
*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*
Permaisuri Dewi Ara dan rombongan sudah selesai urusan di kedai itu. Mereka sudah kembali naik ke kuda masing-masing. Kali ini Pangeran Arda naik ke anak kuda. Ia dibantu naik oleh ibunya.
“Selama dalam perjalanan ini, jangan sebut-sebut tentang Istana, tentang Ayahanda, Ibunda Ratu, dan Ibunda Permaisuri lainnya,” kata Dewi Ara kepada putranya.
“Kenapa, Ibunda?” tanya Arda Handara heran.
“Kita tidak tahu siapa saja orang yang tidak suka dengan ayahandamu dan keluarga kita. Kita harus hati-hati, banyak orang yang bersembunyi di balik keramahannya,” jelas Dewi Ara.
“Baik, Ibunda,” ucap Arda Handara patuh.
“Kalian juga,” kata Dewi Ara kepada Tikam Ginting, Lentera Pyar dan Setya Gogol.
“Baik, Gusti,” ucap mereka bertiga.
“Cukup dengan sebut aku Dewi,” kata Dewi Ara.
“Baik, Dewi,” ucap ketiganya.
Setelah naik pula ke kudanya, Dewi Ara menjalankan kudanya lebih dulu yang segera diikuti oleh kuda yang lain. Kuda mereka berlari dengan mengimbangi lari kuda kecil.
Namun, setelah mereka meninggalkan kedai sudah jauh dan kedai sudah tidak terlihat oleh pandangan mereka, Dewi Ara berhenti.
“Kalian berjalanlah lebih dulu. Nanti aku menyusul!” perintah Dewi Ara.
“Baik, Dewi!” ucap para pengawal itu.
Dewi Ara lalu turun dari kudanya.
“Ayo, Paman Bewe, berangkaaat!” teriak Arda Handara sambil menjalankan kudanya lebih dulu.
Clap!
Dewi Ara tahu-tahu menghilang. Karena terlalu cepatnya gerak perpindahan Dewi Ara, jadi mata biasa melihatnya seolah-olah menghilang ditelan angin.
__ADS_1
Sementara Pangeran Bewe Sereng dan pendekar pengawal melanjutkan langkah kudanya.
Di tempat lain, Dewi Ara telah berdiri diam di puncak dedaunan sebuah pohon. Begitu tingginya ilmu peringan tubuh Dewi Ara, sampai-sampai daun-daun itu tidak merasa tertekan oleh pijakan kaki wanita jelita itu. Jangankan hanya sekedar daun, berdiri di udara tanpa pijakan ia pun mudah.
Ternyata, Dewi Ara sedang memandang ke arah kedai yang berjarak sekitar belasan tombak di depan sana. Setelah kepergian Dewi Ara dan rombongannya, kedai itu kini kosong oleh pelanggan. Memang, target konsumen dari kedai tersebut adalah para pendekar, pedagang atau prajurit yang melintas, karena tempat itu memang jauh dari area permukiman.
Tidak berapa lama, hal yang diprediksi oleh Dewi Ara terjadi. Ada seekor burung yang terbang dari belakang kedai tersebut.
Ketika burung itu terbang agak jauh meninggalkan kedai, tiba-tiba burung tersebut terhentak di udara lalu jatuh lurus ke bawah, seperti terkena tembakan.
Dewi Ara telah menembak burung merpati tersebut dengan ilmu Tatapan Ratu Tabir.
Pemilik kedai yang masih memandangi keterbangan burungnya hingga jauh, terkejut bukan alang-kepalang, sampai-sampai wajahnya tertarik ke belakang. Firasat buruk segera menyerang pikirannya.
Buru-buru pemilik kedai melihat ke sekitar, tetapi dia tidak menemukan sesiapa pun. Ia pun memutuskan cepat berlari menuju ke titik jatuhnya si burung.
“Haaah!” pekik terkejut si pemilik kedai seperti orang baru mendapat udara untuk bernapas.
Dua tombak dari titik jatuhnya si burung, tahu-tahu pada titik itu telah berdiri sosok jelita Dewi Ara yang sebelumnya tidak ada.
Buru-buru si pemilik kedai berbalik hendak melarikan diri dengan wajah yang ketakutan.
Sementara si pemilik kedai dalam posisi mematung tercekik dengan jari-jari tangan bergerak-gerak karena menahan sakit yang teramat, Dewi Ara membungkuk memungut bangkai burung dara yang tergeletak di rerumputan.
