
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Pada akhirnya, keluarga besar Perguruan Cambuk Neraka terdiam ketika melihat Adipati Kuritan mengembuskan napasnya yang terakhir. Sang adipati tewas oleh luka besarnya pada badan depannya dengan bonus kehilangan pusaka andalannya. Namun itu tidak masalah, sebab pusaka itu tidak terpaakai di alam kubur.
Meski Adipati Kuritan adalah pemimpin dari pengkhianat, tetap saja dia adalah anggota keluarga besar Perguruan Cambuk Neraka dan putra mendiang ketua tertinggi perguruan itu. Bagaimanapun, kondisi kematiannya yang mengenaskan itu tidak patut untuk ditertawakan.
Namun, Pendekar Angin Barat yang telah membunuh Adipati Kuritan, tidak berhenti. Bagang Kala melompat jauh ke atas posisi para murid yang telah berhasil melumpuhkan Suragawa dan Deming Joyo.
Tampar Bayu dan sejumlah murid tingkat atas perguruan terkejut karena Bagang Kala sambil melepaskan serangan.
Wusss!
Serangkum angin keras datang dari atas yang tidak bisa dihindari oleh Tampar Bayu dan rekan-rekannya. Mereka semua terhempas secara acak, termasuk Suragawa dan Deming Joyo.
Jleg! Wuss! West! Set set!
“Akk! Akk!”
Setelah mendarat, Bagang Kala langsung melepaskan ilmu Angin Gulung Lembah. Angin yang dikirimnya khusus mengambil tubuh Suragawa dan Deming Joyo karena target Bagang Kala memang kedua pemuda itu.
Tubuh Suragawa dan Deming Joyo diangkat oleh angin lalu dilambungkan.
Setelah mengerahkan ilmu Angin Gulung Lembah, Bagang Kala susulkan dengan ilmu Angin Setajam Lidah. Dua angin tajam yang dilepaskan oleh Bagang Kala merobek leher kedua pengawal Adipati Kuritan tersebut.
“Apa yang kau lakukan, Bagang Kala?!” teriak Tolak Berang yang sejak tadi hanya berteriak-teriak tanpa bertindak apa-apa.
“Aku sudah mendapat izin dari Gusti Permaisuri untuk membunuh orang-orang yang telah membantai keluargaku!” sahut Bagang Kala yang membuat Tolak Berang tidak bisa berkata apa-apa.
Saat itu, perhatian sebagian besar anggota Perguruan Cambuk Neraka terpusat kepada pertarungan antara dua janda, yaitu janda muda Anik Remas dan janda tua Citari Lenting.
Kedua wanita beda usia itu sama-sama berstatus sebagai ketua dan bersenjatakan cambuk. Keduanya sama-sama janda dari mendiang Ketua Satu Perguruan Cambuk Neraka.
Sementara itu, rombongan Ketua Lima Sarang Asugara yang baru memasuki perkampungan perguruan itu, mempercepat lari keretanya ketika melihat ada pertarungan terjadi di pusat perguruan. Bersama rombongan itu ada pula Suriwak.
Di kereta kuda ada tergeletak mayatnya Gadra.
Sarang Asugara, Ayuting Palasa, Lirih Lambai, Suriwak, dan murid berkuda lainnya tiba dengan wajah terheran melihat kekacauan perguruan. Bahkan ada wanita yang melayang sakti di udara. Sudah ada beberapa mayat yang tergeletak, di tambah istri Adipati Kuritan dan para prajuritnya dalam kondisi tersandera. Ditambah lagi pertarungan sengit dua ketua wanita.
“Ketua Lima!” ucap sebagian murid sambil menghormat kepada Sarang Asugara.
“Apa yang terjadi di sini, Ketua Dua?” tanya Sarang Asugara, belum lagi dia turun dari kereta kuda.
“Mayat siapa yang ada di keretamu, Sarang?” tanya Tolak Berang curiga, karena mayat itu memiliki ciri-ciri tubuh seperti putra sulungnya, tetapi ia belum melihat jelas wajah lelaki bersimbah darah itu.
Ditanya seperti itu, mau tidak mau Sarang Asugara harus menjawab, sebab mayat itu berada dalam tanggung jawabnya.
“Maafkan aku, Ketua Dua,” ucap Sarang Asugara sedih dengan wajah lesu dan napas terhempas bebas. “Aku tidak bisa menjaga nyawa putramu. Gadra telah dibunuh.”
“Gadra!” pekik Tolak Berang dan Lunar Maya terkejut.
__ADS_1
Pasangan suami istri itu langsung menghamburkan diri ke kereta milik Ketua Lima. Lunar Maya sudah langsung menangis. Mereka cepat memeriksa wajah mayat itu. Ternyata benar, wajahnya adalah milik putra sulung mereka.
Semua orang dalam keluarga besar perguruan itu jadi tegang dan terdiam. Pertarungan Anik Remas dan Citari Lenting jadi terjeda karena mereka juga ingin melihat apa yang terjadi.
Bagang Kala selaku pembunuh Gadra hanya memandang dari tanah lapang yang kini ada tiga mayat lelaki yang tergeletak.
“Siapa yang membunuh putraku, Sarang?” tanya Tolak Berang dengan nada bergetar memendam dendam. Wajahnya memerah padam dengan sepasang mata berkaca-kaca.
“Gadraaa! Hiks hiks hiks!” ratap Lunar Maya.
“Aku yang membunuhnya, Ketua!” sahut Bagang Kala berjiwa pendekar. Ia telah dididik untuk tidak takut mempertanggungjawabkan perbuatannya.
