Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Kera Asin 16: Di Bawah Pohon Jambu


__ADS_3

*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*


Mendengar suara gaduh di sela-sela suara derasnya hujan, para karyawan penginapan kembali berkumpul di ambang pintu. Bukan hanya mereka yang sangat tertarik menyaksikan pertarungan dua pendekar wanita, tetapi juga Niring Kuwikuwi. Wanita padat lemak itu berdiri antusias di belakang para pekerjanya.


Sementara hujan tak kunjung mereda. Kata orang di masa depan, ini hujan yang awet. Namun tidak jelas maksudnya, apakah awet muda atau awet tua.


Cempaka yang dalam posisi separuh bersila di lantai teras penginapan, melanjutkan serangannya dengan satu kibasan pedang yang rendah.


Set! Bset!


Satu lingkungan sinar ungu tipis melesat menyerang dua jengkal dari papan lantai.


Jika Tikam Ginting yang berada di sisi jauh meja buru-buru melompat bersalto rendah, maka Dewi Ara cukup menggenjot lengan kanannya di lantai sisi badannya. Dorongan itu membuat tubuh Dewi Ara naik cepat dengan kondisi tetap bersila.


Sinar ungu tipis itu memangkas keempat kaki meja dan lewat di bawah tubuh Dewi Ara dan Tikam Ginting.


Terpangkasnya keempat kakinya, membuat meja jatuh lebih rendah, termasuk kendi, gelas-gelas dan bakul kacang rebus yang kemudian terhentak memantul berantakan.


Pada saat itu, Cempaka telah bersalto cepat di udara dengan pedang menebas hendak membelah kepala Dewi Ara.


Set set set …!


Tas tas tas …!


Lagi-lagi Dewi Ara menggunakan kacang rebus sebagai senjata. Namun kali ini, semua kacang rebus yang tersisa di bakul melesat menyerang tubuh Cempaka yang sedang bersalto keren.


Fokus Cempaka yang ingin membelah kepala Dewi Ara, membuatnya tidak bisa menghindar, ketika rombongan kacang rebus itu lebih dulu menembaki tubuhnya.


Rupanya, ketika menyerang Dewi Ara, Cempaka sudah menamengi dirinya dengan ilmu perisai yang tak berwujud. Saat kacang-kacang itu menghantami tubuhnya, muncul percikan-percikan sinar hijau yang terlihat jelas di suasana remang-remang yang hanya berpenerang obor penginapan. Namun, kencangnya hantaman puluhan kacang tersebut berhasil mendorong tubuh Cempaka sehingga tebasannya bergeser jauh dari sasaran.


Bdak dak!


Cempaka jatuh keras di lantai teras dengan dua kali pantulan. Ia cepat bangkit tanpa menderita luka apa pun. Sejauh ini ia menunjukkan kelasnya.


Wut wut!


Set! Bdak!


Meja kayu tiba-tiba terlempar sendiri dengan dua kali saltoan menyerang Cempaka. Wanita separuh baya pas itu dengan tangkas menebaskan pedangnya, memotong meja menjadi dua semudah memotong kue agar-agar.


Namun, satu hal mengejutkan terjadi setelah meja itu terbelah dua. Kedua bagian meja tidak ke mana-mana, tidak jatuh dan tidak terpental, melainkan bergerak kompak menghantam kepala Cempaka dari kanan dan kiri.


“Hahahak …!”


“Hihihik …!”

__ADS_1


Meledaklah tawa Arda Handara dan kawan-kawan. Bahkan para pegawai penginapan dan tuannya ikut tertawa kencang menyaksikan Cempaka digaplok dengan dua potongan papan.


Cempaka mendadak berdiri oleng dengan pandangan mata yang tidak pasti. Kasihan, kedua lubang hidungnya mengucurkan darah. Itu bukan mimisan karena jatuh cinta, tetapi darah karena ada pembuluh di dalam kepala yang pecah.


Tidak lama. Cempaka kembali bisa menguasai dirinya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya yang pusing berat. Ketika dia memusatkan pandangannya kepada Dewi Ara, ternyata Dewi Ara telah berdiri di depannya dalam jarak satu jangkauan.


Paks!


“Hukr!” keluh Cempaka sambil menyemburkan darah kental dengan tubuh terlempar kencang lurus ke belakang. Dewi Ara telah menghantamkan telapak tangannya ke dada Cempaka.


Bcrak!


Cempaka keluar dari arena dan jatuh keras di tanah halaman yang tergenang air hujan.


Cempaka yang menderita luka dalam kembali basah kuyup plus berbecek ria.


Hujan mulai mereda, tapi belum berhenti.


Cempaka bergerak bangun sambil menahan rasa sakit pada dadanya yang terkena hantaman pukulan. Ia mengusap-usap dadanya yang menonjol.


Dewi Ara melangkah menuju ke pinggir teras agar lebih dekat kepada Cempaka. Pepatah dunia persilatan mengatakan, “Kedekatan adalah jalan tercepat menuju kematian”.


“Tugas pantang gagal, kematian hanyalah tidur abadi!” teriak Cempaka seperti seorang yang sedang bersyair.


Cempaka lalu mulai berpentas, yaitu menari di bawah guyuran hujan yang laksana tirai alam nan halus. Ia menari bukan dengan lenggokan pinggul, tetapi dengan pedang ungunya yang dia tebaskan, kibaskan, tusukkan, hingga dilempar melambung hanya untuk berpindah tangan.


