
*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*
Meski udara pagi itu terasa segar di penciuman, tetapi kondisi yang tercipta di depan Penginapan Niring Jelita menegangkan banyak orang.
Pendekar Bola Cinta Tikam Ginting kini berhadapan dengan seorang pemuda yang berdiri dengan kaki rapat seperti sedang upacara bendera, tetapi tangan kiri melintang di perut dan tangan kanan rapat menekuk ke atas dengan telapak tangan terkulai tanpa daya. Wajah pemuda itu setengah merengut sembari menatap Tikam Ginting yang cantik.
Warga yang memilih menunda pekerjaannya di ladang, sawah, sungai dan kandang, kini bergerombol-gerombol berdasarkan jenisnya dalam jarak aman dari pusat ketegangan. Mayat wanita termutilasi sudah tidak menjadi hal menarik bagi mereka. Mereka lebih tertarik menonton pertarungan yang sebentar lagi pasti akan tayang.
Dewi Ara memantau dari teras penginapan. Ratu Wilasin dan Arda Handara berdiri menonton seperti orang kebanyakan. Pasangan hangat Anik Remas dan Bagang Kala baru saja keluar dari kamar mandi, sepertinya mereka berdua mulai mencoba-coba, padahal penghulu belum mengikatkan benang pengesahan.
Bong Bong Dut juga muncul dan memilih bergabung dengan Ratu Wilasin dan Arda Handara.
Sementara itu, serombongan centeng kademangan telah tiba membawa sebuah pedati kerbau dan berbagai alat evakuasi mayat. Demang Bajang dan para anak buahnya sibuk membereskan sisa-sisa pertumpahan darah.
“Siapa kau, Nisanak?” tanya Tikam Ginting setengah galak.
“Aiiih, Abel disebut Nisanak. Apakah kau kurang tidur sehingga aku yang cantik ini kau kira seorang wanita?” gerutuh pemuda dengan intonasi mengayun dan bercengkok seperti lagu dangdut separuh jadi.
“Jadi sebenarnya kau jantan atau betina?” tanya Tikam Ginting.
“Ih, sembarangan sambal ikan asin. Gagah-gagah seperti ini Abel disebut betina. Namaku Abel Srikunti. Aku Pembunuh Kesepuluh dalam Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas,” ujar pemuda yang terlihat tidak bersenjata.
“Apa yang kau inginkan? Apakah kau juga akan membunuh Gusti Ratu Wilasin?” tanya Tikam Ginting.
“Gadis cerdas. Jarang-jarang loh Abel bertemu gadis cerdas yang secantik dirimu, Sayang. Hihihi!” kata pemuda itu mulai bersikap genit.
Tuk!
“Abel ganteng selangit! Abel ganteng selangit, meong meong meong, aw aw aw!” pekik Abel Srikunti latah, ketika ada kerikil yang mendarat di bokongnya.
“Hahaha!” tawa orang banyak.
“Kakak cantik, kau mau bertarung atau mau merayu Kakak Tikam Ginting?” tanya Arda Handara kepada Abel Srikunti.
“Iiih, Bocah! Jangan ganggu Abel dong, nanti Abel sebut jorok bagaimana,” gerutuh Abel Srikunti sambil merengut sok cantik.
“Hahahak!” tawa Arda Handara sambil iseng membidikkan lagi ketapelnya dengan peluru seekor ulat bulu.
Set! Ces!
__ADS_1
Arda Handara melepaskan pelurut uyut-uyutnya menyerang Abel Srikunti. Namun, pemuda gemulai itu menembakkan jari telunjuknya. Ada setitik sinar merah sangat kecil yang melesat dari sentilan telunjuk itu dan memusnahkan tubuh si ulat bulu di tengah jalan.
“Waaah, hebat pemuda cantik itu!” ucap seorang warga yang bisa melihat adu tembak samar tersebut.
“Wah, tembakanku ditangkis,” ucap Arda Handara terkejut pula.
“Lalu apa yang kau inginkan, Abel?” tanya Tikam Ginting.
“Abel ingin membunuh Ratu Wilasin. Penembak Bambu dan Cempaka sudah berkorban nyawa, jadi Abel harus meneruskan cita-cita mereka,” jawab Abel Srikunti.
“Apakah kau kenal yang mana ratu yang ingin kau bunuh?” tanya Tikam Ginting.
Hebohlah Demang Bajang dan warga ketika mendengar nama Ratu Wilasin disebut. Demang Bajang memang tidak mengenal Ratu Wilasin, tapi dia tahu bahwa nama itu adalah nama penguasa Kerajaan Baturaharja. Sementara warga hebohnya lebih kepada titel “ratu”-nya.
Seketika suara laksana orang di pasar saham ramai terdengar lantaran kasak-kusuk warga.
