Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 1: Tanda Bahaya Dinyalakan


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


Setelah berlayar beberapa hari dengan kapal Bajak Laut Malam, akhirnya nahkoda, awak kapal dan para penumpang telah melihat dengan jelas sebuah pulau yang memiliki dua gunung bersebelahan.


Gunung yang besar dan terlihat hijau dengan hutan yang menyelimutinya bernama Gunung Ibu. Sedangkan gunung yang lebih kecil dan pendek, pada bagian bawahanya berhutan dan pucuknya gundul bernama Gunung Dara.


Keberadaan dua gunung itulah yang membuat pulau besar itu dinamai Pulau Gunung Dua.


Pulau Gunung Dua memiliki pelabuhan besar yang bernama Pelabuhan Manisawe, yang menjadi transit bagi banyak kapal dari berbagai pulau menuju pulau lainnya. Selain letaknya yang strategis di tengah-tengah antara banyak pulau, Pulau Gunung Dua juga memiliki sumber daya alam berupa minyak. Meski tidak besar, tapi cukup memenuhi permintaan kapal-kapal sebagai bahan bakar penerangan, bukan buat mesin kapal yang hanya mengandalkan layar dan dayung.


Penguasa Pulau Gunung Dua adalah satu keluarga kerajaan kecil independen yang bernama Kerajaan Lampara. Sistem keamanannya hampir sama dengan kota pelabuhan Bandakawen yang mengandalkan jasa Angkatan Lau Kerajaan Srigaya, sebuah kerajaan kecil yang memiliki balatentara yang lebih banyak dari jumlah warga sipilnya.


Setelah berhasil lolos dari serangan kelompok Bajak Laut Malam, tidak ada lagi kendala dalam perjalanan. Lautan pun lebih ramah tanpa badai atau ombak yang terlalu tinggi. Hanya ada dua kejadian yang terjadi karena faktor kapal yang mereka naiki.


Dua kali kapal mereka berpapasan dengan kapal lain. Kapal pertama adalah kapal penumpang yang berangkat dari Pelabuhan Manisawe menuju ke Pelabuhan Genangasin di Kerajaan Srigaya. Ketika melihat bendera kapal yang bergambar bintang kuning di kain hitam, nahkoda dan awak kapal terkejut.


“Itu kapal Bajak Laut Malam! Cepat menyingkir ke timur. Jauhi kapal bajak laut itu!” teriak nahkoda kapal penumpang, ketika jarak kapal masih sekedar mengenali bendera.


Entah apa alasannya bagi nahkoda Dayung Karat tidak menurunkan bendera Bajak Laut Malam.


Kapal yang kedua adalah kapal bajak laut lain. Meski jaraknya masih berjauhan, tetapi dari model kapal dan benderanya yang bergambar gurita bergigi, menunjukkan bahwa itu adalah kapal kelompok Bajak Laut Gurita, kelompok bajak laut yang sering merompak kapal-kapal kecil karena anggotanya sedikit, tidak sampai sepuluh orang. Ketika mengenali kapal Bajak Laut Malam, kapal Bajak Laut Gurita memilih menjauh, mereka tidak mau berurusan dengan kelompok yang lebih besar.


Nahkoda Dayung Karat, para pendekar dan penumpang sangat yakin apa alasan dua kapal itu menjauhi kapal mereka yang bercat hitam seluruh bagiannya. Jadi, orang berkulit hitam jangan coba-coba naik kapal Bajak Laut Malam.


Sementara itu di Pelabuhan Manisawe.


Di pelabuhan itu ada sebuah menara tinggi yang terbuat dari kayu. Di atasnya ada petugas yang berjaga untuk memantau laut arah utara. Sebut saja namanya Pantau Terik. Nama Pantau sangat cocok baginya, tetapi nama Terik yang sulit diterka asal usulnya. Mungkin dulu waktu dilahirkan di waktu siang yang terik. Namun, itu sekedar cocoklogi belaka.


