
*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*
Setelah melakukan istinja menggunakan daun jambu yang dipetiknya sebelum ke kakus, Bong Bong Dut segera bangun berdiri dan mengenakan celananya yang tadi ia sangkutkan di ranting pohon petai. Kotak kakus itu memang berada di bawah pohon petai.
Dengan tergopoh-gopoh, Bong Bong Dut merapikan celananya. Saking buru-burunya, dia memakai celananya di luar kamar kakus yang setinggi pinggang. Untung sepi.
Setelah itu, dia berlari kencang menuju ke pusat perguruan. Ia melihat suasana perguruan sudah normal. Dilihatnya Garda Tadapan berjalan terpincang bersama Ketua Empat Suriwak.
“Kau kenapa, Dut?” tanya Garda Tadapan ketika pemuda gemuk itu sampai di depannya dengan napas tersengal.
“Anu …. Apakah Gusti Permaisuri sudah pergi?” tanya Bong Bong Dut seperti orang panik.
“Sudah,” jawab Garda Tadapan.
“Adduh!” keluh Bong Bong Dut seraya mengerenyit tidak sakit.
“Kau ke mana saja?” tanya Suriwak.
“Di kakus,” jawab Bong Bong Dut. “Tapi, aku pamit, Ketua!”
Buru-buru Bong Bong Dut berlari pergi.
“Dut, apakah kau sudah cebok?” tanya Garda Tadapan berteriak.
“Sudaaah!” teriak Bong Bong Dut tanpa menengok lagi.
“Hahaha!”
Garda Tadapan dan Suriwak hanya tertawa.
Ternyata, Bong Bong Dut pergi ke kandang kuda. Ia memasang pelana pada seekor kuda dengan tergesa-gesa.
Setelah itu, dia naik dengan cukup susah payah, faktor gendut membuatnya seperti itu.
“Hea hea!” gebah Bong Bong Dut laksana pendekar sejati.
Kuda yang ditunggangi oleh Bong Bong Dut berlari kencang menerobos perguruan.
“Bong Bong, kau mau ke mana?!” tanya seorang murid yang dilewati oleh Bong Bong Dut.
__ADS_1
“Mengejar Gusti Permaisuri!” teriak Bong Bong Dut menjawab tanpa mengurangi kecepatan kudanya.
Para murid perguruan yang dilalui oleh Bong Bong Dut segera menyingkir agar tidak tertabrak.
Ketika telah meninggalkan kampung perguruan, Bong Bong Dut tidak sungkan-sungkan bertanya kepada warga yang dijumpainya di dalam perjalanan berkudanya.
“Ki, lihat rombongan berkuda lewat di jalan ini?” tanya Bong Bong Dut kepada seorang lelaki separuh baya yang menuntun kerbau.
“Kuda yang cantik-cantik? Eh, maksud Aki, kuda yang ditunggangi wanita cantik yang cantiknya selangit?” tanya balik si aki.
“Benar. Yang ada bawa anak kecil,” tandas Bong Bong Dut.
“Aden lurus saja terus, pasti bisa menyusul,” jawab si aki.
“Terima kasih, Aki Ganteng!” ucap Bong Bong Dut dengan sedikit sogokan pujian.
“Hahaha!” tawa si aki karena disebut ganteng.
Bong Bong Dut melanjutkan perjalanannya.
Namun, setelah cukup jauh berkuda, tetapi Bong Bong Dut belum juga menemukan rombongan Permaisuri Dewi Ara.
“Kanan, kiri, kanan, kiri ….”
Bong Bong Dut memilih dengan cara menghitung jari tangannya.
“Kiri!” sebut Bong Bong Dut setelah jari terakhir. Ia segera menggebah kudanya, “Hea hea!”
Bong Bong Dut justru melarikan kudanya ke jalan yang arah kanan. Entah karena Bong Bong Dut sengaja melawan pilihannya atau dia memang tidak tahu mana yang kanan dan kiri.
Untuk memastikan bahwa ia tidak salah jalan, Bong Bong Dut berhenti ketika melihat seorang petani sedang memancing di saluran irigasi sawahnya yang berbatasan langsung dengan jalan.
“Ki, apakah tadi ada rombongan berkuda yang lewat di jalan ini? Penunggangnya banyak wanita cantik. Kalau Aki melihatnya, pasti langsung jatuh hati,” tanya Bong Bong Dut.
“Waaah, tidak lihat itu, Den Pendekar. Sejak tadi aku memancing belut, tidak ada wanita cantik berkuda yang lewat. Kalau nenek-nenek berkuda ada yang lewat,” jawab si petani bercaping.
“Wadduh! Aku salah jalan,” ucap Bong Bong Dut menyimpulkan. “Terima kasih, Ki!”
“Kembali kasih, Den,” jawab si petani.
