Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 24: Kehebatan Genggam Garam


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Kematian para orang sakti mereka membuat pasukan Angkatan Laut Kerajaan Puncak Samudera jatuh mental dan patah hati. Sekedar pemberitahuan, patah hati bukan semata-mata dalam perkara cinta, tetapi juga dalam perkara peperangan.


Laksamana Galala Lio yang memiliki ilmu kekebalan sangat hebat pun dengan mudahnya disikat habis oleh Permaisuri Dewi Ara.


Kemangi Yom pun sudah tewas karena kehabisan darah. Perlawanan terakhirnya masih sempat membuat Tangan Kanan Seser Kaseser menderita luka parah. Jika dia jatuh tergeletak dengan kaki kanan yang hancur parah, maka Seser Kaseser bergerak perlahan dengan luka bahu yang cukup parah.


Sementara itu di atas benteng. Singkat cerita. Komandan Balit Lir yang dikeroyok oleh Keong Gelap dan rekan-rekannya, harus berakhir mengenaskan dengan lima senjata yang bersarang pada tubuhnya sekaligus, yang kemudian disusul pemenggalan oleh Keong Gelap.


“Benteng jatuh! Benteng jatuh!” teriak Keong Gelap dan rekan-rekannya bersusul-susulan karena tidak kompak, sehingga terdengar berisik.


Namun, kebisingan itu jelas menarik perhatian orang-orang di pelabuhan, membuat pasukan Kerajaan Puncak Samudera semakin broken heart.


“Anak-anak, seraaang!” teriak Tangan Kanan yang muncul dari air bersama rekan-rekannya.


“Seraaang!” teriak Raga Ombak pula.


Belasan orang anggota Bajak Laut Malam kembali naik ke pelabuhan dalam kondisi kuyup dan dingin, tanpa takut masuk angin. Mereka sangat bersemangat melihat sang ketua bertarung seperti seorang lelaki.


Namun, ….


“Kami menyerah! Kami menyerah!” teriak prajurit-prajurit angkatan laut yang masih hidup. Mereka buru-buru menjatuhkan senjata dan turun tiarap.


“Jangan bunuh! Jangan bunuh!” teriak prajurit yang lain sambil turun jongkok dengan mata terpejam, takut dibacok golok.


Para prajurit yang di atas pelabuhan, di atas kapal yang masih sehat wal afiat, segera menjatuhkan senjata dan diri, meski sebenarnya jumlah anggota bajak laut itu lebih sedikit dari jumlah mereka.


Tinggallah pertarungan antara Genggam Garam dan Lulug Ohe yang tergelar. Genggam Garam tidak mau berhenti karena dia tahu dirinya di atas angin. Sementara Lulug Ohe yang bertarung dengan duka mendalam, juga tidak mau berhenti karena gengsi dan dendam.


Perkembangan itu membuat Permaisuri Dewi Ara berhenti di dekat gerbang pelabuhan dan memilih menunggu pertarungan Genggam Garam berakhir. Ia pun bisa menerka siapa yang akan menjadi pemenang.


Genggam Garam telah mengurung pertarungannya dengan dinding sinar merah bening berhias kobaran api. Ketinggian kurungan itu lebih tinggi daripada pohon kelapa, membuat Lulug Ohe tidak bisa ke mana-mana.


Bung!


Ketika telapak bersinar hijau Lulug Ohe datang menyerang. Genggam Garam memilih mengadunya dengan tinju yang membara ungu. Pertemuan itu menimbulkan dentuman yang mementalkan tubuh Lulug Ohe dan menabrak dinding kurungan.


Cess!


“Akkh!” jerit Lulug Ohe yang kulit dan bagian bajunya langsung terbakar ketika menyentuh dinding panas itu. Ia cepat memadamkan api yang sempat muncul.


Sementara Genggam Garam hanya terjajar beberapa tindak akibat dari peraduan itu.


Dia tidak berhenti. Selanjutnya dia melancarkan ilmu Tinju Seribu Nyawa.

__ADS_1


Bugs bugs bugs …!


Seperti seorang petinju profesional yang sedang berlatih tinju cepat, Genggam Garam meninju udara di depannya dengan ritme yang cepat. Dari setiap tinjuan melesat bayangan sinar biru berwujud kepalan tangan yang menyerang Lulug Ohe.


Lulug Ohe harus bergerak cepat pula dengan kedua perisai sinar hijau pada kedua tangannya. Ia berusaha menangkis semua sinar tinju yang menyerangnya terus-terusan.


Buks! Bugs!


“Hukhrr!” pekik tertahan dan begitu dalam Lulug Ohe.


Entah harus disebut apa Genggam Garam. Entah memang dia sengaja atau Lulug Ohe yang kecolongan dalam pertahanannya.


Satu tinju Genggam Garam melesat lewat bawah dan menghantam kejantanan Lulug Ohe. Kejantanan yang sekaligus kelemahan itu jelas langsung membuat Lulug Ohe mati sebelum ajal.


Tinju yang menghantam sarang burung itu, langsung disusul dengan tinju yang menghantam wajah Lulug Ohe. Hantaman pada pusat celana itu membuat Lulug Ohe langsung hilang pertahanan.


