Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pas Buyar 5: Mati Disengat Petir


__ADS_3

*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*


 


“Ternyata Ratu Wilasin berkesaktian tinggi. Pantas saja harga nyawanya sangat mahal,” pikir Telapak Petir. “Harus mengandalkan kecepatan.”


Clap! Pak! Zerzzz!


Clap! Pak! Zerzzz!


Clap! Pak! Zerzzz!


Tiba-tiba Telapak Petir bergerak cepat seperti menghilang. Namun, lesatan tubuhnya bukan langsung menyerang Dewi Ara, tetapi sekedar lewat dua tombak dari tubuh Dewi Ara.


Ketika lewat, Telapak Petir melakukan satu kali tepukan, yang dari tepukan itu melesat lidah petir berwarna merah.


Dengan gerakan yang sangat cepat, Telapak Petir melakukan lintasan di sekitar Dewi Ara sebanyak tiga kali. Tiga kali pula Telapak Petir bertepuk tangan yang melesatkan lidah petir merah.


Maka, tiga serangan lidah petir sinar merah menyerang Dewi Ara bersusulan dalam waktu yang sangat rapat, kurang dari satu detik saja, sehingga terlihat bersamaan.


Zerzzz!


Namun, tubuh Dewi Ara telah dilapisi sinar merah dari ilmu Perisai Dewi Merah. Ternyata, serangan lidah petir merah Telapak Petir tidak sanggup menyengat atau menembus ilmu perisai tersebut. Mungkin tidak tega jika harus mencelakai wanita secantik Dewi Ara.


“Ayo tetap semangat, Ibunda! Kami selalu mendukung Ibunda!”


Tiba-tiba terdengar teriakan Arda Handara yang menjadi suporter fanatik bagi Dewi Ara. Di sisinya juga ada Ratu Wilasin yang ikut berdiri dan berteriak-teriak seperti orator demo anti kenaikan harga bahan bakar kayu.


“Jangan pernah menyerah, orang jahat pasti mati, orang cantik pasti menang! Hidup orang cantik!” teriak Ratu Wilasin.


“Cantiiik!” teriak Arda Handara menyahuti.


“Hidup orang cantik!”


“Cantiiik!”


“Hidup orang cantik!”


“Cantiiik!”


Tikam Ginting dan yang lainnya hanya bisa geleng-geleng melihat kolaborasi bocah nakal dengan gadis bocah.


Bong Bong Dut sebenarnya ingin bergabung bersama Ratu Wilasin dan Arda Handara, tetapi dia harus menghaluskan bumbu di atas batu.


Sekedar informasi, selain membawa bekal pakaian ganti dan ongkos perjalanan, rombongan Dewi Ara juga membawa bumbu dapur. Tukang masaknya justru Setya Gogol, bukan salah satu wanita di dalam rombongan.


Anik Remas sebenarnya pandai memasak, tetapi saat ini ia hanya memiliki semangat bercinta, bukan semangat memasak. Mungkin lain ceritanya jika memasak sambil bercinta.


Kembali ke pertarungan antara Dewi Ara dan Telapak Petir.


Setelah mengetahui bahwa Dewi Ara memiliki kekuatan mata dan ilmu pertahanan yang hebat, Telapak Petir harus berpikir keras bagaimana caranya bisa mengalahkan wanita yang dianggapnya Ratu Wilasin.


Zerzz! Zerzz! Zerzz …!


Telapak Petir membuka telapak tangannya ke udara seperti gerakan yang melepaskan lalat dari genggaman, seperti gaya pesulap abang.


Setelahnya, di atas kepala Telapak Petir ada sebanyak sebelas bola sinar hijau yang mengeluarkan percikan petir. Bola-bola petir itu melayang di udara, seolah menunggu diusir.


Puncak dari aksinya adalah hentakan kedua tangan.

__ADS_1


Zerzzrr …!


Kesebelas bola petir itu melesat bersama dengan kecepatan petir.


Clap! Bluarr!


