
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
“Tidak perlu sungkan, Permaisuri,” kata Dewi Ara datar saat Permaisuri Turi Kumala hendak menghormat kepadanya.
“Wibawa wanita ini begitu kuat dan kecantikannya begitu tinggi,” batin Permaisuri Turi Kumala memuji. “Dia tidak boleh bertemu dengan suamiku. Bahaya jika Kanda Raja sampai jatuh hati ….”
“Aku harap kau tidak seperti saudaramu, Pangeran,” kata Dewi Ara kepada Pangeran Rebak Semilon.
“I-i-iya, Gusti,” jawab sang pangeran tergagap.
“Aku tidak mengenal kalian adanya, sebutkanlah nama kalian,” kata Dewi Ara.
“Aku Permaisuri Turi Kumala, Permaisuri.”
“Aku Pangeran Rebak Semilon, kakak dari Pangeran Bangir Kukuh yang telah membuat Gusti Permaisuri marah.”
“Lalu apa maksud kedatangan kalian ke mari?”
“Sebelumnya, aku memohon maaf atas tindakan kurang ajar dari putraku, Permaisuri,” ucap Permaisuri Turi Kumala. Ia lalu turun berlutut.
Namun, sebelum lututnya menekuk banyak, tubuhnya berhenti bergerak turun karena ada kekuatan tidak terlihat yang menahannya. Hal itu mengejutkan Permaisuri Turi Kumala.
“Kau tidak pantas berlutut seperti itu, Permisuri. Cukuplah permintaan maaf yang aku inginkan,” kata Dewi Ara.
Permaisuri Turi Kumala lalu kembali berdiri tegak.
“Apakah ada yang lain?” tanya Dewi Ara.
“Aku memohon kepada Permaisuri untuk sudi membebaskan putraku dari kurungan bola sinar itu,” ujar Permaisuri Turi Kumala.
“Bukankah aku meminta Raja yang datang jika ingin kurungan itu dilenyapkan?” tanya Dewi Ara seraya menatap kepada Pangeran Rebak Semilon.
“Eh iya, tapi Ayahanda juga terkurung di dalam bola sinar itu, Gusti,” jawab sang pangeran.
“Oh,” desah Dewi Ara pendek.
“Suamiku akan memberikan apa saja yang Permaisuri minta, asalkan suami dan putraku dibebaskan. Putraku dalam kondisi terluka parah dan harus dirawat dalam kondisi yang nyaman,” kata Permaisuri Turi Kumala.
“Baiklah. Apakah ada permintaan lagi? Sebelum aku yang meminta lebih banyak,” tanya Dewi Ara tetap sedingin angin laut.
Permaisuri Turi Kumala memandang kepada putranya, seolah minta masukan.
__ADS_1
“Ibunda, mungkin Gusti Permaisuri bisa membantu kita menyelamatkan Adik Uding,” kata Pangeran Rebak Semilon.
“Benar, Permaisuri,” ucap Permaisuri Turi Kumala kepada Dewi Ara. “Putriku, Putri Uding Kemala telah diculik oleh orang sakti yang kami semua tidak mampu menghadapinya. Bisakah Permaisuri menolong kami? Apa pun akan kami berikan, Permaisuri.”
“Aku adalah seorang permaisuri dari kerajaan yang kaya. Aku tidak membutuhkan uang. Aku adalah wanita sakti, aku pun tidak membutuhkan hadiah pusaka atau kitab. Aku sudah bersuami dan suamiku sangat tampan, jadi aku pun tidak membutuhkan hadiah atau persembahan lelaki tampan. Sebenarnya tawaranmu sangat tidak aku butuhkan, Permaisuri,” kata Dewi Ara.
“Jadi apa yang harus kami persembahkan agar Permaisuri bersedia membebaskan putra dan suamiku?” tanya Permaisuri Turi Kumala dengan wajah mengiba.
“Baiklah, mari kita berbincang di dalam. Aku akan melepaskan Raja dan putramu. Namun, untuk perkara putrimu yang diculik aku membutuhkan cerita lengkapnya. Mari, lebih baik kita berbincang di dalam, Permaisuri.”
Dewi Ara mengajak kedua tamunya masuk ke dalam kabin yang cukup besar.
Di dalam kabin ada sebuah meja kayu yang hanya memiliki dua buah kursi kayu pula. Permaisuri Turi Kumala duduk di kursi dan Pangeran berdiri di belakang ibunya, tapi agak geser ke kanan. Lentera Pyar menyuguhkan minuman hangat tanpa ada cemilan.
Permaisuri Turi Kumala lalu menceritakan kejadian hari ini yang melibatkan seorang pemuda sakti bernama Tadayu, yang belum lama dikabarkan justru berkomplot dalam menculik Putri Uding Kemala.
“Nahkoda Dayung Karat adalah nahkoda yang akan membawa kapal ini menuju ke Pulau Karang Hijau. Aku dan dia memiliki kesepakatan. Jadi dia berada di dalam lindunganku. Aku tidak peduli dengan keponakan Dayung Karat yang bernama Tadayu itu. Namun, jika kalian menangkap Dayung Karat, maka kalian akan berurusan denganku juga. Aku harus memastikan lebih dulu nasib Dayung Karat,” kata Dewi Ara ketika cerita Permaisuri Turi Kumala menyebut nama Nahkoda Dayung Karat.