Dewi Ara hanya berdiri diam memandangi. Jika ia memiliki kamera, mungkin tarian indah itu akan dia abadikan dan unggah ke dunia maya.


Akhirnya, Dewi Ara memutuskan keluar dari bawah naungan atap teras, melayang mendatangi Cempaka dengan kecepatan biasa.


Set set set!


Blast!


Kedatangan Dewi Ara membuat Cempaka kian berselera. Ia langsung menyambut kedatang sang permaisuri dengan tarian pedangnya beberapa gerakan, yang kemudian berujung satu serangan.


Yang menyerang Dewi Ara bukan lagi materi logam yang tajam, tetapi sudah berwujud sinar ungu keungu-unguan yang memiliki radiasi panas yang sangat tinggi. Saking begitu kuatnya radiasi panas pada sinar ungu itu, dalam tayangan slow motion terlihat air hujan yang hendak menerpa sinar itu menguap lebih dulu sebelum kena.


Dewi Ara sendiri bisa merasakan rasa panasnya dalam jarak yang masih cukup berjarak. Ketika kain pakaiannya mulai berasap karena terbakar tanpa api, Dewi Ara meledakkan cahaya biru dari dalam tubuhnya.


Seketika pandangan mata Cempaka hanya melihat warna biru yang terang dan tanpa ia rasakan tubuhnya sedang melesat mundur, bukan lagi melesat maju.


Bdakk!


“Hukkr!” keluh Cempaka yang tahu-tahu merasakan punggungnya menghantam batang pohon jambu biji alias jambu batu. Darah tersembur dari dalam tenggorokannya.

__ADS_1


Ledakan sinar biru dari ilmu Pecah Nyawa Dewi Ara benar-benar membuat Cempaka seperti hilang rasa dan kesadaran. Ia hanya merasa sedang maju menyerang lawannya, tapi kenapa tiba-tiba punggungnya sudah menghantam batang pohon.


“Akkr!” erang Cempaka sambil menggeliat di dalam beceknya tanah di bawah pohon. Ia bisa melihat sepintas bahwa posisinya telah jauh dari halaman penginapan. Ia dilempar oleh kekuatan ilmu Pecah Nyawa sampai menyeberangi jalan.


Pedangnya yang kini berwujud besi keunguan lagi tergeletak agak jauh darinya.


Rasa sakit membuat Cempaka ingin diam untuk waktu yang lama. Sebab, ketika dia bergerak, tubuhnya terasa begitu sakit. Tulang punggungnya terasa begitu ngilu. Untuk sementara, Cempaka memilih tergeletak dengan mulut terbuka menarik napas yang banyak, membiarkan wajah dan badannya terguyur hujan yang terus turun.


Sementara Dewi Ara berdiri tenang dengan kaki berbecek, tetapi tubuhnya tidak basah. Ternyata sejak awal keluar dari teras, wanita sakti itu tidak ingin tersiram hujan. Ada seperti jas hujan transparan yang menyelimuti seluruh tubuhnya, sehingga air hujan hanya sampai satu jengkal dari kulitnya yang kemudian memercik.


Sess! Bluar!


“Aak!”


Dewi Ara melesatkan Tombak Algojo yang berwujud tombak sinar biru.


Tombak sinar itu tidak meledakkan tubuh Cempaka, tetapi batang pohon jambu yang ada di belakangnya. Tidak mungkin itu salah bidik, itu pasti disengaja oleh Dewi Ara.


Hal itu membuat Cempaka sudah pasrah dan menjerit, meski yang hancur bukan tubuhnya.


Bsruak!


“Akk!” pekik Cempaka lagi saat pohon jambu yang hancur batang bawahnya itu jatuh menimpa dan menutupi dirinya.


Set set set …!


“Aaak! Akk …!” jerit panjang Cempaka beberapa kali untuk yang terakhir.


Yang terjadi adalah Dewi Ara menggunakan kekuatan Tatapan Ratu Tabir menggerakkan pedang ungu Cempaka. Pedang itu terbang lalu bergerak liar dan sangat cepat membabati pohon jambu yang tumbang.


Gelapnya malam pada sisi daerah kebun jambu itu membuat kondisi Cempaka terlihat samar. Ketika pedang menebasi pohon, hanya terlihat gerakan garis-garis sinar ungu yang samar.


Pedang ungu itu memotongi batang-batang dari pohon tersebut bersamaan dengan memutilasi tubuh Cempaka sekaligus. Persis seperti sedang mencacah bumbu dapur.


Setelah selesai, pedang itu jatuh begitu saja di tanah becek. Potongan-potongan kayu pendek-pendek berserakan di tanah becek bersama potongan-potongan tubuh Cempaka. Namun, gelapnya malam dan hujan membuat eksekusi itu tidak terlihat menyeramkan.


Dewi Ara pun berjalan kembali naik ke teras. Tikam Ginting segera datang dengan membawa ember kayu yang berisi air hujan yang ditadah.


Dewi Ara berhenti dan membiarkan kakinya disiram dan dibasuh oleh Tikam Ginting.


“Yeee! Ibunda memang yang tercantik!” sorak Arda Handara sambil berlari kecil mendatangi ibunya.


“Yeee! Hihihi …!” sorak Ratu Wilasin pula.


“Mulai sekarang, jika ada yang mencari Ratu Wilasin, tunjuk saja aku,” kata Dewi Ara kepada semua pengikutnya.

__ADS_1


“Baik, Dewi!” ucap patuh mereka. (RH)


__ADS_2