Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Cumi 32: Serangan Penguasa Dunia


__ADS_3

*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*


 


Ketua Dua Tolak Berang kini berhadapan langsung dengan Pendekar Angin Barat Bagang Kala. Sementara Dewi Ara menjadi saksi ketegangan yang terjadi di bawahnya.


“Kau harus membayar dengan nyawamu, Bagang Kala!” teriak Tolak Berang dengan penuh amarah dan dendam.


“Jika Ketua menuntut balas atas kematian satu putra Ketua, maka aku lebih berhak menuntut balas atas kematian kedua orangtuaku dan seorang kakak perempuanku yang juga diperkosa,” balas Bagang Kala tidak mau sekedar menjadi pihak yang bersalah.


Terdiam Tolak Berang mendengar pembelaan Bagang Kala, tapi tetap dengan napas memburu seperti banteng yang usai di-bully oleh para matador.


“Baiklah, akan aku anggap nyawa ayah bayar nyawa ayah, nyawa ibu bayar nyawa ibu!” tambah Bagang Kala.


Bluarr!


Tiba-tiba mereka semua mendengar suara ledakan keras yang cukup memekakkan gendang telinga, menuntut mereka cepat melihat ke sumber ledakan.


Mereka semua melihat Anik Remas dan Citari Lenting saling berpentalan.


Bagang Kala terkejut karena melihat Anik Remas terpental ke belakang dengan mulut menyemburkan darah, yang menjadi pertanda bahwa janda cantik itu menderita luka berat.


Tanpa pamit lebih dulu kepada Tolak Berang yang sedang mendendam kepadanya, Bagang Kala cepat berkelebat pergi ke arah area pertarungan antara Citari Lenting dan Anik Remas.


“Matilah kau perempuan sundal!” teriak Citari Lenting yang tidak menderita luka dari adu kesaktiannya dengan Anik Remas. Tubuhnya melompat jauh ke depan dengan cambuk bersinar merah mengayun cepat dari atas, siap mendera tubuh Anik Remas yang masih tergeletak di tanah.


Bagang Kala yang datang dari samping cepat menghentakkan kedua tangannya.


Wuss!


“Akk!” pekik tertahan Citari Lenting saat segulung angin keras kiriman Bagang Kala menghempaskan tubuhnya ke samping, yang otomatis mengacaukan serangannya.


Citari Lenting jatuh bergulingan di tanah. Ia bangkit dengan kemarahan dan cepat melihat siapa yang ikut campur. Ternyata Pendekar Angin Barat lagi-lagi menjadi penyelamat majikannya.


“Bocah lacur!” maki Citari Lenting.


Set set set …!


Tiba-tiba semua orang dikejutkan oleh serombongan puluhan anak panah yang muncul dari jauh menyerbu orang-orang yang ada di tempat itu. Uniknya, pasukan anak panah itu tidak sewajarnya yang biasanya melambung ke atas lalu menukik, tetapi kali ini melesat lurus horizontal dan bisa berbelok seperti jet tempur.


Bukan hanya orang-orang yang berdiri di atas tanah yang menjadi sasaran serangan rombongan anak panah, tetapi Dewi Ara yang melayang di angkasa juga diserang oleh tiga anak panah yang terbang tinggi.

__ADS_1


Tseb tseb tseb …!


“Aak! Ak! Ak …!”


Serangan itu begitu cepat dan tidak terduga oleh semua orang. Maka orang-orang yang tidak sempat melihat datangnya anak panah, harus bernasib malang. Belasan murid Perguruan Cambuk Neraka harus berjeritan ketika anggota tubuh mereka ditancapi anak-anak panah tersebut.


Guna Wetong bahkan terkena pada bahu kirinya, membuatnya terjengkang. Masih untung bukan anggota tubuh vital yang terkena, sehingga tidak langsung mati.


Wuss!


Bagang Kala cepat memainkan ilmu anginnya untuk membelokkan beberapa anak panah yang menargetkan dirinya. Setelah itu, dia cepat menghampiri Anik Remas dan membantunya untuk berdiri.


Ctas ctas ctas …!


Para ketua dan petinggi perguruan dengan cepan menggunakan lecutan cambuknya menangkis serangan anak panah yang sangat cepat.


Tseb! Tseb!


“Akk! Akk!” jerit dua petinggi perguruan saat mereka gagal mencambuk panah yang datang.


Sementara itu, tiga anak panah yang menyerang Dewi Ara, rontok jatuh ke tanah sebelum mendekati dirinya.


Ada lebih dari lima belas murid perguruan yang tewas terkena anak panah, belasan lainnya juga sebatas terluka karena terkena pada bagian tubuh yang tidak mematikan.


“Kelompok bayaran Adipati datang menyerang!” teriak Garda Tadapan menyimpulkan.


