Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 3: Hadangan Komandan Bengisan


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


 


Melalui panah sinar hijaunya, Bewe Sereng yang masih berada di atas kapal Bajak Laut Malam bisa melihat prajurit-prajurit berompi merah berbondong-bondong mendaki Gunung Ibu.


Jangan bayangkan para prajurit itu mendaki Gunung Ibu seperti pendaki yang naik ke gunung beralam natural, atau seperti suami mendaki gunung di setiap malam, tetapi para prajurit itu mendaki dengan melalui jalur khusus yang berupa tangga batu dari kaki hingga mendekati puncak.


Hampir lupa dijelaskan, Gunung Ibu sebenarnya gunung kecil yang tidak terlalu tinggi, seumpama kakak kandungnya bukit. Hanya, karena gunung tertinggi di pulau itu adalah Gunung Ibu, terkesan dia adalah gunung yang besar. Durasi waktu untuk naik ke puncak pun terbilang cepat, kisaran satu jam saja, tapi tambah setengah. Jika ditempuh dengan berlari sampai lutut nyaris copot, seperti yang dilakukan oleh para prajurit itu saat ini, kisaran empat puluh lima menit.


Namun, Bewe Sereng tidak mau menunggu para prajurit itu sampai semuanya ke puncak. Panah sinarnya melesat terus naik ke atas, hingga akhirnya sampai ke angkasa di mana kebakaran besar terjadi melahap beberapa bangunan kayu. Ada beberapa bangunan kayu yang posisinya tidak begitu dekat, bahkan ada jarak beberapa tombak, tapi bisa sama-sama terbakar. Mungkin wujud dari solidaritas.


Sementara sebagian lagi aman dari api.


Terlihat bahwa para prajurit sedang bekerja keras seperti semut menggunjal air dengan ember-ember kayu untuk menyiram bangunan kayu yang terbakar hebat. Sumber api cukup jauh dari pusat kebakaran. Ada ratusan prajurit yang membentuk dua barisan berantai dari sungai hingga ke api. Mereka saling oper-mengoper ember yang berisiko airnya terguncang dan jatuh, yang ketika sampai ke orang terakhir, air tinggal setengah ember. Besar ember pun sedang-sedang saja.


Terlihat pula sejumlah orang berpakaian mewah dan berhias penuh perhiasan emas dan perak, laki-laki dan wanita, hanya berdiri memandangi proses api bersantap ria melahap kayu tanpa kenal kenyang. Ada yang menangis di antara kalangan wanita, ada yang sekedar memasang raut wajah sedih, dan ada yang menunjukkan raut kemarahan. Sepertinya mereka adalah anggota keluarga kerajaan.


“Gusti Raja! Lihat, ada sinar hijau!” teriak salah seorang pejabat kerajaan berusia masih mudaan, seumuran ayahnya Paijo.


Mendengar teriakan itu, Raja Bandelikan dan keluarga besarnya cepat melihat ke arah tunjukan sang pejabat.


Tanpa ada yang dibuat pandangannya tertutup, semua bisa melihat kemunculan panah sinar hijau di atas mereka, bahkan sempat melintasi kobaran api, tapi tidak terbakar karena tidak punya rambut.


Seketika orang-orang kalangan kerajaan menjadi gempar. Dugaan awal yang terbesit dalam benak mereka adalah itu dari musuh. Para pengoper ember bahkan sempat berhenti hanya untuk mendongak melihat panah sinar hijau.


Kemunculan panah sinar yang terbang semau udelnya itu memantik api disumbu kemarahan Raja Bandelikan.


Sang raja merasa harga dirinya diinjak-injak dan kuasanya seolah tidak dihargai oleh si pemilik kesaktian.


“Siapa yang bisa melenyapkan sinar kurapan itu?!” teriak Raja Bandelikan.


“Biar aku yang mengatasinya, Gusti Raja!” sahut seorang lelaki separuh baya lebih sembilan bulan. Perawakannya tampak perkasa memandori upaya pemadaman api, bukan pemadaman listrik. Ialah yang sudah disebut-sebut namanya, yaitu Panglima Kumbiang.


“Lakukan! Aku benci dan jijik melihat sinar itu!” perintah Raja Bandelikan.


“Baik, Gusti Raja!”


Lelaki berotot-otot itu lalu melompat naik ke udara dengan tubuh berputar seperti putaran gangsing. Lompatan Panglima Kumbiang begitu tinggi, sampai-sampai pucuk pohon pun terlewati.


Sweet!


Tepat ketika panah sinar hijau yang berputar-putar di angkasa itu lewat melintas tidak begitu jauh, Panglima Kumbiang menghentakkan tangan kanannya. Maka dari telapak tangan itu melesat sinar biru berwujud jaring lebar.


Namun, panah sinar hijau itu terlalu cerdas, sehingga tahu-tahu melesat lebih cepat meninggalkan upaya peringkusan. Jaring sinar biru menangkap ruang kosong, sementara panah sinar hijau ngacir terbang ke arah laut bebas.


