Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 24: Keluarga Raja Syok


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


Seperti perkemahan di tengah jalan, itulah kondisi di tengah jalan Desa Berunuk, yang menghubungkan desa tersebut dengan Pelabuhan Manisawe.


Gelap sudah menyelimuti alam. Sejumlah obor berbentuk tiang-tiang sudah didirikan sebagai penerang. Barikade prajurit masih tercipta di kedua ujung jalan, membuat jalan itu benar-benar tertutup dan masyarakat tidak bisa berlalu. Hal itu juga membuat apa yang dialami oleh sang raja dan putranya tidak begitu menjadi tontonan.


Tenda pun dipasang untuk Permaisuri dan Pangeran Rebak Semilon, tetapi saat ini mereka sedang berada di dekat Penjara Bola Cemburu. Mereka sedang memerhatikan Tabib Istana yang bernama Loang sedang mengobati Pangeran Bangir Kukuh.


Ketika Tabib Loang yang adalah seorang wanita berusia separuh abad kurang satu dekade tiba, mau tidak mau dia harus masuk ke dalam bola sinar untuk mengobati sang pangeran yang kondisinya semakin buruk. Risikonya, sang tabib bermata sipit itu ikut terjebak di dalam kurungan, membuat ruangan itu semakin sempit.


“Kenapa Komandan Kucup tidak kunjung kembali? Ini semakin malam,” ucap Permaisuri Turi Kumala gelisah. “Apakah tidak bisa kau ubah keputusanmu, Kanda Raja?”


“Berhentilah mengeluh, seolah-olah keputusanku salah,” kata Raja Bandelikan.


“Mohon maaf, Gusti Raja,” ucap Panglima Kumbiang. “Jikapun Tadayu bisa menghancurkan kurungan ini, kemungkinan besar itupun akan berisiko membahayakan kita juga. Tadayu pasti harus masuk ke dalam sini untuk menghantam dindingnya.”


“Aaah, diam kau, Panglima!” bentak Raja Bandelikan marah.


Maka diamlah sang panglima dengan dalam hati memaki-maki raja yang kepala karang itu.


Tiba-tiba ….


“Komandang Ucup telah kembaliii!” teriak seorang prajurit dari ujung jalan. Rupanya prajurit itu kurang akrab dengan sang komandan, sehingga menyangka namanya Yusuf.


Setelah itu, memang terdengar suara kuda berlari mendekat. Kecuali Tabib Loang yang fokus pada pengobatannya, semua mengalihkan perhatiannya kepada kuda yang datang.


Kuda itu berlari pelan mendekati Permaisuri dan Pangeran. Melihat penunggangnya menjalankan kuda dengan tengkurap memeluk leher kuda, mereka terkejut.


“Komandan Kucup!” sebut Pangeran Rebak Semilon sambil cepat mendatangi sang komandan yang bergerak hendak jatuh dari kudanya.


Buru-buru Pangeran Rebak Semilon menahan tubuh prajuritnya dan membantunya turun memijak tanah.


“Apa yang terjadi, Komandan?” tanya Pangeran Rebak Semilon saat melihat jelas bahwa Komandan Kucup Pucuk dalam kondisi terluka parah.


“Bencana, Gusti Pangeran,” ucap Komandan Kucup Pucuk lemah dengan napas yang sudah Senin Selasa Rabu.


“Ada apa, Komandan? Siapa yang membuatmu mati seperti ini? Mana Tadayu?” tanya Permaisuri Turi Kumala beruntun.


“Gusti Putri ….”


“Aku Permaisuri, bukan Putri!” bentak Permaisuri Turi Kumla.


“Maksudku bukan Gusti Permaisuri, tapi … Gusti Putri Uding,” ralat Komandan Kucup Pucuk.


“Putriku kenapa? Bukankah Putri ada di atas?” tanya Permaisuri Turi Kumala.


“Gusti Putri diculik, Gusti,” jawab Komandan Kucup Pucuk.


“Apa?!” pekik Permaisuri dan Pangeran bersamaan. Bahkan Raja Bandelikan yang mendengar dari dalam kurungan juga terpekik.


“Hei, Kucup!” teriak keras Raja Bandelikan yang mengejutkan semua. “Kau aku perintahkan ke Desa Konengan, kenapa kau berbicara tentang Putri Uding yang ada di Istana Puncak, hah?!”

__ADS_1


“Ta-tadayu … dan temannya, menculik Gusti Putri, Gusti Raja,” jawab Komandan Kucup Pucuk.


“Apa?!”


Kembali mereka terpekik lebih terkejut. Terlebih-lebih Raja Bandelikan yang sangat percaya seratus persen kepada Tadayu. Ia terserang rasa syok, sampai-sampai matanya mendelik dengan mulut terbuka dalam durasi yang lama. Namun masih untung, sang raja tidak memiliki riwayat penyakit jantung.


