
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Setelah memeluk dan mencium Permaisuri Kerling Sukma dan Permaisuri Ginari yang membuat banyak kaum batangan iri, Prabu Dira Pratakarsa Diwana melepas kedua permaisurinya itu untuk memimpin pasukan.
Fuuut!
Dum dum dum …!
Terompet keberangkatan pun ditiup panjang oleh prajurit peniup terompet perang. Kemudian disusul tabuhan tiga puluh bedug yang berjejer ramai di atas benteng Istana. Seketika suasana menjadi riuh dengan irama yang memacu adrenalin. Suaranya terdengar sampai ke pusat Ibu Kota Sanggara. Tabuhan genderang perang itu mengadopsi budaya perang pasukan Negeri Jang, negeri asal Permaisuri Yuo Kai.
Permaisuri Kerling Sukma dan Permaisuri Ginari memilih naik kuda daripada naik kereta kuda. Alasannya bukan karena ingin merasakan jadi joki daripada jadi kuda terus, tetapi sebagai wanita pendekar dan pemimpin pasukan, berkuda itu memberi kesan yang lebih srikandi. Mungkin berbeda jika yang memimpin adalah Permaisuri Getara Cinta dan Permaisuri Yuo Kai, kereta kuda tertutup lebih cocok.
Permaisuri Mata Hijau tampil dengan pakaian perang berwarna hijau gelap berkombinasi garis-garis merah terang. Sementara Permaisuri Ginari memakai baju perang berwarna serba hitam, membuat warna kulit wajahnya terkesan lebih terang.
Sulit menggambarkan keindahan keduanya yang berpadu dengan karakter pendekar dan ksatria.
Selain dikawal oleh Panglima Bidar Bintang selaku Panglima Pasukan Ular Gunung, kedua permaisuri juga dikawal oleh dua puluh pendekar dari Pasukan Pengawal Bunga, ditambah dikawal oleh Domba Hidung Merah.
Domba Hidung Merah tampil berbeda sendiri karena dialah satu-satunya orang yang menunggangi seekor domba. Ia pun menjadi tamu terhormat di dalam pasukan tersebut. Pamor sebagai pendekar tua sakti yang senior mengalahkan status mantan pemberontaknya.
Daftar 10 pendekar Pengawal Bunga Empat (Permaisuri Kerling Sukma):
1. Nyi Mut.
2. Tangpa Sanding.
3. Pendekar Kerikil Api.
4. Bayu Pratama.
5. Sayap Perak Semai Lena.
6. Legam Pora.
7. Gendang Tepuk Jongkok Sumi.
8. Gebuk Bertabuh.
9. Gemara.
__ADS_1
10. Hantam Buta.
Daftar 10 pendekar pengawal Permaisuri Tangan Peri (Permaisuri Ginari):
1. Anak Halus Murai Manikam
2. Lintang Salaksa
3. Gagu Pelirik.
4. Jeruk Penggoda Mok Nong.
5. Teriak Cadas.
6. Setan Kerdil.
7. Pendekar Tikus Tanah Surik Jarang.
8. Bidadari Senyum Lelembut Ina Gemis.
9. Peneguk Air Suci Reka Balaya.
10. Ki Goyang.
Sosok Panglima Bidar Bintang sendiri adalah seorang pemuda, tapi sudah beristri satu dan belum bercita-cita mengikuti jejak rajanya. Mungkin karena usia istrinya masih enam bulan mendampinginya dan masih terlalu hangat untuk didekap. Bidar Bintang memiliki model wajah yang tegas dengan alis yang tebal dan sorot mata tajam laksana mata elang. Meski perawakan badannya terbilang sedang, tetapi ia memiliki otot-otot yang alot. Ia memiliki senjata berupa cambuk pendek berwarna hijau gelap yang katanya terbuat dari ekor macan gonda, macan yang konon berkulit hijau. Hanya Bidar Bintang yang mengetahui tentang kebenaran adanya macan gonda, karena semua orang belum pernah melihat ada macan berkulit hijau.
Di pelataran Istana telah berbaris sebanyak dua ribu prajurit dari Pasukan Ular Gunung. Pasukan itu berseragam hijau gelap, berhias corak sulaman hitam model sisik ular pada bagian bahu dan dada.
Perlu diketahui, Kerajaan Sanggana memiliki perancang busana profesional dari negeri jauh. Namun, sosok di balik kemegahan busana para permaisuri dan kegagahan seragam militer kerajaan itu, tidak suka jika dirinya diekspos. Karenanya, ia jarang muncul ke permukaan untuk diceritakan.
“Pasukaaan, berangkaaat!” teriak Permaisuri Mata Hijau sambil mengangkat tangan kanannya.
“Pasukan Ular Gunung! Pantau, patuk, lilit, telan! Huwaaa!” teriak dua ribu pasukan itu serentak menyuarakan yel-yel kesatuannya yang berujung teriakan seperti orang murka. Suara mereka menggema keras hingga terdengar di bagian Ibu Kota yang terdekat dengan Istana.
Maka mulailah kedua permaisuri menjalankan kudanya menuju ke Gerbang Naga. Menyusul Pasukan Pengawal Bunga, Domba Hidung Merah, lalu Panglima Bidar Bintang dan pasukannya.