Hal itu membuat Panglima Kumbiang cepat berkelebat mengejar dengan mengandalkan ilmu peringan tubuhnya. Pada akhirnya, sang panglima hanya bisa berhenti di tebing jurang di badan gunung.


Namun, sang panglima jadi mengerutkan kening saat melihat ada setitik kapal hitam di lautan yang berlayar menuju ke Pelabuhan Manisawe. Ketika melihat pelabuhan yang ada jauh di bawah sana, Panglima Kumbiang melihat api tanda bahaya menyala di atas tugu.


“Bajak Laut Malam!” desis Panglima Kumbiang yang mengenali warna bendera si bajak laut. “Pemimpinnya seperti seorang wanita.”

__ADS_1


Jarak yang begitu jauh membuat identifikasi pandangan Panglima Kumbiang belum bisa menilai pasti siapa-siapa orang yang berada di atas kapal hitam.


Ia pun segera berbalik dan kembali ke lingkungan Istana Puncak.


“Lapor, Gusti Raja. Ada satu kapal bajak laut datang mendekati pelabuhan,” lapor Panglima Kumbiang kepada sang raja.


“Apa? Bajak laut?” sebut ulang Raja Bandelikan terkejut.


Raja Bandelikan lalu segera berkelebat pergi ke arah jurang yang tidak terlalu jauh dari kompleks Istana Puncak. Dia membiarkan para prajurit terus berjuang untuk memadamkan api yang justru semakin membesar karena ada faktor angin.


Beberapa pejabat negeri dan dua orang pangeran segera mengikuti kepergian junjungan mereka. Mereka sama-sama memandang ke laut, melihat kapal hitam yang kian mendekati pelabuhan dan melihat deretan perahu yang berformasi. Meski tidak begitu detail melihat suasana di pelabuhan, tapi mereka tahu bahwa Pasukan Keamanan Pelabuhan sudah siap berperang dengan perahu perangnya.


“Lapor, Panglima!” teriak seorang prajurit yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.


Ketika Raja Bandelikan, Panglima Kumbiang dan pejabat lainnya menengok, ternyata yang datang adalah Gembor Sapeti. Prajurit pembawa pesan itu berlutut menghormat dengan tangan memegang selipat surat lontar.


“Ada surat dari Syahbandar, Panglima,” tambah Gembor Sapeti sambil mengulurkan kedua tangannya yang memegang surat tersebut.


Panglima Kumbiang segera mengambil surat daun lontar itu dan membukanya. Juga membacanya.


“Syahbandar meminta bantuan pasukan untuk menghadapi Bajak Laut Malam, Gusti Raja,” kata Panglima Kumbiang.


“Kirimkan Pasukan Keamanan Desa untuk membantu pasukan di pelabuhan!” perintah Raja Bandelikan.


“Tapi, hampir semua Pasukan Keamanan Desa sedang naik ke sini, Gusti Raja,” kata Panglima Kumbiang.


“Perintahkan turun kembali! Istana yang terbakar, ya sudahlah,” tandas Raja Bandelikan.


Pemuda bertinggi 173 cm dan berat 195 kg itu adalah Pangeran Bangir Kukuh, adik dari pangeran sulung yang bernama Pangeran Rebak Semilon.


“Tapi, Gusti Raja ….”


“Kau akan mengatakan bahwa Pasukan Keamanan Desa akan kehabisan tenaga dan berperang dalam kondisi loyo, seperti itu?” terka Raja Bandelikan memotong kata-kata panglimanya.


“Betul, Gusti Raja,” ucap Panglima Kumbiang membenarkan, walaupun tebakan sang raja salah, agar lelaki berhidung mancung lurus itu tidak malu di depan para pejabat lainnya.


“Kehadiran pasukan yang banyak saja akan membuat musuh gentar, sebagai panglima kau harus tahu itu!” tandas Raja Bandelikan.


“Iya, Gusti Raja.”


“Sudah, biarkan Pangeran Bangir Kukuh yang memimpin pasukan bantuan ke bawah!” tegas Raja Bandelikan.


“Baik, Gusti Raja,” ucap Panglima Kumbiang patuh.


Sementara di Pelabuhan Manisawe, Komandan Bengisan sudah memimpin pasukannya di lautan. Dia menaiki sebuah perahu perang yang juga memiliki panahan tombak. Ada dua prajurit lain yang satu perahu dengannya. Ia sendiri berbekal senjata tombak besi berwarna oranye, mungkin senjata itu dibuat di Belanda.


Turis dan warga sipil yang ada di pelabuhan sudah dievakuasi sementara ke Desa Berunuk, desa yang berbatasan langsung dengan pelabuhan. Mereka akan tetap berada di desa sampai situasi aman.


Dari turis-turis itu, sebenarnya ada beberapa orang pendekar, tetapi mereka tidak mau terlibat perkara di negeri orang.


