Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 2: Panah Lebah Pembaca


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


 


Syahbandar Pasir Geni, Komandan Bengisan dan orang-orangnya sudah berkumpul di tengah-tengah pelabuhan bersama warga yang baru saja hendak dievakuasi. Tidak ada yang tersenyum ketika mereka sama-sama memandang ke atas Gunung Ibu, memandang kebakaran besar yang terjadi di lingkungan Istana Puncak yang berada di tengah-tengah lingkaran hutan.


Pada saat yang sama, kapal Bajak Laut Malam semakin jelas terlihat menuju ke arah Pelabuhan Manisawe. Kapal itu makin lama makin mendekat.


Dua kondisi yang berbeda itu membuat cemas semua orang, terutama warga sipil.


Sementara itu, puluhan Pasukan Keamanan Pelabuhan Manisawe sudah terjun ke laut dengan mengendari dua puluh perahu kecil. Satu perahu dinaiki oleh tiga orang prajurit. Pada setiap perahu ada alat busur tombak. Selain tombak-tombak yang akan digunakan sebagai anak panah, para prajurit juga dibekali pedang dan tombak panjang seperti galah.


Kedua puluh perahu perang itu membentuk formasi seperti pagar pada titik beberapa lemparan kerikil dari dermaga.


Meski terlihat keren dan siap tempur, tetapi jantung-jantung mereka berdebar-debar. Selama ini, tidak ada kelompok bajak laut yang berani datang menyerang ke Pelabuhan Manisawe, karena mereka tahu apa akibat dari menyerang daerah yang di bawah perlindungan Kerajaan Srigaya.


Sementara itu, kapal-kapal penumpang, kapal-kapal dagang dan perahu para nelayan sudah diminta untuk dikosongkan dari orang.


“Sepertinya kita diserang,” kata Syahbandar Pasir Geni.


“Kedatangan Bajak Laut Malam jelas-jelas adalah serangan karena jelas siapa yang menyerang, tapi siapa yang menyerang Istana Puncak? Tidak ada pasukan dari luar yang datang menyerang ke Istana. Keamanan di Istana sangat ketat,” kata Komandan Bengisan.


“Tapi … kebakaran sebesar itu tidak mungkin karena kelalaian. Mungkin separuh dari Istana akan hangus. Aku sering naik ke Istana, setahuku aliran sungai hanya melewati kediaman Keluarga Istana, dan itu sulit dijangkau oleh prajurit biasa. Sedangkan aliran sungai yang diperuntukkan kepada rakyat, jaraknya jauh dari Istana. Pasti ada orang yang sengaja membakar,” kata Pasir Geni.


“Apakah kita akan mendapat bantuan dari Pasukan Keamanan Desa dengan adanya kebakaran di Istana Puncak?” tanya Komandan Bengisan.


“Semoga saja, tapi aku juga tidak yakin. Sepertinya suratku akan terlambat tiba di tangan Panglima Kumbiang. Pasukan Keamanan Desa pasti sudah lebih dulu dikerahkan untuk membantu memadamkan api di Istana,” jawab Pasir Geni.


“Semoga Istana melihat api tanda bahaya yang kita nyalakan,” harap Komandan Bengisan.


Memang, Pasir Geni sudah mengirim Gembor Sapeti membawa pesan naik ke Istana Puncak.


Dugaan Pasir Geni tidak meleset. Ketika melihat api berkobar besar di Gunung Ibu, para komandan dari Pasukan Keamanan Desa dengan cepat mengerahkan para prajurit untuk naik ke gunung.


Pulau Gunung Dua memiliki tiga belas desa yang semuanya mengelilingi kaki gunung. Setiap Desa memiliki Pasukan Keamanan Desa yang dipimpin oleh seorang komandan.

__ADS_1


Sementara itu, di lautan.


Semua orang yang ada di atas kapal Bajak Laut Hitam berdiri memandang ke arah Pulau Gunung Dua. Pandangan mereka fokus ke atas Gunung Ibu. Pemaisuri Dewi Ara bahkan ikut berdiri di atap anjungan memandang ke arah pulau.


“Apa yang terjadi dengan Istana Puncak?” tanya Nahkoda Dayung Karat yang tidak bisa dijawab oleh para anak buahnya.


“Entahlah.”


“Aku juga tidak tahu, Nahkoda.”


“Sepertinya Istana Puncak diserang musuh.”


“Pertanda buruk. Pasti pajak kapal akan dinaikkan lagi.”


“Kenapa bisa?”


“Ya untuk biaya pembangunan ulang Istana.”


“Oooh.”


“Dewi, apakah kau ingin tahu apa yang terjadi di sana?” tanya Pangeran Bewe Sereng yang berdiri di sisi Dewi Ara.


