Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pertamak 32: Pendekar Ketapel Naga


__ADS_3

*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*


 


Kelompok pembunuh bayaran Empat Kumis Algojo terbang cepat mengejar Arda Handara yang terjatuh di tanah hutan yang datar.


Si Kumis Awan yang terbang paling depan mendekati posisi Arda Handara lebih dulu, sementara anak itu sudah menarik ketapel Ki Ageng Naga dengan peluru uyut-uyut.


Set!


Namun, sebelum Arda Handara melepas peluru ketapelnya, Si Kumis Awan lebih dulu melempar tombaknya karena melihat target mereka siap menyerang pula.


Tsing!


Arda Handara sempat terkejut, karena ternyata lemparan tombak itu sangat cepat, membuatnya yang sedang fokus mengeker telat menghindar. Anak itu hanya bisa sedikit memiringkan badannya, membuat tombak mengenai pundak kirinya.


“Hah!” kejut Si Kumis Awan melihat tombaknya justru terpental, tidak menancap.


Set!


“Hakrr!” jerit terkejut Si Kumis Awan lagi saat satu sinar jingga yang berbahan dasar ulat bulu petang melesat cepat dari ketapel Ki Ageng Naga. Itupun menjadi jeritan terakhir Si Kumis Awan karena peluru itu menjebol dadanya saat ia melintas di atas Arda Handara.


“Kumis Awan!” sebut terkejut ketiga rekannya kompak.


Keterkejutan itu membuat Arda Handara memiliki waktu sekejap untuk kabur. Berlari seperti tikus bertemu orang. Ia menyambar Tongkat Kerbau Merah lalu bersembunyi di belakang akar pohon. Di sana dia memegang kendaraannya yang diberdirikan menghadap langit.


Sebelum tiga cebol pembunuh bayaran menemukannya, Arda Handara mengaktifkan tongkatnya secara normal. Tongkat itu meluncur terbang lurus ke atas, sementara Arda Handara menggantung dengan berpegangan pada badan tongkat. Diameter pohon yang sebesar tiga kali badan emak gajah, membuat Arda Handara tidak terlihat tubuh atau sayap tongkatnya yang mengembang.


Maka, ketika ketiga pembunuh penerbang itu menyergap ke belakang pohon dari kanan dan kiri, mereka tidak menemukan anak itu.


“Ke mana dia?” tanya Si Kumis Curug sambil tengak-tengok mencari bocil.


“Hahahak!”


Bedug!


Seiring terdengarnya suara tawa, ketiga cebol itu cepat mendongak ke atas pucuk pohon. Mereka terkejut melihat sosok yang diselimuti sinar kuning transparan sudah meluncur jatuh dan menimpa Si Kumis Curug.


Saat menimpa itu, Arda Handara menarik jenggot Si Kumis Curug sehingga tertarik dan kedua orang pendek itu menghantam akar dengan keras.


Krak!


“Aaak!” jerit Si Kumis Curug setelah terdengar suara tulangnya yang patah.


Jika Arda Handara tidak menderita luka dan sakit, maka berbeda dengan Si Kumis Curug.


Jika Arda Handara bisa cepat bangun seperti kucing jatuh, maka Si Kumis Curug diam tidak bisa bergerak, tetapi terdengar mengerang lirih.


Set set! Tep tep!


Si Kumis Udang dan Si Kumis Meledak bertindak cepat melesatkan tombak-tombaknya ke arah Arda Handara.


Memang dasarnya Arda Handara bukanlah bocah biasa. Larinya begitu cepat seperti cecurut. Dua tombak itu menancap berdekatan di belakang langkah kaki sang pangeran.


Saat melihat dua penyerangnya terbang melintas agak menjauh lalu berputar lagi untuk kembali, Arda Handara menaiki tongkatnya, tapi belum terbang.


Sus! Sus!


Setelah tombak mereka tidak berhasil mengeksekusi, kedua cebol yang masih bertahan itu lalu menyalakan tangan kanan mereka dengan sinar biru berpendar. Mereka mulai unjuk kesaktian.


Dari posisi udara yang tinggi, keduanya terbang menuju Arda Handara yang menginjak bumi hutan.


West!

__ADS_1


“Hah!” pekik Si Kumis Meledak karena tiba-tiba Arda Handara melesat terbang sangat cepat kepadanya dan menabraknya.


Bdak! Sus! Bluar!


Arda Handara yang menekan kedua mata kepala kerbau tongkatnya, menabrak telak Si Kumis Meledak yang bahkan tidak sempat melepaskan kesaktiannya.


Namun, pada saat yang sama, Si Kumis Udang sigap menghentakkan lengan kanannya, melesatkan sinar birunya yang menghantam telak tubuh Arda Handara.