Dewi Ara yang masih duduk di atas batu besar itu tiba-tiba lenyap yang diiringi oleh serbuan bola petir yang menghantam atas batu. Meski yang dihantam atasnya, tetapi semua bagian batu handur lebur sampai ke tanah-tanahnya menjadi kubangan kecil. Itu menunjukkan, betapa tingginya daya hancur kesaktian Telapak Petir yang satu ini.


Clap!


Dewi Ara tiba-tiba muncul satu jangkauan tepat di depan Telapak Petir.


Tuk tuk tuk! Bak!


Gerakan tangan Dewi Ara terlalu cepat. Dalam satu waktu, tiga tusukan jari yang ditutup dengan pukulan telapak tangan ke dada, Dewi Ara lancarkan yang tidak bisa ditolak oleh Telapak Petir. Mungkin karena yang menyerangnya adalah wanita cantik, jadi dia enggan untuk menghindar. Padahal faktanya, dia memang tidak bisa menghindar karena terlalu cepat.


Telapak Petir terdorong mundur nyaris terjengkang dengan mulut memuncratkan beberapa percikan darah, menandakan bahwa dia terluka dalam.


Sebelum Dewi Ara melakukan serangan susulan yang rapat, buru-buru Telapak Petir melompat mundur cukup menjauh.


“Hidup orang cantik!” teriak Ratu Wilasin penuh semangat melihat keunggulan sementara Dewi Ara.


“Cantiiik!” teriak Arda Handara menyahuti.


“Hidup orang cantik!”


“Cantiiik!”


“Hihihi!” tawa Lentera Pyar mendengar paduan suara Ratu dan Pangeran.


Dalam kondisi yang sudah terluka dalam, Telapak Petir masih bisa mengeluarkan ilmu serupa dari sebelumnya. Kembali ada sebelas bola petir sinar hijau yang melayang di sekitar atas kepala.


Zerzz! Zerzz! Zerzz!


Telapak Petir mengayunkan tangan kanannya ke depan, membuat empat bola petir melesat menyongsong majunya Dewi Ara.


Namun, Dewi Ara menghilang menghindari serangan itu.


Seiring lenyapnya Dewi Ara, Telapak Petir menggerakkan kedua tangannya dengan sangat cepat, membuat empat dan tiga bola petir melesat ke arah yang berbeda.


Bluar bluar bluar!


Rupanya Telapak Petir bisa melihat kecepatan perpindahan tubuh Dewi Ara yang oleh mata biasa dilihat menghilang. Karena itulah dia berusaha mengejar Dewi Ara dengan serangan bola-bola petirnya ke dua arah yang berbeda.


Tiga ledakan hebat terjadi di tiga titik di pinggir telaga tersebut, tetapi tidak ada Dewi Ara di dalam ledakan. Dewi Ara juga tidak muncul tiba-tiba di dekat Telapak Petir seperti tadi.


Dewi Ara muncul berdiri di atas sebatang pokok pohon yang sudah tidak memiliki batang atas. Itu tepat di pinggiran telaga. Bahkan di bawah pokok itu adalah air telaga. Itu spot yang bagus untuk berjongkok sambil memancing.


“Kisanak, jika kau masih memiliki kesaktian yang paling tinggi, keluarkanlah. Jangan sampai kau menyesal karena terlanjur mati sebelum kau mengandalkannya!” seru Dewi Ara. Entah itu anjuran yang bijak atau menjebak.


“Baiklah!” sahut Telapak Petir. Lalu teriaknya, “Hiaaat!”


Telapak Petir mempertemukan kedua telapak tangannya di depan perut dengan jari-jari saling bertaut.


Brezzrr!


Dari penyatuan dua tangan itu, langsung membesar sinar kuning yang diselimuti aliran listrik sinar biru terang.


Telapak Petir lalu menarik pisah kedua tangannya. Kedua tangan itu sudah tertutupi oleh sinar kuning yang tidak padam. Lidah-lidah petir sinar biru tidak bisa diam menjilati udara.

__ADS_1


Bressr!


Ternyata prosesnya belum selesai. Dua sinar kuning yang menutupi kedua tangan, berubah menyembur seperti api kompor gas tukang nasi goreng.