Dewi Ara lalu mencabut sebuah potongan bambu kecil sepanjang tiga jari yang terikat di salah satu kaki burung. Bangkai burung lalu dibuang begitu saja oleh Dewi Ara.
Ternyata, di dalam lubang bambu kecil itu ada gulungan daun warna hijau.
Dewi Ara mengeluarkan gulungan daun tipis tersebut dan membukanya. Sudah diduga bahwa di dalamnya ada tulisan bergores yang begitu mini, tetapi masih bisa terbaca oleh Dewi Ara.
“Keluarga Istana keluar menuju Bukit Jalur. Siapkan jebakan.”
Itulah dua kalimat pesan yang terukir di lembaran daun. Pesan tertulis itu jelas berisi informasi dan perintah.
Krek!
Tiba-tiba terdengar suara tulang patah. Itu terdengar karena cekikan pada leher si pemilik kedai mendadak begitu menguat, tidak hanya napas yang tertutup, tetapi tulang leher juga patah. Kondisi itu jelas membunuh si pemilik kedai.
__ADS_1
Setelah itu, Dewi Ara melangkah pergi dengan memusnahkan daun pesan di tangannya menjadi debu.
Clap!
Baru beberapa langkah, Dewi Ara kemudian menghilang.
Ternyata, Dewi Ara tidak mau tahu siapa sebenarnya pemilik kedai dan dia bekerja untuk siapa. Dewi Ara memilih langsung membunuhnya karena jelas-jelas bahwa pemilik kedai adalah seorang telik sandi.
Pangeran Bewe Sereng, Pendekar Bola Cinta, Lentera Pyar, dan Setya Gogol cukup terkejut ketika tahu-tahu Dewi Ara sudah duduk di pelana kudanya.
“Eh, Ibunda sudah datang lagi,” ucap Arda Handara, pura-pura terkejut sambil senyum iklan pasta gigi. “Ibunda tadi pergi berbuat apa?”
“Membunuh pemilik kedai,” jawab Dewi Ara apa adanya.
“Hah! Ibu membunuh orang itu?” kejut Arda Handara, kali ini dia benar-benar terkejut, tapi dengan gaya anak kecil.
“Pemilik kedai itu orang jahat yang benci dengan keluarga kita,” jelas Dewi Ara. “Jika kau menemukan orang yang memelihara burung dara, mungkin dia adalah telik sandi. Jadi, kau harus memeriksanya apakah dia benar-benar telik sandi atau bukan.”
“Telik sandi itu apa, Ibunda?” tanya Arda Handara.
“Orang yang diam-diam mengawasi dan mengumpulkan berita dengan cara menyamar. Seperti pemilik kedai itu, dia adalah telik sandi sebuah kelompok, tetapi dia berpura-pura menjadi pemilik kedai untuk mengumpulkan berita dengan maksud yang jahat,” jelas Dewi Ara.
“Apakah Dewi sudah mengorek keterangan, kepada siapa telik sandi itu bekerja?” tanya Bewe Sereng.
“Tidak. Aku langsung membunuhnya. Siapa pun orang di belakang telik sandi itu, mereka tidak akan bisa membahayakan Kerajaan Sanggana Kecil, apalagi sampai membahayakan keluarga Istana,” jawab Dewi Ara.
“Itu berarti, ada orang-orang yang diam-diam memusuhi kita, Dewi?” tanya Tikam Ginting.
“Itu sudah pasti. Hanya saja, apakah mereka berani bermusuhan secara terang-terangan atau menjadi pengecut karena sadar akan ketidakmampuan mereka,” jawab Dewi Ara. “Karena itu, kalian jangan hilang kewaspadaan.”
“Baik, Dewi!” ucap ketiga pengawal.
“Waaah! Aku nanti mau berpura-pura jadi uyut-uyut. Hahaha!” celetuk Arda Handara lalu tertawa sendiri.
“Hahaha!” Ketika yang lain tertawa mendengar kata-kata sang pangeran, Dewi Ara hanya tersenyum.
Mereka melanjutkan perjalanan. Setelah keluar dari Kadipaten Makmur, mereka harus melalui lembah dan daerah hutan kecil untuk sampai ke Kadipaten Jalur Bukit, karena mereka akan meninggalkan Sanggana Kecil lewat Gerbang Perbatasan Utara. Setelah itu, mereka akan melewati wilayah Kerajaan Baturaharja.
__ADS_1
Ada kemungkinan rombongan Dewi Ara akan tiba di Kadipaten Jalur Bukit menjelang gelap. (RH)