
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Air dangkal membuat kapal Bajak Laut Hitam yang bahkan lebih besar dari kapal penumpang komersil harus berhenti dengan menurunkan jangkar. Layar sudah sejak tadi diturunkan. Bendera hitam dengan gambar bintang kuning tetap berkibar gagah di pucuk tiang kapal.
Warna kapal yang serba hitam dan bendara hitam berbintang kuning, membuat rombongan Dewi Ara diduga sebagai Bajak Laut Malam yang terkenal di kawasan.
Kini di Pantai Selir Bulan Pulau Tujuh Selir telah berkumpul banyak orang, rata-rata mereka berpakaian biru gelap dengan ikat kepala warna biru terang. Orang-orang yang berseragam itu adalah pasukan keamanan. Ada sekitar dua ratus lelaki dengan senjata pedang dan perisai dari rotan.
Pasukan itu dipimpin langsung oleh Selir Pertama yang bergelar Tetua Dewi Perisai Alam. Namun, ada pula Selir Kelima yang bergelar Tetua Tersayang. Selain itu ada Mimi Mama, Serak Gelegar, Pangeran Tendangan Kilat, dan pamannya Gandang Duko yang bernama Janggung.
“Itu bukan Bajak Laut Malam, Tetua Dewi,” kata Mimi Mama saat melihat kedatangan kapal hitam itu. “Kapalnya memang Bajak Laut Malam, tetapi orangnya adalah rombongan Bibi Permaisuri Dewi Ara.”
“Kau mengenalnya, Putri?” tanya Selir Pertama.
“Bibi Permaisuri Dewi Ara itu adalah orang yang telah membunuhi Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas, kecuali aku,” jawab Mimi Mama. “Aku berdamai dengan Bibi Permaisuri. Aku satu kapal dengannya saat kapal berlayar dari Bandakawen ke Manisawe.”
“Lalu apakah kau tahu tujuan mereka datang ke pulau ini?” tanya Selir Pertama lagi.
“Jika tidak bermaksud mengunjungiku, mereka pasti ingin menjemput Nahkoda Dayung Karat yang ditangkap. Bibi Permaisuri memiliki kesepakatan dengan Paman Dayung Karat,” jawab Mimi Mama.
“Janggung, pergilah ke kapal itu dan tanyakan apa mau permaisuri itu!” perintah Selir Pertama.
“Baik, Tetua,” ucap Janggung.
Lelaki separuh baya berkumis tipis itu berjalan turun ke tepian ombak. Setelah itu dia membuka tambatan tali perahu di sebuah tonggak kayu yang sengaja ditancapkan di pantai. Setelahnya, dia melompat layaknya seorang pendekar ke atas perahu.
Setelah menghentakkan tangan kanannya ke bawah, perahu yang dinaikinya seorang diri itu berjalan sendiri meninggalkan pantai dan menuju ke kapal Bajak Laut Malam.
Set! Teb!
Belum terlalu jauh perahu itu meninggalkan pantai, tiba-tiba ada sebatang panah melesat dari arah kapal hitam dan menancap di bagian depan perahu. Awalnya, panah itu menancap biasa, tetapi tiba-tiba ….
Prak! Jbur!
Tiba-tiba perahu itu pecah meledak, membuat Janggung langsung brojol ke dalam air. Ia tidak sempat melompat karena tidak menduga akan meledak tiba-tiba. Lagipula jikapun ia sempat melompat, ia tidak memiliki tempat mendarat, kecuali air laut.
“Hihihik!” tawa Mimi Mama melihat kemalangan yang diderita Janggung.
__ADS_1
Namun, serangan itu cukup membuat kedua Selir menunjukkan wajah marah.
Set! Teb!
Kejap berikutnya, satu anak panah kembali melesat dari kapal hitam dan menancap di tiang kayu tempat menambat perahu. Tidak ada ledakan terjadi. Ternyata pada badan anak panah ada sehelai kain kuning menggantung dan memiliki tulisan.
“Rengkuh Badai, ambil kain itu!” perintah Selir Pertama.
“Baik, Tetua,” ucap Rengkuh Badai patuh.
Komandan pasukan itu segera berlari mendatangi tiang dan mencopot kain kuning pada anak panah. Rengkuh Badai hanya bertugas mencopot kain dan membawanya ke Selir Pertama, bukan membacanya. Karena itu, dia tidak kepo untuk membaca tulisan yang ada di kain tersebut.
“Serahkan Nahkoda Dayung Karat dan Putri Uding Kemala dalam keadaan selamat. Serahkan Tadayu.”
Itulah bunyi pesan yang dibaca oleh Selir Pertama pada kain tersebut. Setelah membacanya, kain tersebut diserahkan kepada Selir Kelima. Mimi Mama segera berjinjit di sisi Selir Kelima agar bisa ikut membaca.
Sementara itu, Janggung baru saja naik ke pasir setelah berenang ke tepian. Lelaki itu basah kuyup.
“Tetua, sepertinya mereka tidak menginginkan adanya utusan,” ujar Janggung yang sudah tiba di depan kedua Selir.
