
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Dewi Ara berdiri di atas atap bangunan yang menjadi kantor bagi para petugas pos pemeriksaan. Ia memerhatikan pertarungan besar yang terjadi di pintu masuk ke Kota Bandakawen.
Ada sebanyak sepuluh pendekar keamanan kota pelabuhan itu, delapan orang Penendang Delapan dan dua pengawal Syahbandar, dikeroyok oleh lebih dua puluh pendekar. Rata-rata dua lawan satu.
Di sisi lain, di arah luar titik pemeriksaan, tampak berdiri Putri Tompel bersama beberapa orang anak buah terdekatnya, termasuk Pendekar Kipas Pisau Rowo Kejang. Mereka belum turun langsung.
Serangan terhadap pos pemeriksaan itu membuat arus manusia dan barang yang rutin keluar masuk jadi terhenti.
Kemunculan Dewi Ara yang tiba-tiba di atas atap menarik perhatian Putri Tompel.
Penendang Delapan bersama Jago Jantan dan Jampang Kawe bertarung sengit menghadapi pengeroyokan itu. Namun, tingginya level kesaktian kesepuluh personel keamanan itu membuat para pengeroyok harus bekerja keras, tidak semudah membunuh petugas pos pemeriksaan.
“Apakah kau kenal wanita di atas itu, Rowo Kejang?” tanya Putri Tompel tanpa menengok kepada lelaki botak plontos di sisi kanannya.
“Aku tidak ….”
“Ternyata wawasanmu seluas kepalamu saja,” kata Putri Tompel memotong perkataan Rowo Kejang dengan tatapan tajam ke atas atap.
Ingin rasanya Rowo Kejang menepak mulut wanita di sisinya karena sudah memotong bicaranya padahal baru dua kata, tetapi Putri Tompel adalah pemimpin puluhan pendekar.
“Bidik Kuping, panah perempuan di atas itu!” perintah Putri Tompel kepada seorang anak buahnya yang memang berbekal busur dan anak panah.
“Baik, Ketua!” ucap lelaki berpanah.
Pendekar yang berdiri di ujung sisi kiri Putri Tompel itu segera menggenggam kuat busurnya dan memasang anak panahnya. Ia menarik ekor anak panah bersama senar yang mengikuti. Arah bidikannya lurus miring ke atas, ke arah sosok Dewi Ara. Jarak yang cukup jauh bukan halangan bagi panah seorang pendekar.
“Ke-ke-ketua!” pekik Bidik Kuping terkejut, karena tiba-tiba tangan dan busurnya bergerak berbelok arah ke kanan, mengarahkan bidikannya kepada Putri Tompel dan Rowo Kejang.
Tindakan Bidik Kuping itu mengejutkan Putri Tompel dan Rowo Kejang.
Set! Sing! Tseb!
“Akk!” jerit seorang pendekar anak buah Putri Tompel yang sedang bertarung, saat punggungnya ditusuki oleh anak panah hingga tembus ke dada.
__ADS_1
Cerita kurang dari satu detik itu seperti ini: Bidik Kuping melepas anak panahnya tepak ke arah wajah Putri Tompel, tetapi pemimpin Kelompok Ronggo Keling itu sontak memasang dua jarinya di sisi wajahnya yang sudah bersinar merah. Anak panah yang dihadang oleh dua jari bersinar itu, membuatnya berbelok dan melesat yang justru membokong seorang pendekar anak buah Putri Tompel.
Sut! Buks!
“Hukr!”
Setelah selamat dari pemanahan mendadak itu, Putri Tompel langsung melesatkan tinju jarak jauhnya kepada Bidik Kuping. Satu bayangan tinju sinar merah melesat menghantam dada Bidik Kuping, membuat lelaki pemanah itu terlompat dan jatuh terjengkang dengan mulut memuncratkan darah. Dada pun hangus terbakar.
“Pengkhianat busuk!” maki Putri Tompel marah.
“Bukan aku yang ….”
“Jika kau gagal kau berkelit, tapi seandainya kau berhasil membunuhku, baru kau mau mengaku, hah?!” bentak Putri Tompel tanpa memberi kesempatan Bidik Kuping menyelesaikan kalimatnya.
Bidik Kuping sudah tidak bisa bangkit lagi. Satu Tinju Ratu Iblis cukup membuatnya menuju ke kematian. Memang, setelah tujuh setengah tarikan napas, Bidik Kuping yang dikerjai oleh kekuatan mata Dewi Ara, harus mengikhlaskan nyawanya.
Clap!
Tiba-tiba di atas atap, telah muncul sosok ganteng Santra Buna di sisi Dewi Ara, tapi tidak terlalu dekat. Sepertinya Santra Buna menerapkan budaya social distancing. Jika tidak, ia khawatir Dewi Ara justru akan menyikutnya dan melemparkannya ke laut.
“Para pendekarmu ternyata cepat juga, sebelum kau datang, mereka sudah tiba lebih dulu di sini,” kata Dewi Ara.
