
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Kini terlihat updating peta kekuatan keempat belah pihak. Kelompok Ronggo Keling kini tersisa sepuluh orang plus Putri Tompel. Di sisi lain Rowo Kejang tinggal memiliki lima anak buah, dua di dalam Penjara Bola Cemburu dan tiga masih free.
Sementara itu, kubu Kota Bandakawen menyisakan enam pendekar plus Syahbandar, empat Penendang Delapan dan dua pengawal Syahbandar. Kubu Dewi Ara ada empat pendekar, yakni Tikam Ginting, Setya Gogol, Lentera Pyar, dan Bong Bong Dut. Bagang Kala dan Anik Remas hanya menjadi penggembira di pinggiran.
Pertarungan itu dihentikan oleh seruan Dewi Ara.
Sementara itu, ada sepuluh lebih mayat pendekar bergelimpangan di antara kedua pihak yang berseberangan.
“Daripada kau menunggu sampai anak buahmu habis, lebih baik kau yang maju agar cepat terlihat hasilnya. Atau kau tidak lebih dari seorang pemimpin yang berlindung di bawah ketiak anak buamu?” kata Dewi Ara yang memedaskan telinga Putri Tompel. Dia masih berdiri di atap.
“Beraninya kau memfitnahku sedemikian kejinya, Gadis Bau Singkong!” teriak Putri Tompel marah. Ia begitu tersinggung atas pertanyaan Dewi Ara.
“Kau pikir dirimu ….”
“Aku memang lebih sakti darimu! Kau baru bisa naik ke atap, tapi sudah seperti dewi dari atas awan!” teriak Putri Tompel memotong kata-kata Dewi Ara. Ia memang harus berteriak agar kata-katanya sampai dengan jelas kepada Dewi Ara yang jaraknya memang agak jauh.
Bdak!
“Aaak!” jerit Putri Tompel saat tiba-tiba tubuhnya jatuh tersungkur dan wajahnya menghantam jalanan yang berlapis lempengan batu alam.
“Hahahak …!” tawa terbahak Bong Bong Dut, Setya Gogol dan Lentera Pyar, ditambah tawa sebagian anak buah Santra Buna.
“Hahahak …!” tawa terpingkal pula Rowo Kejang, tanpa mengenal kawan ataupun lawan yang sedang apes, yang penting lucu baginya.
Buru-buru Putri Tompel bangun dengan warna wajah merah kelam. Bahkan jidatnya berdarah karena terbentur lempengan batu jalan.
“Perempuan tidak beradab!” maki Dewi Ara dengan nada datar.
“Hmmm! Hmmm!” pekik Putri Tompel dengan mata mendelik, wajah bergerak-gerak dan bibir tertutup rapat. Bibir tertutup rapat bukanlah kuasa Putri Tompel, tetapi memang disegel oleh kekuatan mata Dewi Ara.
“Hahahak …!” Makin terpingkal-pingkal Rowo Kejang sambil memegangi perutnya dan menunjuk wajah Putri Tompel. Ia merasa begitu puas melihat Putri Tompel diguna-gunai oleh musuh, seolah-olah dendamnya dilampiaskan lewat orang lain.
Sut!
“Setan Tompel!” maki Rowo Kejang saat tiba-tiba Putri Tompel menonjok jarak jauh kepadanya. Ia buru-buru melompat menghindari bayangan sinar merah berwujud kepalan tangan.
Cepatnya gerakan Pendekar Kipas Pisau membuatnya bisa selamat dari serangan.
“Hahahak!” tawa Rowo Kejang lagi setelah mendarat dan tidak ada serangan susulan.
“Aku lebih tua darimu, Anak Tompel!” tegas Dewi Ara.
__ADS_1
“Hahahak! Anak Tompel!” tawa Rowo Kejang lagi melanjutkan tawa meledeknya.
“Dengarkan aku sampai selesai bicara, atau aku banting lagi wajahmu,” kata Dewi Ara lagi kepada Putri Tompel yang disertai ancaman.
Itu juga memberi kejelasan bagi Putri Tompel bahwa Dewi Ara-lah yang membuatnya jatuh dan kini tidak bisa bicara.
“Aku memberi kalian kesempatan untuk mundur dari tugas membunuh Ratu Wilasin, karena keselamatan Ratu Wilasin ada dalam jaminanku. Lihatlah kematian rekan-rekan kalian. Membunuh puluhan pendekar seperti kalian tidak sulit bagiku,” kata Dewi Ara datar, tapi suaranya terdengar jelas oleh semua.
“Hmmm!” pekik Putri Tompel dengan mata mendelik marah.
Sing!
Kedua tangannya kompak mencabut dua pedang di punggungnya. Pedang itu langsung bersinar hijau seperti model pedang lampu neon.
Putri Tompel lalu berlari kencang mendekat ke arah bangunan tempat Dewi Ara dan Santra Buna berdiri di atasnya.
Clap!
Tiba-tiba Putri Tompel menghilang dari pandangan. Gerakan lompatnya begitu cepat. Namun, garis sinar pedangnya terlihat melesat samar di udara hendak menuju ke atap tempat Dewi Ara berdiri.
Bak!
“Hekr!”
Belum sampai satu detik, sudah terdengar suara hantaman yang keras dan keluhan suara wanita.
“Akk!”
Tahu-tahu tubuh Putri Tompel muncul meluncur di udara dan menghantam lagi jalanan batu, membuatnya mengerang kesakitan hingga meringkuk sejenak. Kedua pedangnya jatuh jauh dari posisinya.
Sreeet!
