
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Kereta kuda sederhana milik Penasihat Ranggasewa berlari agak kencang di jalan Ibu Kota yang masih gelap untuk masuk ke Istana. Kereta kuda itu dihiasi satu lentera minyak klasik buatan luar negeri.
Drap drap drap!
Ranggasewa yang duduk sendiri di dalam bilik keretanya, tiba-tiba mendengar suara lari kaki banyak prajurit. Ia pun segera mengintip dari celah bilik keretanya.
Ia melihat agak jauh di depan sana ada sejumlah obor yang bergerak dan menerangi satu pasukan prajurit yang jumlahnya jauh lebih banyak dari jumlah obor. Dilihatnya pasukan itu dipimpin oleh Panglima Tarikurat yang berkuda bersama sejumlah prajurit utama. Sementara sebagian besar pasukannya yang berjumlah ratusan orang berlari.
“Kundang, tolong hadang pasukan itu sebentar!” perintah Ranggasewa kepada kusirnya.
“Baik, Gusti,” ucap patuh Kundang, yang mungkin nama lengkapnya adalah Maling Kundang.
Kundang pun segera membelokkan arah kuda lalu menghentikannya, sehingga posisi kereta kuda melintang seolah menutupi jalan.
Gerakan yang terkesan penghadangan itu, membuat Panglima Tarikurat menghentikan lari kudanya dan memberi tanda perintah berhenti kepada pasukannya.
Karena tahu itu adalah kereta kuda Penasihat Ranggasewa, Panglima Tarikurat segera turun dari punggung kudanya. Pintu bilik kereta pun dibuka dari dalam. Ranggasewa segera menyembul keluar.
“Hormatku, Gusti Penasihat,” ucap Panglima Tarikurat seraya menghormat secukupnya sebagai sesama pejabat.
“Apa yang akan kalian lakukan?” tanya Ranggasewa.
“Pasukan Sanggana Kecil sedang menuju ke sini. Hamba diperintahkan untuk menutup semua jalan masuk ke Ibu Kota,” jawab Panglima Tarikurat.
“Aku berpesan kepadamu, Panglima. Pasukan Sanggana Kecil bukan bermaksud menghancurkan Baturaharja. Jadi, jangan sampai ada pertempuran atau prajurit yang mati,” kata Ranggasewa.
__ADS_1
Agak terkejut Panglima Tarikurat mendengar pesan tersebut.
“Baik, Gusti,” ucap Panglima Tarikurat.
Setelah itu, Ranggasewa kembali naik masuk ke dalam bilik keretanya. Panglima Tarikurat menunggu hingga kereta kuda bergerak pergi ke arah gerbang benteng Istana. Setelah itu, sang panglima kembali naik ke kudanya dan segera melanjutkan tugasnya.
Di gerbang benteng Istana, Ranggasewa bertemu dengan Panglima Dendeng Boyo. Ia pun menyampaikan pesan yang sama kepada Kepala Keamanan Istana. Setelah itu, ia pergi menuju ke Istana Keprabuan untuk bertemu Prabu Banggarin.
Namun, Ranggasewa belum bisa bertemu dengan orang nomor satu di Baturaharja itu.
“Maaf, Gusti Penasihat. Gusti Prabu sedang melakukan semadi langit untuk berperang. Mungkin sampai pagi, Gusti,” kata Komandan Bengal Banok.
“Baiklah, aku akan menunggu sampai pagi,” kata Ranggasewa.
Maksud menunggu dari Ranggasewa bukanlah menunggu di tempat, tapi menunggu di dalam lingkungan Istana. Ia menghabiskan masa tunggunya dengan cara berbincang-bincang. Lawan bincangnya adalah Panglima Dendeng Boyo.
“Gusti Prabu sedang melakukan semadi langit. Itu tandanya Gusti Prabu siap mati dalam peperangan demi menjunjung kehormatannya. Jika itu dia lakukan, dia tidak memikirkan nasib semua prajurit dan rakyat yang ada di Ibu Kota,” kata Ranggasewa.
“Kedatangan pasukan Kerajaan Sanggana Kecil memang bukan kehendak kita, tetapi kondisi ini sebenarnya buah siasat dari Mahapatih Duri Manggala,” kata Ranggasewa.
“Maksud Gusti Penasihat?” tanya Dendeng Boyo dengan kening mengerut.
“Gusti Prabu seakan lupa, siapa yang memberikan tahta ini kepadanya. Beda cerita jika raja Sanggana Kecil bukan lagi Gusti Prabu Dira, mungkin kebijakan akan berbeda. Jadi, secara akal sehat, tidak mungkin Gusti Prabu Dira ingin menghancurkan Baturaharja. Sebelum berangkat menghadang pasukan Sanggana Kecil, Mahapati Duri Manggala sudah curiga ada pengkhianat di sekitar Gusti Ratu Wilasin dan dan Gusti Prabu. Panglima bisa menerka sendiri kira-kira siapa orangnya, karena ini hanya dugaan yang belum terbukti.”