“Putrikuuu!” jerit tangis Permaisuri Turi Kumala sambil menjatuhkan diri duduk bersimpuh di tanah.


“Apakah kau melihat langsung adikku diculik oleh Tadayu, Komandan?” tanya Pangeran Rebak Semilon masih kurang percaya.


“Benar, Gusti. Gusti Putri … berteriak minta tolong kepadaku, tapi … teman Tadayu terlalu sakti, Gusti. Gusti Putri … Gusti Putri saat itu dalam kondisi telanjang, Gusti,” ucap Komandan Kucup Pucuk terputus-putus seperti siara tv digital tanpa antena.


Bagaikan jatuh, tertimpa tangga, lalu tertimpa genteng pula. Itulah kondisi keterkejutan duka keluarga kerajaan tersebut.


“Aku … memergoki mereka di rumah Nahkoda Dayung Karat,” tambah Komandan Kucup Pucuk.


“Pasukan, cepat serbu Tadayu dan komplotannya di Desa Konengan!” teriak Raja Bandelikan dengan wajah merah kelam dan gemetar karena terlalu marahnya.


“Biar aku yang memimpin ke Konengan, Ayahanda!” sahut Pangeran Rebak Semilon.


“Jangan kau!” larang Raja Bandelikan cepat. “Kau temani ibundamu memohon kepada permaisuri di pelabuhan itu untuk membebaskan kami. Aku berjanji, apa pun yang permaisuri itu inginkan, akan aku penuhi.”


“Baik, Ayahanda!” sahut Pangeran Rebak Semilon bersemangat karena ayahnya akhirnya tobat.


Pangeran Rebak Semilon lalu pergi mendekati pasukan.


“Komandan Doro Bagong, pimpin dua ratus pasukan ke kediaman Nahkoda Dayung Karat, tangkap semua anggota keluarganya dan cari Gusti Putri!” perintah Pangeran kepada seorang komandan dengan tegas.


“Baik, Gusti Pangeran,” ucap seorang punggawa prajurit berbadan pendek tapi kekar, simbol dari seorang pendekar. Dialah Komandan Doro Bagong.


Permaisuri Turi Kumala sudah naik ke atas kereta kudanya. Pangeran Rebak Semilon juga segera naik ke atas punggung kudanya. Selain seorang sais, ada dua puluh prajurit mengiringi yang semuanya membawa obor. Anggap saja stok obor tersedia banyak. Sepuluh prajurit berlari di depan kuda kereta dan sepuluh prajurit lagi berlari di belakang kereta.


Beruntung prajurit yang berlari di depan karena tidak berisiko menginjak hajat dari kuda. Sementara mereka yang berlari di belakang, masih berisiko menginjak hajat kotor kuda meski mereka berlari di belakang kereta, bukan di belakang kuda.


Singkat cerita, tibalah rombongan Permaisuri Turi Kumala di Pelabuhan Manisawe. Di pealabuhan itu, terlihat ratusan pasukan masih bertahan dalam mode istirahat, duduk-duduk santai dalam kejenuhan.


Namun, ketika melihat ada kereta kuda kerajaan, mereka segera berbangunan dan mengatur barisan serapi mungkin. Meski ada wajah-wajah yang tidak rapi, yang terpenting adalah barisannya rapi. Namun sayang sepuluh kali sayang, Pemaisuri Turi Kumala dan Pangeran Rebak Semilon hanya lewat tanpa mengindahkan mereka.


Malam membuat suasana pelabuhan lebih sepi, meski masih ada terlihat turis yang berwisata malam di sekitar pelabuhan.


Mendapat laporan bahwa ada kereta kerajaan datang ke pelabuhan tersebut, Syahbandar Pasir Geni yang sedang lembur segera keluar dan datang menghadap.


Sementara itu, dari atas kapal Bajak Laut Malam, kedatangan kereta kuda yang terang benderang bisa terpantau.


“Aku ingin bertemu dengan permaisuri yang singgah di pelabuhan ini, Syahbandar,” ujar Permaisuri Turi Kumala yang sudah membersihkan wajahnya dari jejak kesedihan. Tadi di tengah jalan, sang permaisuri masih sempat ber-makeup. Sebagai wanita nomor satu di Kerajaan Lampara, penampilan harus selalu dijaga, apalagi di depan sesama permaisuri.


“Gusti Permaisuri Dewi Ara ada di kapal bajak laut warna hitam itu, Gusti,” jawab Pasir Geni lalu menunjuk ke arah kapal besar warna hitam yang semakin hitam oleh malam. Namun, kapal itu masih terlihat karena ada sejumlah dian antiangin yang dinyalakan di kapal.


Deg!


Ada rasa yang menghentak di jantung sang permaisuri saat mendengar “bajak laut”. Selama ini, pengetahuannya tentang bajak laut tidak ada yang positif. Belum pernah dia mendengar ada bajak laut melakukan reboisasi pantai, atau menyantuni keluarga miskin di kampung nelayan, semuanya buruk dan pasti selalu urusan pembunuhan.

