Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Baut Mal 8: Mewaspadai Selat Gurita


__ADS_3

*Bajak Laut Malam (Baut Mal)*


Arda Handara berdiri dengan kepala tengleng memerhatikan Bayu Kikuk yang berjalan seperti orang mabuk. Terlihat jelas bahwa pijakan kakinya ketika memijak agak goyah dan tidak lurus.


“Hahaha!” tawa Arda Handara sambil kembali menegakkan kepalanya. “Kakang Bayu, kenapa kau berjalan seperti orang mabuk?”


“Tidak tahu, Arda. Sepertinya aku mabuk laut. Lantai kapalnya terlihat bergelombang,” jawab Bayu Kikuk.


“Cicirini di mana?” tanya Arda Handara.


“Di kabin, sedang diberi obat oleh Tabib,” jawab Bayu Kikuk. “Eh, tapi jangan ke sana, di sana ada Mimi Mama.”


“Tidak apa-apa,” kata Arda Handara sambil menepuk bahu Bayu Kikuk.


Tanpa sepengetahuan anak tanggung itu, satu ulat bulu bokong periuk diletakkan oleh Arda Handara di bahunya. Tujuannya, Arda Handara ingin melihat efek jika dosis racun ulat bulu itu ditambah kepada diri Bayu Kikuk.


Sebelumnya, Bayu Kikuk memang terkena ulat bulu bokong periuk ketika Arda Handara memukul papan yang menjadi panggung bagi para ulat bulu.


Arda Handara lalu meninggalkan Bayu Kikuk yang sedang berjuang mengendalikan fokusnya. Ia menuju ke kabin di saat ibundanya sedang rapat penting di buritan.


Pelan-pelan Arda Handara berjalan ke pintu kabin, tapi di sisinya, sehingga tidak langsung terlihat oleh orang di dalam.


Pelan-pelan dia melongokkan kepalanya, mengintip aktivitas di dalam kabin yang besar.


“Hei! Mau apa lihat-lihat?!” sentak Mimi Mama, tepat ketika Arda Handara melongokkan wajahnya di pintu.


“Bebek lele!” pekik Arda Handara terkejut.


Bentakan Mimi Mama itu membuat semua yang ada di dalam kabin sontak menengok ke pintu.


“Hehehe!” Arda Handara tertawa cengengesan kepada mereka semua.


Di dalam kabin itu ada Tabib Loang, Tabib Zoang, Mimi Mama, Cicirini, dan ibunya Cicirini. Saat itu, Mimi Mama dan Cicirini sedang jadi pasien. Wajah mereka sedang dibaluri krim tradisional warna hijau hasil tumbukan Zoang.


Mimi Mama dibaluri pada bagian hidungnya yang bengkak oleh sengatan ulat bulu petang. Sementara Cicirini bentol-bentol hitam pada bagian pipi kanannya karena terkena sengatan ulat bulu harimau.


“Mau apa kau datang ke mari, Ulat Bulu?! Kau mau menertawakan aku?” bentak Mimi Mama dari tempatnya.


“Hahahak!” tawa Arda Handara terbahak, membuat Mimi Mama kian geram.


Dia lalu berjalan masuk dengan langkah mengangkang dikedepankan dan badan ditarik ke belakang, sementara tangannya melenggang seperti orang kaya baru.


“Hihihi!” tawa para wanita itu melihat tingkah sang pangeran. Sementara Mimi Mama masih merajuk.


“Gaya jalan apa itu, Gusti Pangeran?” tanya Jinigasi, istri Komandan Bengisan.

__ADS_1


“Gaya jalan anak ganteng. Hahaha!” jawab Arda Handara lalu tertawa.


“Itu gaya jalan anak pendek, bukan anak ganteng. Apanya yang ganteng?” sangkal Mimi Mama cepat.


“Eeeh, belum tahu dia. Biar pendek-pendek selucu Brojol, tapi sudah ada tiga gadis cantik yang mengantre untuk menjadi istriku. Sedangkan kau, tidak ada yang mau menjadi suamimu, kecuali Brojol. Hahaha!” kata Arda Handara tidak mau kalah.


