
*Penakluk Hutan Timur (PHT)*
Kepastian bahwa Pangeran Arda Handara dalam kondisi baik-baik saja, membuat Prabu Dira tidak perlu terburu-buru untuk mengorek cerita dari calon Putra Mahkota Kerajaan Sanggana Kecil itu.
Anak itu hanya menjadi heran ketika terbangun sudah berada di dalam kamarnya, bukan di gubuk kayu tengah Hutan Timur yang menurutnya menyenangkan. Permaisuri Dewi Ara hanya mengatakan bahwa mereka menjemput di saat sang pangeran tertidur nyenyak.
Arda Handara tidak curiga.
Pagi itu, sang pangeran tertua pergi belajar ke Pendapa Kebajikan. Pagi itu dia tidak menyusahkan kedua pemomongnya. Dengan senang hati dia membawa keranjang hasil kerajinan tangan Barada ke kelas. Tentunya keranjang itu berisi banyak Ulat Bulu Petang.
Sementara itu, Perwira Basahan selaku Kepala Penjaga Gerbang Macan Langit harus cukup lama menunggu untuk menghadap Prabu Dira Pratakarsa Diwana.
Saat mendapat kabar bahwa Prabu Dira Pratakarsa Diwana sudah kembali berada di Istana, Perwira Basahan segera berkuda masuk ke Istana bersamaan dengan terbitnya sang surya dari sisi timur dunia.
Namun sayang, Perwira Basahan tidak tahu bahwa ketika dia datang untuk menghadap, sang prabu sedang berlayar di samudera asmara. Sebagai lelaki perkasa yang beristri lebih dari sepuluh, berlayar memutari pulau kenikmatan hanya satu putaran, bukanlah level Prabu Dira. Apa kata kaum Hawa jika seorang Prabu Dira yang sakti hanya sekali menyiram saat “mantap-mantap”? Setidaknya minimal tiga set dengan skor telak 3-0.
Sebab hal itulah, Perwira Basahan harus sabar menunggu. Terlebih Prabu Dira perlu mandi besar. Jangan samakan mandi besarnya Prabu Dira dengan mandi besarnya orang kebanyakan. Mandi besar Prabu Dira dilakukan dalam tiga tahapan ritual. Pertama mandi bersama susu, kedua mandi air susu sapi langsung dari kandang, dan ketiga mandi air yang sebening air mineral.
“Laporan apa yang kau bawa, Perwira?” tanya Prabu Dira setelah ia sudah bersedia menerima penghadapan Perwira Basahan di Ruang Kesejukan, di saat matahari sudah meninggi menuju puncaknya.
“Maafkan hamba, Gusti Prabu, Gusti Ratu, Gusti Permaisuri,” ucap Perwira Basahan dengan suara bergetar. Suaranya seperti itu bukan karena telah menunggu tiga jam lamanya, atau karena kondisi ruangan yang begitu sejuk, tapi karena ia grogi. Baru kali ini dia menghadap seorang diri di depan Prabu Dira, Ratu Tirana dan tujuh permaisuri sekaligus.
“Tenangkan perasaanmu, Perwira,” kata Ratu Tirana lembut seraya tersenyum. Mereka tahu bahwa mental Perwira Basahan sedang tertekan oleh kondisi yang indah dan jarang dia rasakan.
“Ampuni hamba, Gusti Prabu. Hamba memang prajurit yang lemah,” ucap Perwira Basahan setelah buru-buru bersujud. Namun, berbunga-bunga perasaannya mendapat kalimat dari sang ratu yang begitu jelita.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa ringan Prabu Dira.
“Hihihi!” tawa para wanita jelita itu, terutama Permaisuri Sandaria yang tawanya paling ramai.
“Tidak mengapa. Katakanlah apa adanya sesuai keadaanmu,” kata Prabu Dira bijak.
“Kemarin sore, di saat Gusti Prabu tidak sedang berada di Istana, ada seorang asing yang mengaku pangeran dari Negeri Pulau Kabut datang. Namanya Pangeran Bewe Sereng. Dengan lancang dia menantang Gusti Prabu untuk bertarung. Pada akhirnya, Gusti Permaisuri Mata Hati yang melawannya dan menghukumnya dengan hukuman digantung di langit. Gusti Permaisuri Mata Hati memerintahkan aku untuk melapor kepada Gusti Prabu,” ujar Perwira Basahan, tanpa berani memandang wajah Prabu Dira, terlebih memandang kejelitaan sang ratu dan para permaisuri.
“Apakah kau tahu, kenapa pengeran itu ingin bertarung denganku, Perwira?” tanya Prabu Dira.
“Dari pengakuannya kepada Gusti Permaisuri Mata Hati, orang itu ingin memastikan apakah Gusti Prabu bisa menolong Negeri Pulau Kabut atau tidak. Jika dia kalah, kemungkinan Gusti Prabu bisa menolong negerinya. Kira-kira seperti itu, Gusti Prabu.”
