
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Akhirnya, anggota pembunuh bayaran terkuat pun tewas di tangan Permaisuri Dewi Ara, bukan di tangan Raja Akar Setan. Sebab, ketika Raja Akar Setan yang berada di dalam air laut menjemput tubuh Pembunuh Pertama, kondisi wanita berkulit gelap itu sudah tanpa ruh.
Pertarungan antara Dewi Ara dengan Pembunuh Pertama berakhir dengan meninggalkan kerusakan parah pada area dermaga, tapi bukan dermaga utama tempat kapal-kapal besar merapat.
“Biaya ganti kerusakan bisa kau tagih ke Kerajaan Sanggana Kecil. Bukankah kau berniat pergi menemui para permaisuri yang kecantikannya mirip-mirip aku?” kata Dewi Ara kepada Syahbandar Santra Buna.
“Baik, pasti akan aku lakukan dalam beberapa hari ke depan,” kata Santra Buna.
Dengan usainya pertarungan itu, maka jelaslah bahwa Ratu Wilasin, Tikam Ginting, Senopati Beling Tuwak, Raja Akar Setan, Jago Jantan, Jampang Kawe dan lainnya yang tidak bisa disebutkan namanya satu per satu, menderita luka dalam yang cukup serius, tapi tidak sampai mengancam nyawa. Luka yang paling serius diderita oleh Raja Akar Setan, tapi prestasi itu tidak membuatnya mendapat piala.
“Di kota ini ada dua tabib handal dalam mengurus orang sakit,” ujar Santra Buna. “Tidak usah memikirkan biaya.”
“Kami akan segera berlayar, tidak ada waktu untuk perobatan,” kata Dewi Ara, membuat mereka yang terluka jadi mendelik tanpa berani berkomentar.
“Tetua Raja Akar Setan,” tegur Senopati Beling Tuwak. “Bagaimana bisa Tetua sampai di kota ini?”
“Aku mengawal Gusti Ratu,” jawab Raja Akar Setan.
Jawaban itu membuat Dewi Ara dan Tikam Ginting memandang kepada orang tua buruk rupa tersebut.
“Jika Tetua mengawal, kenapa baru memunculkan diri di sini?” tanya Tikam Ginting, mewakili junjungannya, meski Dewi Ara tidak memberi kode perintah.
“Kau lihat sendiri wujudku seperti apa. Lagi pula aku merasa cukup tenang karena Gusti Ratu berada di bawah lindungan Gusti Permaisuri Geger Jagad,” jawab Raja Akar Setan yang kondisinya kuyup.
“Tapi, bagaimana Tetua bisa tahu bahwa Gusti Ratu terancam?” tanya Senopati Beling Tuwak.
“Muridku yang memberi tahu,” jawab Raja Akar Setan.
Seorang lelaki berseragam Penendang Delapan datang dengan berlari santai menghadap kepada Dewi Ara dan Santra Buna.
“Lapor, Gusti Permaisuri, Gusti Syahbandar, kapal ke Pulau Gunung Dua sebentar lagi akan berangkat!” lapor anggota Penendang Delapan itu.
“Baik,” ucap Dewi Ara. Lalu perintahnya kepada Tikam Ginting, “Pergi beri tahu yang lain, aku menunggu di kapal!”
__ADS_1
“Tapi bagaimana jika pernikahan Pendekar Angin Barat belum selesai?” tanya Tikam Ginting.
“Culik saja penghulunya, agar mereka menikah di kapal,” jawab Dewi Ara sekenanya.
“Hahaha!” tawa Santra Buna mendengar perintah Dewi Ara.
Dalam kondisi terluka, Tikam Ginting segera pergi menuju ke Istana Dua Satu Hati, tempat Bagang Kala dan Anik Remas menikah.
“Apakah kau masih akan ikut denganku, Gusti Ratu?” tanya Dewi Ara kepada Ratu Wilasin yang wajah cantiknya mengerenyit menahan sakit pada dalam tubuhnya.
“Aku mau ….”
“Mohon ampun, Gusti Ratu!” sela Senopati Beling Tuwak memangkas kata-kata sang ratu.
Ratu Wilasin jadi memandang kepada perwiranya itu.
“Gusti Ratu harus kembali untuk diobati. Dan yang utama, Gusti Ratu harus kembali untuk meredakan kekacauan yang terjadi di Baturaharja,” kata Senopati Beling Tuwak.
“Aku akan menjamin keselamatan nyawa Gusti Ratu,” ucap Raja Akar Setan pula.
Setelah memandang wajah Senopati Beling Tuwak dan Raja Akar Setan, Ratu Wilasin lalu kembali memandang kepada Dewi Ara.