“Utus aku, Tetua,” kata Mimi Mama seraya tersenyum.
“Baiklah,” jawab Selir Pertama.
“Katakan kepada permaisuri itu, Nahkoda Dayung Karat dan istrinya telah masuk ke pulau tanpa izin. Maka wajib dipenjara. Adapun Tadayu dan Putri Uding Kemala tidak ada di pulau ini. Jika mereka tetap ingin mendarat ke pulau ini, maka kami akan menenggelamkan kapal itu,” kata Selir Pertama.
“Ada lagi, Tetua?” tanya Mimi Mama.
“Hanya itu,” jawab Selir Pertama.
“Baik,” ucap Mimi Mama seraya tersenyum. Lalu katanya kepada kakeknya, “Ayo, Kek!”
Mimi Mama lalu berlari kecil seperti anak periang. Di belakangnya segera berjalan kakeknya, Serak Gelegar.
Mimi Mama naik ke atas sebuah perahu yang masih tertambat. Serak Gelegar yang kemudian melepas ikatan tali pada tiang kayu. Setelah itu Serak Gelegar juga melompat naik ke perahu tanpa tersentuh air. Pendaratannya bahkan tidak membuat perahu terguncang atau oleng.
Serak Gelegar bertindak sebagai pendayung. Ia duduk di salah satu ujung perahu lalu mendayung seperti nelayan biasa. Meski demikian, sekali dayung, kekuatan dorongnya tinggi, sehingga perahu melaju kencang menuju kapal hitam.
Sementara Mimi Mama layaknya juragan cilik, berdiri anggun di perahu dan memandang ke arah kapal. Kedua tangannya ia letakkan berkaitan di belakang pinggang, seperti orang besar.
__ADS_1
“Dewi, Mimi Mama dan kakeknya dikirim sebagai utusan,” lapor Tikam Ginting kepada Dewi Ara yang duduk santai di depan anjungan. Kursi dan meja yang ada di kabin dibawa keluar untuk duduk bersantai.
“Biarkan saja anak itu,” kata Dewi Ara.
“Baik, Dewi,” ucap Bewe Sereng yang tadi melepaskan dua anak panah sebelumnya.
Bong Bong Dut yang berdiri paling pinggir terus memandangi kedatangan perahu kecil yang ditumpangi oleh Mimi Mama dan Serak Gelegar. Di belakang Bong Bong Dut berdiri Bewe Sereng, Setya Gogol dan Panglima Bengisan.
Tidak berapa lama, perahu yang didayung Serak Gelegar sampai ke dekat lambung kapal. Mimi Mama dengan lincah melompat tinggi dan bersalto.
Buk!
Bong Bong Dut terkejut karena gerakan tubuh anak kecil itu hendak menimpanya. Ia refleks melangkah mundur setindak, tapi itu membuatnya jatuh terduduk.
“Hihihi!” tawa Mimi Mama yang mendarat di geladak kapal tepat di depan Bong Bong Dut.
Sementara Serak Gelegar menunggu di perahu, tapi tidak sambil memancing.
“Bibi Permaisuri!” panggil Mimi Mama sambil tersenyum dan berlari pelan mendatangi Dewi Ara. “Jika aku tahu Bibi akan berlayar ke mari, aku pasti akan pulang bersama Bibi saja.”
“Pesan apa yang kau bawa untukku?” tanya Dewi Ara to the point.
“Tetua Selir Pertama mengatakan, Nahkoda Dayung Karat dan istrinya harus dipenjara karena masuk tanpa izin ke Pulau Tujuh Selir. Adapun Tadayu dan Putri Uding Kemala belum pulang ke pulau ini. Menurut kesaksian Gandang Duko, Tadayu dan Putri Uding Kemala terjun di tengah laut tadi malam,” jawab Mimi Mama seperti orang besar saja.
“Siapa itu Gandang Duko?” tanya Dewi Ara dingin.
“Sahabat Tadayu yang ikut menculik Putri Uding Kemala,” jawab Mimi Mama.
“Jika demikian, permintaanku bertambah. Serahkan pula Gandang Duko untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya menculik Putri Uding Kemala,” kata Dewi Ara.
“Baik, Bibi.”
“Kembalilah. Aku akan menunggu sampai matahari pada puncaknya. Jika permintaanku kurang satu orang, maka aku akan menggeledah seisi Kota Selir,” tandas Dewi Ara.
“Tapi pesan Tetua juga, jika Bibi Permaisuri memaksa untuk mendarat, maka kapal ini akan ditenggelamkan,” kata Mimi Mama.
“Bisa kita lihat nanti, apakah tetua itu bisa mencegahku untuk mendarat di Pulau Tujuh Selir,” kata Dewi Ara pula.
“Baiklah, Bibi. Akan aku sampaikan,” kata Mimi Mama.
__ADS_1
Gadis kecil itu lalu berbalik dan berjalan setengah berari dan melompat. Di pinggir kapal, dia tinggal melompat turun dan mendarat di lantai perahu kecilnya.
“Kita pulang, Kek!” kata Mimi Mama kepada kakeknya. (RH)