
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
Kerdil. Tampan. Bertubuh kekar. Berambut kepang panjang berhias ikatan benang-benang emas. Begitu garang mengejar lawan. Selalu mendapat sorak dukungan dari ribuan penonton setiap kali memepet lawan dalam Pertandingan Tongkat Bola. Dialah penerbang yang bernama Galang Ocot, penerbang andalan Pasukan Beruang Biru.
Pasukan yang dimaksud di sini bukanlah pasukan prajurit perang, tapi yang dimaksud adalah kesembilanan.
“Jatuhkan! Jatuhkan! Jatuhkan!” teriak ribuan fans fanatik Pasukan Beruang Biru saat Galang Ocot memburu satu penerbang lawan yang kehabisan bola sebagai senjata.
Dikejar dalam jarak dekat oleh Galang Ocot yang terkenal memiliki lemparan bola yang jitu, penerbang berkumis melintang berseragam warna kuning berubah panik. Ia berusaha terbang secepat mungkin untuk menjauhkan jarak kejar, terlebih dia sudah kehabisan bola sebagai senjata.
Galang Ocot dan lawan yang diburunya melesat terbang seperti dua pesawat tempur yang kejar dikejar. Para penerbang hanya boleh terbang di udara atas Kolosom Awan, stadion tempat pertandingan dilaksanakan. Bahkan mereka dilarang terbang di atas tribun karena itu melanggar aturan Dewan Tongkat Terbang, lembaga resmi yang mengatur dan menjaga aturan Pertandingan Tongkat Bola.
Seet! Bdak!
“Kenaaa!”
“Hahaha …!”
“Hihihi …!”
Setelah kejar-kejaran cukup alot tergelar mengelilingi atas Kolosom Awan, akhirnya Galang Ocot melakukan penembakan dengan melempar bola berwarna merahnya. Bola kayu yang memiliki kekerasan lebih keras dari bola warna hijau melesat cepat tepat mengenai belakang kepala penerbang kuning.
Ketika bola itu tepat mengenai belakang kepala penerbang berseragam kuning, ribuan penonton bersorak girang, lalu mereka tertawa sesuai jenis suaranya masing-masing.
Penerbang berbaju kuning seketika merasakan pusing yang teramat. Pandangannya terhadap dunia mendadak berputar kencang seperti roda hadiah. Tahu-tahu penerbang berbaju kuning terjun berputar seperti pesawat kertas salah lipat.
Gugurnya penerbang berbaju kuning itu membuat tim berseragam kuning tersisa tiga orang, sementara Pasukan Beruang Biru tersisa lima orang.
“Itu namanya Galang Ocot, jagoan Pasukan Beruang Biru!” kata Eyang Hagara kepada Arda Handara dengan agak berteriak, agar suaranya bisa melawan kebisingan dari sorakan ribuan pendukung Pasukan Beruang Biru.
“Eyang, namanya Beruang Biru, tapi kenapa pakaiannya warna putih?” tanya Arda Handara dengan berteriak pula.
“Itu warnanya merah, bukan putih!” koreksi Eyang Hagara.
“Hahahak!” tawa Arda Handara yang sengaja berkomedi terhadap kakek berhidung tengkorak itu.
“Pasukan Beruang Biru punya dua seragam. Seragam birunya mereka pakai jika pertandingan pamungkas,” jelas Eyang Hagara.
“Lalu apa nama kelompok baju kuning, Eyang?”
“Namanya Pasukan Ayam Emas!”
“Wah, telurnya pasti juga telur emas. Hahaha!”
“Awas, Ocooot!” teriak Eyang Hagara tiba-tiba meneriaki Galang Ocot, meski ia tahu bahwa teriakannya tidak terdengar oleh Galang Ocot sebab ada ribuan teriakan suara anak kecil juga yang bereaksi.
Teriak spontan itu muncul ketika mereka melihat satu penerbang berbaju kuning melesat terbang dari bawah ke atas memburu Galang Ocot yang seolah tidak menyadari kedatangan lawan.
__ADS_1
Set!
Penerbang yang datang dari bawah melesatkan satu bola merah menargetkan Galang Ocot. Namun, Galang Ocot bisa menghindar lalu dengan lihai ia memutar arah tongkat berkepala bebeknya, sementara lawannya lewat melintas naik ke atas.
