Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Baut Mal 15: Aksi Hebat Hagara


__ADS_3

*Bajak Laut Malam (Baut Mal)*


 


Peta saat ini di perairan sebelum Selat Gurita, posisi Kapal Bintang Hitam yang ditumpangi oleh Permaisuri Dewi Ara dan para pengikutnya dalam posisi terkepung. Satu kapal yang bernama Kapal Satria Ombak dari Armada Bintang Tujuh sudah ditenggelamkan.


Namun, posisi Kapal Karang Jago dan keenam kapal Armada Bintang Tujuh posisinya masih jauh dari kapal hitam yang masih tidak menyalakan api penerang.


Dewi Ara memilih untuk meninggalkan peperangan setelah menenggelamkan satu kapal musuh. Karena itu, kapal hitam bergerak ingin menerobos pengepungan dan menuju ke Selat Gurita yang ada di depan. Namun, Kapal Satria Angin dan Kapal Pendekar Laut bergerak menghadang kapal hitam.


Pasukan panah dari kedua kapal penghadang telah bersiap dengan panah-panah api telah terpasang di busur para prajurit panah.


“Tariiik!” teriak Kapten Kapal Satria Angin kepada pasukan panah yang kemudian menarik senar busur.


“Tariiik!” teriak Kapten Kapal Pendekar Laut pula. Pasukan panahnya pun menarik senar busur.


Kapal Satria Angin dan Kapal Pendekar Laut sudah dalam posisi menghadang dengan badan kapal melintang. Sementara itu kapal hitam terus meluncur mendekati kedua kapal.


“Buktikan kata-katamu, Kakang,” kata Dewi Ara kepada Eyang Hagara.


“Baik,” ucap Eyang Hagara.


Kakek berhidung tengkorak itu tiba-tiba mencelat, melompat jauh ke depan meninggalkan kapal. Selain Dewi Ara, semua orang hanya bisa terbeliak terkejut melihat gerakan Eyang Hagara yang tidak seperti manusia normal.


“Eyang hebaaat!” teriak Arda Handara bersorak.


Bress!


Eyang Hagara mendarat di air laut, tidak jauh di dekat kedua kapal militer yang menghadang. Air laut yang dijadikan tempat mendarat oleh Eyang Hagara terdorong menyembur ke atas. Hebatnya, Eyang Hagara tidak tenggelam, tetapi dia berdiri di permukaan air yang membentuk kubangan seperti mangkok.


Melihat aksi Eyang Hagara di dalam kegelapan laut, terkejut kedua kapten kapal dan juga pasukannya. Sebelum kakek bertongkat itu berbuat sesuatu yang hebat lagi, kedua kapten kapal segera berteriak kepada pasukannya masing-masing.


“Panah orang itu!” perintah Kapten Kapal Satria Angin.


“Panah kapal musuh!” perintah Kapten Kapas Pendekar Laut.


Set set set …!


Puluhan panah api melesat bersamaan ke udara memberi pemandangan yang indah, tetapi membawa maut.


“Waaaw!” teriak Arda Handara melihat keindahan hujan panah api itu.

__ADS_1


Serangan panah api itu terbagi dua. Panah dari Kapal Satria Angin menargetkan sosok Eyang Hagara, sementara panah dari Kapal Pendekar Laut menjangkau lebih jauh menuju kapal hitam.


Bruss!


Tiba-tiba sekelompok air laut bergerak naik tinggi seperti lidah raksasa yang menghadang semua panah api di udara. Setelah menghadang semua anak panah yang menyerang Eyang Hagara, air tinggi itu bergerak menjatuhkan diri jauh ke depan, menerkam Kapal Satria Angin. Seketika kapal itu padam, tapi belum tenggelam.


Sementara itu, puluhan panah api yang menyerang kapal hitam harus berhenti melesat di udara tanpa maju atau jatuh. Kejadian itu membuat Kapten Kapal Pendekar Laut dan pasukannya ternganga. Apalagi detik berikutnya, puluhan panah api berbalik.


Set set set …!


Jika Kapal Satria Angin dijatuhi air laut yang banyak, sehingga memporak-porandakan pasukan di atas kapal, maka Kapal Pendekar Laut dan pasukan di atasnya mendapat serangan balik panah-panah mereka sendiri.


Teb teb teb …! Sek sek sek …!


“Akk! Ak! Akk …!”


Puluhan panah api bertancapan di Kapal Pendekar Laut dan mengenai sejumlah prajurit. Terdengarlah jeritan-jeritan mereka yang terpanah.


Seeet! Broks!


Eyang Hagara melesatakan tongkat kayunya yang langsung menjebol lambung Kapal Pendekar Laut. Kapal itupun bolong dan air laut bergerak masuk. Namun, lubang yang diciptakan tidak sebesar yang diderita Kapal Satria Oambak yang telah berstatus bangkai di dasar laut. Butuh waktu cukup lama bagi Kapal Pendekar Laut untuk tenggelam jika hanya mengandalkan lubang yang diciptakan oleh tongkat Eyang Hagara.


