
*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*
Permaisuri Dewi Ara dan Pangeran Bewe Sereng meninggalkan Istana Sanggana Kecil dan ibu kota Sanggara pada pagi hari, sehingga mereka bisa menikmati udara segar nan sejuk, bebas dari emisi karbon sebagaimana yang ada di kota-kota besar dunia.
Untuk menghindari penampilan yang mencolok sebagai seorang permaisuri, Permaisuri Dewi Ara meninggalkan pakaian mewahnya yang mahal buatan desainer kondang Sanggana Kecil.
Seolah ingin bernostalgia dengan masa lalunya lebih dari ratusan tahun yang lalu, Permaisuri Dewi Ara kini mengenakan pakaian berwarna serba merah gelap. Ada kain sayap superhero berwarna hitam pada bagian belakang pakaiannya. Rambutnya digelung sebagian dan dibiarkan terurai panjang sebagian dengan hiasan tiga tusuk rambut dari emas. Selain dari tusuk rambut, tidak ada perhiasan lain yang tersemat di tubuhnya. Bahkan giwang pun tidak ada yang bertengger di telinga wanita berhidung sempurna itu.
Rombongan yang akan menuju ke Negeri Pulau Kabut itu menggunakan kuda sebagai kendaraan. Enam ekor kuda dengan lima ekor ditunggangi dan satu tidak.
Pangeran Arda Handara satu kuda dengan sang ibunda. Kadang-kadang duduk di depan ibunya, kadang-kadang duduk di belakang. Jika duduk di belakang, posisinya pasti terbalik menghadap ke belakang. Namun, kadang pula Arda Handara menunggangi kuda yang kosong, karena kuda itu masih seusia anak dan berfungsi sebagai pembawa barang-barang yang tidak begitu berat, seperti pakaian cadangan, bahan-bahan kecantikan, hingga beberapa kantong kepeng.
Anggota rombongan yang lain adalah Setya Gogol, Lentera Pyar dan Tikam Ginting.
Jarangnya Permaisuri Dewi Ara muncul di muka publik, membuat ia tidak dikenali sebagai seorang permaisuri. Terlebih pendekar Pengawal Bunga yang dibawa bukan pendekar tersohor, yaitu Tikam Ginting.
Pendekar Bola Cinta bergabung dengan Pasukan Pengawal Bunga baru sekitar tiga tahun yang lalu. Jadi dia belum seterkenal Reksa Dipa, Pendekar Gila Mabuk, Sugigi Asmara atau anggota senior lainnya.
Jadi, meski mereka berpergian secara terbuka, mereka tidak begitu dikenal oleh warga Kerajaan Sanggana Kecil di luar dari Ibu Kota.
Hal itu terbukti ketika rombongan sang permaisuri melewati sebuah pasar di ibu kota Kadipaten Makmur yang bernama Adubatok.
Ibu kota Kadipaten Makmur dinamakan Adubatok gegara perseteruan dua pendekar yang memperebutkan janda bunting pada delapan tahun lalu. Karena keduanya mengaku memiliki kepala paling keras di dunia, maka mereka pun bertarung dengan cara adu kepala tanpa menggunakan helm, tangan atau kaki. Maka mereka pun beradu kepala seperti domba. Itulah asal usul nama Adubatok.
Saat berjalan melewati jalan pasar yang ramai, rombongan Permaisuri Dewi Ara berhenti karena jalan mereka tertutupi oleh keramaian.
“Minggir semua!” teriak satu suara lelaki yang begitu keras dari tengah-tengah kerumunan. “Apakah kalian tidak pernah melihat orang gila, hah?!”
Orang-orang yang sedang mengerumuni seseorang itu segera mengurai membubarkan diri. Dari kerumunan yang melonggar itu terlihat seorang lelaki berjalan dengan marah menerabas orang-orang yang masih berada di tengah jalan atau terlambat minggir.
“Hahaha!” tawa Arda Handara yang saat itu sedang duduk di depan ibunya.
