Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 5: Permainan Dalam Gelap


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Kaum lelaki Pulau Botak harus bekerja keras dengan menahan-nahan rasa ngeri yang membuat merinding bulu kaki. Pasalnya, mereka mendapat tugas untuk memanen mayat-mayat yang mengapung di perairan atau terdampar di pantai.


Hal itu diperintahkan oleh Putri Mahkota Putri Keken semata-mata untuk menghilangkan jejak. Itu juga demi keselamatan warga Pulau Botak. Sebab, jika sampai ada satu mayat prajurit saja yang ditemukan oleh kapal perang yang lain, jelas warga Pulau Botak bisa menjadi tersangka utama.


Sebuah kuburan masal harus dibuat di dekat pantai untuk mengubur para prajurit yang jumlahnya lebih dari seratus orang dengan kondisi luka yang mengerikan.


Sedangkan untuk tiga bangkai kapal, semuanya sudah aman karena sudah bersandar di dasar laut.


Para orang sakti yang ingin menyerang ke Pulau Kabut sudah berada di atas Kapal Bintang Hitam. Kapal bergerak perlahan keluar dari balik dinding karang di salah satu sisi pantai pulau.


Berbeda dengan Arda Handara yang masih berada di pasir pantai. Keterlambatannya untuk mempersiapkan segala sesuatu, membuatnya harus buru-buru mengumpulkan kerikil mini-mini di pantai.


Ia dibantu oleh Cicirini putra Komandan Bengisan.


Arda Handara telah kehabisan ulat bulu, kecuali tiga ekor, yaitu ulat bulu raja, ulat bulu cebol dan ulat bulu bokong priuk. Jadi, dia mengganti peluru Ki Ageng Naga menggunakan kerikil pantai. Itu akan membuat beban bawaannya semakin bertambah.


Setelah keranjang selempangannya penuh oleh kerikil, Arda Handara berpamit pada Cicirini yang hanya bisa melambai dengan senyuman, seperti kekasih yang ditinggal perang. Arda Handara terbang dengan Tongkat Kerbau Merah ke atas kapal yang mulai menjauhi pulau.


“Anak Tampan dataaang!” teriak Arda Handara sambil melakukan pendaratan di geladak depan.


Jleg! Sraaak!


Arda Handara mendarat, tetapi kurang lembut, sehingga dia agak tersandung yang membuat keranjang selempangannya terguncang dan menumpahkan sebagian isinya. Kerikil-kerikil itupun jatuh berserakan di lantai kapal.


“Bebek lele, tumpah!” pekik Arda Handara terkejut. Lalu teriaknya cepat, “Anak Cantik, Anak Tidak Cantik, cepat bantu tangkap kerikilku, nanti mereka kabur semua!”


“Hihihi …!” tawa kencang Mimi Mama.


“Aku tidak mau!” sahut Putri Keken, dia cemberut karena disebut “Anak Tidak Cantik”.


Sementara Mimi Mama segera membantu Arda Handara memunguti kerikilnya sambil tertawa.


“Kakang Gejrot, bantu aku!” panggil Arda Handara kepada Bong Bong Dut. “Siapa yang memungut paling banyak, aku beri hadiah.”


Mendengar kata “hadiah” Bong Bong Dut segera datang dengan langkah yang tidak mengguncang kapal. Dengan penuh perjuangan, pemuda gemuk itu berlutut untuk memunguti kerikil.


Puuut!


Tiba-tiba terdengar saura seperti bokong bersiul. Sontak Mimi Mama dan Putri Keken terkejut dan memandang kepada Bong Bong Dut yang juga terkejut dan berhenti bergerak.


Karena dipandangi oleh dua gadis kecil, ditambah dipandangi oleh Tabib Zoang dan Lentera Pyar, Bong Bong Dut jadi gelagapan.


“Bukan aku yang kentut, tapi mulut Pangeran!” kata Bong Bong Dut sewot sambil menunjuk Arda Handara.


