Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Kera Asin 11: Pemberontak Harus Mati


__ADS_3

*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*


Memang dasar si Domba Hidung Merah. Mentang-mentang dia bos adu domba dan namanya pakai kata Domba, dia pergi menuju ke Kerajaan Sanggana Kecil dengan menunggangi domba. Sebesar-besarnya domba yang dia tunggangi, tetap saja lebih besar badannya yang berisi banyak otot tubles.


Domba yang dia tunggangi hampir menyamai tingginya kuda dewasa dengan bulu putih yang lebat. Bulu pada bagian leher dan dada yang tebal membuatnya terlihat lebih besar dua kali lipat dari ukuran daging dan kulitnya. Dua tanduknya melingkar besar seperti terompet besar.


Namun, di tengah perjalanan, Domba Hidung Merah bertemu dengan satu pasukan cukup besar yang berjumlah lima belas orang prajurit berkuda dan tiga puluh prajurit bertombak pejalan kaki. Pasukan itu dipimpin oleh seorang komandan utama. Selain para prajurit berseragam biru itu, ada tiga orang berpakaian pendekar yang menunggang kuda.


Pertemuan tidak sengaja itu terjadi di ujung jalan yang menuju ke Desa Bulukempis, artinya Domba Hidung Merah belum terlalu jauh meninggalkan desa kekuasaannya.


Komandan Utama yang bernama Lawung Bati itu mengenal siapa Domba Hidung Merah.


“Berhenti kau, Domba Hidung Merah!” seru Lawung Bati.


Dengan tenang tanpa menunjukkan kekhawatiran sedikit pun, Domba Hidung Merah menghentikan dombanya. Sehingga tergambar seorang pengendara domba berhadapan dengan satu pasukan kerajaan.


Tanpa gentar sedikit pun, Domba Hidung Merah memandangi wajah-wajah orang berkuda di depannya. Ternyata dua dari tiga orang berpakaian pendekar adalah Injak Bantet dan Gulalu Ireng, dua pendekar yang sempat datang ke Desa Bulukempis untuk menangkap Ratu Wilasin.


Adapun yang seorang lagi adalah seorang pendekar wanita berusia separuh baya. Tubuh kurusnya menunjukkan dia tidak cinta dengan makanan, tapi dia cinta dengan kepeng dan mantap-mantap. Ia berprofesi sebagai pembunuh bayaran kelas menengah. Wanita yang rambutnya digelung di atas kepala itu mengenakan pakaian warna hijau gelap. Wajahnya ada bedak dan gincunya. Wajahnya terlihat putih tapi lehernya berkulit agak gelap. Sepertinya dia selalu melewatkan area leher jika memakai bedak antisurya. Senjatanya pedang di pinggang.


Domba Hidung Merah mengenalnya dengan nama Kerik Gemulai.


Keberadaan Injak Bantet dan Gulalu Ireng dalam pasukan yang menuju ke arah Desa Bulukempis, bisa diterka bahwa kedua pendekar itu melapor kepada pasukan kerajaan tentang buruan mereka yang lepas di Desa Bulu Kempis. Karena itu ia mau datang lagi ke Desa Bulukempis dengan membawa pasukan resmi plus pendekar yang mungkin lebih sakti dari mereka.


“Mau ke mana kau, Domba?” tanya Lawung Bati tanpa menghargai Domba Hidung Merah sebagai seorang pendekar senior, sedangkan dia masih seumur jamur.


“Hahaha!”


Terdengar suara tawa para prajurit karena mendengar lelaki berdomba itu disebut “Domba”.


Meski Domba Hidung Merah tipe pendekar yang tidak suka ditertawakan oleh orang-orang yang lebih rendah darinya, ia memilih menahan diri dulu. Ia sadar bahwa dia punya misi rahasia dan dia harus sampai ke Istana Sanggana Kecil dengan selamat, sehat dan sentosa.


“Aku mau ke Kadipaten Kenangan di Kerajaan Sanggana Kecil,” jawab Domba Hidung Merah.


“Untuk apa kau pergi ke sana?” tanya Lawung Bati yang masih duduk angkuh di atas kudanya.


“Aku Domba yang bermain domba. Jauh-jauh aku datang ke sana untuk melihat seekor domba jagoan,” jawab Domba Hidung Merah mengarang cerpen. “Sepertinya kalian menuju ke desaku. Mau apa?”


“Kami mendapat laporan bahwa kau telah menangkap Gusti Ratu Wilasin dan menyembunyikannya,” tukas Lawung Bati.


“Itu tuduhan yang sangat berbahaya bagiku. Orang yang memberi laporan itu pasti salah memberi laporan,” bantah Domba Hidung Merah sambil memandang kepada Injak Bantet dan Gulalu Ireng. “Apakah masuk akal, seorang kepala desa sepertiku mengenal Gusti Ratu Wilasin? Dan siapa yang percaya jika Gusti Ratu berada di Desa Bulukempis yang jauh dari Ibu Kota?”


“Dia berdusta!” seru Injak Bantet sambil menunjuk Domba Hidung Merah. “Para centeng Desa Bulukempis yang menghalangi kami menangkap Ratu Wilasin!”

__ADS_1


“Menangkap Ratu Wilasin?” sebut ulang Domba Hidung Merah pura-pura terkejut. Sepertinya dia punya bakat akting juga.


Terkejut Injak Bantet setelah tersadar bahwa dia telah keceplosan. Komandan Lawung Bati hanya melirik tajam kepada Injak Bantet.


“Apakah kalian pasukan pemberontak?” tanya Domba Hidung Merah dengan tatapan tajam.