Tiba-tiba pecahan-pecahan genteng yang berserakan di medan pertarungan itu pada naik mengudara, memberi suasana intimidasi yang menegangkan. Pecahan-pecahan genteng itu bahkan naik melayang di antara para pendekar.
Belum usai ketegangan itu, batu-batu itu bersinar merah tanpa bersuara. Para pendekar yang dekat dengan para kerikil itu bisa merasakan hawa panas dari radiasi genteng-genteng tersebut.
Sementara itu, Putri Tompel yang sudah bisa menahan rasa sakitnya yang berkurang, bergerak bangkit dengan ekspresi terbeliak.
“Bahaya!” desis Putri Tompel yang menyadari kondisi. Bibirnya sudah tidak disegel oleh Dewi Ara.
“Peringatan terakhir aku berikan. Kembalilah kepada kuda-kuda kalian!” seru Dewi Ara dengan nada lebih ditinggikan.
“Munduuur!” teriak Rowo Kejang kepada anak buahnya yang tinggal tiga orang. Ia tidak mau bernasib lebih buruk dari Putri Tompel yang kini terjebak di tengah-tengah genteng bersinar.
Ternyata yang mundur bukan hanya Rowo Kejang dan ketiga anak buahnya, tetapi juga anggota Kelompok Ronggo Keling. Mereka segera mundur menuju ke kuda-kuda mereka yang ditambatkan di luar batas pos pemeriksaan.
__ADS_1
Melihat rekan-rekan mereka mundur seperti penakut, akhirnya semua anggota Kelompok Ronggo Keling bergerak mundur, meninggalkan Putri Tompel seorang diri.
“Kenapa kalian mundur?! Anak buah durhaka!” teriak Putri Tompel gusar bukan main.
Namun, tidak ada anak buah yang menjawab Putri Tompel. Wanita tanpa kumis itu akhirnya memfokuskan pandangannya kepada Dewi Ara.
Menerbangkan dan mengendalikan serpihan-serpihan benda adalah hal yang biasa Dewi Ara lakukan dengan kekuatan matanya. Namun, membuat semua serpihan benda itu bersinar merah, baru kali ini Dewi Ara tunjukkan.
Sekedar informasi, itu adalah ilmu Kupu-Kupu Badai, kesaktian yang jarang dipakai oleh Dewi Ara. Mungkin tergantung mood-nya.
“Mati pun harus dengan terhormat sebagai pembunuh bayaran!” desis Putri Tompel yang fix ditinggal seorang diri.
Zess!
Putri Tompel lalu menghentakkan kedua lengannya, membuat tubuhnya dikurung oleh spiral sinar putih. Sepertinya itu adalah ilmu perisai karena Putri Tompel sudah tahu akan diserang oleh ratusan kepingan genteng.
Sreeetss!
Ratusan genteng bersinar merah mulai bergerak menyamping, lalu memutari posisi Putri Tompel. Kian lama, lesatan genteng-genteng itu semakin cepat sehingga membentuk pusaran sinar merah yang mengurung Putri Tompel.
Seiring itu, sinar putih berwujud spiral yang mengurung tubuh Putri Tompel bergerak berputar juga.
Kini, Putri Tompel tidak bisa melihat apa-apa selain dinding sinar merah yang berpola garis-garis. Namun, perlahan-lahan dia mulai mengerenyit menunjukkan kegelisahan, karena dia merasakan krisis udara. Selain itu, ia menahan rasa panas yang memanggang kulit.
“Sebelum udara benar-benar habis, aku harus melakukans sesuatu,” pikir Putri Tompel.
Blass!
Putri Tompel kemudian melepaskan sebola sinar merah muda yang tidak semuda dirinya. Bola sinar pink itu melesat menabrak dinding pusaran genteng bersinar. Sinar merah muda berwarna romantic itu menjebol dinding sinar merah, tetapi kemudian tertutup lagi. Sementara sinar merah muda melesat tanpa arah yang jelas, kemudian meleduk di udara.
Rupanya perkiraan Putri Tompel salah. Ia yang menyangka akan ada serangan fisik, ternyata tidak ada. Ilmu Kupu-Kupu Badai Dewi Ara ternyata hanya bertujuan menguras udara di dalam kurungan.
Putri Tompel mulai megap-megap. Mulutnya mulai membuka untuk menarik napas lebih banyak. Ilmu perisai yang ia siapkan tidak memiliki fungsi sejauh ini. Ia pun mengeluarkan keringat besar-besar dari hawa panas yang memanggang.
“Aku harus keluar dari kurungan ini,” pikir Putri Tompel.
Putri Tompel lalu mencoba melakukan terobosan dengan cara melompat menabrak dinding sinar.
Bress!
“Aaak!” jerit Putri Tompel yang berhasil keluar dari dalam kurungan Kupu-Kupu Badai. Namun, Putri Tompel mendarat dalam kondisi tubuh rusak dan berbolong-bolong tidak indah. Jeritan itupun menjadi jeritan terakhir bagi Putri Tompel.
Ternyata, ilmu perisai yang mengurung tubuh Putri Tompel tidak bisa mencegah ketika puluhan kepingan genteng bersinar merah menghantami tubuhnya, saat dia menerobos dinding sinar merah. Kepingan genteng-genteng bersinar itu menembusi tubuh Putri Tompel dengan mudah.
Para pendekar yang menyaksikan itu hanya bisa terdiam dengan mata melebar.
__ADS_1
“Ketua tewas! Ketua tewas!” teriak salah seorang anggota Ronggo Keling. (RH)