Terkejutlah Permaisuri Turi Kumala dan putranya mendengar sikap Dewi Ara.
“Jika benar putrimu diculik, kemungkinan besar penculik itu sudah pergi meninggalkan pulau. Namun, untuk memastikannya, aku harus bertemu lebih dulu dengan Dayung Karat. Jika sampai pasukanmu yang dikirim ke Desa Konengan lebih dulu membunuh nahkoda itu, maka pasukan dan pemimpinnya akan membayar dengan nyawa mereka,” kata Dewi Ara.
Bingunglah Permaisuri Turi Kumala dan putranya.
“Baik, Ibunda!” jawab Pangeran Rebak Semilon.
Maka tanpa pamit lagi kepada Dewi Ara, sang pangeran langsung berlari pergi ke luar.
“Aku harap kau tidak takut ditinggal sendiri, Permaisuri,” ujar Dewi Ara.
“Ti-tidak, Permaisuri,” jawab Permaisuri Turi Kumala agak tergagap.
“Aku harus menunggu kabar tentang Dayung Karat untuk mengambil keputusan. Lagipula ini malam hari, akan sulit melakukan pengejaran tanpa kejelasan. Besok pagi baru aku akan bertindak untuk mengejar penculik itu,” kata Dewi Ara. Lalu panggilnya,
“Baik,” ucap Permaisuri Turi Kumala patuh.
“Tikam Ginting!” panggil Dewi Ara.
“Iya, Dewi,” jawab Tikam Ginting lalu lebih mendekat.
“Ajak serta satu anak buah kapal yang menginap di kapal ini pergi ke rumah Dayung Karat. Sekaligus kawal pulang Gusti Permaisuri dan cabut Penjara Bola Cemburu. Ajak pula Gejrot agar tubuhnya bisa sedikit kurus lagi,” perintah Dewi Ara yang berujung menyebut nama lain dari Bong Bong Dut.
“Baik, Dewi,” ucap Tikam Ginting patuh.
__ADS_1
Dia lalu pergi untuk mengajak seorang anak buah kapal yang menginap di kapal itu. Tidak semua anak buah Dayung Karat adalah warga pulau itu, sehingga beberapa orang menginap di kapal.
“Atas bantuanku ini, aku hanya ingin meminta orang kepada Raja Bandelikan, Permaisuri,” ujar Dewi Ara.
“Siapa, Permaisuri?”
“Aku meminta Komandan Bengisan untuk menjadi abdiku.”
Komandan Bengisan yang berdiri berdampingan dengan Bewe Sereng cukup terkejut mendengar permintaan Dewi Ara. Dalam hati ia merasa bangga akan menjadi abdi seorang permaisuri sangat sakti, tapi di sisi lain dia memikirkan keluarganya jika pergi bersama Dewi Ara.
“Baik, Permaisuri. Komandan Bengisan aku serahkan kepada Permaisuri,” kata Permaisuri Turi Kumala.
“Bengisan!” panggil Dewi Ara.
“Hamba, Gusti!” sahut Komandan Bengisan.
“Apakah kau bersedia ikut denganku pergi berperang?” tanya Dewi Ara.
“Hah! Berperang?” kejut Komandan Bengisan. Dia yang awalnya sudah siap menjawab “bersedia”, berubah ragu ketika mendengar kata “pergi berperang”.
“Bukankah kau seorang komandan yang ditugaskan memang untuk berperang?” tanya Dewi Ara lagi.
“Betul, Gusti. Namun, aku memikirkan keluargaku,” kilah Komandan Bengisan.
“Kau bisa mengajak mereka ikut berperang. Kapal ini besar, masih bisa menampung mereka. Berapa jumlah keluargamu?”
“Istri satu dan anak dua, perempuan dan lelaki,” jawab Komandan Bengisan.
“Kau tinggal memilih, meninggalkan istrimu di sini dengan risiko istrimu main serong dengan tetanggamu, atau mengajaknya melaut, merasakan suka duka bersama orang-orang yang dicintai,” kata Dewi Ara.
“Hamba memilih ingin bersama dengan istri dalam kondisi bahagia ataupun sengsara, Gusti.”
“Jemput istri dan anakmu malam ini juga, mungkin besok pagi kita akan berlayar!” perintah Dewi Ara.
“Baik, Gusti.”
“Oh ya, Permaisuri,” kata Dewi Ara beralih kepada tamunya. “Sampaikan kepada Raja, aku juga meminta seorang tabib handal untuk aku bawa pergi.”
“Baik, akan aku sampaikan,” jawab Permaisuri Turi Kumala.
Tidak berapa lama, Tikam Ginting, Bong Bong Dut dan seorang lelaki anak buah kapal bernama Paito masuk ke ruangan kapal itu, memberi tahu bahwa mereka siap berangkat.
“Silakan, Permaisuri,” kata Dewi Ara, lalu bangkit lebih dulu dari kursinya. (RH)
__ADS_1