Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pertamak 29: Duel Dua Wanita


__ADS_3

*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*


 


“Kuda-kuda telah siap di dalam pasukan, ketika susu dijatuhkan di atas bubur yang dipanaskan. Sudah kudengar kabar dari angin dan awan, perusuh di Jalur Bukit adalah nenek berbibir menggemaskan.”


Permaisuri Kerling Sukma bukan tiba-tiba bisa bersyair karena bertemu dengan Kenyot Gaib, tetapi pada dasarnya dia memang pandai bersyair, sejak ketika belum menikah dengan Joko Tenang yang kemudian lebih ternama dengan nama Prabu Dira Pratakarsa Diwana. Kebiasaannya bersyair seolah-olah terlupakan karena ia disibukkan bermain cinta dengan suaminya.


Dari atas kudanya, Permaisuri Kerling Sukma lalu melompat seperti terbangnya kok badminton ke lapangan musuh, lalu mendarat tanpa suara dengan gerakan yang lembut. Permaisuri berdiri di depan Panglima Tarikurat yang dibelakanginya dan di depan Kenyot Gaib yang ditantangnya.


Seeet!


Kenyot Gaib yang sedang mengenyot air kendi ketika Permaisuri Kerling Sukma datang, tiba-tiba melesatkan kendi dengan kecepatan tinggi.


Tak!


Tanpa bergerak memiringkan tubuh, kaki kanan Permaisuri Kerling Sukma naik lurus hingga ke depan wajah, menendang kendi yang menyasar ke wajah dengan gerakan kaki yang lentur.


Seeet! Prak!


“Aak!”


“Hahaha …!”


Meledak tawa para prajurit saat melihat kendi itu pecah menghantam wajah salah satu rekan mereka. Mereka yang awalnya menahan tawa dalam tegang karena melihat bibir Kenyot Gaib, jadi rileks dengan tawa yang memiliki dua tafsir. Tafsir pertama karena memang lucu. Tafsir kedua karena bertujuan membuat senang hati sang permaisuri yang begitu cantik.


“Kenyot Gaib memang sakti, bisa lolos dari tangan maut Permaisuri Geger Jagad,” puji Permaisuri Kerling Sukma.


“Hihihi! Memang iya!” sahut Kenyot Gaib cepat dan jumawa. Ternyata usia tua tidak melunturkan rasa suka disanjung.


“Itu artinya kau tidak akan mendapat kesempatan ketiga setelah kau sia-siakan kesempatan kedua, Kenyot Gaib,” tandas Permaisuri Kerling Sukma.


“Gertakan yang hanya untuk menutupi ketidakmampuanmu, Perempuan Budak Ranjang!” sentak Kenyot Gaib.


Mendelik sepasang mata hijau sang permaisuri disebut “Perempuan Budak Ranjang”. Ia merasa sangat tersinggung.


“Ucapanmu ternyata tidak selucu mulutmu, Tua Bangka!” teriak sang permaisuri, lalu ….


Clap! Wut!


Tahu-tahu Permaisuri Kerling Sukma telah berteleportasi dengan tahu-tahu muncul mengayunkan tendangan mautnya di sisi kanan si nenek. Sisi kanan dipilih agar si nenek tidak bisa menyerang sandera yang saat itu berada di belakang sang permaisuri.


Ternyata, Kenyot Gaib telah waspada, terbukti dia pun berpindah tempat dengan sangat cepat, membuat tendangan bertenaga dalam tinggi sang permaisuri menghantam udara kosong.


“Pantas kau berkoar, Kenyot!” kata Permaisuri Kerling Sukma. “Tapi kecepatanmu masih bukan jaminan aman.”


Clap! Clap!

__ADS_1


Bukk!


“Hukr!”


Setelah mengomentari Kenyot Gaib, Permaisuri Kerling Sukma tiba-tiba muncul di depan Kenyot Gaib dengan tendangan mengayun, padahal sosok sang permaisuri masih berdiri di sisi kursi yang ditinggalkan oleh si nenek.


