Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Jalan Dara 18: Bajing yang Hilang


__ADS_3

*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*


 


Akhirnya Pendekar Bola Cinta yang berkuda bersama Pangeran Arda Handara tiba di depan gerbang pagar halaman kediaman Adipati Siluman Merah.


Tikam Ginting tidak segera memasukkan kudanya ke dalam halaman, sebab ada banyak warga yang berjubel menutupi jalan. Para warga itu sedang tegang menonton pertarungan yang terjadi di halaman rumah yang penuh hiasan janur dan umbul-umbul tersebut.


“Waaah! Ada pertarungan, Kakak Ginting!” pekik Arda Handara seperti anak norak. Ia langsung buru-buru turun dari kenyamanan di depan tubuh Tikam Ginting.


“Eh, Arda! Ayo naik lagi, kita harus segera melapor ke ibumu!” panggil Tikam Ginting.


“Kakak saja yang kembali, aku mau menonton pertarungan,” kata Arda Handara.


“Nanti ibumu menanyakanmu, Arda,” kata Tikam Ginting.


“Katakan saja kepada Ibunda, aku sudah bersama Paman Adipati Siluman Merah,” kata Arda Handara. “Jika Kakak Ginting masih memaksa, aku tembak nih!”


Arda Handara mencabut ketapelnya yang bernama Ki Ageng Naga dan menarik karetnya lalu mengancam ke arah Tikam Ginting.


“Tapi kau jangan ke mana-mana, Arda!” pesan Tikam Ginting memilih mengalah.


“Tenang saja, Kakak Ginting!” sahut Arda Handara dengan senyum dramanya.


Akhirnya dengan memendam rasa khawatir akan mendapat amarah dari Permaisuri Dewi Ara, Tikam Ginting kembali memutar balik kudanya lalu menggebahnya dengan cepat.


Jika pertarungan hanya melibatkan dua orang saja, mungkin Tikam Ginting tidak perlu berbalik untuk melapor. Namun ia tahu, mereka yang bertarung adalah para pendekar tua yang kesaktiannya bukan ecek-ecek.


Arda Handara lalu menyelinap di antara jepitan tubuh para warga yang padat menonton di gerbang pagar. Bocah itu memaksa mendorong kepala dan tubuhnya agar bisa masuk ke depan.


“Anak setan, kenapa kau sodok-sodok pantatku?!” pekik seorang ibu yang merasa terlecehkan oleh sodokan kepala Arda Handara yang menyelinap. Dengan dongkol dia terpaksa bergeser sedikit agar Arda Handara mendapat jalan dan tidak menyundul pantatnya.


“Maafkan aku, Nek!” ucap Arda Handara sambil merangsek masuk tanpa berpaling kepada si ibu.


“Aku masih muda!” pekik si ibu kesal tujuh keturunan.


Akhirnya Arda Handara telah lolos ke depan dan berdiri di paling depan. Namun, dia berhenti, tidak pergi ke mana-mana. Dia serius memerhatikan pertarungan yang terjadi.

__ADS_1


Arda Handara fokus memerhatikan pertarungan Siluman Hitam dan Bengis Ulek yang mengeroyok Pangeran Bajing Tua. Sebab, dalam pertarungan itu ada hal yang ajaib.


Di atas, di udara, ada sebuah sangkar burung yang melayang diam tanpa digantung. Di dalam sangkar itu bukanlah seekor burung yang ada, melainkan seekor bajing yang tidak bisa diam. Sementara tuannya, yakni Pangeran Bajing Tua, sibuk bertarung.


Ketiga petarung beda generasi itu bertarung tanpa menggunakan senjata, tetapi masing-masing menggunakan kesaktian pada tangan dan kakinya.


Siluman Hitam mengandalkan tinju kedua tangannya yang menghitam seperti warna arang. Adapun Bengis Ulek mengandalkan tendangan kedua kakinya yang begitu kokoh dan bertenaga dalam. Sementara Pangeran Bajing Tua tidak memperlihatkan sinar kesaktian apa-apa atau menunjukkan warna yang aneh-aneh, biasa saja.


Namun, Pangeran Bajing Tua bisa menangkal kekuatan tendangan Bengis Ulek dan tinju Siluman Hitam, hanya dengan tangkisan kedua tangan tuanya yang sudah berkulit tipis lagi kendur. Di saat ia mengandalkan kedua tangannya sebagai benteng pertahanan, kedua kakinya justru menjadi senjata serbu yang cepat.


Pak! Dak! Dag!


Seperti pada satu momentum, tinju Siluman Hitam dan tendangan mengibas Bengis Ulek datang bersamaan menyerang Pangeran Bajing Tua.


Dengan kuat Pangeran Bajing Tua menangkap tinju hitam itu dengan cengkeraman tangan kanan. Sementara tangan kiri menangkis tendangan dengan kokoh sekokoh benteng baja.


Tiba-tiba ujung kaki kanan Pangeran Bajing Tua muncul dari bawah yang melesat cepat menyodok dagu Siluman Hitam, membuatnya terlompat ke belakang dan jatuh tulang ekor duluan, meski ia tidak berekor di belakang.


