
*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*
Cara yang sama dilakukan oleh Permaisuri Dewi Ara terhadap Kapal Karang Jago yang dipimpin oleh Laksamana Muda Gandala Moi.
Bruakr!
Lagi-lagi Bong Bong Dut menjadi andalan untuk dijatuhkan dari angkasa ke atas Kapal Karang Jago. Semua serangan panah biasa, panah jauh, bahkan serangan sinar tinju dari pengawal Laksamana Muda, tidak bisa menyentuh tubuh Bong Bong Dut ketika turun membumi.
Kapal besar itu memang menderita kerusakan seketika, tapi kekuatannya yang lebih kokoh dari kapal perang yang sudah tenggelam lebih dulu membuatnya tidak separah yang lain. Retak dan patah memang tercipta yang membuat air laut masuk, tetapi tidak sederas ketika memasuki kapal-kapal sebelumnya. Bahkan pasukan yang terlempar ke laut hanya sebagian.
Laksamana Muda Gandala Moi masih bertahan di kapal.
Suuut!
Setelah mengirimkan Bong Bong Dut, Dewi Ara kembali melompatkan Komandan Bengisan untuk lebih menghancurkan Kapal Karang Jago.
Sebelum Komandan Bengisan mendarat dan merusak kapal itu lebih parah, Gandala Moi segera bertindak.
Siing! Ting!
“Hugk!”
Sekelebat sinar kuning tipis melesat menyambut kedatangan tubuh besar Komandan Bengisan sebelum mendarat. Meski dirinya telah dilindungi oleh kekuatan Dewi Ara, tetapi serangan Gandala Moi membuat Komandan Bengisan menangkis sinar berbahaya itu dengan tombak besinya.
Komandan Bengisan terdengar mengeluh dengan tubuh terpental dan jatuh ke laut. Maka saat itu, tinggallah Bong Bong Dut seorang diri dalam ketegangan.
Pemuda gemuk itu tidak perlu takut oleh serangan para prajurit yang mengepung, tetapi dia takut kepada Laksamana Muda. Komandan Bengisan saja bisa dibuang ke laut.
Ses ses!
Ketika Gandala Moi hendak menyerang Bong Bong Dut, dari arah air mencelat sosok Mimi Mama yang mengudara ke atas kapal sambil melesatkan dua piringan sinar merah yang menyerang Laksamana Muda lebih dulu.
Sres sres!
Gandala Moi terpaksa mengurungkan serangannya kepada Bong Bong Dut dan mengubah kesaktiannya dengan tiba-tiba. Kedua tangan di dalam lengan jubah birunya bersinar merah dan menangkis dua piringan sinar merah Mimi Mama.
Set set set …!
Di saat dua piringan sinar merahnya ditangkis oleh Gandala Moi, Mimi Mama menyebarkan ilmu Badai Mawar yang setidaknya bisa mengurangi pasukan lawan sebelas atau dua belas prajurit.
“Kakang Gejrot, apakah kau masih sanggup bertarung?” tanya Mimi Mama sambil merapatkan punggungnya ke dekat Bong Bong Dut yang dikepung. Maka terlihat seperti bapak dan anak, bukan seperti kakak dan adik.
__ADS_1
“Aku sudah tidak sanggup!” jawab Bong Bong Dut dengan berteriak.
“Panggillah Gusti Permaisuri jika begitu,” saran Mimi Mama.
“Gusti Permaisuriii!” teriak Bong Bong Dut keras, seperti sebelumnya.
Belum berakhir ujung teriakannya, tubuh Bong Bong Dut tiba-tiba lepas landas, terbang naik ke udara malam.
“Panah!” perintah pengawal Laksamana Muda.
Set set set …!
Pasukan panah yang masih memiliki panah memanah ke atas, masih berusaha meski sebelumnya Bong Bong Dut tidak tersentuh. Memang, kali ini Bong Bong Dut juga tidak tersentuh. Ia kemudian ditarik pulang seperti disedot oleh makhluk luar angkasa ke dalam kegelapan.
Serangan panah-panah juga menyasar kepada Mimi Mama yang kini seorang diri sebagai musuh di atas kapal yang semakin dipenuhi air. Namun, anak sakti itu memamerkan ilmunya yang lain bernama Kendali Anak Ikan.
Semua anak panah yang datang kepadanya dari jarak dekat, seperti tersedot oleh satu kekuatan, sehingga panah-panah itu melesat berkerumun di dalam satu arus. Kumpulan anak panah yang dikendalikan itu tidak sampai ke tubuh mungil Mimi Mama, tetapi dia berbelok ramai-ramai lalu memutari tubuh gadis itu sekali, kemudian melesat menyerang Gandala Moi berjemaah.
Tretatak!