“Lancang kau, Domba!” bentak Lawung Bati. “Kami datang atas perintah resmi dari Gusti Senopati Beling Tuwak!”


“Kau pikir aku bodoh, Anak Tolol?!” bentak Domba Hidung Merah tiba-tiba.


“Hahaha!” tawa para prajurit mendengar komandan mereka disebut “Tolol”.


“Diam!” teriak Lawung Bati sambil menengok ke belakang.


Sontak para prajurit itu terdiam senyap sambil menelan ludah pahit.


“Kalian sudah tidak mau jadi prajurit, hah?!” bentak Lawung Bati lagi.


Tidak ada yang berani menjawab. Sebagian malah pura-pura melihat ke atas, seolah sedang mencari burung kawin di langit. Bahkan ada yang memilih sibuk mengupil. Maklum, sang komandan adalah teman satu tongkrongan pinggir sungai.


“Bagaimana mungkin kalian mendapat perintah dari Gusti Senopati yang ada di Ibu Kota hanya dalam waktu tidak sampai satu hari? Orang-orang tolol, baru menjabat sebagai prajurit tingkat rendah sudah berani memberontak. Itu sama saja menunggu mati. Aku beri kesempatan kepada kalian, keluarlah dari kelompok kalian. Membunuh pemberontak jelas bukanlah kejahatan. Jadi aku akan melakukannya,” ujar Domba Hidung Merah.


Mendengar perkataan Domba Hidung Merah, jadi bimbanglah para prajurit itu. Mereka saling pandang.


“Pasukan, bunuh orang tua bau itu!” teriak Lawung Bati memberi perintah.


“Seraaang!” teriak pemimpin prajurit pejalan kaki.


Maka puluhan pasukan bertombak segera berlarian dari belakang, memecah dua barisan dan menyerbu posisi Domba Hidung Merah.


“Buah dari tidak mendengar saran orang tua adalah penyesalan!” seru Domba Hidung Merah.


Wung wung wung …!


Sebelum puluhan prajurit bertombak itu sampai ke posisi Domba Hidung Merah, si kakek cepat meninju ruang kosong di depannya.


Dari lengan yang meninju melesat gelang-gelang sinar kuning yang banyak dan melesat berbaris rapi, seperti gerakan gelombang suara. Terdengar suaranya yang mendengung-dengung.


Bross!


“Aaak!” jerit Lawung Bati dengan tubuh terlempar jauh ke belakang.


Ternyata serangan Tinju Sepuluh Domba itu menargetkan sang komandan. Serangan itu juga membuat ketiga pendekar di belakang Lawung Bati buru-buru melompat meninggalkan kuda mereka masing-masing karena tidak mau jadi sasaran.

__ADS_1


Serangan terhadap komandan mereka, membuat puluhan prajurit bertombak yang menyerbu jadi mengerem mendadak. Rasa penasaran terhadap nasib komandan mereka lebih besar dibanding harus melaksanakan perintah.


Namun, pasukan itu harus berduka, karena Komandan Lawung Bati sudah berangkat lebih dulu ke alam barzakh. Komandan itu tewas dengan dada berlubang dan banjir darah.


“Komandan! Komandan!” sebut beberapa prajurit sambil berlari mendapati mayat Walung Bati.


“Pemberontak pantas mati!” seru Domba Hidung Merah. “Ayo maju, biar kalian mati sebagai pemberontak lebih awal, sebelum kalian semua diberantas habis. Hanya orang tolol yang berani memberontak di Baturaharja!”


“Pasukan, seraaang!” teriak Injak Bantet mengambil alih komando.


Namun, sepertinya Injak Bantet tidak memiliki bakat menjadi seorang komandan, apalagi dadakan seperti itu.


“Munduuur!” teriak seorang prajurit pejalan kaki kepada puluhan rekan-rekannya.


“Kabuuur!” teriak rekan yang lainnya.


Puluhan pasukan pejalan kaki itu cepat berlarian ke belakang. Dua prajurit bahkan menggotong mayat Lawung Bati.


Kondisi itu membuat pasukan berkuda jadi bingung harus bersikap apa. Mereka saling pandang.


Melihat pasukan berkuda galau, Injak Bantet cepat berteriak kepada mereka.


“Hei! Apa yang kalian takutkan? Domba Hidung Merah hanya seorang diri!” teriak Injak Bantet.


“Kami tidak mau menjadi pemberontak!” jawab satu prajurit berkuda. Lalu teriaknya kepada rekan-rekannya, “Munduuur!”


“Prajurit-prajurit tidak berguna!” maki Kerik Gemulai, pendekar wanita berbadan kurus.


Kerik Gemulai melambungkan beberapa keping kepeng ke udara.


Sing! Syeet!


Set set set!


Bes bes bes!


“Aak! Akk! Akk!”


Ceritanya seperti ini. Kerik Gemulai mencabut pedangnya lalu menyambar semua enam kepeng yang melambung di udara hanya sekali sambaran. Keenam kepeng itu menempel di bilah pedang. Kemudian, keenam kepeng itu dilempar melesat dan masing-masing menembusi punggung prajurit berkuda yang berbalik arah.


Enam prajurit berkuda menjerit lalu berjatuhan dari tunggangannya. Mereka langsung tewas karena kepeng-kepeng itu menargetkan jantung.


Delapan prajurit lainnya menggebah kuda-kudanya dengan kencang. Mereka jelas takut menjadi korban berikutnya.

__ADS_1


Maka tinggallah empat pendekar di jalanan itu yang tersisa. (RH)


__ADS_2