Namun, melihat sosok Permaisuri muncul di depannya dengan tendangan mengayun, Kenyot Gaib kembali menghilang menghindar. Pada saat yang bersamaan, sosok Permaisuri yang berdiri di sisi kursi juga menghilang.


Tidak sampai setengah tarikan napas, terdengar suara keluhan sakit, yang kemudian disusul dengan meluncurjatuhnya tubuh Kenyot Gaib ke tanah di tengah-tengah pengepungan.


Pada saat yang sama tubuh Permaisuri Kerling Sukma muncul di udara dan turun lembut bak “Dewi Puspita”. Entah siapa itu Dewi Puspita?


Pada saat itu, sosok Permaisuri Kerling Sukma tinggal satu sosok. Sosok yang tadi menyerang dengan tendangan telah hilang tanpa pesan dan kesan.


“Uhhuk uhhuk!” Kenyot Gaib terbatuk darah seperti punya penyakit TBC.


Permaisuri Kerling Sukma baru saja menjajal kesaktian barunya yang bernama Dua Aku.


Ilmu Dua Aku adalah menciptakan duplikat diri yang sifatnya fatamorgana dengan tujuan membuat lawan bereaksi atau bingung, sehingga sosok asli akan dengan mudah memasukkan serangan. Sosok palsu itu bisa yang pergi menyerang atau yang diam menunggu, atau juga sama-sama menyerang, atau sama-sama menunggu.


“Kau akan menjadi korban pertama dari ilmu Dua Aku milikku, Nek,” kata Permaisuri Kerling Sukma.


“Cuih!” ludah Kenyot Gaib marah.


Nyot nyot nyot …!


Seep! Clap!


Permaisuri Kerling Sukma merasakan tiba-tiba darahnya mengalir deras dan tersedot. Namun, sebelum satu hal aneh terjadi pada dirinya, wanita bermata hijau itu kembali menghilang. Kali ini raganya tidak tertinggal seperti tadi.


“Celeng busuk!” maki Kenyot Gaib karena tahu-tahu muncul dua sosok Permaisuri Kerling Sukma di depan dan atas kepalanya. Sepertinya ketika kuliah kesaktian, si nenek telah salah mengambil jurusan kesaktian, setiap orang sakti yang mau dia kenyot selalu dengan mudah menghindar.


Detik itu juga, Kenyot Gaib dilanda kebingungan harus memilih lawan yang di depan atau yang di atas. Ia pun memilih untuk menghindari kedua-duanya.


Baks!


“Hakrr!”


Namun, sebelum dirinya menghilang dari tempat berdirinya, pukulan telapak tangan Permaisuri Kerling Sukma yang muncul di depannya lebih dulu mendarat di dada kendornya.


Kenyot Gaib terlempar keras ke belakang dengan mulut menyemburkan darah yang cukup banyak. Ia jatuh di depan kaki para prajurit dengan tangan kanan tetap menggenggam tongkat.


Durasi berpikir dalam melakukan pertimbangan, membuat Kenyot Gaib terlambat menghindar, padahal hanya terlambat setengah detik belaka. Namun, memang seperti itulah risiko pertarungan orang sakti, terlambat seperkian detik saja bisa berakibat fatal.


Meski para prajurit itu bersenjata tombak dan tinggal menusuk si nenek, tetapi mereka tidak mau melakukannya. Mereka tidak ingin mengganggu suasana pertarungan yang sangat seru, meski Kenyot Gaib terlihat tidak memiliki kesempatan untuk melawan.


Karena Kenyot Gaib sedang berada di dekat para prajurit, Permaisuri Kerling Sukma memberi jeda waktu kepada lawannya untuk bangkit dan bersiap lagi. Apalagi akan terkesan kurang ajar jika membuat nenek-nenek tidak memiliki kesempatan untuk membela diri.

__ADS_1


Kenyot Gaib bergerak bangkit dengan berat sambil memegangi dadanya. Bukan maksud untuk memeriksa apakah dadanya masih ada atau tidak, tetapi karena pukulan itu membuat dadanya jadi berdenyut tidak asik, tulang-tulang tuanya seakan-akan mau minta izin untuk berpatahan. Sementara darah kental bergelayut di bibir tuanya. Namun, ketika bibirnya kembali mengeyot, darah yang menggantung jadi masuk lagi tanpa membuat rasa sakitnya berkurang.