“Ratu Wilasin adalah wanita yang sedang duduk di teras penginapan itu,” unjuk Tikam Ginting sambil menunjuk dengan mata ke arah teras penginapan.
Abel Srikunti si Pembunuh Kesepuluh cepat menengok ke arah teras penginapan.
West!
Abel Srikunti hanya melakukan satu kali tolakan bantuan dalam lesatannya yang membawa tubuhnya melesat masuk ke bawah atap teras. Sementara kelima jari tangan kanannya telah bersinar merah siap melepaskan serangan kepada Dewi Ara yang sedang menyuapi dirinya. Untuk menyuap, Dewi Ara tidak perlu dilayani.
“Akk!” pekik Niring Kuwikuwi terkejut melihat pergerakan Abel Srikunti yang secepat terbangnya seekor belalang.
Set! Wiss! Prak!
Satu gelas tanah liat melesat cepat nyaris tidak terlihat menyongsong kedatangan Abel Srikunti. Sontak Abel Srikunti mengeluarkan kilatan sinar biru pada tubuhnya sebelum dadanya dihantam gelas.
Gelas itu pecah menjadi serpihan halus saat menghantam dada Abel Srikunti yang membuatnya terlempar balik keluar dari teras, lantaran begitu tingginya tenaga yang terkandung dalam gelas.
Jleg!
Hebatnya, Abel Srikunti bisa mengatur putaran tubuhnya sehingga mendarat dengan apik di tanah becek tanpa adegan drama terpeleset seperti Cempaka.
Dakk!
“Abel tidak sudi diperkosa, tidak sudi, aaah! Meong meong meong, aw aw aw!” pekik Abel Srikunti nyaring seperti gadis yang pasrah diperkosa karena ada nada melenguh yang panjang dan berujung meongan manja.
“Hahahak …!” tawa orang banyak di kejauhan.
__ADS_1
Lemparan bola merah Tikam Ginting ke kepala belakang Abel Srikunti membuyarkan kejantanannya yang sedang keluar.
“Iiih, jengkel Abel mah!” dongkol Abel Srikunti merengut sambil satu kakinya menghentak ke tanah becek sisa hujan semalam.
Abel Srikunti memegangi kepala belakangnya sambil memandang tajam kepada Tikam Ginting yang hanya tersenyum sambil menimang-nimang bolanya. Untung, Tikam Ginting hanya melempar biasa. Jika mengandung tenaga dalam tinggi, mungkin kepala itu sudah pecah, tapi baru “mungkin”.
“Seandainya kau lelaki, sudah Abel gigit,” ucap Abel Srikunti geregetan, menunjukkan gaya yang menggemaskan.
“Meong!” ucap Bong Bong Dut tiba-tiba mengeong sebagai respons melihat gaya Abel Srikunti.
Sontak Ratu Wilasin dan Arda Handara menengok memandangi Bong Bong Dut.
“Kakang Gejrot ketularan?” tanya Arda Handara.
“Eh, ti-ti-tidak. Aku hanya meniru sa-sa-saja,” jawab Bong Bong Dut tergagap karena terkejut.
“Hahahak!” tawa Arda Handara.
“Hihihik …!” tawa Ratu Wilasin pula.
“Lawanmu adalah aku, Abel!” seru Tikam Ginting.
“Abel tidak mau. Abel mau melawan Ratu Wilasin!” tandas Abel Srikunti.
“Coba saja jika kau mengabaikanku!” tandas Tikam Ginting lalu mengayunkan tangan kirinya.
Slululut!
Dari tangan kiri itu melesat sepuluh bola sinar kuning bening seperti gelembung air sabun. Kesepuluh bola sinar kuning itu melesat cepat, tapi tidak menyerang Abel Srikunti, melainkan mengurung posisinya. Kesepuluh bola sinar itu melayang dan bergerak pelan memutari tubuh Abel Srikunti.
Buru-buru Abel Srikunti melompat keluar dari pengurungan dan bersalto beberapa kali di udara, lalu mendarat di titik lain.
Jleg!
“Abel memang cantik! Meong meong meong, aw aw aw!” pekik Abel Srikunti terkejut setelah mendarat. Ternyata kesepuluh bola sinar kuning itu masih ada mengurung tubuhnya, yang berarti bola-bola sinar itu ikut saat Abel Srikunti melompat.
“Itu ilmu Bola Sehidup Semati, Abel. Selamat menikmati,” kata Tikam Ginting dengan tangan kiri mengepal seperti sedang menggenggam sebutir telur cecak. Ia lalu membuka genggamannya sambil berkata, “Meledak!”
Blar blar blar …!
Sepuluh ledakan pun terjadi keras di sekeliling tubuh Abel Srikunti. (RH)
__ADS_1