“Aku hajar kau, Kerak Ojol!” teriak Galang Ocot sambil melesat naik ganti memburu lawannya.
Kerak Ojol yang adalah seorang pemuda kerdil bergigi tonggos tiga batang, menengok ke belakang. Ia terkejut karena Galang Ocot sudah sangat dekat dengan bokongnya. Buru-buru Kerak Ojol berbelok dan terbang mendatar. Galang Ocon mengikuti seperti ekor. Kerak Ojol segera mengambil bola warna emasnya yang tersisa satu di jaring.
“Rasakan bola emasku, Ocot!” teriak Kerak Ojol sambil melempar ke belakang bola emasnya.
Sess!
Ternyata, ketika dilempar, bola emas itu diliputi lidah api warna kuning sehingga mirip meteor mini ketika melesat.
“Habis kau, Ojol! Hahaha!” teriak Galang Ocot sambil dengan begitu gesitnya bergeser ke samping, membuat bola emas itu tidak mengenai apa pun. Ia menertawakan Kerak Ojol yang kini habis amunisinya.
Galang Ocot terus mengejar di belakang Kerak Ojol yang tinggal mengandalkan kecepatan terbang tongkat berkepala ularnya.
“Jatuhkan Kerak Ojol! Jatuhkan Kerak Ojol! Jatuhkan Kerak Ojol!” teriak para penonton di tribun.
“Jatuhkan Kerak Ojol, Ocooot! Akan aku beri sepuluh ciuman pamungkas jika kau berhasil! Hihihi!” teriak kencang seorang wanit kerdil berwajah menor, lalu tertawa heboh sendiri sambil lompat-lompat di kursinya.
Namun uniknya, bola emas yang sudah ditinggal jauh, berbelok arah dan melesat terbang dengan kecepatan melebihi kecepatan terbang tongkat terbang. Bola emas itu terbang mengejar Galang Ocot.
“Galang Ocot di belakangmuuu!” teriak para penonton mengingatkan penerbang pujaan mereka.
Teriakan itu membuat Galang Ocot menengok ke belakang. Ia cukup terkejut melihat bola emas milik Kerak Ojol justru mengejarnya.
“Mampuslah kau, Ocot Sayang. Hahaha!” teriak Kerak Ojol sambil menengok ke belakang dan tertawa seolah-olah posisinya sedang bagus.
“Terpaksa mengorbankan bola emasku,” batin Galang Ocot lalu cepat merogoh kantung jaringnya. Ia mengambil bola emasnya, menyisakan satu bola hijau. Ia harus cepat karena terbangnya bola emas lebih cepat dari tongkat terbangnya.
Sambil melesat ke samping meninggalkan Kerak Ojol, Galang Ocot melemparkan bola emasnya yang kemudian diselimuti oleh api sinar kuning.
Bluarr!
“Wuaaah!” sorak serentak semua penonton sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, ketika dua bola emas beradu dan meledak keras di udara yang menimbulkan kembang sinar emas begitu besar dan indah.
Ledakan dari peraduan dua bola emas adalah ledakan terkeras yang ada di dalam Pertandingan Tongkat Bola. Setiap ledakan itu terjadi, penonton selalu bersorak girang, tanpa kenal dia pendukung pasukan mana.
Bagi Galang Ocot, dia harus meledakkan bola emas milik Kerak Ojol. Jika tidak, bola itu akan terus mengejarnya dan pasti akan mengenainya karena lebih cepat dari tongkat terbangnya.
Namun, itu membuat Kerak Ojol lolos dari buruan.
“Hahahak!” tawa Kerak Ojol yang terus terbang menjauh dari Galang Ocot.
“Ojoool, lihat ke depan, Pintar!” teriak sejumlah pendukung Pasukan Ayam Emas kesal melihat keteledoran Kerak Ojol. Sebutan “Pintar” adalah sebutan sindiran untuk orang yang teledor.
Mendengar teriakan itu di antara banyak teriakan, Kerak Ojol cepat melihat ke depan. Ternyata, seorang penerbang perempuan cebol berseragam merah, tapi berwajah terlalu cantik dengan gincu warna hijau muda, sudah terbang santai menghadang laju tongkat terbang Kerak Ojol. Gadis cebol itu tersenyum pahit karena terlalu manisnya senyuman itu, kepada Kerak Ojol.