__ADS_1
Bong Bong Dut segera memutuskan memutar balik arah kudanya. Dia harus kembali ke titik pertigaan jalan dan memilih jalan yang ke kiri.
Tidak berapa lama, Bong Bong Dut tiba di pertigaan. Tanpa bimbang lagi, Bong Bong Dut berbelok ke jalan yang belum dilewatinya.
“Seingatku, jalan ini menuju ke Desa Bulukempis,” batin Bong Bong Dut.
Benar dugaan Bong Bong Dut, jalan itu membawanya ke sebuah desa yang cukup ramai. Desa itu bertanah datar, jadi memiliki tata letak permukiman yang rapi.
Desa Bulukempis ternama sebagai pusat perdagangan domba adu yang berarti di desa itu ada pusat judi adu domba. Maka, tidak perlu heran jika di desa itu banyak dijumpai para bangsawan atau orang-orang berpakaian bagus. Sebab, kebanyakan yang doyan judi adu domba adalah kalangan menengah ke atas. Meski ada juga penjudi dari kelas bawah, tapi sedikit. Itu menunjukkan bahwa adu domba di desa itu adalah judi untuk kalangan berduit.
Tiada hari tanpa adu domba.
Itulah semboyan Desa Bulukempis yang diperintah oleh seorang pendekar tua sakti yang memilih hidup nyaman di desa itu.
Seperti saat ini, acara yang dinamai “Arena Pendekar Domba” itu siap digelar. Orang ramai sudah berkumpul di sekeliling sebuah panggung berbentuk bidang lingkaran. Selain para pengadu, orang-orang itu ada yang berniat berjudi dan ada yang sekedar suka menonton.
Terlihat pula beberapa orang membawa domba yang besar-besar dan gagah-gagah dengan tanduk melingkar-lingkar. Ada yang sekedar menuntun dombanya, ada yang sedang mengelus-elus, bahkan ada yang menciumi dombanya, katanya biar dombanya bergairah saat bertarung.
Di atas panggung berlantai kayu tebal berkualitas, belum ada domba yang dinaikkan, karena memang belum dibunyikan lonceng tanda adu domba dimulai.
Arena adu domba di Desa Bulukempis itu memang berbeda dari biasanya. Dua domba akan diadu di atas arena, sampai ada domba yang jatuh dari panggung. Jika domba meninggalkan arena sebelum beradu kepala, tetap dianggap kalah dan si domba akan dilabeli Domba Pengecut. Jika domba sudah dapat label Domba Pengecut, maka harganya akan turun drastis.
“Domba Hidung Merah datang, beri jalan, beri jalan!” teriak salah satu lelaki berseragam hitam yang bajunya tidak dikancingkan, memperlihatkan dada kekar dan perut gendutnya yang berbulu keriting.
Warga yang berkerumun ramai segera bergerak bergeser untuk membuka jalan.
Tampak seorang lelaki tua berambut putih gondrong dan berjenggot putih. Lelaki berpakaian warna biru gelap tapi berbahan bagus itu memiliki tubuh yang gagah dengan bahu yang lebar. Meski berbaju, tapi kebesaran dadanya bisa tergambar. Sepasang lengannya pun terlihat besar dengan otot leher yang besar. Uniknya dari lelaki tua itu, ia memiliki garis berwarna merah terang di batang hidungnya. Dialah orang yang bernama Domba Hidung Merah, Kepala Desa Bulukempis.
Domba Hidung Merah dikawal oleh empat orang wanita cantik berpinjung hitam dengan bahu putih yang terbuka, tentunya juga dengan sembulan dada atas yang boleh dilihat, tapi haram dipegang. Meski keempat wanita itu mengawal, tetapi mereka bukan pengawal, tetapi lebih kepada sebagai pelayan.
Kedatangan Domba Hidung Merah diamankan oleh para lelaki bersenjata golok berpakaian hitam-hitam.
Domba Hidung Merah menuju ke sebuah panggung kecil terbuat dari rangkaian batang bambu. Di atas panggung bambu itu ada sebuah kursi kebesaran dan tingginya lebih tinggi daripada panggung. Jadi, meski panggung arena dikelilingi oleh orang banyak, dari panggung bambu itu Domba Hidung Merah bisa melihat adu domba dengan leluasa.
Bong Bong Dut sampai bersama kudanya di dekat keramaian tersebut. Namun, Bong Bong Dut memilih menghampiri seorang pedagang kacang goreng. Ia turun dari kudanya.
“Ki, apakah melihat rombongan wanita cantik berkuda yang membawa seorang anak kecil?” tanya Bong Bong Dut.
“Oh, wanita yang terlalu cantik itu? Tuh di sana!” tunjuk pedagang kacang goreng ke arah jauh.
__ADS_1
Bong Bong Dut pun melemparkan pandangannya sesuai arah tunjukan si tukang kacang goreng. (RH)