Cess!


“Akkg!” jerit Lulug Ohe yang punggungnya kembali menempel pada dinding kurungan sinar merah berapi.


Buks buks buks …!


Lulug Ohe sudah tidak berdaya ketika tinju beruntun menghajari wajah dan tubuhnya, memaksa tulang-tulang wajah dan tubuhnya melepaskan diri dari ikatan sesama tulang.


“Terima kasih, Dewi Centing,” ucap Genggam Garam yang mengakhiri agresi tinjunya.


Genggam Garam pun mengakhiri mandat dari ilmu kurungan arena tarung bebasnya.


“Hahaha!” tawa Genggam Garam dengan jumawa sambil berjalan menuju ke posisi Dewi Ara.


“Hidup Dewi Centing!” teriak Tangan Kanan merayakan kemenangan ketuanya.


“Hidup Dewi Centing!” teriak anggota bajak laut lainnya.


“Hei! Sebut namaku!” teriak Genggam Garam kepada Tangan Kanan. Dia interupsi.


“Siap, siap, Ketua!” sahut Tangan Kanan seperti bawahan yang siap salah. Kemudian dia lalu berteriak meralat, “Hidup Ketua!”


“Tua!” teriak Bong Bong Dut kencang lebih dulu.


“Hidup Ketua! Hahaha!” teriak anggota bajak laut yang lain, lalu sebagian tertawa gegara mendengar teriak Bong Bong Dut yang mendahului takdir.


“Hidup Ketua!” teriak Tangan Kanan lagi, masih berapi-api.


“Tua!” teriak semua anggota bajak laut kompak, ikut-ikutan Bong Bong Dut. Mengejutkan Genggam Garam dan Tangan Kanan.


“Hahaha …!” Kemudian para anak buah itu tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


“Awas kalian!” teriak Genggam Garam mengancam dengan mata mendelik dan menunjuk Keong Gelap di atas benteng.


Genggam Garam lalu berkelebat dan berlari di udara. dia mendarat di hadapan Dewi Ara yang kian terlihat jelas kecantikannya, seiring langit di timur kian luas cahaya putihnya.


“Hormatku, Gusti Permaisuri,” ucap Genggam Garam menjura hormat.


“Belenggu semua prajurit itu. Amankan kapal besar itu untukku. Jaga pelabuhan ini sampai aku memanggilmu ke Istana!” perintah Dewi Ara kepada Genggam Garam.


“Baik, Gusti!” jawab Genggam Garam penuh semangat.


“Jika ada barang berharga di kapal besar itu, kalian boleh mengambilnya,” kata Dewi Ara lagi.


“Terima kasih, Gusti,” ucap Genggam Garam gembira dengan senyum yang lebar.


“Gejrot, panggil kapal hitam untuk merapat. Kosongkan kapal dan kembalikan kepada Ketua. Minta Tabib untuk menangani luka Tangan Kanan!” perintah Dewi Ara kepada Bong Bong Dut.


“Baik, Gusti!” ucap Bong Bong Dut sangat semangat. Itu karena dia berkesempatan bertemu dengan Tabib Zoang lagi. Saat itu juga dia sudah memiliki rencana untuk membantu Tabib Zoang mengobati Seser Kaseser yang datang mendekat dengan dipapah oleh Segaris Ayu.


Bong Bong Dut segera berlari pergi menuju ujung dermaga untuk memanggil Kapal Bintang Hitam.


“Tapi, Tangan Kanan tidak terluka, Gusti,” kata Genggam Garam.


“Tangan Kanan siapa maksudmu?” tanya Dewi Ara.


“Tangan Kanan anak buahku. Yang itu,” jawab Genggam Garam lalu menunjuk Tangan Kanan.


Ditunjuk oleh ketuanya di depan Dewi Ara yang pernah melemparnya ke laut, Tangan Kanan terkejut. Pikiran buruk langsung meliputi dugaannya. Pastinya Dewi Ara tidak akan melupakan wajahnya yang tampan di kala gelap.


“Yang aku maksud Tangan Kanan Putri Mahkota,” tandas Dewi Ara tanpa niat membalas dendam kepada Tangan Kanan si bajak laut.


“Oooh! Siap salah,” ucap Genggam Garam pelan.


“Laksanakan tugasmu. Aku akan menyerang ke Istana,” kata Dewi Ara.


“Baik, Gusti!” ucap Genggam Garam.


Dug!


Tiba-tiba terdengar hantaman benda keras. Mereka segera melihat ke ujung dermaga. Ternyata Mimi Mama yang menghantamkan kayu yang dikendarainya ke tiang dermaga, lalu tubuhnya terlempar jauh ke atas pelabuhan.


“Hihihi!” tawa gadis kecil cantik jelita itu.


Dari tawanya, sepertinya anak pembunuh itu sudah lebih baik kondisinya setelah bertarung dengan Gandala Moi di lautan.


“Bibi Permaisuri, jangan tinggalkan aku!” teriak Mimi Mama sambil berlari kecil setelah mendarat. Kondisinya masih basah.


“Ikat semua pasukan musuh yang masih hidup!” teriak Genggam Geram kepada anak buahnya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2