
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Tiba-tiba Murai Manikam menendang keras perut Manik Sari. Sangat cepat dan sangat keras, membuat wanita cantik berpinjung hijau itu terlempar deras dan jatuh di tanah keras keputren.
“Hahaha! Ada penjahat rupanya!” teriak Setan Kerdil yang langsung melompat jauh ke arah jatuhnya Manik Sari. Jangan ditanya bagaimana bisa kaki pendeknya menjadi pelontar yang kuat.
Set! Ting!
Meski ia terjatuh keras di tanah, tetapi Manik Sari bisa melesatkan paku beracunnya yang sejak tadi diselipkan di antara jari. Setan Kerdil yang diserang di udara, cepat menangkis dengan bilah kapaknya. Hal itu juga yang memaksa Setan Kerdil mendarat lebih dini.
Kejadian itu cepat disikapi oleh para Pendekar Pengawal Bunga dengan berkelebatan mengepung posisi Manik Sari.
Ayuk Nika dan kedelapan dayang lainnya berhenti dan terkejut melihat apa yang terjadi. Ternyata dayang baru yang bernama Menik Suro adalah seorang pendekar.
Kini Manik Sari berdiri di atas kuda-kudanya dalam pengepungan sepuluh pendekar yang pastinya memiliki kesaktian bukan level kerupuk.
“Berani-beraninya seekor ayam betina menyusup di antara sekawanan musang,” kata Anak Halus Murai Manikam. “Aku bisa mencium dengan jelas racun yang ada di senjatamu, Nisanak.”
“Hei, Perempuan Siluman!” bentak pendekar cantik yang tetap cantik di saat dia menunjukkan kemarahannya kepada Manik Sari.
Gadis bertubuh tinggi langsing yang selalu puasa Selasa dan Sabtu itu berpakaian serba kuning tanpa warna putih, sehingga tidak mirip telur rebus dibelah ataupun mirip pisang dikupas. Wajah marahnya tidak menutupi jejak lesung pipi yang manis. Dia bersenjatakan sebilah pedang berwarna merah kemerah-merahan. Dia bernama Ina Gemis, berjuluk Bidadari Senyum Lelembut.
“Mana yang kau pilih, mati tanpa dikenali sehingga orang yang ingin kau bunuh tidak memikirkanmu, atau mati dengan dikenali sehingga kau punya makam yang memiliki nama?” tanya Ina Gemis sinis.
“Aku tidak sedikit pun membayangkan bahwa aku akan mati oleh kalian!” seru Manik Sari tanpa gentar sedikit pun.
“Berarti kau tidak lebih dari ayam betina yang dungu!” desis Murai Manikam dengan tatapan tajam.
“Siapa dia, Murai?” tanya satu suara wanita dari sisi Wisma Ratu.
“Dia perempuan penyusup yang membawa senjata beracun. Aku rasa dia pembunuh yang menyamar sebagai dayang, Gusti,” jawab Murai Manikam setelah menengok melihat kepada Permaisuri Ginari yang terlihat basah rambutnya, sepertinya dia usai mandi basah meski tidak bermalam bersama suami.
“Penyusup yang membawa senjata paku beracun, Gusti,” jawab Murai Manikam. “Dia tidak mau menyebutkan namanya, Gusti.”
__ADS_1
“Jika dia datang bersama rombongan dayang, tanyai para dayang itu, siapa yang membiarkannya masuk, lalu lacak orang yang membawanya!” perintah Permaisuri Ginari yang membuat Ayuk Nika dan anak buahnya cemas saat itu juga.
“Biar aku yang menanyai mereka! Hahaha!” sahut Setan Kerdil cepat lalu buru-buru berlari menuju posisi Ayuk Nika dan rekan-rekannya.
Wuuss!
“Aaak!” pekik Setan Kerdil saat serangkum angin kiriman dari Lintang Salaksa menghempaskan tubuhnya ke samping dan jatuh berguling.
Gadis bertubuh mungil tapi berusia dewasa itu lalu berjalan pergi ke posisi para dayang.
“Lintang Kecil, awas kau nanti!” teriak Setan Kerdil gusar.
“Ini urusan perempuan, bukan urusan laki-laki, apalagi orang kerdil!” sahut Lintang Salaksa dingin.
Sambil tetap mengepung posisi Manik Sari, rekan-rekan sesama pendekar hanya tertawa.
“Murai, aku serahkan nasib penyusup itu kepadamu,” kata Permaisuri Ginari.
“Baik, Gusti!” sahut Murai Manikam.
Murai Manikam lalu kembali beralih kepada Manik Sari.
“Asiiik! Hahaha!” tawa para pendekar itu, seolah-olah ketegangan telah mencair menjadi air susu.
Tujuh pendekar lainnya segera mundur menjauh, memberi ruang yang lebih lebar bagi kedua pendekar cantik itu.
“Apakah kau pernah tahu, Kisanak? Di sinilah aku pernah tinggal!” desis Manik Sari.