“Memang tidak ada yang mengantre untuk menjadi suamiku, tapi yang mengantre untuk aku bunuh banyak. Yang pertama adalah kau, Ulat Bulu!”  kata Mimi Mama lalu tiba-tiba berlari mengejar kepada Arda Handara.


“Bebek lele!” pekik Arda Handara terkejut lalu buru-buru berbalik dan berlari panik.


Bdak!


“Akk!” jerit Arda Handara saat dia berlari dan langsung menabrak kusen pintu kabin lalu terpantul dan terjengkang.


“Hihihik …!” Semua wanita di dalam kabin itu tertawa terkikik-kikik melihat keapesan Arda Handara.


Mimi Mama yang awalnya marah jadi ikut tertawa kencang, sehingga ramailah suara mereka sampai terdengar ke buritan, tempat Dewi Ara sedang berunding dengan orang-orang dekatnya.


Mimi Mama membatalkan niatnya untuk menghajar Arda Handara. Ia tertawa sambil memegangi perutnya. Meski insiden seperti itu bukan hal baru, tetapi tetap saja selalu sangat lucu.


Arda Handara bangun sambil memegangi dahinya yang benjol memerah.


“Rasakan sendiri hasil dari kejahatanmu!” kata Mimi Mama, seolah puas dengan apa yang dialami oleh Arda Handara.


“Ini bukah hasil dari kejahatanku, tapi dari kejahatanmu!” tukas Arda Handara.


“Jangan coba-coba melemparkan kepadaku, atau aku tidak akan memaafkanmu!” ancam Mimi Mama.


“Ini untuk mengobati lukaku,” kata Arda Handara, lalu menempelkan ulat bulunya ke benjolnya di dahi.


“Sejak kapan ulat bulu bisa mengobati benjolan?” tanya Mimi Mama dengan cibiran tidak percaya.


“Sejak Mimi Mama memberi tahuku,” jawab Arda Handara.


“Aku tidak pernah memberitahumu,” sangkal Mimi Mama.


“Bukan Mimi Mama Anak Cantik berhidung bengkak, tetapi Mimi Mama uyut-uyutku,” tandas Arda Handara.


“Memangnya, ulat bulu itu bicara kepadamu?” tanya Mimi Mama tidak percaya.


“Jelas aku bisa bicara kepada semua uyut-uyut, aku adalah rajanya,” kata Arda Handara jumawa. “Eh, tapi kau tambah cantik dengan hidung bengkak seperti itu, Anak Cantik.”


“Lalu?” tanya Mimi Mama mendelik sambil tangannya hendak memukul kepada Arda Handara.


“Eh eh eh. Kau sudah berjanji tidak akan memukulku,” kata Arda Handara mengingatkan.

__ADS_1


Buk!


Tiba-tiba Mimi Mama melompat menendang dan mengenai pinggul kiri Arda Handara. Tendangan itu membuat Arda Handara terdorong, tapi tidak terjatuh.


“Aku berjanji tidak akan memukulmu, tapi tidak berjanji untuk tidak menendangmu,” kilah Mimi Mama.


“Nenek Juriiig!” teriak Arda Handara sambil berlari kencang.


“Akan aku tendang kau ke laut!” teriak Mimi Mama sambil berlari mengejar ke luar kabin.


Di luar, Arda Handara berlari menuju ke buritan. Mimi Mama cepat mengejar.


Namun kemudian, Mimi Mama harus berhenti berlari. Dilihatnya Arda Handara telah berdiri di sisi Dewi Ara yang sedang berbicara kepada Eyang Hagara, Tikam Ginting, Bewe Sereng, dan Nahkoda Dayung Karat.


Arda Handara melirik kepada Mimi Mama yang tidak berani mendekat. Arda Handara lalu memberi senyum kemenangan.


Mau tidak mau, Mimi Mama hanya berdiri di sisi tumpukan lingkaran tambang besar yang ada di buritan itu. Dari situ dia menyimak apa yang dirundingka oleh para orang tua.