__ADS_1


“Mana Komandan Bengisan? Seharusnya dia datang untuk mendampingi kami,” tanya Permaisuri Turi Kumala.


“Komandan Bengisan ada di kapal itu juga, Gusti. Komandan Bengisan berlindung dari pasukan kerajaan karena tadi hendak ditangkap oleh pasukan Gusti Pangeran,” jawab Syahbandar.


“Ibunda tidak perlu khawatir datang ke sana, ada aku. Kita juga ada pasukan,” kata Pangeran Rebak Semilon.


“Baiklah, kita ke sana!” perintah Permaisuri Turi Kumala.


Rombongan itu kembali bergerak menuju ke dermaga di mana ada kapal Bajak Laut Malam sedang bersandar. Syahbandar turut berlari di depan bersama para prajurit.


Rombongan itu berhenti di pinggir dermaga, tetapi tidak ada jembatan penghubung antara dermaga dan kapal. Jarak dermaga dengan tepian kapal pun sejauh kisaran empat tombak. Mungkin, Pangeran Rebak Semilon yang berkesaktian bisa melakukan lompatan ke atas kapal, tapi tidak bagi sang permaisuri yang hanya bermodal status dan keberanian.


Di tepian kapal tampak Bong Bong Dut berdiri gagah.


“Siapa mereka, Syahbandar?” Bong Bong Dut bertanya lebih dulu. Gayanya berwibawa.


“Gusti Permaisuri dan Gusti Pangeran ingin bertemu dengan Gusti Permaisuri Dewi Ara,” jawab Pasir Geni.


“Naiklah!” kata Bong Bong Dut. Ia lalu berbalik pergi.


Permaisuri Turi Kumala jadi memandang putranya. Sang permaisuri jelas memikirkan cara naik ke atas kapal tanpa jembatan penyeberangan.


Dari dalam pintu kabin muncul Tikam Ginting bersama Bewe Sereng dan Komandan Bengisan yang kemudian berjalan ke geladak depan.


“Wanita cantik berambut keriting itulah permaisuri itu, Ibunda,” bisik Pangeran Rebak Semilon kepada ibunya yang berdiri di sisinya.


“Apakah Bengisan sudah beralih junjungan?” tanya Permaisuri dengan kening berkerut.


“Aku tidak tahu, Ibunda,” jawab putranya.


“Ak!” pekik tertahan Permaisuri Turi Kumala saat tiba-tiba tubuhnya terangkat melayang dan kakinya tidak menginjak lantai dermaga. “Rebak, apa yang terjadi?”


“Tenang, Ibunda, tenang!” teriak Pangeran Rebak Semilon untuk meredakan kepanikan ibunya. Dia yang juga ikut terangkat mengudara dilanda ketegangan.


Akhirnya sang permaisuri berhenti menjerit dengan wajah cemas dan tegang.


Ibu anak itu terus naik mengudara lalu bergerak terbang di luar kendali mereka. Mereka menuju ke atas kapal, kemudian turun pelan-pelan ke geladak, tepat berhadapan dengan Tikam Ginting, Bewe Sereng dan Komandan Bengisan.


Legalah Permaisuri Turi Kumala. Dalam hati dia terkagum dengan kesaktian Permaisuri Dewi Ara, tapi yang ia maksud adalah Tikam Ginting yang ada di depannya.


“Hormatku, Gusti Permaisuri,” ucap Pangeran Rebak Semilon sambil lebih dulu menjura hormat kepada Tikam Ginting.


“Hahaha!” tawa pelan Bewe Sereng dan Bong Bong Dut melihat penghormatan sang pangeran. Sedangkan Bengisan jelas tidak berani tertawa.


Baru saja Permaisuri Turi Kumala ingin menghormat pula, tiba-tiba ….


“Dengan siapa kau menghormat, Pangeran?” tanya Dewi Ara yang tahu-tahu muncul dari sisi kapal yang kekuarangan cahaya.


Terkejut Permaisuri Turki Kumala dan Pangeran Rebak Semilon yang langsung menengok.


Kemunculan dari dalam kegelapan dengan pakaian warna gelap, membuat wajah bersih Dewi Ara tersinari oleh cahaya dian yang menggantung semakin jelita. Kecantikan yang begitu indah itu seketika membuat sang pangeran terpaku atas dan bawah. Tanpa sadar bibir Pangeran Rebak Semilon ternganga, membiarkan angin laut masuk ke dalam perutnya.

__ADS_1


“Aku Permaisuri Dewi Ara, bukan dia,” ujar Dewi Ara yang seketika mengejutkan sang pangeran dengan keterkejutan plus rasa malunya.


Namun, Pangeran Rebak Semilon memiliki ******** yang besar, jadi kalau malu sedikit-sedikit tidak masalah. (RH)


__ADS_2