Pasukan Ular Gunung terbagi menjadi tiga tingkatan dan beberapa bagian khusus. Panglima Bidar Bintang pun memiliki dua pengawal utama.
Dum dum dum …!
__ADS_1
Tabuhan genderang keberangkatan pasukan perang terus ditabuh sampai orang terakhir dalam pasukan keluar lewat Gerbang Naga yang dibuka lebar-lebar.
Para penabuh genderang harus bekerja ekstra, karena formasi barisan dibuat begitu panjang.
Uniknya Pasukan Ular Gunung, mereka menciptakan formasi barisan tiga memanjang ke belakang tanpa putus. Jika pasukan itu dipotret menggunakan satelit, maka akan terlihat seperti garis panjang yang bergerak.
Ketika pasukan pimpinan dua permaisuri itu lewat di jalan utama Ibu Kota, mereka menjadi pusat perhatian dan tontonan bagi warga. Orang yang ingin sekali mereka lihat bukanlah Panglima Bidar Bintang, tetapi kedua permaisuri yang tampil dalam busana perang. Bahkan tidak ada yang berani memotong jalan ketika pasukan itu berlalu.
Ketika kepala pasukan sudah tiba di Gerbang Macan Langit, ekornya masih berada di tengah kota.
“Pasukan Ular Gunung! Pantau, patuk, lilit, telan! Huwaaa!” Tiba-tiba terdengar teriakan yel-yel Pasukan Ular Gunung yang disuarakan oleh sekitar tiga ribu prajurit.
Ternyata, di luar Ibu Kota telah menunggu tiga ribu Pasukan Ular Gunung lainnya. Pasukan itu kemudian bergabung sambung-menyambung menjadi satu, itulah Pasukan Ular Gunung. Jika dua ribu pasukan saja sudah panjang, apalagi tambah tiga ribu orang dengan formasi tiga baris ke belakang.
Pasukan Ular Gunung benar-benar menjadi penguasa jalanan. Selain membuat orang-orang di jalanan harus menepi dan menunggu barisan panjang mengular itu lewat sampai habis, pasukan itu juga membuat ada orang yang jadi sangat menderita.
Sebutlah namanya Paijo, seorang pemuda yang sedang memetiki kelapa di kebunnya, tetapi mendadak perutnya mules. Untuk membuang hajatnya, Paijo harus pergi ke sungai yang ada di seberang jalan kebun kelapanya. Namun, ketika dia hendak menyeberang, Pasukan Ular Gunung sedang melintas di jalanan tersebut.
Mau tidak mau, Paijo harus berdiri menunggu sambil memegangi perutnya dan kedua paha dirapatkan, sementara wajahnya mengerenyit menahan rasa yang mendesak. Sebagai warga biasa, ia pun tidak berani menerobos barisan prajurit yang bersenjata. Saat dia melihat ke belakang barisan, ternyata tidak terlihat ujung buntut dari pasukan tersebut.
Ketika hajat Paijo sudah semakin kuat mendesak dan sudah berada di ujung saluran, buru-buru Paijo berbalik dan berlari pergi ke bali semak belukar. Di sanalah dia ber-prat pret ria.
Itulah salah satu contoh imbas buruk yang ditimbulkan oleh formasi Pasukan Ular Gunung. Namun, siapa yang peduli dan tidak ada yang mau peduli. Untung saat itu tidak ada yang namanya emak-emak darurat mau melahirkan dan harus di bawah ke rumah sakit bersalin.
Tidak sampai di situ panjangnya Pasukan Ular Gunung. Sebab, setelah melewati Kadipaten Kenangan, ternyata ada dua ribu Pasukan Ular Gunung lainnya yang sedang menunggu. Namun, kali ini dua ribu prajurit itu menebalkan barisan menjadi empat baris ke belakang.
Hari pun berganti dan malam pun terlewati. Perkemahan luas pun dibangun untuk sementara saat pasukan itu beristirahat.
“Berangkaaat!”
“Berangkaaat!”
“Berangkaaat!”
Ketika ada perintah berangkat atau berhenti, maka teriakan perintah itu akan diucapkan sahut-menyahut dari depan hingga jauh ke belakang. Tidak semua prajurit saling bersahutan kepada rekannya di belakang, tetapi ada para pemimpin prajurit yang bertanggung jawab terhadap pasukan dalam skala terkecil. Merekalah yang bertugas menyambung perintah dari depan ke belakang.
Saat pasukan sampai di Gerbang Perbatasan Utara, di sana telah menunggu tiga ribu pasukan lagi. Mereka pun bergabung yang membuat pasukan semakin besar dan panjang.
Pasukan penjaga perbatasan selatan Kerajaan Baturaharja hanya bisa terkejut, ketika mereka melihat dari balik dinding benteng perbatasan Kerajaan Sanggana Kecil muncul keluar pasukan yang sangat panjang. (RH)
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mohon maaf kepada Readers yang setia, belakangan Author padat kerjaan dan kelelahan, akibatnya sampai up-nya tertatih-tatih. 🙏😟