
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Dugk!
Nahkoda Dayung Karat dan istrinya Lenting Buai terkejut ketika perahu menabrak bebatuan pantai Pulau Tujuh Selir. Gelap gulitanya malam membuat mereka berdua tidak bisa memastikan di mana bibir pantai berada.
Sebagai seorang nahkoda ulung, Dayung Karat bisa mengarahkan perahunya dengan tepat ke pantai barat Pulau Tujuh Selir. Dayung Karat sudah menduga bahwa bibir pantai sudah dekat, karenanya dia tidak begitu kencang mendayung perahunya, sehingga tabrakan perahu dengan bebatuan laut tidak membuat perahu rusak.
Dayung Karat lalu turun dari perahu, ternyata air masih sedalam dada. Dengan perjuangan ia harus menuntun perahunya melalui bebatuan pantai agar sampai ke spot berpasir.
Pada akhirnya, Dayung Karat menemukan pasir pantai. Dengan mengandalkan ombak di pantai dia mendorong naik perahunya ke daratan. Setelah separuh badan perahu naik ke darat dan ia menemukan tempat mengikat tambang perahu, Dayung Karat lalu menuntun istrinya turun dari perahu.
“Lalu harus ke mana kita, Kakak?” tanya Lenting Buai.
“Terpaksa kita bermalam di pantai ini sambil menunggu Tadayu,” jawab Dayung Karat.
“Apakah benar mereka akan memperkosa Gusti Putri Uding?” tanya Lenting Buai.
“Entahlah. Mudah-mudahan tidak.”
“Selama ini, Tadayu adalah pemuda yang baik. Selama aku disandera, dia tidak berperilaku jahat, justru banyak membantu di rumah. Berbeda dengan Gandang Duko yang terkadang berbuat nekat, seperti membakar Istana Puncak,” kata Lenting Buai.
Blep blep blep!
“Aak!” pekik Lenting Buai terkejut bukan main, saat tiba-tiba di sekeliling mereka muncul nyala api yang banyak.
Meski tidak ikut menjerit, tetapi Dayung Karat juga dilanda keterkejutan.
Posisi suami istri itu sudah dalam posisi terkepung oleh sebelas orang lelaki muda-muda. Sepuluh memegang obor dan satu tidak, sepertinya yang seorang adalah pemimpin dari kesepuluh orang. Selain memegang obor di tangan kiri, kesepuluh orang itu juga memegang tombak di tangan kanan yang matanya ditodongkan kepada Dayung Karat dan istrinya.
“Mati kami. Bagaimana mereka bisa tahu-tahu mengepung tanpa terdengar suara langkah kakinya sedikit pun?” batin Dayung Karat.
__ADS_1
“Kalian orang dari mana dan siapa?” tanya pemuda pemimpin yang mengenakan ikat kepala dari anyaman tali kecil dua warna, hitam dan putih. Dia pemuda beralis tebal, berhidung pesek dan berbibir tebal. Sekedar bocoran, namanya adalah Rengkuh Badai.
“Aku Nahkoda Dayung Karat dan ini istriku. Kami dari Pulau Gunung Dua. Kami datang bersama Tadayu,” jawab Dayung Karat yang bisa lebih tenang dibanding istrinya yang sedang gemetar ketakutan, bahkan dia menangis.
“Jika kalian datang bersama Tadayu, lalu mana dia?” tanya Rengkuh Badai yang mengenal siapa itu Tadayu.
“Tidak tahu. Dia dan Gandang Duko naik perahu yang berbeda,” jawab Dayung Karat.
“Perkataanmu tidak bisa aku percaya tanpa ada bukti,” tandas Rengkuh Badai. Lalu perintahnya kepada kelompoknya, “Lumpuhkan!”
Dak! Dak!
Dayung Karat dan Lenting Buai hanya bisa pasrah, ketika mereka tidak sadarkan diri setelah tengkuk mereka dihantam keras oleh benda padat. Para pengepung itu bahkan tidak segan-segan memukul Lenting Buai yang seorang wanita.
“Bawa mereka dan penjarakan!” perintah Rengkuh Buai.
“Baik, Ketua!” jawab mereka bersamaan.
Maka dibawalah Dayung Karat dan Lengting Buai.
Setelah masuknya Putri dan Tadayu ke dalam air, Gandang Duko mencoba mencari keduanya di sekitar spot tempat keduanya terjun ke air. Namun, Gandang Duko sedikit pun tidak mendengar panggilan Tadayu atau teriakan minta tolong sang putri. Setelah mencari, memanggil, dan menunggu selama sekitar satu jam, akhirnya dengan perasaan yang lemas, Gandang Duko memutuskan untuk melanjutkan pelayaran menuju Pulau Tujuh Selir.
