
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Petang disambut dengan kedukaan keluarga besar Perguruan Cambuk Neraka. Tewasnya seorang tetua perguruan yang bernama Pendekar Cambuk Enam dan hilangnya pusaka Cambuk Usus Bumi, menjadi pukulan keras bagi perguruan.
Di kala perguruan itu berduka, Suwirak duduk didampingi oleh Bong Bong Dut dalam menyambut para tamu. Mereka duduk di lantai ruang tamu dengan berpenerang tiga dian minyak sederhana.
Di tengah-tengah mereka tergelar kehangatan dari ubi, jagung dan kacang rebus. Ditambah wedang hangat asli jahe yang berwarna merah.
“Sejak Ketua Satu Marda Abisugara menjabat sebagai seorang menteri Kerajaan Baturaharja, dalam sepuluh tahun terakhir Perguruan Cambuk Neraka berkembang pesat, baik perguruannya maupun orang-orangnya. Perguruan Cambuk Neraka membuka cabang di beberapa daerah di dalam wilayah Baturaharja. Di sini adalah perguruan pusat. Di Kadipaten Bojongkolot ini bisa dikatakan sudah menjadi kekuasaan Perguruan Cambuk Neraka karena adipatinya adalah putra dari mendiang Ketua Satu, yaitu Kuritan. Wilayah barat kadipaten dipegang oleh Ketua Tiga, istri mendiang Ketua Satu. Wilayah timur kadipaten dipegang oleh Ketua Empat, janda dari mendiang Ketua Satu. Dan wilayah selatan kadipaten dipegang oleh Ketua Lima, adik dari mendiang Ketua Satu,” tutur Suwirak memperkenalkan tentang Perguruan Cambuk Neraka.
“Maaf, Ki,” potong Bewe Sereng memotong. “Kenapa kau menyebut Ketua Tiga dengan sebutan ‘istri mendiang Ketua Satu’ sedangkan Ketua Empat dengan sebutan ‘janda mendiang Ketua Satu’?”
“Karena Ketua Empat adalah janda ditinggal hidup, bukan janda ditinggal mati, Pendekar,” jawab Suwirak santun dengan senyum yang ramah.
“Sepertinya akan ada acara besar?” tanya Bewe Sereng lagi.
“Benar. Seharusnya, besok adalah pertemuan besar para ketua dan petinggi perguruan untuk mengangkat pengganti Ketua Satu. Menurut aturan perguruan, satu purnama setelah kematian Ketua Satu, barulah penggantinya akan diangkat. Namun, dengan adanya musibah ini, mungkin pertemuan akan diundur sehari dua hari,” jelas Suwirak. “Maafkan aku jika bertanya. Jika kalian yang menolong Garda Tadapan, apakah kalian tahu siapa yang membunuh Tetua Pendekar Cambuk Enam?”
“Bewe Sereng yang mengenal kelompok penyerang itu,” kata Dewi Ara.
“Mereka orang-orang dari Negeri Karang Hijau,” kata Bewe Sereng.
“Negeri Karang Hijau?” sebut ulang Suwirak dengan kening berkerut. “Aku baru kali ini mendengarnya.”
“Negeri itu ada jauh di seberang lautan selatan,” tandas Bewe Sereng.
“Oooh,” desah Suwirak manggut-manggut dengan bibir monyong, maklum gapin (gagap informasi). Dunia yang dia tekuni hanyalah masalah kebersihan di lingkungan perguruan, bukan media sosial.
“Kenapa Ketua Dua begitu marah dengan kehilangan pusaka cambuk itu?” tanya Tikam Ginting ikut nimbrung dalam perbincangan.
“Jelas sangat marah. Calon terkuat untuk menggantikan Ketua Satu adalah Ketua Tolak Berang. Dengan menduduki jabatan Ketua Satu, besar kemungkinan akan diangkat sebagai Menteri Pajak di Kerajaan. Selama cambuk itu tidak kembali, itu artinya kursi Ketua Satu akan tetap kosong,” jelas Suwirak.
__ADS_1
“Aku curiga ada dalang di lingkungan dalam yang menggunakan bantuan orang-orang Negeri Karang Hijau,” kata Bewe Sereng.
Terkesiap Suwirak dan Bong Bong Dut mendengar dugaan Bewe Sereng.
“Jika kecurigaan Pendekar benar adanya, kemungkinan besar dalang itu adalah orang yang berambisi juga untuk menduduki Ketua Satu,” kata Suwirak.
“Mungkin seperti itu,” kata Bewe Sereng.
“Dewi, apakah kau tidak khawatir dengan Arda?” tanya Tikam Ginting.
