
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
“Aaakrr …!” jerit Bengal Banok begitu kencang saat kuku-kuku beracun Prabu Banggarin menikam paha kirinya. Meski yang ditusuk hanya paha kiri, tapi sakitnya terasa ke seluruh urat syaraf.
“Racun Gelap Kubur itu akan cepat menjalar naik. Pertama dia akan membunuh kelelakianmu, lalu meracuni semua organ di dalam perut, lalu akan menyerang jantung. Penderitaanmu paling cepat akan selesai sampai besok pagi,” kata Prabu Banggarin kepada pengkhianat di depannya, yaitu Bengal Banok.
Sementara para pejabat Kerajaan Baturaharja dan pihak Kerajaan Sanggana Kecil serta Pasukan Pengawal Bunga menyaksikan dari posisi yang agak jauh. Mereka memberi kesempatan kepada Prabu Banggarin untuk menuntaskan kemarahannya kepada orang kepercayaannya selama ini. Ia sudah bebas dari belenggu tali sinar milik Permaisuri Ginari.
“Aakk!” erang Bengal Banok merasakan siksaan rasa sakit yang diberikan oleh racun kuku Prabu Banggarin.
“Kau tinggal menyebutkan satu nama orang di belakangmu, yang saat ini tidak bisa menyelamatkanmu dari kematian, Bengal!” desis Prabu Banggarin.
“Aku tidak akan … berkhianat. Aakk!” ucap Bengal Banok sambil mengerang kesakitan, terlihat urat-urat pada wajahnya bertimbulan, menunjukkan ia menahan sakit yang luar biasa.
“Bodoh!” bentak Prabu Banggarin lalu mengelebatkan tangan kanannya.
Plak! Bdak!
Satu tamparan sekeras kerupuk tidak matang digoreng mendarat di wajah Bengal Banok yang sudah berdarah. Sampai-sampai sisi kepala lelaki itu terbanting di tanah halaman rumah Mahapatih Duri Manggala.
“Kepada kerajaan yang menghidupimu selama ini kau tega berkhianat, tetapi kepada orang yang menjerumuskanmu kepada kematian yang hina kau tidak mau mengkhianatinya,” kata Prabu Banggarin.
“Panglima Dendeng Boyo!” teriak Prabu Banggarin memanggil.
“Hamba, Gusti Prabu!” sahut Panglima Dendeng Boyo dari tempatnya berdiri sambil berlutut.
“Sebutkan hukuman bagi pengkhianat!” perintah Prabu Banggarin.
“Hukuman mati berbagai cara, Gusti Prabu!’ jawab Panglima Dendeng Boyo dengan lantang.
“Apa lagi?” tanya Prabu Banggarin lagi.
Mendelik Panglima Dendeng Boyo. Ia tidak langsung menjawab karena tadi malam dia tidak membaca ulang mata pelajaran hari ini. Sebagai seorang panglima, jika salah jawab bisa malu dirinya sampai tiga turunan.
“Eee …. Semua keluarganya juga dianggap sebagai pengkhianat dan harus dihukum mati semua!” teriak Panglima Dendeng Boyo akhirnya, setelah pikirannya sempat blank.
__ADS_1
Terkejut Bengal Banok mendengar jawaban Panglima Dendeng Boyo. Setahunya, hukuman bagi pengkhianat adalah hukuman mati, tapi tidak mengikutisertakan keluarga besar.
“Setidaknya kau bisa menyelamatkan keluargamu dari kematian, Bengal,” kata Prabu Banggarin. Lalu katanya lagi bernada datar, “Dengarkan aku. Nyai Kisut telah membuntuti Kumbang Draga. Sebelum kau diringkus, Nyai Kisut telah mengungkapkan siapa orang di balik kalian. Kau mengaku atau tidak, sebenarnya aku sudah mengetahui siapa adipati yang berada di belakang kalian. Namun, aku hanya ingin mendengar dari mulutmu langsung nama itu disebut.”
Terkesiap sepasang mata Bengal Banok mendengar nama “adipati” disebut. Itu berarti Prabu Banggarin benar-benar mengantongi nama dalang pengkhianatan itu.
“Tapi … aku mohon … Gusti Prabu tidak membunuh keluargaku. Mereka … tidak … bersalah,” ucap Bengal Banok terputus-putus seperti sinyal di kolong jembatan. Ia berkata dalam kondisi tubuh masih meringkuk di tanah dengan darah terus mengalir keluar dari lukannya.
“Aku akan melanggar janjiku jika Gusti Ratu Wilasin berhasil kalian bunuh,” kata Prabu Banggarin.
“Orang yang … membayar aku … dan Kumbang Draga adalah … Adipati … Rugi Segila,” ucap Bengal Banok yang berujung menyebut satu nama.
“Kau lihat, aku tidak terkejut. Itu artinya aku tidak berdusta, aku sudah memegang nama itu sebelum kau sebutkan. Namun, aku ingin tahu alasan di balik pengkhianatanmu, Bengal,” kata Prabu Banggarin yang memang sebelumnya telah mendapat laporan dari Nyai Kisut.
“Hamba … tidak tahu. Hamba hanya … tergiur bayaran yang sangat … tinggi,” kata Bengal Banok.