Gandala Moi tidak menghindar, dia mengerahkan tenaga saktinya untuk menamengi dirinya. Semua anak panah itu rontok ke bawah ketika menabrak tubuh depan Gandala Moi.
“Ada kapal datang!” teriak seorang prajurit ketika melihat bayangan hitam besar keluar dari dalam kegelapan.
Namun kemudian, kapal itu berbelok sehingga posisinya menyampingi posisi Kapal Karang Jago.
“Tembak!” perintah Dewi Ara di kapal tersebut.
Set! Begk!
Seser Kaseser yang berada di belakang alat pelontar kapak raksasa segera mengeksekusi. Maka satu kapak raksasa melesat dari buritan Kapal Bintang Hitam. Kapak raksasa itu menancap tepat di tengah-tengah lambung kiri Kapal Karang Jago, menambah luka, kerusakan dan derita si kapal.
Belahan besar tercipta di lambung kapal yang kian mempercepat proses karamnya Kapal Karang Jago, yang mungkin ketika dia wafat namanya diganti menjadi “Kapal Karam Jago”.
Setelah itu, Kapal Bintang Hitam melaju kencang meninggalkan Kapal Karang Jago dan menuju ke pelabuhan. Sepertinya Dewi Ara sudah siap untuk berlabuh.
Sekilas terlihat keberadaan Bong Bong Dut dan Komandan Bengisan di atas kapal hitam.
“Tinggalkan kapal, berenanglah ke pelabuhan!” teriak Gandala Moi kepada pasukannya.
“Baik, Laksamana!” sahut pasukan yang jumlahnya masih puluhan orang.
Dengan rasa sedih, mereka terpaksa meninggalkan Kapal Karang Jago yang selama ini menjadi kapal jagoan mereka.
__ADS_1
Jbur jbur jbur …!
Puluhan prajurit itu berlompatan ke laut lalu berenang menuju ke pelabuhan yang telah menjadi medan perang. Ternyata jumlah kapal yang terbakar di pelabuhan telah bertambah. Tiga kapal di dermaga telah ikut terbakar.
Pada akhirnya, tinggallah Mimi Mama dan Laksamana Muda Gandala Moi di atas kapal yang lantainya sudah mulai terendam air.
“Hihihi!” tawa pendek Mimi Mama sambil menatap tajam kepada Gandala Moi, satu tatapan yang tidak wajar bagi seorang anak seusianya.
Melihat ekspresi Mimi Mama itu, lingkar mata Gandala Moi melebar, jantungnya sempat tersentak.
“Siapa sebenarnya kau, Adik?” tanya Gandala Moi.
“Pembunuh Kedua dari Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas,” jawab Mimi Mama sembari tersenyum di dalam keremangan cahaya obor kapal.
Gandala Moi hanya manggut-manggut.
“Tidak peduli kau anak kecil, tidak ada belas kasih di dalam peperangan! Hiat!” seru Gandala Moi lalu maju dengan kedua tangan yang bersinar merah, menyerang sosok yang jauh lebih kecil dan pendek darinya itu.
Gesit Mimi Mama meladeni serangan pemuda gagah itu dengan gerakan yang tidak tersentuh. Sebaliknya, justru dia bisa mendaratkan serangan jarinya pada anggota-anggota tubuh Gandala Moi.
“Ak! Ak! Ak!” keluh Gandala Moi setiap tusukan jari Mimi Mama bersarang di anggota tubuhnya, di saat dia tidak mampu menyenggol gadis kecil itu sekali pun.
Akhirnya Gandala Moi memilih mundur mengambil jarak.
“Hihihi!” tawa kecil Mimi Mama. “Pastinya Kakang tidak sebatas itu. Aku juga baru bermain-main.”
“Bagaimana jika kita bertarung tanpa pijakan?” tawar Gandala Moi.
“Aku tidak takut. Weeek!” jawab Mimi Mama lalu melewek seperti anak kecil.
Mendelik Gandala Moi diledek seperti itu. Selama dua belas tahun berkarir di lautan, belum ada prajurit yang berani menjulurkan lidahnya seperti itu.
Tiba-tiba Gandala Moi melompat ke udara tinggi.
Zurss! Broaks!
Dari ketinggian, Gandala Moi menghentakkan kedua tangannya. Dua sinar panjang seperti pipa warna kuning kekuning-kuningan melesat.
Kedua sinar panjang itu menghantam posisi yang ditinggalkan Mimi Mama dengan cepat. Kedua sinar besar itu menjebol lantai kapal hingga ke bagian dasar yang sudah tenggelam.
Sementara itu, Mimi Mama yang telah menghindar mendarat di atap anjungan.
Dua lubang besar yang sengaja dibuat oleh Laksamana Muda membuat kapal langsung bergerak turun dengan cepat ke dalam air.
__ADS_1
Jika Kapal Karang Jago tenggelam, maka apa yang akan menjadi medan tarung mereka? (RH)