“Aku mengerti. Dia adalah pangeran dari negeri yang ada di lautan. Negerinya terancam dan dia ingin meminta pertolongan dari Sanggana Kecil. Namun, dia asing terhadap Prabu Dira yang sudah ternama dengan kejelitaan dan kesaktian para istrinya ….”
“Hihihi …!” tawa ramai para wanita-wanita indah itu, sehingga memutus perkataan suami mereka.
“Agar upayanya dalam meminta bantuan tidak sia-sia atau bahkan justru merugikan, dia ingin memastikan bahwa kita memang layak menolong dia dan kerajaannya,” kata Prabu Dira menyempurnakan kata-katanya. Lalu katanya lagi, “Baiklah, Perwira. Kembalilah ke tempat tugasmu. Hanya Permaisuri Mata Hati yang bisa menurunkan pangeran itu. Jika dia sudah turun, segera bawa ke Tabib Istana.”
Dengan perasaan bertabur seribu bunga, Perwira Basahan beringsut mundur. Sekeluarnya dari Ruang Kesejukan, ingin rasanya Perwira Basahan melompat bersorak kegirangan sambil meninju langit.
“Aku menghadap Gusti Ratu dan tujuh permaisuri secara langsung. Luar biasa!” ucap Perwira Basahan kepada dirinya sendiri sambil menghentak-hentakkan tinjunya di depan perut.
Para prajurit jaga hanya memandangi Perwira Basahan yang bertingkah aneh.
“Hehehe!” tawa cengengesan Perwira Basahan sambil membungkuk-bungkuk saat sadar bahwa ia menjadi pusat perhatian para prajurit jaga Istana. Ia segera pergi dengan membawa *********** sendiri.
“Permaisuri Mata Hijau, jemputlah Permaisuri Guru!” perintah Prabu Dira kepada Permaisuri Kerling Sukma yang merupakan murid kesayangan Permaisuri Nara.
__ADS_1
“Baik, Kakang Prabu,” ucap Permaisuri Kerling Sukma patuh.
“Riskaya, pergilah jemput Pangeran Arda Handara!” perintah Prabu Dira lagi
“Baik, Gusti Prabu,” ucap Riskaya patuh.
Di dalam ruangan itu, hanya ada tiga permaisuri yang belum hadir, yakni Permaisuri Nara, Permaisuri Sri Rahayu dan Permaisuri Dewi Ara.
Namun, ketika Permaisuri Nara tiba, ternyata Permaisuri Sri Rahayu juga tiba bersama dengan Permaisuri Dewi Ara. Maka lengkaplah semua istri Prabu Dira hadir di Ruang Kesejukan.
Setelah semua formalitas dilakukan dan semua sudah duduk di kursinya masing-masing, Prabu Dira langsung bertanya kepada Permaisuri Nara.
“Permaisuriku yang maha sakti, apakah kau mengenal tokoh sakti bernama Ragu Santang?” tanya Prabu Diri.
Dingin dan datar wajah jelita Permaisuri Nara mendengar pertanyaan itu, tetapi sebenarnya jantungnya terkejut.
“Kenapa Kakang Prabu tahu nama itu?” Permaisuri Nara justru balik bertanya.
“Ragu Santang adalah penghuni Hutan Timur selama ini,” jawab Prabu Dira. “Tadi malam, kami semua bertemu dengannya saat mencari Pangeran Arda.”
“Semua pendekar yang memiliki usia di atas seratus tahun sudah menyangka Tetua Ragu Santang telah mati dibunuh oleh Ratu Cemara Suci, guruku. Jika Tetua Ragu Santang hidup di Hutan Timur, itu artinya dia tidak dibunuh, tetapi dikutuk oleh Ratu Cemara Suci. Aku juga menganggapnya sebagai guru. Namun, sejak ia berbuat kotor dengan mengintip Ratu Cemara Suci mandi telanjang di Sendang Dewi Suci, aku pun turut membencinya. Perbuatan Tetua Ragu Santang telah membuat guruku murka luar biasa. Sebab, kesucian Guru dianggap telah ternodai jika ada mata lelaki yang melihat keseluruhan tubuhnya. Ketika aku masih berguru kepada Ratu Cemara Suci, aku pun sangat akrab dengan Ragu Santang. Para pendekar tua mengenalnya dengan julukan Dewa Penggenggam Matahari. Bagaimana kondisinya selama ini di Hutan Timur?” kisah Permaisuri Nara yang berujung dengan pertanyaan.
“Sangat mengerikan,” jawab Ratu Tirana lirih, seolah mengandung nada kesedihan.
“Aku akan pergi menemuinya, Kakang Prabu,” ucap Permaisuri Nara.
“Tapi sebelum kau pergi, turunkan pangeran dari Negeri Pulau Kabut itu,” pinta Prabu Dira.
__ADS_1
“Baik. Negeri orang itu terancam kehancuran oleh Negeri Karang Hijau. Namun, caranya terlalu lancang,” kata Permaisuri Nara.
“Negeri Karang Hijau,” sebut ulang Permaisuri Getara Cinta. (RH)