“Hahaha!” tawa pendek Santra Buna, menunjukkan bahwa ia adalah karakter yang cool. Lalu kilahnya, “Aku sempat ke kamar mandi lebih dulu.”
“Aaak! Panaaas! Panaaas!” teriak seorang pendekar pembunuh bayaran saat ia terkena kehebatan ilmu Tombak Payung Neraka dari salah satu Penendang Delapan. Pendekar itu panik plus bingung harus menghamburkan diri ke pelukan siapa dalam kondisi tubuh berselimut api.
“Sepertinya orang-orangmu tidak membutuhkan bantuan, Syahbandar,” kata Dewi Ara.
“Mungkin seperti itu, tapi kita tidak tahu apa yang dimiliki oleh para pemimpin pembunuh bayaran itu,” kata Santra Bana.
“Akk!” jerit seorang pendekar pembunuh bayaran lagi saat lehernya mendapat tusukan keras dari ujung kaki Letus Mimpi yang meremukkan tulang lehernya.
“Panas! Panaaas!” teriak satu orang lagi menyusul, setelah terkena segaris api dari tendangan mengibas Baling Sosor. Padahal tanpa berteriak pun, semua orang tahu bahwa dia sedang kepanasan dibakar api.
Melihat anak buahnya mulai berguguran satu demi satu, Putri Tompel merasa terusik zona nyamannya.
“Lawan dengan Tiga Dalam Satu!” teriak Putri Tompel memberi perintah.
__ADS_1
Para pendekar anggota Kelompok Ronggo Keling segera melaksanakan perintah pimpinan mereka.
Tiga Dalam Satu adalah kesaktian berkelompok yang hanya bisa dilakukan oleh tiga orang. Kelompok Ronggo Keling memiliki satu ilmu yang wajib dipelajari dan dikuasai oleh setiap anggota, yaitu ilmu Tiga Dalam Satu.
Cara kerja ilmu Tiga Dalam Satu, yang pada zaman mendatang lebih populer dengan istilah three in one, adalah menyatukan tiga tenaga sakti berbeda dan harus sesuai rumusan. Tenaga tiga harus unsur panas, tenaga dua unsur padat dan tenaga satu unsur angin.
Seperti permainan berkelompok. Para pendekar anggota Ronggo Keling berkumpul tiga orang tiga orang, lalu satu orang menghadap ke arah lawan sambil melakukan gerakan penyiapan tenaga sakti unsur anginnya. Dua rekannya berdiri berbaris di belakangnya.
Ada enam kelompok yang terbentuk. Sementara pendekar bayaran non Ronggo Keling tetap bertarung gaya bebas melawan empat pendekar Kota Bandakawen lainnya.
Pak! Pak! Wurss!
Orang ketiga lalu menghantamkan telapak tangan kanannya ke kepala rekannya yang menjadi orang kedua. Sinar merah dari telapak tangan itu masuk ke dalam kepala rekannya. Setelah itu, orang kedua cepat menghantamkan telapak tangan kanannya ke kepala rekannya yang di depan. Sinar biru yang muncul dari telapak tangan itu meresap masuk ke dalam kepala orang pertama.
Maka orang pertama langsung mengeksekusi dengan hentakan kedua tangan ke depan. Keenam regu per tiga orang itu melakukan hal yang sama.
Maka hasilnya, dari hentakan kedua tangan keenam orang itu melesat sinar hijau besar dan panjang, lebarnya lebih lebar dari tubuh satu manusia besar.
Bzos! Bzos! Bzos …!
Brass! Brass! Brass …!
“Akk! Akk! Akh …!” pekik empat anggota Penendang Delapan bersusulan dengan tubuh terpental keras ke belakang, lalu jatuh dengan berbagai gaya, tapi sama-sama menyemburkan darah.
Dalam menghadapi ilmu Tiga Dalam Satu, empat pendekar dari Delapan Penendang memilih melawan dengan ilmu Tombak Payung Neraka. Ternyata ketika payung api bertemu dengan ujung sinar hijau, anggota keamanan kalah adu. Mereka terlempar. Sementara para pelepas sinar hijau hanya terdorong ke belakang menabrak rekannya.
“Uhhuk uhhuk!”
Namun, mereka juga batuk darah.
Sess! Sess! Bset! Bset!
“Aaak! Akk! Akk …!” jerit sejumlah pendekar bayaran di dua grup dengan tubuh terbakar kobaran api.
Tidak semua personel Delapan Penendang memilih adu sakti, dua di antaranya, yakni Kuyang Wangi dan Lilin Temaram, memilih menghindar dengan lompatan tinggi sambil tendangan kaki kanannya mengibas, melesatkan selengkungan garis api.
Ketika sinar hijau panjang lewat di bawah kedua pendekar wanita itu, sabit api mereka melesat mengenai dua tim anggota Ronggo Keling. Dari enam orang, empat orang terkena langsung ilmu Tombak Payung Neraka yang langsung menebas dan membakar tubuh mereka. (RH)
__ADS_1