“Benar kata Gusti Penasihat,” ucap Dendeng Boyo lirih sambil pandangannya menatap serius kepada Ranggasewa, sementara otaknya berpikir cepat dan keras. “Meski aku bergabung dalam Istana belakangan, tapi aku mendengar semua cerita yang telah terjadi sebelumnya.”
“Karena itulah aku berpesan, jangan sampai terjadi pertempuran dengan pasukan Sanggana Kecil,” kata Ranggasewa. Lalu katanya dengan berbisik, “Jika pasukan Sanggana Kecil datang hendak menangkap Gusti Prabu, pasukanmu jangan melawan. Biarkan Gusti Prabu ditangkap.”
“Apakah Gusti Penasihat yakin?” tanya Dendeng Boyo. Sepertinya dia belum percaya seratus persen.
__ADS_1
“Benar. Jikapun seandainya aku salah, maka melawan pun akan berujung kepada pertumpahan darah. Aku mengenal Gusti Prabu Dira dengan baik. Sifat jahat jauh dari dirinya, kecuali perkara cinta.”
Tong tong tong otong …!
Tiba-tiba terdengar suara banyak kentongan bambu dan kayu dipukul. Suara itu terdengar jauh dan berasal dari luar benteng Istana.
“Panglima Tarikurat sudah memberi peringatan kepada penduduk Ibu Kota, berarti kemungkinan akan ada Pasukan Rakyat,” kata Dendeng Boyo mengomentari ramainya suara kentongan itu di ibu kota Jayamata.
Memang, di beberapa titik di Ibu Kota, prajurit dari Pasukan Keamanan Ibu Kota membunyikan kentongan bertalu-talu dengan durasi yang cukup lama. Mungkin selama satu durasi buang hajat kentongan terus dipukuli.
“Ibu Kota akan diserang! Para lelaki Jayamata yang pemberani diperintahkan keluar untuk berperang! Wanita dan anak-anak diam di dalam rumah!” teriak seorang prajurit sambil berjalan di depan rumah-rumah warga. Ia ditemani oleh seorang rekannya yang bertugas sebagai pendamping dan pemegang obor.
“Ibu Kota akan diserang! Para lelaki Jayamata yang pemberani diperintahkan keluar untuk berperang! Wanita dan anak-anak diam di dalam rumah!” teriak prajurit itu lagi di saat waktu masih menunjukkan dini hari.
Teriakan keras si prajurit di sela-sela suara bunyi kentongan yang bertalu-talu jelas membangunkan warga yang tidur dan menidurkan “singa” yang bangun.
“Kakang! Kakang!” sebut seorang wanita setengah berbisik di atas ranjangnya sambil menepak-nepak sarungnya yang menyembul besar seperti perut hamil.
Tiba-tiba sembulan besar itu bergerak dan keluar dari balik sarung, tepat di atas dada si wanita. Ternyata yang keluar dari balik sarung adalah sebuah kepala lelaki berkumis. Ia bertanya dengan wajah yang mengerenyit. Bukan karena sakit, tetapi kesal karena panas suhu tubuh singanya yang sedang menyantap turun drastis.
“Kakang, warga lelaki diperintahkan berperang!” bisik sang istri.
“Bagaimana mau berperang kalau pertempuran di dalam sarung saja belum menang!” kata sang suami, juga setengah berbisik.
Itulah salah satu dialog sepasang suami istri warga Jayamata menyikapi suara kentongan dan teriakan pengumuman prajurit.
Di saat warga lelaki berbangunan oleh kebisingan yang dilakukan oleh para prajurit itu, sekitar beberapa ribu pasukan telah dimobilisasi di perbatasan Ibu Kota. Pagar-pagar penghalang dibuat dan dipasang menutup jalan. Benteng dadakan pun dibuat. Pasukan yang sudah siap tempur pun disiagakan. Pasukan yang ada di basis militer semuanya dikerahkan.
Panglima Tarikurat mondar mandir ke sana dan ke mari mengatur dan mengawasi persiapan pasukannya di beberapa jalan masuk ke Ibu Kota. Namun, sebagian besar pasukan dipusatkan di pintu selatan, yang diperkirakan akan menjadi jalan datangnya pasukan Kerajaan Sanggana Kecil.
__ADS_1
Tidak berapa lama, para lelaki warga ibu kota Jayamata mulai berkeluaran. Mereka keluar dengan berpakaian dan menyandang senjata berbagai jenis. Dari pedang, golok, tombak, hingga cangkul mereka bawa menurut apa yang mereka miliki. Beberapa di antara mereka dikenal sebagai seorang pendekar.
Para lelaki warga Ibu Kota nantinya akan membentuk Pasukan Rakyat yang dipimpin oleh seorang komandan. (RH)