“Aku terlalu bodoh untuk mengerti apa yang kau katakan. Urusanku saat ini, kau menyusup dan bermaksud mengancam junjunganku. Maka hanya kematian hukuman untukmu,” ujar Murai Manikam.
Gadis itu lalu berlari sedang maju kepada Manik Sari. Dengan gerakan yang santai, dia melompat menerjang Manik Sari.
Manik Sari bergerak cepat menghindar. Santainya pergerakan Murai Manikam, membuat Manik Sari bisa dengan leluasa melakukan perlawanan dan menyerang balik.
“Waaah, main santai dia! Hahaha!” teriak Teriak Cadas sambil menunjuk Murai Manikam. Lelaki kurus bermata sipit itu lalu tertawa sendiri. Entah apanya yang lucu.
__ADS_1
“Ea ea ea! Eit eit ea!” Ki Goyang yang memegang kedua helai ujung selendangnya bersuara seperti pemusik dangdut koplo. Senggakannya muncul mengikuti setiap gerakan dari Murai Manikam. Bokong tuanya yang belum terlalu tua sesekali menghentak ke kanan, ke kiri, bahkan ke depan.
Sebenarnya mudah mempelajari keahlian Ki Goyang dalam bersenggakan. Jika pendekar yang didukungnya menyerang, dia tinggal bersuara “ea”. Jika pendekarnya menghindar atau menangkis, dia bersuara “eit”. Gampang, bukan?
“Ea ea ea!” beberapa Pendekar Pengawal Bunga juga jadi ikut bersenggakan mengikuti senggakan Ki Goyang, sehingga menjadi ramailah kalangan penonton.
“Hahaha!” Ujung-ujungnya mereka tertawa.
Meski terkesan santai, tetapi Murai Manikam juga terlihat begitu tenang dalam menangkis atau mengelaki setiap serangan Manik Sari.
Set set set!
Berulang kali Manik Sari melesatkan paku-paku beracunnya menyerang Murai Manikam, tetapi dengan lihainya bisa dihindari. Selalu demikian, seolah-olah Murai Manikam sudah terbiasa dengan serangan semacam itu. Mungkin, sambil memejamkan mata pun dia bisa menghindari serangan senjata rahasia semacam itu.
Terbukti, ketika Manik Sari berusaha bermain curang, tetap saja senjatanya tidak berhasil bersarang sebatang pun pada tubuh Murai Manikam.
Seperti pada satu waktu, ketika tendangan Murai Manikam berkelebat ingin menyapu kepala Manik Sari. Mantan putri Kerajaan Baturaharja itu cepat membungkuk, sambil tangan kirinya melesatkan tiga batang paku beracunnya.
Secara rumus ilmu matematika atau ilmu fisika, hingga ilmu mantiq dan ilmu mancing, rasanya mustahil lawannya bisa menghindar karena jaraknya begitu dekat.
Namun, tetap saja Murai Manikam bisa menghindar, meski jarak jarum ketika lewat dengan kulitnya hanya setipis kuku.
“Gila, wanita ini seperti tahu gerakan apa yang ingin aku lakukan,” batin Manik Sari.
Ada yang tidak diketahui oleh lawan tapi diketahui oleh suami, sahabat dan junjungan, yakni Anak Halus memiliki ilmu Selangkah Di Depan Maut. Ilmu itu bisa membaca arah dan maksud gerakan anggota tubuh lawan, bahkan bisa membaca maksud gerakan mata secara umum, illa (kecuali) gerakan matanya memang sengaja ditipukan.
Jadi, bagi lawan yang tidak tahu tentang ilmu itu, maka jangan harap bisa menang jika bertarung fisik langsung dengan Murai Manikam.
Oh ya hampir lupa, Murai Manikam belum menikah, jadi belum punya suami. Sekedar bocoran, dia seperti pungguk merindukan matahari, karena mencintai Joko Tenang tanpa diketahui oleh siapa pun, kecuali gurunya.
Kondisi pertarungan itu membuat Manik Sari setengah frustasi, tapi tidak sampai niat bunuh diri di tabrak pesawat. Seolah-olah ilmu main pakunya yang selama ini dia latih hingga ke tingkat yang tersulit, sia-sia belaka.
“Apes sekali aku bertemu lawan seperti ini,” batin Manik Sari. “Siapa sebenarnya dia? Jikapun ini bisa aku atasi, masih ada sepuluh orang pendekar lainnya. Mengapa Kerbau Perak tidak memberitahukan aku tentang adanya para pengawal pendekar sakti ini?”
Pada akhirnya, paku-paku Manik Sari habis tidak tersisa, semua terbuang dengan percuma. Seandainya dia bisa selamat hari ini, sepertinya dia harus beli paku lebih banyak di toko bangunan.
__ADS_1
“Pakumu sudah habis, Nisanak?” tanya Murai Manikam. “Sepertinya kau harus merubah gaya pertarunganmu.”
“Benar. Dan rasakan ajian Sirip Naga-ku!” (RH)