“Kau memang mata kepeng, Bengal. Bahkan dalam kondisi genting, kau malah menjarah harta kerajaan. Baiklah, keluargamu akan aman dari hukuman. Hanya kau yang akan menanggung sendiri kejahatanmu. Nikmatilah buah yang kau tanam,” kata Prabu Banggarin.
Crass!
Sementara itu, di halaman belakang kediaman Mahapatih Duri Manggala ada suasana bahagia antara seorang murid dengan gurunya yang telah lama terpisah. Senyum terus mengembang di wajah keduanya, wajah cantik jelita dengan wajah tua keriput dan kendor.
“Sebenarnya semua terlupa, Guru. Gusti Prabu Dira, Permaisuri Guru dan para permaisuri yang lain mengingatkan kenangan yang baik-baik, termasuk tentang Guru. Guru terakhir menemuiku di Sanggana Kecil sekitar tujuh tahun yang lalu. Meski hanya beberapa kali pertemuan, tapi aku begitu ingat wajah Guru. Karena itulah tadi aku langsung mengenali Guru di antara pasukan Baturaharja,” ujar Permaisuri Ginari kepada Penasihat Ranggasewa sambil tersenyum begitu manis.
“Entah … berapa lama sudah, terakhir Guru melihatmu tersenyum semanis ini, Ginari. Hahaha!” kata Ranggasewa lalu tertawa enteng. Ia begitu bahagia melihat senyum manis murid yang pernah ia asuh sedari bayi.
Urusan peluk erat sudah mereka lampiaskan tadi. Kini tinggal berbagi cerita yang banyak belum diceritakan.
“Kesaktianmu sudah meningkat jauh, meski sulit menemukan ilmu-ilmu yang pernah aku ajarkan dulu. Namun, bakat terbangmu masih sangat kuat. Yang terpenting, aku ternyata batal kehilangan orang yang kucintai.”
“Hihihi!” tawa Permaisuri Ginari. “Permaisuri Guru sangat baik membimbingku. Dia sangat sakti. Seolah-olah kesaktiannya tidak habis-habis.”
“Tapi … apakah kau bahagia?” tanya Ranggasewa.
“Sangat bahagia, Guru. Justru aku merasa sangat diistimewakan. Semua orang begitu sayang kepadaku. Terkadang aku seperti adik kecil mereka, padahal usiaku lebih tua. Hihihi!” jawab Permisuri Ginarai lalu tertawa renyah.
“Hahaha!” tawa Ranggasewa pula.
__ADS_1
“Bagaimana dengan Guru?” tanya balik Permaisuri Ginari.
“Bisa dikatakan sama denganmu, Ginari. Guru juga terus berusaha mengejar ketertinggalan. Meski sudah tua, tetap harus semangat. Namun, sebagai orang tua, aku sudah tidak segesit dirimu.”
“Guru harus mencari pendamping hidup agar ada teman dan tidak kesepian,” kata Permaisuri Ginari.
“Weleh dalah!” pekik Ranggasewa terkejut.
“Hihihi …!” Keterkejutan gurunya membuat Ginari tertawa nyaring lagi garing. Lalu katanya, “Dulu masih ada aku yang menemani Guru, tapi sekarang aku sibuk menemani suamiku. Jangan sampai usia menghentikan urusan asmara, Guru, karena cinta itu perkara hati, bukan semata-mata perkara raga.”
“Hahaha …!” Kali ini Ranggasewa yang tertawa terbahak-bahak mendengar pengajaran muridnya itu. “Gadis yang dulunya sangat dingin terhadap lelaki, sekarang pandai sekali bicara perkara hati. Hahaha!”
“Ah, Guru menertawaiku,” rajuk Permisuri Ginari.
“Bagaimana mungkin orang sepeot diriku masih bisa bergenit ria, apalagi sampai menggoyang ranjang?” kata Ranggasewa.
“Guru sekarang seorang pejabat. Jangankan mencari wanita yang sama-sama tua, mencari wanita muda pun tidak sulit. Asalkan dengan norma yang diakui dalam budaya masyarakat kita. Orang tua juga berhak bahagia dan merasakan cinta, Guru.”
“Hahaha! Iya iya iya. Sepertinya aku sependapat.”
“Jadi Guru mau menikah jika ada wanita yang mau?” tanya Permaisuri Ginari sumringah.
“Jika muridku tersayang yang memintanya, tentunya aku sulit untuk menolak. Namun, itu kita bahas lain kali lagi, sekarang urusan negara sedang runyam,” kata Ranggasewa.
“Baiklah. Tapi harus aku yang mencarikan jodoh untuk Guru.”
“Baik, baik,” ucap Ranggasewa patuh.
“Atau Guru punya wanita yang pernah Guru cintai dan sekarang sudah sama-sama tua?” tanya sang murid.
“Ada, tapi aku ragu, apakah dia mau.”
“Siapa, Guru?” tanya Permaisuri Ginari cepat.
“Namanya Nini Silangucap,” jawab Ranggasewa.
“Nanti aku akan mencari Nini Silangucap dan menawarinya.” (RH)
__ADS_1