“Apa yang ingin kau tawarkan, Pangeran?” tanya Dewi Ara datar.


“Aku bisa mengirim Panah Lebah Pembaca untuk melihat dengan jelas apa yang ada dan yang terjadi di sana,” jawab Bewe Sereng.


“Lakukanlah!” perintah Dewi Ara.


“Baik.”


Bewe Sereng lalu melakukan gerakan tangan kiri seolah sedang menggenggam busur. Sementara tangan kanan bergerak seolah-olah sedang memasang anak panah, lalu menariknya. Bewe Sereng seperti sedang berpantomim.


Wess!


Ketika Bewe Sereng melepas jepitan jari tangan kanannya, ada segaris sinar hijau yang melesat cepat meninggalkan kapal dan menuju ke pulau. Sinar hijau itu berwujud anak panah.

__ADS_1


“Apa itu?!” pekik anak buah kapal yang terkejut melihat lesatan sinar hijau yang kemudian dengan cepat menghilang karena sudah jauh.


Orang-orang yang ada dek haluan pada akhirnya tidak berkomentar setelah menengok ramai-ramai ke atap anjungan. Dewi Ara dan orang-orangnya tidak berkomentar pula melihat reaksi para awak kapal dan penumpang. Siapa yang berani mempertanyakan tindakan sang permaisuri, bisa-bisa dilempar ke laut.


Ternyata, melalui anak panah dari ilmu Panah Lebah Pembaca, Bewe Sereng bisa melihat apa yang dilalui oleh si panah. Seperti saat ini, dia melihat permukaan air laut yang berombak di bawah lintasan panahnya. Bewe Sereng pun bisa mengendalikan panahnya dari jarak jauh, secanggih pesawat tanpa awak (drone) pengintai.


Bagian pulau yang pertama kali didatangi oleh panah sinar hijau adalah Pelabuhan Manisawe.


“Ada serangan! Ada serangan!” teriak seorang prajurit di perahu perang saat menjadi orang yang pertama melihat kedatangan panah sinar hijau.


“Ada serangan! Ada serangan!” teriak prajurit lainnya bersahut-sahutan menunjukkan kepanikan mereka.


Teriakan pemberitahuan itu mengejutkan orang-orang yang berada di atas dermaga, terutama Syahbandar Pasir Geni dan Panglima Bengisan. Mereka cepat memandang ke arah laut. Mereka bisa langsung melihat kedatangan sinar hijau yang terbang cepat di atas mereka.


Uniknya, sinar itu bisa berputar-putar di udara atas pelabuhan seperti serangga besar. Keadaan yang tercipta di pelabuhan itu bisa terlihat jelas oleh pandangan Bewe Sereng.


“Hiaat!” teriak Panglima Bengisan sambil menusukkan dua jarinya ke arah langit.


Sets! Ctas!


Selarik sinar merah melesat lurus dari ujung dua jari itu, bermaksud mengenai sinar hijau. Namun, usaha itu meleset dan sinar merah meledak sendiri pada ujung lesatannya di angkasa.


Setelah berputar-putar di atas pelabuhan yang memberi kecemasan kepada orang-orang, panah sinar hijau lalu melesat terbang meninggalkan pelabuhan, pergi menuju ke atas Gunung Ibu.


“Warga di Pelabuhan Manisawe sedang panik dan para prajurit dalam posisi siap tempur, Dewi,” lapor Bewe Sereng kepada Dewi Ara yang juga didengar oleh Tikam Ginting, Bong Bong Dut dan pasangan yang sama-sama memendam rasa yang belum diungkapkan, yakni Setya Gogol dan Lentera Pyar.


Sementara Mimi Mama dan kakeknya, Serak Gelegar, memilih berada di buritan.


“Hampir semua warga desa keluar dan memandang ke Gunung Ibu,” kata Bewe Sereng yang panah sinar hijaunya sedang melintasi atas desa, membuat heboh warga yang melihatnya. Satu warga memberi tahu warga yang lainnya, demikian seterusnya.


Semua warga yang dilalui oleh panah sinar hanya bisa bertanya-tanya, sinar apakah gerangan. Namun sayang, saat itu belum ada Mbah Gugel yang bisa ditanya tentang perkara apa saja.


“Sepertinya orang-orang di pelabuhan salah paham saat melihat kapal kita, Dewi,” ujar Tikam Ginting.


“Biarkan saja. Biar para prajurit itu ada kegiatan latihan berperang,” jawab Dewi Ara yang entah itu jawaban masa bodoh atau jawaban edukasi.

__ADS_1


“Iya, Dewi,” ucap Tikam Ginting. (RH)


__ADS_2