Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 16: Raja Turun Gunung


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


“Gusti Permaisuri, maafkan aku! Tolong lepaskan kami!” teriak Pangeran Bangir Kukuh ketika melihat Dewi Ara dan rombongan berjalan melintas seperti orang sombong yang tidak kenal dengan sang pangeran.


Dewi Ara bergeming. Jangankan menengok, melirik saja tidak. Mirip pacar yang status asmaranya sedang dipetikemaskan. Demikian pula dengan yang lain. Padahal mereka melintas sangat dekat dengan bola sinar Penjara Bola Cemburu itu. Hanya Bong Bong Dut yang menengok memandangi. Bahkan Komandan Bengisan tidak berani memandang atau melirik kepada junjungannya.


Betapa marah dan kesalnya Pangeran Bangir Kukuh karena diperlakukan seperti tidak terlihat dan tidak terdengar.


“Komandan Bengisan, paksa permaisuri itu untuk membebaskanku!” teriak sang pangeran lagi.


Komandan Bengisan terus berjalan dengan wajah tertunduk, tapi di dalam hatinya meronta-ronta karena saking bingungnya. Maka ia pun bersikap pura-pura tidak mendengar.


Pangeran Bangir Kukuh yang melihat sikap Komandan Bengisan, semakin murka.


“Komandan Setaaan! Jika aku keluar, lebih baik kau melompat ke laut, karena aku akan memenggalmu! Huuu …!” teriak Pangeran Bangir Kukuh. Karena saking murkanya, sampai-sampai dia menangis.


Lembing Girang dan prajurit yang satu kurungan hanya bisa diam memandangi sang pangeran.


“Permaisuri Setan Kuraaap!” teriak Pangeran Bangir Kukuh memaki Dewi Ara yang sudah mulai menjauh.


Set!


Mendengar makian itu, marahlah semua abdi Dewi Ara. Namun, sang permaisuri juga rupanya telah bertindak.


Dewi Ara menyentilkan jarinya ke arah belakang. Satu energi padat yang tidak terlihat melesat cepat dan menembus masuk ke dalam bola sinar abu-abu.


Dask! Bdak!


“Akh!” pekik Pangeran Bangir Kukuh ketika ada kekuatan yang menghantam dadanya, membuatnya terlempar menghantam dinding dalam bola sinar.


Pangeran Bangir Kukuh jatuh terlentang dengan mata mendelik tapi memandang kosong. Matanya terbuka dan dia bernapas megap-megap seperti ikan sedang liburan ke darat.


“Pangeran, Pangeran!” sebut Lembing Girang cemas sambil berjongkok di sisi tubuh sang pangeran yang kesulitan bernapas.


Sementara Dewi Ara dan rombongannya telah berjalan menjauh menuju ke Pelabuhan Manisawe.


Beruntung, sesak napas seperti sakratul maut itu tidak berlangsung lama dan tidak membuat sang pangeran menjadi almarhum.


Setelah selamat dari kematian, Pangeran Bangir Kukuh kini duduk terdiam dengan bersender pada dinding bola sinar. Luka dalamnya kian parah. Para prajurit hanya bisa berdiri menunggu yang entah sampai kapan.


Tidak berapa lama kemudian.


“Itu, itu!” tunjuk seorang prajurit yang berjaga. Dia menunjuk kepada kedatangan Mimi Mama dan Serak Gelegar. “Mereka bagian dari rombongan permaisuri itu.”


“Cepat hadang mereka. Mungkin mereka bisa menghancurkan kurungan ini!” perintah Lembing Girang cepat kepada si prajurit.

__ADS_1


“Baik!” jawab sejumlah prajurit patuh.


Para prajurit berseragam merah itu cepat berlari dan menghadang langkah Mimi Mama dan Serak Gelegar. Kakek dan cucu itu hanya membeliakkan mata melihat penghadangan tersebut. Ada sepuluh prajurit yang menghadang.


“Eeeh, Paman-Paman!” sebut Mimi Mama. “Mau apa kalian menghadang anak cantik sepertiku?”