__ADS_1
Kerak Ojol hanya bisa terkejut, terlebih tongkat terbang tidak punya rem darurat. Mau bagaimana pun, ia harus datang kepada gadis anggota Pasukan Beruang Biru itu.
“Selamat tidur, Sayang!” ucap gadis cebol sambil melemparkan bola hijaunya dengan keras dan telak. Suaranya terdengar seperti anak perempuan.
Dak!
“Akk!” jerit Kerak Ojol ketika bola hijau mendarat keras di hidung peseknya.
“Hahaha …!” tawa penonton kaum batangan. Perlu diketahui, penduduk Negeri Orang Separa juga memiliki kaum batangan.
“Hihihi …!” tawa penonton kaum perbukitan.
Tak ayal lagi, Kerak Ojol terlempar dari batang tongkat terbangnya dengan darah mengucur deras dari dua lubang hidungnya yang kecil. Sementara tongkat terbangnya meluncur jatuh, sama-sama ke bawah.
“Hahahak!” tawa kencang Arda Handara melihat adegan pertandingan barusan. Lalu ia mencolek Eyang Hagara dan bertanya, “Eyang, anak perempuan cantik itu namanya siapa?”
“Namanya Hijau Kemot!” jawab Eyang Hagara, masih setengah berteriak.
“Hijau Kemot? Hahaha!” tawa Arda Handara merasa lucu mendengar nama itu. Lalu katanya, “Dia anak yang lucu!”
“Lucu atau cantik?” tanya Eyang Hagara.
“Cantik!” teriak Arda Handara jujur.
“Hahaha!” Kali ini Eyang Hagara yang tertawa.
“Tapi lucu!” tambah Arda Handara lagi. “Coba lihat, Eyang! Hahahak!”
Arda Handara tertawa sambil menunjuk penerbang cantik yang bernama Hijau Kemot.
Hijau Kemot yang sedang tertawa puas karena berhasil menjatuhkan jagoan Pasukan Ayam Emas, menjerit terkejut karena satu penerbang lawan telah dekat kepadanya. Penerbang berseragam kuning itu pastinya mendekat bukan karena jatuh hati, tapi karena ingin menimpuk wajah cantik Hijau Kemot.
“Belelele! Gegar Lolong sialan!” maki Hijau Kemot sambil buru-buru tancap gas.
Akhirnya, Hijau Kemot pun menjadi buruan penerbang yang bernama Gegar Lolong. Namun, Galang Ocot cepat datang membantu rekan setimnya.
Reaksi penonton pun kian bergemuruh melihat aksi penyelamatan yang dilakukan oleh Galang Ocot. Bintang Pasukan Beruang Biru itupun menghabiskan bolanya dengan menumbangkan satu penerbang Pasukan Ayam Emas.
Dengan demikian, tersisalah satu penerbang dari Pasukan Ayam Emas. Hasil akhirnya sudah bisa diterka pasti.
Dari pada harus jatuh ke bawah dengan wajah kian pesek karena timpukan bola kayu, penerbang baju kuning yang tersisa akhirnya angkat kedua tangan tinggi-tinggi. Itu bukan gerakan promosi iklan sabun ketiak, tetapi itu tanda bahwa tim Pasukan Ayam Emas menyerah.
“Pasukan Ayam Emas menyeraaah!” teriak seorang cebol tua berpakaian serba putih dan berikat kepala biru muda. Dia adalah wasit dalam pertandingan itu, yang dikenal dengan nama Hakim Langit.
“Pertandingan Tongkat Bola dimenangkan oleh Pasukan Beruang Biruuu!” teriak Hakim Langit lagi.
“Wuaaah!” sorak sebagian besar penonton yang memang adalah suporter Pasukan Beruang Biru, termasuk Eyang Hagara dan Arda Handara ikut bersorak girang.
Eyang Hagara dan Arda Handara ikut terbawa dalam atmosfer yang tercipta di Kolosom Awan.
__ADS_1
“Pasukan Beruang Biru melaju ke babak pamungkas, Babak Penerbang Langiiit!” teriak Hakim Langit lagi.
“Wuaaah!” sorak gegap gempita tim Pasukan Beruang Biru dan pendukungnya. (RH)