Tidak perlu menunggu lama. Kapal Bajak Laut Malam akhirnya telah mendekati pelabuhan. Di atas kapal itu, terlihat sosok cantik jelita yang tidak asin dan berkarat oleh hawa laut dalam balutan busana warna hijau gelap, memberi suasana reboisasi.

__ADS_1


Di sisi sang permaisuri berdiri orang-orang terdekatnya. Ternyata, Mimi Mama dan Serak Gelegar bergabung di belakang Dewi Ara.


Anehnya, tidak terlihat ada banyak penumpang di kapal itu. Benar-benar mirip bajak laut. Itu terjadi karena semua awak dan penumpang diperintahkan masuk ke dalam geladak dan perut kapal.


“Cantik sekali,” gumam Komandan Kumisan saat melihat jelas paras dan sosok Dewi Ara yang berdiri di atap anjungan.


Jika seorang komandan bisa mengagumi, maka sewajarnya juga jika para prajuritnya juga mengagumi, menjadi hiburan di saat mereka tegang-tegang.


Karena dihadang oleh barisan perahu tempur bersenjata panah tombak, kapal hitam pun menurunkan layar dan menjatuhkan jangkar yang dilakukan oleh beberapa awak kapal. Sementara Nahkoda Dayung Karat untuk sementara disembunyikan di kerangka kapal.


Sess! Ctas!


Komandan Bengisan yang berdiri gagah di perahunya, melesatkan selarik sinar merah ke arah kapal. Ilmu itu yang gagal menghalangi panah sinar hijau Bewe Sereng sebelumnya.


Sinar merah itu kemudian meledak di udara di depan kapal Bajak Laut Malam. Dia meledak karena sudah sampai pada ujung lesatannya yang tidak sampai ke kapal. Memang tujuan dari sinar itu sebagai tanda peringatan saja.


“Bajak Laut Malam, jika kalian memaksa mendekati pelabuhan, maka kami akan menombak kalian!” teriak Komandan Bengisan lantang.


“Biarkan kapal merapat, kami hanya ingin minum kopi gunung panas dan makan ikan bakar jeruk!” teriak Setya Gogol yang berdiri gagah di ujung haluan, tidak takut jatuh ke air.


Sebelumnya, Dayung Karat memberi tahu bahwa minuman khas Pulau Gunung dua adalah kopi gunung panas dan kulinernya adalah ikan bakar jeruk. Jeruk yang dimaksud bukan jeruk bali atau jeruk maluku, tapi jeruk nipis.


“Tidak bisa! Kalian harus berbalik dan pergi. Bajak laut dilarang merapat di dermaga Pulau Gunung Dua. Jika kalian tetap keras kepala, tombak-tombak perkasa kami akan menusuk-nusuk jiwa dan raga kalian!” teriak Komandan Bengisan.


“Tidak bisa!” teriak Setya Gogol pula membalas. “Minum kopi gunung panas adalah harga mati. Jika barisan perahu kalian tidak menyingkir, kami akan tabrak kalian!”


Melihat ketegangan kian memanas dari balas ancaman itu, para prajurit Pasukan Keamanan Pelabuhan kian ketar-ketir. Mereka tidak siap jika harus benar-benar bertempur, meski pada dasarnya mereka semua bisa berenang.


“Ko-ko-komandan, bi-bi-biarkan saja mereka merapat, me-me-mereka hanya mau minum kopi, daripada nyawa kita melayang,” kata prajurit yang bertindak sebagai operator panah. Demam jelang tempur membuatnya mendadak gagap, bukan mendadak dangdut. Tangannya yang memegang busur tampak gemetar.


“Diam kau!” bentak Komandan Bengisan. “Itu kata-kata yang bisa menjatuhkan semangat, bisa membahayakan satu pasukan.”


“I-i-iya, Komandan,” ucap prajurit itu takluk.


Sementara Syahbandar Pasir Geni yang memantau dari atas dermaga, juga memendam rasa was-was. Jelas, dia tidak ingin ada peperangan yang pasti akan menjatuhkan korban.


“Satu peringatan lagi! Kalian harus berputar balik!” teriak Komandan Bengisan lagi kepada orang-orang di atas kapal hitam.


“Angkat jangkar, kembangkan satu layar!” teriak Setya Gogol bak seorang laksamana raja di laut.


Awak kapal segera menarik jangkar dan mengembangkan satu layar, membuat angin langsung mendorong kapal maju dengan kecepatan yang pelan.


Melihat pergerakan itu, Komandan Bengisan cepat berteriak.


“Bidiiik!”


Tangan-tangan gemetar dan berkeringat para prajurit serentak difokuskan mengarah ke kapal hitam. Sebenarnya tidak semua gemetar, tapi hanya sebagian.


Kapal hitam tidak mau berhenti.


“Tembaaak!” teriak Komandan Bengisan sekencang-kencangnya, agar pasukannya ikut terbakar semangatnya.

__ADS_1


Set set set …! (RH)


__ADS_2