“Hahahak!” tawa terbahak Arda Handara. Ia lalu membunyikan bibirnya, “Puuut!”


“Hihihi …!” Tertawalah Mimi Mama dan Putri Keken.


“Hehehe!” kekeh Bong Bong Dut pula akhirnya. Lalu tanyanya kepada sang pangeran, “Apa hadiah yang kau tawarkan, Pangeran?”


“Mandi satu malam bersama Brojol,” jawab Arda Handara enteng.

__ADS_1


“Hah!” pekik Bong Bong Dut terkejut.


Sraaak!


Bong Bong Dut sampai menumpahkan kembali kerikil-kerikil yang sudah di genggamannya.


“Kenapa, Kakang? Bukankah Brojol itu perempuan?” tanya Arda Handara dengan mimik serius.


“Hihihik …!” Mimi Mama tertawa terkikik-kikik, sampai dia terduduk di lantai.


“Hahahak …!” Arda Handara pun kemudian tertawa terpingkal-pingkal, membuat suasana semakin riuh.


“Aku bantu, tapi tidak mengharap hadiah,” kata Bong Bong Dut, lalu kembali memunguti kerikil-kerikil tersebut.


Orang-orang dewasa membiarkan anak-anak itu asik dengan dunianya sendiri. Mereka hanya tersenyum-senyum melihat kejahilan Arda Handara. Sementara Putri Keken hanya memandangi dengan memendam rasa penasaran.


Sebentar lagi malam akan menyelimuti lautan. Dewi Ara tidak memerintahkan untuk menghidupkan cahaya penerang.


Mereka menduga bahwa armada laut yang melakukan patroli di kawasan kepulauan itu sudah bergerak kembali ke Pulau Kabut.


Namun, meski tidak ada penerangan, dunia anak-anak tetap berjalan. Arda Handara mengajak Putri Keken dan Mimi Mama bermain kerikil di dalam gelap gulita.


Cara mainnya mudah. Mereka duduk bersila saling berhadapan membentuk segitiga. Alat permainannya cukup satu kerikil yang akan dilempar ke lantai secara bergilir. Setiap kerikil dilempar, mereka bertiga harus berebut mengambilnya. Jika terang, akan mudah dilakukan, tapi ini gelap gulita. Yang berhasil mengambil kerikil tersebut, akan memberi corengan arang cair ke wajah lawan.


Meski yang punya ide permainan adalah Arda Handara, tetapi yang banyak memenangkan setiap putaran adalah Mimi Mama. Itu terjadi karena Mimi Mama memiliki tingkat kepekaan yang lebih tinggi dibandingkan Arda Handara dan Putri Keken.


Tek!


“Aku menang! Hahahak …!” teriak Arda Handara lalu tertawa kencang, setelah dia yang berhasil menangkap kerikil yang lebih dulu terdengar jatuh di lantai. “Kemarikan wajah kalian!”


“Eh, kenapa kau mencorengku lima jari?” protes Putri Keken.


“Tapi Ulat Bulu mencorengku tiga jari,” kata Mimi Mama.


“Hahahak!” tawa Arda Handara.


“Awas kau, Pangeran. Aku balas nanti!” ancam Putri Keken.


“Hahaha!” Arda Handara hanya tertawa.


Tek!


“Aku menang! Hihihik!” pekik Putri Keken sangat girang. Dendamnya bisa langsung terwujud. “Majukan mukamu, Pangeran!”


Putri Keken dengan antusias mencelupkan jari tangannya ke wadah arang cairnya. Namun, sebelum dia mendapati wajah Arda Handara di dalam gelap, ….


“Aw!” pekik Putri Keken terkejut karena ia merasakan ada wajah yang menabrak bibir dan hidungnya.


“Kenapa kau menciumku, Pangeran?” tanya Putri Keken bernada marah.


“Kau sendiri yang meminta wajahku dimajukan. Aku tidak tahu wajahmu ada di mana,” kilah Arda Handara.