“Tembak!” perintah Kapten Kapal Pendekar Laut.


Tiba-tiba sebuah jaring besar melesat dari Kapal Pendekar Laut yang hendak menangkap Eyang Hagara. Lelaki berhidung tengkorak itu cepat menggerakkan tangan kanannya seperti orang mengangkat dari bawah naik ke atas.


Sebuah bola air besar melesat cepat naik ke atas dan menghantam jaring besar yang masih di udara. Bola air pecah, tetapi bisa mendorong jaring bergeser arah.


Set set set …!


Tiba-tiba kembali muncul serangan dari kedua kapal yang sudah mengalami kerusakan. Serangan itu berupa lesatan beruntun anak panah-anak panah sinar kuning dengan target satu, yakni Eyang Hagara. Serangan itu dilepaskan langsung oleh kedua kapten yang juga memiliki kesaktian mumpuni.


Slep!


Tiba-tiba Eyang Hagaraa yang berdiri di atas kubangan air, masuk ke dalam air begitu saja dan menghilang. Rentetan panah sinar kuning itu jatuh di air dan lenyap.


Bruss!


Tiba-tiba, dari area air itu, air laut bergerak menggunung tinggi lalu berjalan menghampiri dua kapal penghadang. Melihat tingginya ombak yang seperti bukit, membuat panik orang-orang di kedua kapal.


Satu ombak buatan itu tidak sekedar menjadi ombak biasa, tetapi juga berubah menerkam kedua kapal yang sudah seperti kapal mainan saja.

__ADS_1


Bruass!


Kapal Satria Angin dan Kapal Pendekar Laut dihempas oleh si ombak monster sehingga terbalik, bagian atas kapal masuk ke air dan bagian pantatnya naik ke permukaan. Kedua kapal itupun tidak bisa tertolong.


Sementara itu, kapal hitam terus bergerak dan mendekati dua kapal yang terbalik. Kapal hitam mendekat dengan maksud numpang lewat saja.


Broks!


Tiba-tiba satu titik dari pantat Kapal Pendekar Laut hancur karena dijebol oleh sesosok tubuh yang telah memegang tongkat kayu. Sosok itu adalah Eyang Hagara yang melesat naik mengudara ke angkasa malam, lalu turun mendarat dengan ringan di geladak Kapal Bintang Hitam.


Penjebolan itu membuat Kapal Pendekar Laut semakin cepat menuju tenggelam ke dasar.


Di saat para prajurit Armada Bintang Tujuh yang selamat berenang berusaha bertahan agar tidak ikut tenggelam, ada dua orang yang berenang naik ke pantat kapal. Keduanya adalah kapten kedua kapal. mereka tidak mau menyerah begitu saja.


Set set set …!


Kompak keduanya melompat naik mengudara sambil melakukan gerakan memanah, tanpa busur atau anak panah. Namun, mereka kemudian melesatkan panah-panah sinar kuning ke arah kapal hitam yang semakin mendekat.


Belum lagi Dewi Ara bertindak, Eyang Hagara sudah tampil lebih dulu.


Eyang Hagara melompat pula ke udara, tangan kanannya menghentak memunculkan sinar putih berbentuk bidang lingkaran.


Jes jes jes …!


Panah-panah sinar kuning itu semuanya dihadang oleh sinar putih di tangan Eyang Hagara. Semuanya musnah. Kakek itu menang.


Kedua kapten tidak menyerah. Mereka lalu berlari di atas air dan melompat hendak naik ke kapal hitam yang sudah mereka jangkau.


Jbur! Jbur!


Namun, sebelum mereka mendarat di atas kapal hitam, keduanya tiba-tiba terpental keras tanpa menabrak apa pun. Keduanya jatuh tercebur ke laut.


Dengan menggunakan kekuatan matanya, Dewi Ara mendorong kedua kapal yang terbalik agar tercipta jalan. Dengan lewatnya kapal hitam, maka Dewi Ara dan rombongan berhasil lolos dari pengepungan.


Kapal Bintang Hitam langsung dilayarkan menuju Selat Gurita.


Dengan demikian, kondisi itu bukan lagi pengepungan, lebih kepada pengejaran karena Kapal Karang Jago dan empat kapal lainnya tertinggal.


Kapal hitam yang tetap tidak menyalakan api, membuat kelima kapal sulit melihat keberadaannya di dalam gelap.


Laksamana Muda Gandala Moi dan tiga kapal berusaha terus mengejar. Sementara satu kapal lainnya bekerja mengambil para prajurit yang berenang di air.

__ADS_1


Akhirnya, kapal hitam yang melewati Selat Gurita, semakin hilang di dalam gelapnya malam. Armada Bintang Tujuh gagal total, bahkan menderita kerugian. (RH)


__ADS_2