghadap Gusti Ratu Fatara lebih dulu,” ucap Panglima Nih Loh melalui telepati.


Alma Fatara hanya mengangguk sebagai isarat mengiyakan.


Alma Fatara dan kesepuluh Siluman Ikan yang mengikuti menunggu di depan pintu besar tersebut. Sementara Panglima Nih Loh berenang cepat masuk ke dalam bangunan yang memiliki pencahayaan berwarna jingga.


Butuh waktu dua puluh menit bagi Panglima Nih Loh untuk keluar kembali.


“Silakan, Gusti Ratu. Ternyata Gusti Ratu Fatara telah lama menunggu kedatangan, Gusti Ratu,” ujar Panglima Nih Loh.


Terkesiap Alma Fatara mendengar suara di dalam pikirannya. Ia terkejut bukan karena mendengar suaranya, tapi terkejut karena beritanya.


“Bagaimana mungkin Ratu Fatara telah lama menungguku?” batin Alma Fatara.


Alma Fatara kemudian berenang mengiringi Panglima Nih Loh dengan membawa sepeti tanda tanya di kepalanya. Sementara sepuluh Siluman Ikan mengawal di belakang.


Setelah melalui berbagai lorong dalam air. Mereka kemudian masuk ke dalam sumur di dasar bangunan. Lubang sumur itu bercahaya biru yang bersumber dari batu dindingnya.


Sumur itu berujung pada sebuah kolam yang luas. Disebut kolam karena di atasnya ada ruang udara, yaitu sebuah ruangan besar dan luas. Mirip dengan ruang utama di Istana Siluman Ikan di Telaga Emas.


Mereka semua keluar dari permukaan air dan menaiki tangga yang setengah terendam dan setengah lagi kering.


Pandangan mata Alma Fatara langsung tertuju ke sebuah singgasana indah yang didominasi warna jingga. Pada singgasana yang gemerlap oleh batu-batu permata, duduk sesosok wanita yang dari jauh sudah terlihat kecantikannya.


Di sisi kanan dan kiri singgasana berdiri lima-lima wanita berperawakan seperti Panglima Nih Loh. Namun bedanya, mereka berkaki, bukan berekor ikan.


Ketika Alma Fatara menengok ke bawah untuk melihat ekor Panglima Nih Loh, ternyata wanita ikan itu sudah berjalan dengan dua kaki yang putih bersih tanpa sandal jepit atau sepatu boot. Entah disembunyikan di mana ekornya.


Di ruangan itu ada sejumlah Siluman Ikan, tetapi tidak banyak. Mereka berjaga di beberapa titik saja.


Akhirnya Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara bertemu dengan Ratu Fatara penguasa Telaga Fatara. (RH)


 

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


CATATAN: Mohon maaf bagi pecinta novel Sanggana, up novel PMS ini akan sangat lambat hingga akhir bulan. Author sedang prioritas di novel "Perjalanan Alma Mencari Ibu" karena ada target yang harus dicapai.


__ADS_2