“Tapi aku harus berpamitan kepada Pangeran Arda Handara,” kata Ratu Wilasin dengan wajah sedih.
“Aku akan menyampaikan pamit Gusti Ratu kepada Arda,” kata Dewi Ara.
“Baiklah, aku akan kembali ke Jayamata,” kata Ratu Wilasin akhirnya setuju, tapi wajahnya tampak sedih. Mungkin ekspresinya itu pengaruh dari luka dalamnya.
“Lebih baik Gusti Ratu bermalam di sini beberapa hari untuk mengobati luka,” saran Santra Buna.
“Itu lebih baik,” timpal Dewi Ara.
“Baik, aku akan menetap sebentar untuk berobat,” kata Ratu Wilasin yang bicaranya normal dengan kondisinya saat ini.
“Jampang, antar Gusti Ratu dan pengawalnya ke kediaman Tabib Lima Jari!” perintah Santra Buna kepada pengawalnya.
“Baik, Gusti,” ucap Jampang Kawe.
__ADS_1
Tanpa berbicara lagi, Dewi Ara berjalan meninggalkan tempat itu, dia pergi menuju ke pelabuhan tempat kapal-kapal besar bersandar dan berlabuh.
Santra Buna segera menyusul Dewi Ara dan berjalan mendampinginya. Ia merasa bahagia bisa berjalan bersama dengan wanita cantik jelita yang memiliki kharisma tinggi itu, meski tanpa bergandengan tangan dan canda tawa.
Sementara Ratu Wilasin, Raja Akar Setan, Senopati Beling Tuwak dan prajuritnya pergi mengikuti Jampang Kawe pergi ke rumah tabib.
“Bagaimana ini, Kek?” tanya Mimi Mama kepada Serak Gelegar yang duduk berdua di ujung pelabuhan, sambil berjemur diri. Kakek dan cucu itu memantau pertarungan Pembunuh Pertama dari kejauhan.
“Untung kita tidak memilih bertarung. Apa boleh buat, Pembunuh Kepeng Emas sudah buyar. Sepertinya kita harus alih pekerjaan. Atau kau mau menjadi pembunuh bayaran tunggal?” kata Serak Gelegar.
“Lebih baik kita pulang kampung ke Pulau Tujuh Selir,” kata Mimi Mama seperti berotak dewasa dalam berbicara.
“Kau yakin? Keluarga Petir pasti akan memaksamu untuk menjadi Dewi Petir,” kata Serak Gelegar.
“Hihihi! Aku yakin, sudah ada Dewi Petir yang dipilih,” kata Mimi Mama. “Aku hanya rindu kepada Ibu.”
“Baiklah. Apakah kau mau naik perahu kecil atau perahu besar?” tanya Serak Gelegar.
“Kita naik kapal yang menuju ke Pulau Gunung Dua. Setelah itu kita naik perahu kecil ke Tujuh Selir, Kek.”
“Baiklah. Ayo kita naik ke kapal,” ajak Serak Gelegar.
Sementara itu di Istana Dua Satu Hati.
Bagang Kala dan Anik Remas dilanda keterkejutan. Mereka yang baru saja dinyatakan sah sebagai suami bini, harus mendapat kabar duka.
Di saat gairah asmara sedang berusaha mendobrak pintu yang masih terkunci, di saat bayangan ranjang asmara sudah terbayang bergoyang hebat, tiba-tiba mereka batal untuk menuju ke kamar asmara di penginapan.
Pasangan pengantin baru itu dilanda dilema, apakah memilih tetap meneruskan ritual lanjutan dari pernikahan bahagia mereka dan memilih tidak ikut Dewi Ara, atau memilih pergi ke kapal dan menunda bulan madu yang sudah tersaji di depan mata.
“Apa keputusanmu, Anik Sayang? Jika kau memilih tidak ikut, aku akan ikut bersamamu. Namun, jika kau memilih berlayar, maka aku akan ikut berlayar bersamamu dalam cinta,” tanya Bagang Kala.
“Ikut Gusti Permaisuri hanya akan menunda ritual remas-remas kita, bukan kehilangan dirimu selamanya. Aku lebih memilih ikut Gusti Permaisuri,” jawab Anik Remas.
“Baiklah, mungkin nanti bisa kita lakukan di atas kapal,” kata Bagang Kala.
Sambil menggenggam erat tangan suaminya, Anik Remas tersenyum lebar dengan sisipan rona tersipu. Ternyata usia yang matang tidak menghilangkan gaya perawannya.
__ADS_1
Akhirnya, Tikam Ginting, Bewe Sereng, Setya Gogol, Lentera Pyar, Bagang Kala, Anik Remas, dan Bong Bong Dut bergegas menyusul Dewi Ara ke pelabuhan untuk naik kapal. (RH)