Dewi Ara dan mereka yang sedang menonton, bisa merasakan keangkeran ilmu tertinggi yang akan dilepaskan Telapak Petir.


“Rasakan serangan terakhirku!” teriak Telapak Petir lalu melesat cepat di udara menuju ke posisi Dewi Ara.


Brezrr! Brezrr!


Ketika Telapak Petir melesat, dua sinar kuning yang ada di tangannya mendadak kian membesarkan diri.


Bress!


Saat serangan itu datang, satu kejadian mengejutkan tergelar untuk ditonton. Dari sisi belakang Dewi Ara, ada curahan air telaga yang naik mengudara seperti penggalan ombak tsunami.


Itu bukan fenomena alam atau ada kekuatan lain dari dalam telaga, tetapi itu adalah rekayasa ciptaan dari kekuatan Tatapan Ratu Tabir.


Telapak Petir sebenarnya terkejut dengan isi kepala yang bertanya-tanya, apakah itu bagian dari kesaktian lawannya atau dari kekuatan lain. Namun, ia sudah terlanjur menyerang.


Telapak Petir bergeming. Ia hantamkan dua sinar kuning yang cahayanya sampai menutupi wujudnya dari pandangan Dewi Ara.


Bruss! Zerzz!


“Aaak …!”


Namun, segulung air telaga yang telah naik seperti ular raksasa itu, yang awalnya bergerak dengan kecepatan normal naik mengudara, tiba-tiba bergerak sangat cepat lewat di atas kepala Dewi Ara dan menghantam tubuh Telapak Petir di udara sebelum lelaki itu mengeksekusi.


Maka yang terjadi kemudian, tubuh Telapak Petir terhempas bersama air banyak dengan jeritan yang melengking panjang.


Rupanya, saat disiram air sekolam itu, kekuatan petir Telapak Petir menyengat pemiliknya sendiri. Itu terjadi ketika terhantam air di udara sampai ia jatuh keras di tanah pantai telaga.


Zerzz!


Dalam kondisi basah kuyup, Telapak Petir tergeletak kejang-kejang seperti orang yang disengat listrik, tanpa jeritan lagi.


Ratu Wilasin dan Arda Handara diam menunggu dengan tegang. Mereka ingin memastikan nasib akhir Telapak Petir sebelum mereka memberi reaksi.


“Sudah mati, sudah mati itu. Hihihi!” teriak Ratu Wilasin sambil menunjuk-nunjuk kepada tubuh Telapak Petir yang memang sudah menemui ajal dan berhenti bergerak. Lalu teriaknya setelah tertawa, “Hidup orang cantik!”


“Cantiiik!” sahut Arda Handara sambil meninju ke langit.


“Cantiiik!” teriak Bong Bong Dut pula dari tempatnya mengulek bumbu.


“Hidup orang cantik!” teriak Ratu Wilasin lagi.


“Cantiiik!” teriak Arda Handara dan Bong Bong Dut bersamaan.


“Hahaha!” Akhirnya Tikam Ginting, Lentera Pyar, Anik Remas, dan Bagang Kala tertawa.


Entah Telapak Petir tahu atau tidak pada semasa hidupnya bahwa air menjadi mediasi penghantar listrik yang sangat baik. Namun yang pastinya, Dewi Ara tahu akan hal itu, mungkin karena faktor usia lebih tua.


Dewi Ara memang telah merancang kematian untuk Telapak Petir menggunakan air. Karena itulah dia memancing Telapak Petir untuk mengeluarkan kesaktian tertingginya. Dewi Ara menduga kuat bahwa apa pun kesaktian itu, pasti berhubungan dengan listrik atau petir. Dan terbukti benar.


Telapak Petir mati oleh kekuatan ilmunya sendiri. Sungguh sekilas hidup yang berujung tragis, kecuali jika dia berpikir mati di tangan wanita cantik adalah bentuk lain dari kebahagiaan. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan berhenti dukung pula Chat Story "Pendekar Gendut Budiman"

__ADS_1



__ADS_2