“Kau …,” sebut Tolak Berang tertahan penuh amarah sambil menunjuk ke wajah Bagang Kala jauh di sana. Ia menatap penuh dendam kepada pemuda itu.
Slot!
Tolak Berang menarik lolos cambuk kuningnya lalu ia berkelebat di udara dan mendarat di tanah lapang, tepat satu tombak di hadapan Bagang Kala.
“Ketua Dua!” teriak Anik Remas tiba-tiba.
Panggilan kencang itu membuat Tolak Berang dan Bagang Kala, juga semua orang mengalihkan pandangan kepada Anik Remas yang sudah berkeringat.
“Aku yang bertanggung jawab atas kematian putramu!” teriak Anik Remas lalu bergerak hendak pergi ke lapangan juga.
Ctas!
Tidak mau dada cantiknya kenapa-kenapa, Anik Remas cepat menghindar dengan melompat mundur. Citari Lenting terus memburu Anik Remas, seolah tidak mau melepaskan. Ia seolah telah melupakan niatannya untuk kabur.
“Rupanya kau memilih mau mati di sini, Citari!” kata Anik Remas.
“Aku akan bertaruh nyawa demi membunuhmu, Anik!” balas Citari Lenting.
Ctast! Set! Ctar!
Ctast! Set! Ctar!
Anik Remas memainkan ilmu Cambuk Menusuk Bintang. Setiap cambuknya dilecut, dari ujung cambuk melesat sebatang sinar putih berwujud mata tombak.
Namun, setiap sinar putih itu menyerang Citari Lenting, wanita yang lebih tua itu menangkis dengan kiblatan sinar merah sehingga menimbulkan ledakan nyaring. Sementara tangan kanan Citari Lenting balas menyerang dengan lecutan cambuk merahnya.
Ctas! Bress! Ctas! Bress!
Setiap cambuk Citari Lenting melecut, muncul garis api besar dan panjang yang menyambar hendak membakar Anik Remas.
Serangan api adalah jenis serangan yang paling ditakuti oleh Anik Remas, karena begitu membahayakan kecantikannya. Karenanya, dia menghindar sejauh-jauhnya ketika Citari Lenting melecutkan cambuknya. Dia tidak mau api itu membakar gundul bulu mata, alis dan rambut cantiknya.
Anik Remas pun berandai, jika seandainya ada Bagang Kala yang menjadi benteng cintanya.
Buk!
__ADS_1
Karena terlalu takutnya terhadap api itu, sampai-sampai Anik Remas terjengkang sendiri karena gagal menguasai dirinya, sementara sambaran api lewat di atas tubuh Anik Remas.
Melihat posisi Anik Remas yang tersudut, semakin bersemangatlah Citari Lenting. Ia melompat naik ke udara dengan tali cambuk yang berubah menegang seperti tongkat bersinar merah.
Set! Tseb!
Cambuk yang berubah menjadi tombak itu melesat cepat, tetapi ternyata Anik Remas masih bisa menghindar dengan melenting mundur meninggalkan posisinya. Karena terlalu terburu-burunya, Anik Remas sampai mendarat sempoyongan.
Citari Lenting yang mendarat langsung mencabut kembali tombak cambuknya dan mengubah senjatanya menjadi lentur lagi.
Ketika Citari Lenting akan menyerang lagi, ternyata Anik Remas pun telah siap. Keduanya lalu sama-sama maju sambil melecutkan cambuknya masing-masing.
Blet!
Kedua ujung cambuk saling melilit, kemudian kedua wanita itu saling menarik dengan pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi.
Serss! Zerzz!
Bluarr!
Dari genggaman tangan Citari Lenting menjalar sinar merah menyilaukan. Demikian pula dari genggaman tangan Anik Remas menjalar sinar putih menyilaukan seperti las karbit. Kedua sinar menyilaukan itu menjalari cambuk masing-masing lalu bertemu di lilitan.
Ledakan keras terjadi yang cukup memekakkan telinga, memancing semua orang mengalihkan perhatiannya ke sumber ledakan.
Orang-orang melihat kedua wanita itu saling terpental mundur, tapi dengan kekuatan yang berbeda.
Jika Citari Lenting terjengkang pendek dengan tangan tetap menggenggam cambuknya, maka Anik Remas terpental sejauh dua tombak dengan mulut menyemburkan darah. Tangannya terlepas dari cambuk yang tetap menyangkut pada cambuk Citari Lenting.
“Ekkh!” erang Anik Remas dengan tubuh menggeliat di tanah menahan rasa sakit pada seluruh tubuhnya.
Di sisi lain, Citari Lenting bergerak cepat bangkit dengan cambuk yang telah bersinar merah kembali. Cambuk putih milik Anik Remas yang masih tersambung pada cambuk Citari Lenting, juga bersinar merah.
“Matilah kau perempuan sundal!” teriak Citari Lenting sambil tubuhnya melompat jauh ke depan dan cambuk bersinar merah mengayun cepat siap mendera tubuh Anik Remas.
Wuss!
“Akk!” pekik tertahan Citari Lenting saat tiba-tiba ada segulung angin keras menghempaskan tubuhnya ke samping, yang otomatis mengacaukan serangannya.
Citari Lenting jatuh bergulingan di tanah. Ia bangkit dengan kemarahan dan cepat melihat siapa yang ikut campur. Ternyata Pendekar Angin Barat lagi-lagi menjadi penyelamat majikannya.
“Bocah lacur!” maki Citari Lenting.
Set set set …!
Tiba-tiba semua orang dikejutkan oleh hujan puluhan anak panah yang muncul dari jauh menyerbu orang-orang yang ada di tempat itu.
Tseb tseb tseb …!
“Aak! Ak! Ak …!” (RH)
__ADS_1