“Aku seorang ibu. Jika aku tidak bisa memastikan keamanan putraku, aku tidak akan setenang ini,” jawab Dewi Ara. “Dia sedang datang ke sini.”
Baru saja Dewi Ara berkata seperti itu, terdengar seseorang datang naik ke rumah panggung tapi pendek itu. Suara lari kaki yang ringan terdengar bukan hanya dua kaki, tapi empat kaki, membuat mereka semua memandang ke arah pintu depan.
“Ibundaaa!” panggil Arda Handara sambil muncul di ambang pintu.
Dewi Ara tidak menyahut, ia hanya memandang kepada putranya. Sepasang mata sang ibu agak melebar saat melihat kemunculan seorang gadis kecil cantik di belakang putranya itu. Gadis kecil itu tidak lain adalah Sulin Mamas, putri dari Ketua Dua.
Semua tamu perguruan itu jadi memandang kepada Bong Bong Dut, membuat pemuda gemuk itu jadi salah tingkah yang berujung cengiran terpaksa.
“Eh, Kakang Gejrot,” sapa Arda Handara asal beri nama, sambil memberi senyum yang menjengkelkan, tapi dibalas dengan cengiran Bong Bong Dut.
“Rupanya kau sudah kenal dengan putraku, Bong Bong?” komentar Dewi Ara.
“Eh, iya, Dewi. Tadi putramu sempat membantuku mengangkat keranjang. Hehehe!” dusta Bong Bong Dut.
“Brojol sudah siuman, aku mau memasukkannya ke dalam sangkarnya,” kata Arda Handara.
Ekor Brojol yang menjuntai keluar dari balik baju Arda Handara terlihat bergerak-gerak.
Arda Handara melihat sangkar bajingnya ada di sisi Setya Gogol yang posisinya paling dalam. Ia lalu berjalan begitu saja lewat di tengah-tengah para orang dewasa yang sedang duduk bersila.
__ADS_1
Puk!
Arda Handara sengaja melintas begitu dekat di depan Bong Bong Dut. Pada saat itu, ada satu benda kecil jatuh ke punggung tangan Bong Bong Dut.
Awalnya Bong Bong Dut menyangka itu hanya kotoran sawang yang jatuh kepadanya, membuatnya merasa memiliki daya tarik yang tinggi. Namun, ketika dia memerhatikan dengan seksama benda itu, ternyata itu adalah seekor ulat bulu warna jingga.
“Jiaaak!” jerit Bong Bong Dut kencang sambil terlompat bangun berdiri dan menghentak-hentakkan tangan kanannya agar si ulat bulu terpental.
Kepanikan Bong Bong Dut membuat lantai rumah itu terguncang.
“Hahahak …!” tawa terpingkal Arda Handara menyaksikan kepanikan Bong Bong Dut.
Ulat bulu di tangan Bong Bong Dut memang terlempar terbang bebas dan ingin hinggap di wajah Bewe Sereng. Namun, pangeran Negeri Pulau Kabut itu sigap menepis si uyut-uyut sehingga berbelok dan melesat lebih cepat mendarat di pipi cantik Lentera Pyar.
Pemomong Arda Handara itu hanya bisa mengerenyit karena sudah terlanjur ditemploki oleh si uyut-uyut.
“Hahaha!” tawa Arda Handara sambil seenaknya saja mencomot ulat bulunya dari pipi Lentera Pyar.
Setelah itu dia pergi mengambil sangkar burungnya dan memasukkan si bajing ke dalam sangkar.
“Ibunda, aku pergi main bersama Suling,” izin Arda Handara kepada sang ibu.
“Iya, tapi jangan membuat kekacauan,” jawab Dewi Ara dengan satu syarat.
“Tenang saja, Ibunda. Semua aman. Hahaha!” kata Arda Handara lalu berjalan keluar sambil tertawa.
Sulin Mamas yang sejak tadi hanya diam tanpa senyum kepada para tamu, segera mengikuti Arda Handara. Sepertinya mereka sudah akur.
“Siapa anak perempuan itu?” tanya Dewi Ara.
“Namanya Sulin Mamas, biasa dipanggil Suling. Dia putri ketiga Ketua Dua,” jawab Suwirak.
__ADS_1
Tampak Bong Bong Dut sudah duduk tenang kembali sambil satu tangannya menggaruk-garuk punggung tangannya yang lain. Hal yang sama dilakukan oleh Lentera Pyar. Dia juga menggaruk-garuk pipinya yang gatal. Semua sama-sama tahu bahwa kegatalan itu berasal dari si uyut-uyut. (RH)