Jika Si Kumis Meledak jatuh keras ke semak belukar, maka Arda Handara terpental cukup jauh, bahkan sempat menghantam batang pohon lebih dulu, baru kemudian jatuh ke bawah.


Lagi-lagi Si Kumis Udang harus kecewa, setelah melihat Arda Handara cepat bangun dari jatuhnya dan berlari ke balik batang pohon untuk bersembunyi.


Berpedoman pada cara serangan Arda Handara sebelumnya kepada ketiga rekannya dan kebalnya si bocah dari hantaman dan sinar biru, Si Kumis Udang mengubah sinar biru di tangannya menjadi sinar merah gelap yang sebesar kepalanya.


Ketika terbang untuk memergoki Arda Handara di belakang pohon besar, Si Kumis Udang juga mewaspadai area atas karena seperti tadi, tahu-tahu anak itu terjun dari atas.


Ketika Si Kumis Udang terbang memutari pohon tempat Arda Handara berlindung, ternyata Arda Handara tidak menghilang. Dia ada di sana, sedang berdiri bersandar pada batang pohon. Namun yang membuat Si Kumis Udang merinding, anak itu tersenyum dengan tatapan yang tajam, seperti anak kecil yang kesambet setan hutan.


Yang terpegang di tangan Arda Handara bukan lagi Tongkat Kerbau Merah, tetapi ketapel Ki Ageng Naga yang sudah ditarik siap lepas.


Si Kumis Udang tidak peduli dengan senjata Arda Handara, dia lebih yakin bahwa kesaktiannya lebih unggul dari senjata anak kecil itu.


Wurzz! Suss! Bluass!


Si Kumis Udang tanpa ragu melesatkan sinar merah gelap di tangannya. Sinar itu melesat menderu keras memberi hawa menyeramkan.


Pada saat yang sama, Arda Handara pun mengambil keputusan melepas ketapelnya. Kali ini bukan sinar jingga kecil yang melesat, melainkan bola api besar berwarna jingga, lebih besar dari milik Si Kumis Udang.


Hasilnya, terciptalah ledakan tenaga sakti yang kuat dan mengguncang area itu dalam radius beberapa tombak. Pohon-pohon besar yang berada dalam radius ledakan terguncang kuat, merontokkan dedaunan yang sudah menua di rantingnya. Tercipta pula beberapa titik nyala api yang membakar.


Sebenarnya Arda Handara terdorong keras, tetapi punggungnya rapat dengan batang pohon.


Sementara Si Kumis Udang terpental sampai berputar-putar di udara lalu menabrak keras batang pohon lain, kemudian jatuh keras juga ke tanah bersemak.


Sesampainya di titik tempat Si Kumis Udang jatuh, maka terlihatlah si cebol itu mati dengan gaya yang bahagia. Kedua tangan terangkat di atas kepala, kedua kaki mengangkang, mata mendelik, mulut terbuka lebar seperti orang hendak tertawa, dan lidah melet ke sudut kiri. Terlihat dalam mulutnya penuh darah, tapi tidak mengalir keluar.


Memang, permintaan sugesti Arda Handara ketika membidik sangat besar, ditambah dia menyalurkan tenaga dalam ke dalam ketapel yang membuat Ki Ageng Naga memberikan energi sangat besar.


“Hahaha! Beres,” ucapnya sambil tertawa. Lalu katanya dengan jumawa, “Pendekar Ketapel Naga dilawan.”


Sebagai lucu-lucuan saja, Arda Handara lalu berjalan mengangkang dengan perut dimajukan serta dada dan kepala ditarik ke belakang. Kedua tangan pun melenggang, seperti jalannya orang ketempelan kuntilanak.


Sruk sruk sruk …!


Tiba-tiba Arda Handara dikejutkan oleh suara orang yang berlari cepat di semak-semak hutan.


“Heaaat!”


Baru saja Arda Handara menengok ke kanan, di udara telah melompat sosok Si Kumis Meledak dengan tangan berbekal sinar merah gelap, ilmu yang sama seperti yang dilepaskan oleh Si Kumis Udang.


Kali ini Arda Handara hanya terkejut karena dia tidak siap menghadapi serangan itu.


Clap! Buk!


Prot!


Sebelum Si Kumis Meledak melepaskan kesaktiannya, tiba-tiba di udara muncul begitu saja sosok Eyang Hagara menghadang. Tangan kiri menenteng tongkat, sementara tangan kanan masuk menonjok perut sempit Si Kumis Meledak.


Bukan jeritan yang keluar dari mulut si cebol, tetapi suara kempus yang sangat kental bercampur kotoran lubang bawahnya.