“Jikalaupun kau memang mati, Tadayu, memang nasibmu. Namun aku yakin, kesaktianmu tidak mungkin kalah oleh lautan tenang seperti ini,” batin Gandang Duko setelah memutuskan pergi tanpa sahabat dan korbannya.
Perlu diketahui, Pulau Tujuh Selir tidak memiliki pelabuhan. Perahu besar yang datang ke pulau itu harus menjatuhkan jangkar di air dalam agar tidak kandas. Namun, bagi perahu kecil seperti yang dinaiki oleh Dayung Karat dan Gandang Duko, bisa mencapai bibir pantai dengan bebas.
Berbeda dengan Dayung Karat, kedatangan Gandang Duko di pantai pulau itu tidak disambut oleh pengepungan atau penangkapan.
Setelah menaikkan perahu ke pasir pantai seorang diri, Gandang Duko lalu berlari pergi menembus kegelapan. Gelap tidak menjadi masalah baginya.
Setelah melewati jalan yang diapit oleh dua hutan yang tanpa cahaya, lalu melalui jalan menanjak, Gandang Duko akhirnya sampai di sebuah permukiman luas yang memiliki banyak bangunan rumah yang atap-atapnya serata tanah yang berpasir halus. Uniknya model bangunan-bangunan di tempat itu, lantainya berada jauh lebih rendah dari permukaan tanah, sehingga atapnya sejajar dengan permukaan tanah.
__ADS_1
“Ke mana saja kau tanpa baju seperti itu, Pangeran Api Dewa?” tanya seorang lelaki separuh baya dengan menyebut gelar kehormatan Gandang Duko.
“Apakah ibuku mencariku, Paman Janggung?” Gandang Duko justru balik bertanya.
“Tidak, hanya menanyakan saja,” jawab lelaki berkumis tipis itu. Malam itu Janggung sedang duduk di balai sambil mengerjakan anyaman keranjang ikan berbahan bilahan bambu tipis-tipis. Ada dua obor yang menerangi pekerjaannya.
“Ada sedikit urusan di Pulau Gunung Dua,” kata Gandang Duko.
“Jangan sampai kau membuat masalah di sana. Pulau Tujuh Selir dan Pulau Gunung Dua sudah lama damai tanpa perselisihan,” kata Janggung.
“Tidak akan, Paman. Aku masuk dulu, Paman. Aku mau istirahat,” kata Gandang Duko.
Pemuda pemilik kumis itu lalu pergi ke rumahnya yang beratap luas. Pada depan bubungan ada tombak besi yang berdiri dengan mata berbentuk keris. Pada lehernya ada kain putih yang terikat.
Tombak itu menunjukkan bahwa itu adalah rumah seorang Tetua. Kepemimpinan di Pulau Tujuh Selir dipegang oleh tujuh orang Tetua dan seorang Ratu.
Gandang Duko menuruni tangga lalu masuk ke kamarnya lewat jendela. Meski rumah itu barada di kedalaman yang terkurung oleh dinding batu, tetapi tetap ada ruang yang lebar sebagai samping rumah atau belakang rumah.
Singkat waktu.
Gandang Duko terbangun karena merasakan sakit pada kedua pergelangan tangan dan kakinya. Ia pun cepat membuka sepasang matanya.
“Apa-apaan ini?” tanya Gandang Duko sambil menarik kedua tangannya yang sudah dibelenggu menggunakan tali bersinar ungu.
Di sekeliling tempat tidurnya telah berdiri sejumlah pemuda yang memegangi tali sinar ungu, bahkan kedua kakinya diikat satu.
Di kamar itu juga telah berdiri seorang wanita berusia separuh baya plus lima puluh tiga hari. Meski usianya baru sedemikian, tetapi semua rambut di kepalanya sudah putih warnanya. Ia memiliki alis dan bulu mata yang juga putih. Wanita yang memiliki sisa kecantikan dari masa kejayaannya sebagai seorang selir itu, mengenakan jubah berwarna putih bagus dengan tepian warna hijau gelap berhias sulaman benang emas. Dia adalah Selir Kedua yang memiliki gelar kehormatan sebagai Tetua Penghukum.
“Ibu, ada apa ini?” tanya Gandang Duko sebagai putra dari Selir Kedua.
“Bawa ke hadapan Ratu Bunga Petir!” perintah Selir Kedua tanpa mempedulikan pertanyaan putranya.
__ADS_1
“Lepaskan, Ibu. Aku tidak bersalah!” ronta Gandang Duko dan berusaha melawan dari jeratan tali sinar ungu.
Namun, rontaan itu justru membuat tenaga Gandang Duko melemah. Memang sifat Tali Penekuk adalah melemahkan tenaga jika semakin dilawan. (RH)