
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Lentera Pyar hanya mengikuti Pangeran Arda Handara ke mana anak itu pergi.
Cuit cuiiit!
Ada saja pemuda yang bermata bakul ketika melihat ayam istana melintas. Dua orang pemuda yang merupakan murid dari Perguruan Cambuk Neraka bersiut ketika Arda Handara dan Lentera Pyar lewat tidak jauh dari mereka. Pastinya yang mereka siuti bukanlah si anak pendek atau bajingnya yang ada di dalam sangkar burung.
Lentera Pyar yang tidak mau dianggap sombong dan pelit, hanya tersenyum kepada para pemuda yang mimblai (mimpi dibelai).
Para pemuda itu sedang duduk berkumpul di pinggiran tanah lapang yang sudah diramaikan oleh tonggak-tonggak bambu pendek-pendek yang ditata teratur. Mereka semua sudah memegang cambuk masing-masing. Tidak ada yang kurang kerjaan memegangi cambuk temannya. Mereka pun berpakaian dengan rapi.
Sepertinya murid-murid Perguruan Cambuk Neraka sedang bersiap-siap, tapi masih dalam masa santai.
“Hei, kalian!” bentak seseorang kepada para murid yang sedang tertawa-tawa karena mendapat balas senyuman dari Lentera Pyar.
Sontak puluhan murid itu terkejut dan tawanya langsung tertelan ke dalam perut. Mereka menengok ke sumber suara. Tampak seorang lelaki bertubuh besar kekar dan berambut gondrong, sedang berdiri mendeliki para murid tingkat bawah itu. Lelaki berusia di atas empat puluh tahun itu bernama Tampar Bayu.
“Hahaha!” tawa Arda Handara melihat para orang dewasa itu terkejut. Lentera Pyar juga tertawa bersama Arda Handara.
“Guru Muda!” sebut para pemuda itu, yang sebagian masih berusia belia.
“Apa yang kalian lihat? Kalian harus berkonsentrasi dengan pertunjukan kalian. Jangan sampai membuat kesalahan!”
“Baik, Guru Muda!” jawab mereka serentak.
“Di mana Guru Muda Tulang Karang?” tanya Tampar Bayu yang di dalam perguruan dia memiliki kedudukan yang sama dengan Tulang Karang.
“Tidak tahu, Guru Muda!” jawab beberapa murid bersamaan.
“Tadi pagi Guru Muda Tulang Karang dipanggil oleh Mak Guna. Setelah itu kami tidak melihatnya lagi,” sahut seorang murid yang menjadi saksi saat Bong Bong Dut datang kepada Tulang Karang.
“Ya sudah. Persiapkan diri kalian, Ketua Tiga telah tiba, sebentar lagi akan lewat. Bersiaplah!” perintah Tampar Bayu.
“Baik, Guru Muda!” ucap mereka serentak.
Mereka pun segera bangkit dan menyebar mengambil posisi masing-masing di tanah lapang yang berada di sisi dari jalan utama menuju ke bangunan utama Perguruan Cambuk Neraka.
Arda Handara juga lewat di jalan itu, tetapi dia menuju ke rumah besar yang posisinya di belakang bangunan utama yang adalah pendapa.
Rumah di belakang pendapa adalah milik Ketua Dua Tolak Berang. Ada beberapa penjaga berseragam kuning dan bersenjata cambuk berdiri diam mematung.
__ADS_1
“Suling!” teriak Arda Handara tanpa mengindahkan penjaga di dekat tangga rumah panggung pendek itu.
“Eh, eh, eh! Mau apa kau, Bocah?” hardik salah satu penjaga.
“Mau mengajak Suling bermain, Kakang,” jawab Arda Handara.
Sulin Mamas yang dipanggil, tetapi yang keluar justru Tolak Berang bersama istrinya yang bernama Lunar Maya.
Lunar Maya yang mengenakan pakaian warna biru muda, adalah sosok wanita yang cantik oleh penampilan dan riasannya. Usianya masih terbilang muda dengan angka empat puluh lebih satu tahun.
“Paman! Suling mana?” tanya Arda Handara tanpa sungkan.
“Anak siapa ini?” tanya Tolak Berang kepada istrinya, tanpa menjawab pertanyaan Arda Handara.
“Namanya Arda Handara, putra dari tamu yang belum sempat Kakang temui. Dia akrab dengan Suling,” jawab Lunar Maya yang kemarin sempat bertemu dengan Arda Handara.
“Aku curiga dengan tamu-tamu itu, makanya aku tidak berniat menemui mereka,” kata Tolak Berang.
“Paman salah jika curiga dengan ibundaku. Paman pasti akan rugi jika tidak tertarik kepada ibundaku yang terlalu cantik!” sahut Arda Handara tiba-tiba, membuat Tolak Berang menatap tajam kepadanya.
“Anak tidak tahu adab!” maki Tolak Berang mendadak gusar mendengar kata-kata Arda Handara.