“Hahaha!” tawa Setya Gogol, Lentera Pyar dan Tikam Ginting melihat seorang pemuda berpenampilan perwira prajurit, tetapi kepalanya botak secara acak, sehingga terlihat lucu sekali. Yang botak adalah bagian depan kanan hingga belakang kiri. Jadi sangat tidak indah karena rambut si perwira agak gondrong secara umum.
Bisa ditebak bahwa perwira itu telah menggunduli sebagian kecil kepalanya dengan tajamnya keris yang terpegang di tangan kanannya. Di belakang perwira yang kusut seperti orang edan, berjalan sejumlah prajurit berpakaian biru terang yang terkesan mengikuti saja.
Pemuda berbadan kekar bertelanjang dada itu mengenakan beberapa asesoris yang menunjukkan statusnya sebagai Kepala Keamanan Kadipaten.
“Apa yang kalian tertawakan? Mau aku bunuh?!” bentak pemuda itu seraya mendelik kepada beberapa warga yang menertawainya.
Pemuda yang sebenarnya terbilang tampan itu, tapi menjadi menakutkan karena sedang dilanda kekalapan, berhenti ketika ia berhadapan dengan keenam kuda yang lebih dulu berhenti.
“Hahahak! Di kepalanya ada jalan uyut-uyut!” tawa Arda Handara sambil menunjuk perwira tersebut. Dia yang tertawa paling kencang dibandingkan kedua pemomong dan pengawal ibunya.
__ADS_1
“Setan laut! Beraninya kau, Bocah, menertawakan Perwira Genap Seribu!” bentak perwira itu sambil menunjuk Arda Handara dengan ujung kerisnya.
Bdak!
“Hahahak …!”
Tiba-tiba meledaklah tawa masyarakat di sekitar saat melihat pemuda yang mengaku bernama Perwira Genap Seribu itu tiba-tiba tersungkur ke tanah.
“Woi, Perwira Genap Seribu! Kau boleh menjadi gila karena patah hati, tetapi jangan sampai mau bunuh diri seperti itu!” teriak seorang warga lelaki yang mengenal sang perwira.
“Tidak ada perwira yang berjiwa lemah seperti dirimu itu. Malulah dengan jabatanmu sebagai Kepala Keamanan Kadipaten Makmur!” teriak warga lain yang berperawakan setengah pendekar.
“Daripada membotaki kepalamu yang seperti tikus comberan, lebih baik kau buka celanamu dan keliling kadipaten!” teriak warga yang lain lagi.
“Hahahak …!” Warga tertawa ramai mendengar perkataan-perkataan yang merundung Perwira Genap Seribu.
Buru-buru Perwira Genap Seribu bangkit berdiri dengan kemarahan yang kian memuncak. Terlihat dari kian memerahnya wajah dan matanya. Suara tenggorokannya menggeram seperti anjing edan.
“Ini pasti perbuatanmu, Perempuan!” tuding Perwira Genap Seribu sambil menunjuk Dewi Ara dengan ujung kerisnya.
“Waaah cantiknya!” ucap mendesah beberapa lelaki saat mereka baru tersadar bahwa ada seorang wanita cantik jelita yang sedang duduk di atas kuda yang gagah.
“Biarkan aku menjadi gila!” teriak Perwira Genap Seribu sambil berlari maju hendak menusukkan kerisnya ke tubuh kuda.
“Lancang!” teriak Tikam Ginting sambil melemparkan satu benda.
Dak!
Bola kayu merah itu menghantam jidat Perwira Genap Seribu, membuatnya terjengkang keras. Sementara si bola memantul balik kepada Tikam Ginting yang masih duduk manis di punggung kudanya.
Serangan Tikam Ginting itu membuat delapan prajurit berseragam biru terang bereaksi. Mereka segera menghunus pedang masing-masing.
“Hei kalian!” teriak Tikam Ginting lantang sambil menunjuk kepada para prajurit. “Apakah kalian tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?”
