Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Jalan Dara 3: Janji yang Luntur


__ADS_3

*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*


 


“Coba lihat langit, oh Sayang. Bulan selalu berteman bintang. Menerangi malam, memberi keindahan,” ucap Munik Segilir, seorang gadis putri sambung Adipati Siluman Merah. Ia menatap langit sambil tersenyum bahagia.


Ia duduk bersandarkan pada batu besar di lereng salah satu dari bukit kembar di Jalur Bukit. Sementara ada satu kepala lelaki sedang berbantalkan di pahanya. Gelapnya malam membuat wajah pemuda itu tidak begitu jelas. Secara umum anggap saja dia seorang pemuda yang tampan.


Entah pemuda anak siapa itu, bertingkah manja sekali dengan berbaring berbantalkan paha Munik Segilir. Untung si gadis masih pakai celana tidur, tapi tidak ada gambar sablonan bulan bintang atau gambar anime. Sebut saja nama pemuda itu Gada Perkasa.


Ia dan kekasih gelapnya, sedang menikmati indahnya langit malam yang cerah, bening bertabur bintang dengan satu rembulan. Status hubungan mereka yang “gelap” bukan karena mereka sedang bermadu di kala gelap, tapi karena mereka menjalin hubungan backstreet. Bapak emak dari Munik Segilir tidak tahu bahwa putrinya sedang berpacaran dengan Gada Perkasa.


“Aku tahu itu, mereka selalu berdampingan. Di mana ada bulan, sudah tentu ada bintang,” kata Gada Perkasa, begitu menikmati syahdunya malam Jumat kliwon tersebut. Terlebih belaian jemari si gadis di kepalanya laksana belaian pengantar tidur yang begitu nyaman.


“Ku ingin dirimu seperti rembulan, setia menemaniku di malam kelam,” kata Munik Segilir puitis, tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.


“Aku selalu ada untukmu, menemani hari-harimu. Cintaku hanya dirimu satu, aku pun hanya milikmu,” tandas Gada Perkasa tidak kalah romntisnya, sambil mengangkat tangan kanannya mencubit mesra dagu kekasihnya.


“Hihihi!” tawa manja Munik Segilir. Lalu desaknya, “Berjanjilah, Sayang. Kau tidak akan mendua. Setia sampai akhir masa.”


“Demi Dewa, aku takkan mendua, aku akan selalu setia, bertahan dengan satu cinta sampai menutup mata,” tegas Gada Perkasa.


Begitu bahagia hati Munik Segilir mendengar janji Gada Perkasa. Tidak sia-sia ia bersusah jiwa kabur dari kamarnya dan berjalan di dalam gelap demi sampai di tempat itu.


Namun, janji tegas yang terucap oleh Gada Perkasa tidak seteguh bukit batu yang sering menjadi tempat pertemuan rahasia mereka. Kata-kata indah yang melenakan perasaan ternyata memiliki tanggal kadaluarsa.


Tidak sampai dua pekan kemudian, keduanya bertemu di pinggir sungai pada senja hari, secara rahasia lagi.


“Sikapmu sungguh menyakitkan dan sangat kelewatan. Kau buat hatiku terluka!” kata Gada Perkasa dengan nada tinggi dan warna muka yang marah.


Ternyata Gada Perkasa memang seorang pemuda yang tampan, jika dia tanpa bedak. Badannya pun atletis dengan otot lengan yang kekar. Ia suka berpenampilan dengan baju putih dan celana hitam, tapi bukan seperti pakaian mau ke KUA. Kepalanya dibalut dengan kain hitam.


Mendapat tudingan seperti itu, wajah cantik dan putih Munik Segilir ikut tegang dengan alis yang mengerut tebal. Ia juga menunjukkan bahwa ia pun marah kepada pemuda di hdapannya itu.

__ADS_1


“Dirimu terlalu cemburu, menuduhku yang bukan-bukan. Padahal diriku setia, tak pernah aku mendua,” kata gadis berpakaian kuning itu membela diri.


“Bukan aku yang cemburu, tapi engkau yang terlalu!” tukas Gada Perkasa.


“Aku tidak salah, kenapa kau curiga?” tanya Munik Segilir.


“Sangat sakit yang aku rasakan saat cintaku lepas dari genggaman,” kata pemuda itu sambil mengerenyit dalam, seolah jantungnya sedang ditikam garpu.


“Aku tidak melukaimu, kenapa kau tuduh aku?” tanya Munik Segilir dengan mata berkaca-kaca ingin menangis.


“Sangat sulit melepas dirimu, cinta ini bagai sembilu,” kata Gada Perkasa tanpa menjawab pertanyaan emosional gadis berdagu lancip itu.