“Kami minta kalian menghancurkan kurungan sinar itu dan membebaskan Gusti Pangeran,” kata prajurit yang memimpin, tapi tidak galak.


“Hihihi! Kalian lihat, aku hanya anak kecil yang cantik. Mana mungkin aku punya kesaktian hebat. Weeek!” tawa Mimi Mama yang berujung ledekan dengan menjulurkan lidahnya.


Sluut!


Tiba-tiba Mimi Mama melompat bersalto di atas kepala para prajurit itu dan mendarat jauh di belakang mereka. Para prajurit itu hanya terkejut sambil mendongak mengikuti gerakan tubuh Mimi Mama. Dalam hati mereka menggerutu. Katanya anak kecil yang tidak punya kesaktian hebat, eh, ternyata bisa melompat seperti monyet sirkus.


“Hihihi!” Mimi Mama kemudian berlari pergi sambil tertawa tanpa mempedulikan lagi kakeknya.


Para prajurit lalu beralih kepada Serak Gelegar yang membawa bungkusan ikan bakar yang aromanya berbau jeruk.


“Orang tua, kau pasti orang sakti!” terka pemimpin prajurit itu lagi.


“Hehehe! Apakah kau ingin memintaku menghancurkan kurungan bola itu?” tanya Serak Gelegar yang didahului kekehannya.


“Benar!” tandas si prajurit.


Wess!


Tiba-tiba kakek berjubah hitam itu melesat lurus ke arah hadangan para prajurit.


“Aak! Aak! Aak!” jerit beberapa prajurit ketika tubuh mereka berpentalan, setelah ditabrak tubuh tua yang dilapisi kekuatan tenaga sakti.


Para prajurit itu lalu jatuh berantakan di tanah jalanan dengan rasa sakit yang sejenis dan takaran yang berbeda-beda.


“Hahaha!” tawa Serak Gelegar yang akhirnya melesat pergi menyusul cucunya.


“Aakh!” erang si prajurit kesakitan sambil menggeliat. “Apes betul hari ini harus berurusan dengan orang-orang sakti. Gusti Pangeran ada-ada saja mengganggu orang sakti.”


Sebelum para prajurit itu bangkit, ada seorang pemuda asing pemilik kumis, berjalan melintas di tengah-tengah prajurit tersebut. Namun, pemuda yang adalah Gandang Duko itu tidak memandangi para prajurit, tapi fokus memandangi bola sinar abu-abu yang mengurung tiga orang.


“Hei, Kisanak! Kenapa lihat-lihat?!” teriak Lembing Girang menghardik Gandang Duko dengan mata mendelik.


Gandang Duko hanya diam sambil terus berjalan menuju ke arah pelabuhan. Ia terus berjalan.


Hingga akhirnya, Gandang Duko masuk ke Pelabuhan Manisawe. Dari jauh dia bisa melihat keberadaan Mimi Mama dan Serak Gelegar.


“Sepertinya putri Ratu Bunga Petir sekedar singgah di pulau ini. Mungkin ketika berada di Desa Berunuk, dia dan kakeknya melihat keberadaan Tadayu sehingga diikuti. Jika hanya sebatas itu, ketika berita keberadaan aku dan Tadayu di pulau ini diketahui oleh Ratu dan para Tetua, pekerjaanku bersama Tadayu sudah selesai …,” pikir Gandang Duko.

__ADS_1


Ia lalu meninggalkan lingkungan pelabuhan dan kembali ke Desa Berunuk. Namun, dia berhenti pada tempat yang sunyi. Dari kejauhan, dia memantau penjara bola sinar abu-abu.


Lumayan lama Gandang Duko memantau, sehingga akhirnya ada rombongan kereta kuda mewah berwarna hijau dan emas tanpa bilik, yang dikawal oleh beberapa orang punggawa berkuda. Di belakangnya ada ratusan orang prajurit pelari kaki. Jumlahnya lebih banyak dari pasukan yang dibawa oleh Pangeran Bangir Kukuh.