Maka saling berpandanganlah kedelapan prajurit tersebut. Pertanyaan wanita berpakaian ungu itu membuat mereka jadi bertanya-tanya plus bimbang.
“Siapa kalian, Kisanak, Nisanak?” tanya salah satu prajurit di antaranya. Sepertinya dia orang yang bisa diandalkan oleh rekan-rekannya sebagai juru bicara.
“Aku adalah Pendekar Bola Cinta, Pendekar Pengawal Bunga dari Istana!” seru Tikam Ginting. “Apakah kalian tahu, jika aku adalah Pendekar Pengawal Bunga, berarti siapa orang cantik yang sedang aku kawal?”
“Gusti Ratu!” ucap terkejut seorang pendekar lokal yang mengerti maksud dari perkataan Tikam Ginting.
“Gusti Ratu?” sebut ulang sejumlah warga ikut terkejut.
__ADS_1
Maka terdengarlah kasak-kusuk di atara warga itu.
“Ampuni kami, Gusti Ratu!” teriak prajurit tadi sambil turun bersujud.
“Ampuini kami, Gusti Ratu!” teriak ketujuh prajurit lainnya sambil turun bersujud merasa sangat bersalah.
“Hormat sembah kami, Gusti Ratu!” teriak seorang pendekar yang segera bisa memaknai maksud perkataan Tikam Ginting. Ia segera turun berlutut menghormat.
“Hormat sembah kami, Gusti Ratu!” ucap para warga Ibu Kota yang lain sambil turun berlutut dan ada yang bersujud.
Penyebutan “Gusti Ratu” menunjukkan mereka tidak mengenal wajah Ratu Kerajaan Sanggana Kecil.
“Hahahak!” tawa Arda Handara melihat apa yang terjadi dengan rakyat tersebut.
“Bangunlah kalian semua!” perintah Dewi Ara.
Para prajurit kadipaten dan warga Ibu Kota itu segera bangun.
“Aku bukan Gusti Ratu Tirana, tapi aku adalah Permaisuri Geger Jagad,” ujar Dewi Ara. Ia tidak suka jika orang-orang itu salah tentang dirinya.
“Maafkan kami, Gusti Permaisuri. Hormat sembah kami, Gusti Permaisuri!” seru prajurit juru bicara tadi sambil kembali turun berlutut.
“Hormat sembah kami, Gusti Permaisuri!” ucap khalayak ramai lagi dan turun berlutut.
“Hahahak!” tawa Arda Handara menyaksikan pemandangan tersebut. Baginya itu adalah perkara yang lucu, lebih lucu dari uyut-uyutnya.
“Bangunlah kalian semua!” perintah Dewi Ara.
Semuanya kembali bangkit, kecuali Perwira Genap Seribu. Sejak tadi pemuda yang sedang dilanda kegalauan tingkat akut itu dalam posisi terbaring dengan kedua lutut menekuk seperti lelaki mau melahirkan.
“Prajurit!” panggil Dewi Arah kepada prajurit juru bicara.
“Hamba, Gusti Permaisuri!” sahut prajurit itu lantang sambil buru-buru maju setombak dan menghormat biasa.
“Sampaikan kepada Adipati, copot perwira ini dari jabatannya!”
Terkejutlah kedelapan prajurit tersebut mendengar titah itu.
“Ba-ba-baik, Gusti Permaisuri,” ucap prajurit itu tergagap.
“Kalian semua menjadi saksi dari perintahku ini,” kata Dewi Ara.
“Baik, Gusti Permaisuri!” sahut semuanya sambil menghormat.
__ADS_1
Tanpa berkata lagi, Dewi Ara lebih dulu menjalankan kudanya, yang kemudian diikuti oleh kuda yang lain. Para prajurit dan warga yang lain segera bergeser memberi jalan.
Setelah kepergian Dewi Ara dan rombongannya, barulah Perwira Genap Seribu bisa bangun dan menjadi edan lagi. (RH)