Setelah menghabiskan segelas kopi pahit dan sepiring kacang goreng sangrai, penjaga menara kembali bangkit untuk memantau lautan lepas. Lelaki separuh baya yang masih bermata awas itu terkejut melihat kemunculan kapal berbendera hitam. Pantau Terik pernah melihat Bajak Laut Malam dan perahu kapalnya, karena itulah dia bisa langsung mengenali kapal yang masih jauh tersebut.


“Bajak Laut Malam ke arah pelabuhan?” ucap Pantau Terik kepada dirinya sendiri. Rasa panik seketika melanda dirinya. “Bahaya!”


Buru-buru Pantau Terik pergi menuruni tangga yang memiliki empat terminal belokan karena menara itu memang tinggi.


“Syahbandar! Syahbandar!” teriak Pantau Terik sambil terus menuruni tangga. Padahal ruang kerja Syahbandar cukup jauh dari menara.


Jika di Bandakawen seorang syahbandar adalah penguasa tertinggi terhadap kota, maka di Pulau Gunung Dua seorang syahbandar hanya penguasa di pelabuhan belaka. Syahbandar Pelabuhan Manisawe berada di bawah perintah raja langsung.

__ADS_1


“Bajak Laut Malam datang menyerang! Bajak Laut Malam datang menyerang!” teriak Pantau Terik kepada orang-orang yang dilewatinya atau yang menjangkau suaranya.


Woro-woro itu membuat orang-orang di lingkungan pelabuhan cukup terkejut dan segera memandang ke arah laut.


“Komandan Bengisan, Bajak Laut Malam datang ke arah pelabuhan ini!” lapor Pantau Terik Kepala Keamanan Pelabuhan Manisawe yang ditemuinya.


“Apa?!” kejut Komandan Bengisan. Ia cepat pergi ke pinggir pelabuhan untuk membuktikan laporan Pantau Terik.


Di dermaga, Komandan Bengisan melempar pandangannya jauh ke lautan. Posisinya yang lebih rendah dibandingkan pucuk menara, membuatnya melihat kapal di kejauhan timbul tenggelam oleh susunan ombak.


Melihat komandannya serius menatap ke lautan seperti bujang menanti kepulangan gadis pujaan, beberapa orang prajurit keamanan pelabuhan pergi menghampiri atasannya.


“Ada apa, Komandan?” tanya salah satu di antara mereka, santai.


“Kita akan berperang,” jawab Komandan Bengisan datar.


“Hah!” pekik ketiga prajurit itu terkejut. Mereka terkejut karena rasa gentar seketika menyeruak di dalam hati mereka. Selama dua tahun mereka bertugas di pelabuhan itu, mereka belum pernah berperang sekali pun.


“Bajak Laut Malam sedang menuju ke mari. Persiapkan pertahanan laut!” perintah Komandan Bengisan.


Namun, ketiganya tidak langsung berangkat melaksanakan tugas, karena berat hati.


“Cepat laksanakan! Jangan sampai bajak laut itu tiba sebelum pertahanan kita siap!” perintah Komandan Bengisan dengan setengah membentak.


Dibentak seperti itu, ketiga prajurit tersebut segera balik kanan mabur, bukan untuk benar-benar kabur dari tugas, tetapi untuk mengajak rekan-rekan mereka lainnya bersama-sama pergi menyiapkan pertahanan laut.


“Apa?!” pekik Syahbandar Pasir Geni terkejut setelah mendapat laporan dari Pantau Terik. “Kau jangan mendustai aku, Pantau Terik. Ini siang hari, bukan malam. Bajak Laut Malam selalu beraksi di saat malam.”


“Mana mungkin aku mendustai Syahbandar Pasir, Syahbandar bukan kekasihku,” tandas Pantau Terik. Lalu katanya lagi, “Aku juga tahu bahwa Bajak Laut Malam beraksi di malam hari. Namun, mataku masih sesehat mata perjaka badak, Syahbandar. Aku mengenal warna kapal dan bendera Bajak Laut Malam.”