“Wow! Hahahak …!” pekik Arda Handara terkejut lalu tertawa terbahak-bahak karena mendengar hal itu.


Si Kumis Meledak melesat laksana meteor dan menghantam akar pohon, hingga darah banyak muncrat menembus tirai kumisnya.

__ADS_1


Eyang Hagara mendarat lembut di tanah hutan yang berumput dengan wajah yang mengerenyit. Ia sempat menghirup aroma alami dari kempus terpaksa dari Si Kumis Meledak.


“Eyang ke mana saja? Eyang sengaja meninggalkanku, ya? Untung aku anak hebat,” tanya Arda Handara.


“Hahaha! Bukankah tidak masalah jika aku tinggal sendiri?” tanya balik Eyang Hagara setelah tertawa pendek.


“Yaaa tidak masalah,” jawab Arda Handara demi menjaga image-nya di mata pamannya.


“Kau memang hebat, Arda,” puji Eyang Hagara sambil mengangkat tangan kanannya dengan telapak terbuka


Blep!


Seiring Eyang Hagara menggenggam tangannya, semua api yang membakar di area itu padam seketika.


Eyang Hagara lalu berjalan pergi. Arda Handara berjalan mengikuti.


“Ayo kita lanjutkan latihan kita lagi, Eyang!” ajak Arda Handara.


“Latihannya sudah cukup. Dari pertarunganmu melawan mereka berempat, Eyang sudah sangat puas. Latihan kita lanjutkan besok, sepulang dari bertemu dengan Pelatih Banik Terong dan Pasukan Domba Merah.”


“Baiklah, Eyang,” ucap Arda Handara bernada setengah kecewa, yang artinya, setengahnya lagi senang.


Ternyata, Eyang Hagara berhenti di mana Si Kumis Curug tergeletak tidak bergerak, tapi napas dan rintihannya masih ada.


“Wah, dia belum mati, Eyang. Biar aku bunuh sekalian, Eyang!” kata Arda Handara terpancing emosinya.


“Eh, jangan. Pertarunganmu sudah selesai. Tidak boleh membunuh orang yang tidak berdaya seperti ini. Jika lawan sudah separah ini kondisinya, dia bukan lagi musuh, tetapi sudah manusia,” kata Eyang Hagara.


“Apakah ketika mereka ingin membunuhku, mereka bukan manusia, Eyang?” tanya Arda Handara kritis, karena menemukan “kesesatan” dalam nasihat Eyang Hagara. Itu menurutnya.


“Ketika seorang manusia sudah diliputi niat jahat, maka saat itu dia adalah setan berwujud manusia. Jika kondisinya sudah seburuk ini, setan yang menunggangi raganya akan pergi dan tinggallah manusia yang berjiwa manusia. Ketidakmampuannya telah mengusir setan itu dengan sendirinya,” jawab Eyang Hagara.


“Oooh.”


Eyang Hagara lalu berjongkok di sisi Si Kumis Curug.


“Kisawak, apakah kau masih bisa berucap?” tanya Eyang Hagara pelan.


“Bi … saaa,” jawab Si Kumis Curug pelan sekali, tapi suaranya yang seperti anak kecil masih menjangkau telinga si kakek.


“Aku tahu kalian adalah pembunuh bayaran Empat Kumis Algojo. Katakan, siapa yang membayar kalian untuk membunuh cucuku?” tanya Eyang Hagara lagi. “Jika kau tidak memberi tahu, akan aku bunuh kau sekalian.”


“Eh, jangan, Eyang!” seru Arda Handara cepat. “Tadi Eyang mengatakan tidak boleh membunuhnya.”


“Aku hanya mengancamnya agar mau mengaku,” jawab Eyang Hagara agak kesal kepada keponakannya itu.


“Oooh!”Arda Handara kembali manggut-manggut.


Eyang Hagara kembali beralih kepada Si Kumis Curug.


“Jika kau tidak mau menjawab, kami akan tinggalkan kau di sini. Namun jika kau menjawab, aku akan membawamu pulang ke markasmu, Kisawak,” kata Eyang Hagara.


“Ga … lang Ocot,” sebut Si Kumis Curug pelan.


“Bebelele!” pekik Arda Handara ala Orang Separa, terkejut.


“Sudah aku duga,” ucap Eyang Hagara. Lalu katanya kepada Arda Handara, “Orang yang bermasalah denganmu di negeri ini hanya Galang Ocot, Pendekar Ketapel Naga.”


“Hahaha! Iya, Eyang. Itu julukan baruku, pasti belum ada nama julukan seperti itu di dunia ini.”


“Boleh, boleh, boleh.”


Eyang Hagara lalu melakukan tindakan terhadap Si Kumis Curug untuk mengobatinya sedikit dan mengurangi deritanya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2