“Hmm! Itu memang akal-akalanmu saja, Ulat Bulu. Terus terang saja jika kau memang ingin mencium Putri Mahkota,” kata Mimi Mama.


“Mana mungkin aku lakukan? Aku ini masih kecil!” bantah Arda Handara.

__ADS_1


“Kecil tapi calon istrimu sudah tiga,” balas Mimi Mama.


“Eh, pelan-pelan, kau menggigit hidungku!” pekik Arda Handara kepada Putri Keken.


“Siapa yang menggigit hidungmu? Aku tidak sudi. Aku hanya mencubitnya!” bantah Putri Keken cepat.


“Ayo mulai lagi. Giliran Anak Cantik yang melempar,” kata Arda Handara.


Mimi Mama lalu melempar kerikilnya.


Tek!


“Aku dapat!” teriak Mimi Mama dan Arda Handara bersamaan.


“Kau jangan bohong, Ulat Bulu. Jelas-jelas aku yang menangkap kerikilnya!” tukas Mimi Mama.


“Tapi kerikilnya ada di tanganku!” kata Arda Handara pula.


“Kau pasti main curang!” tuding Mimi Mama.


“Biar aku yang periksa tangan kalian, siapa yang mendapat kerikilnya,” kata Putri Keken menengahi.


“Ini tanganku!” kata Mimi Mama dan lebih dulu mengulurkan tangannya kepada Putri Keken.


Putri Keken lalu meraba tangan Mimi Mama dan merasakan ada sebutir kerikil di telapak tangan tersebut.


“Ini, periksa juga tanganku jika tidak percaya,” kata Arda Handara sambil mengulurkan tangan kanannya pula.


Putri Keken pun meraba tangan Arda Handara. Ia pun merasakan ada kerikil di telapak tangan pangeran itu, tetapi bentuknya terasa berbeda dari kerikil tunggal yang mereka mainkan.


“Kalian sama-sama memegang kerikil, tapi kerikil di tangan Pangeran adalah kerikil lain,” kata Putri Keken menyimpulkan.


“Dasar curang!” umpat Mimi Mama sambil menerkam Arda Handara di dalam gelap.


“Apa yang kau lakukan, Anak Cantik?!” pekik Arda Handara gelagapan karena tahu-tahu sudah jatuh terlentang.


“Putri, aku pegangi si Ulat Bulu curang ini, Putri gelitiki sampai mati!” kata Mimi Mama.


“Biar dia rasakan kecurangannya!” kata Putri Keken pula lalu cepat menyergap badan Arda Handara pula.


“Hei! Apa yang kalian lakukan? Ak! Hahaha! Geli!” jerit Arda Handara sambil menahan serangan Mimi Mama dan Putri Keken. Rasa geli yang membuatnya tertawa menjadikannya lemah tidak berdaya.


“Hihihik …!” Akhirnya Mimi Mama dan Putri Keken tertawa juga, menikmati derita Arda Handara.


Pergulatan itu berlangsung cukup lama sehingga menimbulkan kebisingan di dalam kegelapan.


Plep!


Tiba-tiba suasana berubah terang, seiring ada beberapa obor yang menyala di sekeliling ketiga anak itu. Berubah terangnya keadaan mengejutkan kedua gadis kecil yang sedang menghukum Arda Handara, membuat mereka berhenti.


Ternyata di sekitar mereka telah berdiri Permaisuri Dewi Ara, Tikam Ginting, Bewe Sereng, dan Seser Kaseser. Mereka melihat tiga orang anak bermuka hitam-hitam seperti bokong priuk.


Mereka melihat Mimi Mama dalam posisi duduk di atas kedua paha Arda Handara sambil mencekal kedua tangannya. Sementara Putri Keken duduk di atas dada Arda Handara dengan posisi membokongi wajah si pangeran. Kedua tangan Putri Mahkota menyusup di balik balik baju Arda Handara. Masih untung tidak menyusup ke balik celana.


“Ibunda, tolooong!” raung Arda Handara yang tidak berdaya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2