“Apakah Pangeran Bewe Sereng pernah mendengar kisah penyergapan di Selat Gurita ini?” tanya Dewi Ara sambil menunjuk gambar yang terlukis seperti peta di atas selembar papan lebar di tengah-tengah mereka.


“Pernah, Dewi. Armada Kerajaan Srigaya pernah menenggelamkan tiga kapal Bajak Laut Sorak Asin setelah menyergapnya di Selat Gurita. Demikian pula armada Negeri Karang Hijau yang menenggelamkan armada Kerajaan Lintar yang adalah sekutu Negeri Kabut Kuning,” jawab Bewe Sereng. “Siapa yang tiba lebih dulu di Selat Gurita, maka dia memiliki dua pilihan cara menyerang. Bisa dengan pertempuran kapal atau dengan serangan dari Pulau Geleng dan Pulau Galang.”


“Aku curiga ada armada yang akan menghadang kita di Selat Gurita. Sejauh ini perjalanan Pangeran terkesan begitu aman, padahal Negeri Pulau Kabut sudah dikuasai oleh Negeri Karang Hijau. Bagaimana jika kita mengambil rute jauh dengan memutari Pulau Geleng atau Pulau Galang?” kata Dewi Ara.


“Mohon maaf, Gusti,” ucap Dayung Karat. “Perairan barat Pulau Geleng dikuasai oleh Kerajaan Burugur. Sementara perairan timur Pulau Galang dikuasai oleh Kerajaan Walet Biru. Kapal kita adalah kapal bajak laut. Jika kita kedapatan memasuki perairan kedua kerajaan, maka kapal kita akan ditangkap. Adapun Selat Gurita adalah perairan bebas. Jadi hanya Selat Gurita yang bisa kita lewati tanpa melanggar perairan kerajaan lain. Jika kapal kita adalah kapal penumpang biasa, kita masih bisa membayar upeti kepada kerajaan yang perairannya kita lewati.”


“Jadi, upeti bajak laut tidak diterima?” tanya Eyang Hagara.


“Benar, Tetua,” jawab Bewe Sereng.


“Lalu di mana Putri Mahkota disembunyikan?” tanya Dewi Ara.


“Di Pulau Botak. Di selatan Pulau Kabut,” jawab Bewe Sereng sambil menunjuk salah satu gambar yang menyimbolkan sebuah pulau.


Gambar pulau itu berada di tengah-tengah banyak gambar pulau lain.


“Posisinya di belakang Pulau Kabut. Jika kita pergi menemui Putri Mahkota lebih dulu, kita harus memutar jauh agar tidak terpantau oleh orang-orang di Pulau Kabut,” kata Dewi Ara.


“Jika kita ingin ke Pulau Botak terlebih dulu untuk bertemu Putri Mahkota, tidak perlu memutar terlalu jauh. Sekeliling Pulau Kabut ada kabut yang bisa mengurangi jarak pandang, jadi kapal kita bisa melewati Pulau Kabut tanpa terpantau, jika memang kita tidak bertemu kapal perang Negeri Karang Hijau,” kata Bewe Sereng.


“Namun, apakah ke Negeri Pulau Kabut dulu atau ke Pulau Botak, atau ke Pulau Karang Hijau dulu, kita tetap harus melewati Selat Gurita,” kata Dewi Ara.


“Bagaimana kalau kita melewati Selat Gurita di waktu malam saja, Gusti?” usul Dayung Karat.


“Maksudmu … kapal ini akan melewati Selat Gurita sebagai kapal Bajak Laut Malam?” terka Dewi Ara.

__ADS_1


“Benar, Gusti. Anak buahku bisa bekerja tanpa cahaya seperti yang dilakukan oleh para Bajak Laut Malam,” kata Dayung Karat.


“Baik, atur waktu pelayaran. Kita akan melewati Selat Gurita di waktu malam. Setelah itu, kita pergi ke Pulau Sirip-Sirip!” kata Dewi Ara memutuskan. (RH)        


__ADS_2