Setelah menjatuhkan Siluman Hitam, Pangeran Bajing Tua meladeni Bengis Ulek yang kedua kakinya seperti dua batang baja yang datang bergantian.


“Hukh!”


Pangeran Bajing Tua menangkis tendangan beruntun Bengis Ulek yang berakhir dengan tinju dua kepalan ke dada dan perut secara bersamaan. Bengis Ulek terdorong dengan langkah cepat agar tidak jatuh.


Bak! Bress!


“Akk!” pekik Siluman Hitam saat tidak bisa menghindari kiblatan sinar merah terang.


“Akr!” pekik Bengis Ulek pula bernasib sama.


Kedua lawan Pangeran Bajing Tua itu terlempar dan jatuh bergulingan di tanah halaman.


Sebelumnya, setelah menghantam kedua lawannya, Pangeran Bajing Tua melanjutkan dengan kaki kanan menghentak bumi dan kedua tangan menghentak. Maka muncul ledakan sinar merah yang melesat ke depan menghantam tubuh Siluman Hitam dan Bengis Ulek.


Di saat kedua lawannya masih tergeletak di tanah, Pangeran Bajing Tua sudah melompat naik ke udara lalu melesatkan sebola sinar hijau bergelombang.


Suuus! Bluar!

__ADS_1


Sinar hijau bergelombang itu tidak menargetkan tubuh Siluman Hitam dan Bengis Ulek secara langsung, tapi titik tanah yang ada di antara keduanya. Tanah yang dihancurkan berhamburan ke atas, seiring tubuh Siluman Hitam dan Bengis Ulek terpental lalu jatuh tidak berdaya.


Di sisi lain, kondisi Juragan Jeng dan Adem Semilir yang mengeroyok Tengkak Bande, tidak lebih bagus dari nasib Siluman Hitam dan Bengis Ulek. Mereka berdua juga dalam kondisi terluka dalam parah setelah bentrok ajian dengan Tengkak Bande yang bersenjatakan alat penggaruk punggung.


Juragan Jeng dan Adem Semilir sudah sama-sama tergeletak, mereka tidak bisa melanjutkan pertarungan lagi. Namun, Tengkak Bande tidak memilih membunuh mereka lebih dulu, tetapi memprioritaskan beralih membantu Kenyot Gaib yang kewalahan melawan Gadis Cadar Maut.


Maka, meski melihat Kenyot Gaib kewalahan menghadapi Gadis Cadar Maut, Pangeran Bajing Tua tidak perlu buru-buru karena sudah ada Tengkak Bande yang turun membantu.


“Biar aku habisi kalian berdua!” seru Pangeran Bajing Tua kepada kedua musuhnya yang sudah tidak bisa bangkit.


Presh! Presh!


Pangeran Bajing Tua menyalakan kedua tangannya dengan sinar hijau gelap kehitaman.


Ctar!                                                                              


Namun, belum lagi Pangeran Bajing Tua bertindak melakukan eksekusi dengan ajiannya, mendadak terdengar suara ledakan nyaring di sisi atas belakang si kakek berjubah hitam.


Sontak Pangeran Bajing Tua menengok melihat kepada sangkar burungnya. Ia pun terkejut saat melihat sangkar burungnya sudah rusak parah, meski masih dalam kondisi melayang tenang di udara. Masalahnya, yang lebih membuatnya terkejut dan berubah panik adalah hilangnya bajing piaraannya.


“Brojol! Brojoool!” teriak Pangeran Bajing Tua panik sambil matanya cepat mencari ke sana ke mari.


Kedua sinar di tangannya seketika padam. Kakek itu benar-benar panik plus gusar. Ia berjalan ke sana dan ke mari mencari-cari keberadaan bajing miliknya.


Tiba-tiba Pangeran Bajing Tua mendapat pintasan pemikiran yang kemungkinan besar menjadi penyebab hilangnya bajing piaraannya. Ia berhenti mencari dan memandang tajam kepada sekumpulan warga yang berjubel di gerbang pagar halaman, di mana di sana ada juga Arda Handara sedang berdiri.


“Pasti salah satu dari mereka yang telah menyerang sangkar bajingku!” ucap Pangeran Bajing Tua gusar.


Sadar bahwa Pangeran Bajing Tua sedang memandang marah kepada mereka, para warga itu segera mundur tiga demi tiga, sehingga menyisakan Arda Handara yang awalnya berdiri paling depan dan bertingkah alim.


“Hei! Siapa yang menyerang bajingku?!” teriak Pangeran Bajing Tua keras kepada warga yang telah pergi bersembunyi di balik tembok pagar yang setinggi dada orang dewasa.


“Dia!” sahut Arda Handara sambil menunjuk ke belakang, maksudnya menunjuk warga yang tadi berjubel di belakangnya. “Hah! Ke mana orang-orang?”


Arda Handara terkejut bukan main saat mendapati dirinya seorang diri seperti anak hilang. Ia melihat para orang dewasa yang tadi padat berdiri di belakangnya telah memecah diri ke berbagai tempat persembunyian.


Pangeran Bajing Tua berjalan cepat ke arah Arda Handara. (RH)

__ADS_1


__ADS_2