Di atas kereta kuda duduk Raja Bandelikan dan Permaisuri Turi Kumala. Jangan ditanya bagaimana cara seorang raja dan permaisuri turun dari atas gunung. Pastinya tidak mungkin menuruni tangga satu demi satu.


Sementara di antara mereka yang berkuda ada Panglima Kumbiang dan Pangeran Rebak Semilon.


Setiap warga yang melihat keberadaan sang raja, segera turun bersujud, di manapun mereka berada. Jika sedang ada di jalan, maka segera bersujud di tanah. Jika ada di rumput, maka bersujud di rumput. Jika ada di atas pohon, maka bersujud di dahan pohon, dan sebagainya.


Rombongan itu berhenti di dekat Penjara Bola Cemburu milik Tikam Ginting.


“Sembah hormat kami, Gusti Raja, Gusti Permaisuri!” ucap para prajurit sambil turun bersujud di tanah, termasuk Lembing Girang di dalam penjara.


Dua orang pejabat segera turun dari kudanya dan pergi membuka pintu kereta, kanan dan kiri, yang sebenarnya raja dan permaisuri pun bisa membukanya. Namun, yang namanya raja dan permaisuri, selalu minta dimanjakan oleh abdi.


“Bangir Kukuh!” pekik Permaisuri Turi Kumala cemas sambil berlari kecil mendatangi bola sinar.


“Jangan disentuh, Gusti Permaisuri!” teriak terkejut Lembing Girang mengingatkan.


Teriakan itu seketika membuat Permaisuri Turi Kumala terkejut dan mengerem langkahnya dengan pakem.


“Ke-ke-kenapa bisa seperti ini?” tanya Permaisuri Turi Kumala tergagap dan ingin menangis melihat kondisi putra keduanya. Sangat jelas bahwa putranya itu terluka parah. Ia segera bergeser ke sisi yang dekat dengan Pangeran Bangir Kukuh berada.


“Apa yang terjadi, Bangir Kukuh?” tanya Raja Bandelikan dengan kening mengerut kasar. Ia berdiri memandangi kondisi di dalam kurungan.


“Ini perbuatan permaisuri yang ada di pelabuhan, Ayahanda,” jawab Pangeran Bangir Kuku lemah.


“Permaisuri?” sebut ulang Raja Bandelikan kurang paham. “Jelaskan, Lembing!”


“Mohon ampun, Gusti Raja. Pangeran telah menyinggung seorang permaisuri sakti yang singgah di pulau ini. Jadi inilah hukumannya. Bahkan Komandan Bengisan lebih tunduk kepada permaiuri itu daripada kepada Pangeran,” lapor Lembing Girang.


“Bukankah Ayahanda sudah menasihatimu, Bangir, jangan berbuat sembarangan kepada orang asing!” kata Pangeran Rebak Semilon yang usianya lebih tua dua tahun lima belas hari dari adiknya.


“Kakak Pangeran tidak akan menyalahkan aku jika sudah melihat betapa cantiknya permaisuri itu,” kilah Pangeran Bangir Kukuh dengan napas yang tersengal, padahal dia hanya duduk bersandar dengan lemah.


“Jika sebelumnya kami tahu bahwa wanita cantik itu adalah seorang permaisuri, pasti Pangeran tidak akan berani bertindak gegabah, Gusti Raja,” kata Lembing Girang membela sahabatnya.


“Rebak, pergi seret Bengisan ke sini!” perintah Raja Bandelikan.


“Baik, Ayahanda,” ucap Pangeran Rebak Semilon patuh.


Sang pangeran lalu kembali naik ke kudanya. Ia lalu mengajak satu komandan dan dua ratus prajurit untuk menuju ke pelabuhan. Misinya adalah menyeret Komandan Bengisan ke hadapan Raja.


Tempat itu sudah ditutup oleh barikade prajurit, sehingga masyarakat umum tidak bisa melihat ke lokasi dengan bebas. Warga yang ingin melintas, terpaksa harus menunda perjalanannya, karena mereka tidak bisa lewat. (RH)

__ADS_1


__ADS_2