“Kakang, Arda hanya anak kecil, ucapannya tidak bisa dianggap serius,” kata Lunar Maya cepat menenangkan suaminya.
Tolak Berang hanya menatap sinis.
“Arda Handara!” panggil satu suara perempuan kecil sambil berlari kecil keluar dari dalam rumah.
Wanita kecil nan cantik berpakaian merah muda itu berlari melewati ayah dan ibunya begitu saja.
“Ayah, aku pergi main bersama Arda!” izin Sulin Mamas yang segera berada di dekat Arda Handara.
“Iya, jangan jauh-jauh mainnya,” kata Lunar Maya di saat suaminya kurang minat menanggapi perkataan putrinya.
“Iya, Bu,” jawab Sulin Mamas.
“Suling, aku sudah melihat Brojol saat mandi, ternyata dia wanita. Hahaha!” kata Arda Handara kepada Sulin Mamas, lalu tertawa bersama gadis kecil itu.
Perkataan Arda Handara membuat kedua orang tua itu terdiam dengan sepasang mata yang melebar. Otak mereka langsung traveling.
“Aku tadi berencana mengintipmu jika kau sedang mandi. Aku ingin tahu, apakah kau sama dengan Brojol atau wanita bohongan. Hahaha!” kata Arda Handara sambil berjalan meninggalkan halaman rumah itu bersama Sulin Mamas dengan Lentera Pyar mengikuti kedua bocah itu.
Semakin mendelik Tolak Berang dan Lunar Maya mendengar perkataan Arda Handara.
__ADS_1
“Anak mesum!” desis Tolak Berang jadi gelisah, tapi tetap membiarkan putrinya pergi bersama Arda Handara dan Lentera Pyar.
“Ayo, Kakang. Ketua Tiga sepertinya sudah tiba,” kata Lunar Maya.
Tampak di kejauhan, sebuah kereta kuda identik berwarna merah, seperti warna seragam sejumlah orang berkuda yang mengawal. Rombongan itu berhenti di depan gapura sebuah jalan yang lurus sampai ke pendapa.
Seorang wanita berusia sekitar lima puluh lima tahun, masih muda dibanding yang berusia enam puluh tahun, turun dari kereta kuda. Ia dikawal oleh dua orang wanita muda dan selebihnya adalah sepuluh lelaki yang sama-sama berseragam merah dan bercambuk merah. Ia adalah Ketua Tiga yang bernama Citari Lenting.
Wanita tua yang berbedak tebal dan bergincu merah seterang warna pakaiannya itu, tampak begitu dihormati. Semua murid Perguruan Cambuk Neraka berseragam kuning menghormat kepadanya, baik yang berjaga sepanjang jalan menuju pendapa maupun puluhan murid yang siap melakukan atraksi massal.
“Hormat!” pekik Tampar Bayu yang mau tidak mau menggantikan peran Tulang Karang.
“Hormat kami kepada Ketua Tiga!” teriak semua murid perguruan serentak sambil turun berlutut menjura hormat, membuat Citari Lenting tersenyum lebar.
Suara mereka ramai menggema, terdengar ke seantero perguruan.
Dewi Ara, Bewe Sereng, Tikam Ginting dan Setya Gogol hanya memandang dari kejauhan.
“Hup!” pekik Tampar Bayu memberi aba-aba awal.
“Hiaaa!” pekik sekitar tiga puluh murid yang memasang kuda-kuda di antara tiang-tiang pendek dari bambu.
Sambil berjalan, Citari Lenting dan para pengawalnya memerhatikan atraksi pertunjukan tersebut.
“Hup!” pekik Tampar Bayu lagi kencang.
Ctas!
Secara serentak ketiga puluh murid berseragam kuning itu melecutkan cambuknya, sehingga memberi suara lecutan yang nyaris serentak dan terdengar menggetarkan telinga pendengarnya.
“Hup!” pekik Tampar Bayu lagi untuk kali yang ketiga.
Ctas ctas ctas …!
Aba-aba ketiga ditindaklanjuti oleh murid-murid itu dengan melompat di udara sambil melecutkan cambuknya ke arah depan secara serentak. Lecutan mereka itu menghantam posisi atas dari sebagian tiang-tiang bambu pendek.
Ketika tiang-tiang itu terhantam, bagian atas dari tiang-tiang itu berpentalan dengan keras, lepas dari bagian bawahnya yang menancap di tanah.
Melebar sepasang mata Citari Lenting dan para pengawalnya, saat melihat dengan mudahnya bambu-bambu itu dipatahkan oleh lecutan cambuk. Secara samar, Citari Lenting sampai manggut-manggut kecil mengakui perkembangan Perguruan Cambuk Neraka Pusat itu.
“Hup!” pekik Tampar Bayu lagi.
Ctas ctas ctas …!
__ADS_1
Hal yang sama kembali diulang dengan target tiang-tiang yang belum terkena jatah lecutan. (RH)