“Ini masalah, benar-benar masalah. Memanganya Bajak Laut Malam sudah tidak takut dengan armada Kerajaan Srigaya?” ucap Pasir Geni. Lalu tanyanya kepada Pantau Terik, “Sudah kau beri tahu Komandan Bengisan?”


“Sudah. Sepertinya para prajurit sedang panik,” jawab Pantau Terik yang tampaknya cukup akrab dengan atasannya itu. Syahbandar memang berusia lebih muda lima ratus satu hari dari dirinya.


“Kalau begitu, tolong kau antarkan suratku kepada Gembor Sapeti,” kata Pasir Geni.


“Tapi Komandan Bengisan belum menyalakan tanda bahaya, Syahbandar,” kata Pantau Terik.

__ADS_1


“Jika benar apa yang kau laporkan, tidak akan lama lagi dia akan menyalakan tanda bahaya,” kata Pasir Geni. “Aku tulis dulu suratnya. Ketika selesai, tanda bahayanya pasti sudah selesai dinyalakan.”


Pasir Geni lalu mengambil beberapa lembar lontar kosong untuk diisi pesan penting kepada Raja Bandel Perkasa.


Sementara di luaran. Komandan Bengisan segera pergi naik ke atas menara. Ia ingin memastikan bahwa kapal yang dilihatnya sebelumnya, memang benar kapal Bajak Laut Malam. Ia naik ke menara dengan membawa sebuah busur, lengkap dengan anak panahnya.


“Benar, itu Bajak Laut Malam,” batin Bengisan setelah serius memandang kapal hitam nun jauh di lautan.


Komandan Bengisan lalu melesatkan panah api ke arah sebuah tugu batu yang di atasnya ada gumpalan kain besar yang selalu basah oleh minyak.


Blup!


Anak panah melesat jauh dan menancap tepat di gulungan kain besar. Api panah yang tidak padam oleh angin laut itu, seketika menyalakan atas tugu dengan api yang besar.


Melihat tugu besar menyala, warga sipil yang ada di pelabuhan itu seketika dilanda kepanikan, seolah-seolah kapal bajak laut sudah sangat dekat.


Dengan menyalanya api tanda bahaya di atas tugu, maka otomatis status pelabuhan itu dalam ancaman. Tanda bahaya itu juga berarti izin telah diberikan kepada para prajurit untuk melakukan evakuasi terhadap semua warga sipil.


“Api tanda bahaya sudah dinyalakan, Syahbandar,” kata Pantau Terik memberi tahu Syahbandar yang sedang menulis. Pantau Terik berdiri di ambang pintu sambil menunggu surat.


“Ini, berikan pesan ini kepada Gembor Sapeti!” perintah Syahbandar sambil mengulurkan tangannya yang memegang lipatan daun lontar.


 Singkat cerita.


Sambil pergi menuju ke menara pengawas, Pantau Terik mampir menemui prajurit yang bernama Gembor Sapeti.


Gembor Sapeti memang memiliki tugas utama untuk menyampaikan pesan-pesan dari pelabuhan ke Kerajaan.


Namun, ketika Gembor Sapeti sudah mengambil kuda dan menggebahnya pergi, tiba-tiba dia menarik kencang tali kekang kudanya. Pasalnya, dia melihat ada kobaran api besar di puncak Gunung Ibu yang membakar sejumlah bangunan kayu yang bagus.


“Bukankah itu Istana Puncak yang terbakar?” batin Gembor Sapeti.


Dia akhirnya memutuskan memutar balik arah kudanya. Dengan lari kuda yang kencang, Gembor Sapeti pergi ke pondok yang menjadi kantor Syahbandar Pasir Geni.


“Gusti Syahbandar! Istana Puncak terbakar!” lapor Gembor Sapeti.


“Appa?!” pekik Syahbandar begitu terkejut, ia buru-buru keluar dari ruangan pondoknya dan langsung memandang ke arah Gunung Ibu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2