Tsuk! Fress!


Kenyot Gaib lalu menancapkan tongkatnya di tanah sehingga berdiri di depannya. Kejap berikutnya, muncullah ratusan sinar putih kecil-kecil yang terbang di sekeliling tongkat, seperti sekeluarga besar kunang-kunang.


Kenyot Gaib sedang mengeluarkan ilmu Kunang-Kunang Mayat, salah satu ilmu andalannya yang pernah takluk di tangan Gadis Cadar Maut.


Bruss!


Ketika Kenyot Gaib menghentakkan telapak tangan kanannya, maka ratusan sinar putih itu berlesatan seperti ratusan lebah yang menyerbu.


Ces ces ces …!


Namun, tiba-tiba di depan Permaisuri Kerling Sukma muncul dinding sinar merah lebar dan datar dari ilmu Payung Kematian, menghadang semua sinar putih. Dinding sinar itu membuat semua sinar putih kecil berletupan musnah tanpa memberi efek bagi Permaisuri Mata Hijau.


Clap! Wuut!


Setelah semua sinar putih menghabiskan diri, dinding sinar merah panas lenyap seiring lenyapnya Permaisuri Kerling Sukma.


Lagi-lagi muncul dua sosok Permaisuri Kerling Sukma di sisi kiri dan depan Kenyot Gaib.


Si nenek yang sudah bersiap, langsung membabatkan tongkat kayunya yang sudah bertenaga dalam sakti.


Wess!


Tongkat itu berhasil menghantam tubuh Permaisuri Kerling Sukma yang muncul di depan. Namun, sosok itu ambyar seperti asap dan tongkat terus menyerang sosok di sisi kiri. Sosok yang di sisi kiri dengan cepat melakukan kayang, membuat tongkat lewat di atas perut sang permaisuri, sementara kaki kanan melesat naik menusuk ke atas tepat setelah tongkat lewat.


Bdakk!


Perlu diketahui, Permaisuri Kerling Sukma adalah pendekar wanita yang memiliki kelenturan tubuh yang elastis. Kayang sambil menendang satu kaki ke atas adalah perkara mudah baginya.


Tendangan keras itu tepat menghajar keras bawah dagu si nenek, membuat pengenyot itu terlempar mengudara ke belakang. Mulutnya yang tanpa gigi terbuka lebar dengan air liur dan darah juga ikut mengudara. Untung gusinya sudah tandus, jika tidak, akan ada gigi-gigi keropos yang juga mengudara.


Bak!


“Hekr!”


Namun, sebelum tubuh Kenyot Gaib meluncur turun, gerakan tubuh Permaisuri Kerling Sukma terlalu cepat karena tahu-tahu sudah ikut mengudara dan sejajar dengan posisi si nenek. Tendangan sang permaisuri yang masih muda itu begitu kuat membabat pinggang, membuat si nenek melesat cepat dan jatuh di mata tombak seorang prajurit.


“Akk …!” jerit panjang Kenyot Gaib saat punggungnya jatuh tertusuk sebatang tombak hingga tembus ke dada peotnya.


Di satu tombak itulah Kenyot Gaib meregang nyawa. Sementara prajurit pemilik tombak syok lantaran terkejut. Ia tidak menyangka bahwa tombaknya akan memiliki sejarah emas karena telah membunuh seorang pendekar tua sakti.


Bisa dikatakan bahwa Kenyot Gaib telah bertindak tidak matang. Selama ini dia banyak bergantung kepada tongkat hitamnya yang dihancurkan oleh Gadis Cadar Maut. Ketika dia nekat bertarung dengan tongkat kayu kualitas pinggiran melawan seorang permaisuri Sanggana Kecil, itu sama saja membawa dirinya menjemput kematian.


Kemunculannya yang pertama di ibu kota Jayamata setelah kabur dari Permaisuri Geger Jagad, seolah hanya untuk mengakhiri kisah hidupnya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2