Drap drap drap …!


Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara lari kaki kuda yang jumlahnya banyak. Di kejauhan, tepatnya di jalan menuju batas kampung, terlihat setumpuk pasukan berkuda berlari kencang datang mendekat, meninggalkan gumpalan debu yang membumbung tinggi.


Sekedar bocoran, jumlah pasukan berkuda itu sebanyak dua puluh satu ekor. Para penungganya adalah lelaki semua yang mengenakan pakaian pendekar biasa. Namun, pada kuda-kuda mereka ada banyak logam-logam tipis berbentuk bulan sabit.


“Bersiaaap! Kita diseraaang!” teriak Sarang Asugara keras dari atas kereta kudanya.


Ketegangan seketika meninggi dan semua orang bersiap-siap dengan cambuk tergenggam kuat di tangan. Jantung para murid Perguruan Cambuk Neraka berdebar kencang.


“Hancurkan, kuasai dunia!” teriak penunggang kuda paling depan sambil menggebah kencang kudanya.


“Hancurkan, kuasai dunia!” teriak dua puluh lelaki berkuda lainnya, sehingga menggema keras dan memberi serangan psikis bagi musuh yang mendengar.


Set set set …!

__ADS_1


Meski jarak masih cukup jauh dari posisi orang-orang Perguruan Cambuk Neraka, tetapi orang-orang berkuda itu telah melesatkan senjata logam tipis berbentuk bulan sabit.


Jika serangan sebelumnya adalah serbuan anak panah, kali ini adalah serbuan bulan sabit logam. Senjata pipih itu melesat berputar kencang mendatangi orang-orang Perguruan Cambuk Neraka.


Bset! Bset! Brakr!


Kereta kuda, roda kayu kereta, gapura, tiang-tiang, bahkan batang pohon, dibuat terpotong ketika terkena senjata-senjata sabit itu.


Bset bset bset …!


“Akk! Akk! Akk …!” jerit murid-murid Perguruan Cambuk Neraka yang tidak sanggup menghindari atau menangkis serangan sabit-sabit itu.


Ada yang mencoba menangkis dengan lecutan cambuk, tetapi justru cambuk itu putus dan berlanjut merobek tubuh, bahkan ada kaki dan tangan yang putus oleh serangan itu.


Ting ting!


Dua sabit yang menargetkan Bagang Kala dan Anik Remas dihadang oleh Angin Setajam Lidah, sampai-sampai ketika angin tajam itu menghadang dua senjata sabit, menimbulkan dentingan yang nyaring. Dua senjata sabit itu terpental jatuh ke tanah.


Namun, ancaman kematian belum berakhir karena pasukan berkuda yang semakin dekat itu kembali melesatkan senjata bulan sabit gelombang kedua.


“Wanita dan anak-anak munduuur!” teriak Sarang Asugara.


Tiba-tiba kedua kubu terkejut, karena semua senjata sabit yang sedang melesat terhenti di udara, seolah waktu sedang berhenti, tapi rombongan berkuda tetap berlari kian mendekat.


Seiring sosok Dewi Ara bergerak terbang berpindah posisi, senjata-senjata sabit itu tiba-tiba melesat pulang.


Alangkah terkejutnya para lelaki berkuda melihat senjata mereka justru melesat balik dengan kecepatan yang sama.


Bset bset bset …!


Senjata-senjata itu menebasi kaki, dada dan perut kuda-kuda, termasuk menebas para penunggangnya. Sejumlah kuda berjatuhan tersungkur ke tanah bersama penunggangnya, tetapi ada juga penunggangnya yang melompat naik ke udara. Ada juga beberapa penunggang kuda yang terkena langsung senjata sabit dan harus jatuh dalam kondisi terluka parah bahkan tewas.


Di saat sebagian kuda pada berjatuhan di tengah jalan, sebagian kuda lagi tetap berlari kencang menuju gapura yang sudah tumbang tertebas.


Blar blar blar …!


Tiba-tiba tanah jalanan yang akan dilalui oleh kuda-kuda itu berledakan secara beruntun, membuat tanah terbongkar naik ke udara. Ledakan yang dilakukan oleh kekuatan mata Dewi Ara itu membuat sejumlah kuda terdepan kembali jatuh tersungkur, bahkan ada penunggang yang memilih menarik kencang tali kendali kudanya untuk mengerem mendadak, akibatnya terjadi tabrakan.


“Serang kelompok Penguasa Dunia!” teriak Sarang Asugara lantang yang sejak tadi bertindak sebagai panglima.


“Seraaang!” teriak murid-murid Perguruan Cambuk Neraka yang masih dalam kondisi sempurna tanpa menderita luka. Mereka berlari maju menyerbu ke arah pasukan berkuda dari kelompok Penguasa Dunia. (RH)

__ADS_1


__ADS_2