“Jangan pernah lepaskan aku, Kakang Gada, aku masih membutuhkanmu!” pekik Munik Segilir sambil menangis berurai air mata dan ia meraih tangan Gada Perkasa.


“Kau berdusta, Munik!” tuduh Gada Perkasa sambil menghentakkan tangannya lepas dari pegangan si gadis.


“Tolong jelaskan apa kesalahanku. Selama ini aku setia. Aku tidak mencintai lelaki lain selain dirimu!”


“Eeeh, sedang apa kalian berdua ribut-ribut di pinggir sungai?” tanya seorang nenek bertongkat yang muncul di tanah atas. Ia turun perlahan ke pinggir sungai, tempat Munik Segilir dan Gada Perkasa bertengkar.


Pasangan kekasih itu hanya bisa terdiam setelah terkejut oleh kemunculan si nenek berjubah abu-abu. Melihat dari model tongkatnya yang terbuat bukan dari kayu sembarangan, menunjukkan bahwa si nenek berpipi kempot dan berbibir imut karena sudah tak bergigi itu, adalah seorang pendekar.


“Pergi, pergi sana! Aku mau buang isi perut. Aku sulit buang isi perut jika ada orang yang menatapiku,” kata si nenek.


Tanpa berkata sepatah kata atau sepotong kalimat, Gada Perkasa berbalik pergi meninggalkan Munik Segilir begitu saja.


“Kakang Gada!” panggil Munik Segilir sambil menangis, tapi tidak berusaha mengejar.


“Haaaah! Kasihan kau, Cah Ayu. Lelaki selalu sama, mencampakkan wanita seperti mencampakkan isi perut,” kata si nenek setelah mendesah panjang, seolah dia yang punya masalah.


“Apakah tidak ada perumpamaan yang lebih baik selain dari isi perut?” tanya Munik Segilir.


“Ada, kotoran manusia. Hihihik …!” jawab si nenek lalu tertawa terkikik-kikik.

__ADS_1


Tuuut!


Tiba-tiba tawa si nenek dihentikan oleh kentutnya sendiri, membuat Munik Segilir mengerenyit, padahal bau kentut itu belum sampai ke hidungnya.


Buru-buru Munik Segilir berjalan naik ke atas tanah dan pergi membawa kesedihan dan kepedihan hatinya. Pikirannya saat itu begitu kusut.


“Munik!” panggil seorang lelaki ketika Munik berjalan di gang sempit yang diapit oleh dua pagar.


Orang yang memanggil adalah seorang pemuda tampan nan gagah di atas kuda yang perkasa. Pastinya pemuda berpakaian merah hitam itu perkasa saat berkuda. Ia menyandang pedang di kudanya. Pemuda berambut gondrong lurus seperti di-rebonding itu menghentikan kudanya tepat di mulut gang, tapi tidak menyumbat ujung gang.


Pemuda yang berstatus sebagai Pendekar Desa Balikandang itu turun dari kudanya.


“Eh, Kakang Bajigur!” sapa Munik Segilir saat mengenali pemuda tersebut.


“Sepertinya kau usai menangis. Apakah kau butuh penyeka air mata? Jari-jariku masih lembut untuk melakukannya,” ujar pendekar yang bernama Bajigur itu, padahal jari tangannya sebesar-besar buah pisang.


“Ti-ti-tidak mengapa. Tadi aku hanya tercolok ranting pisang,” jawab Munik Segilir agak tergagap.


“Sejak kapan pohon pisang punya ranting?” tanya Bajigur seraya tersenyum, tapi matanya menatap tajam kepada mata Munik Segilir, seolah ingin menyelidiki memori di dalam mata cantik yang masih menyisakan guratan merah sisa tangis.


“Sejak aku menyebutnya,” jawab Munik Segilir agak ketus dengan wajah yang merengut.


“Hahaha!” Bajigur justru tertawa jumawa, tawanya orang ganteng, nadanya rendah tapi seolah berkuasa. Lalu ajaknya, “Ayo, aku antar pulang!”


“Tidak usah, Kakang. Aku bisa jalan sendiri,” tolak Munik Segilir.


“Aku tahu kau sudah besar, bahkan bisa berlari sendiri, tetapi aku sebagai calon suamimu, berkewajiban untuk memastikan keselamatanmu sampai ke rumah,” tandas Bajigur.


Meong!


Seperti mendengar jeritan kucing saat ekornya diinjak, seperti itulah rasa keterkejutan Munik Segilir.


“Calon suami? Bahasa apa itu?” tanya Munik Segilir bingung. (RH)

__ADS_1


__ADS_2