
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
“Hahaha!” tawa Pangeran Arda Handara yang kembali duduk nyaman di atas bahu Eyang Hagara.
Mereka berjalan keluar dari Kolosom Awan bersama ribuan penduduk Negeri Orang Separa yang begitu ramai dan lucu-lucu. Model dan gaya pakaian serta rambut yang memiliki banyak hiasan, membuat negeri itu benar-benar sangat berbeda dengan negeri Tanah Jawi.
Bagi Arda Handara, berada di negeri itu tidak membuatnya merasa sebagai seorang anak kecil. Berbanding terbalik dengan Eyang Hagara yang seperti menjadi seorang raksasa kurus bertubuh jangkung. Ia menjadi lebih tinggi karena Arda Handara duduk di bahunya. Tidak jarang orang-orang kerdil yang lewat di dekat mereka terpancing untuk mendongak bermaksud melihat wajah Eyang Hagara. Meski demikian, Eyang Hagara dan Arda Handara tidak begitu mengindahkan, seolah-olah sudah biasa. Padahal bagi Arda Handara, ini adalah perdana ia masuk ke Negeri Orang Separa.
“Hal lucu apa yang kau tertawakan, Arda? Sejak tadi kau tertawa sendiri tanpa ada hubungannya denganku,” tanya Eyang Hagara.
“Hahaha!” Arda Handara malah tertawa ditanya seperti itu. Lalu jawabnya penuh semangat yang mengejutkan Eyang Hagara, “Aku jatuh cinta, Eyang!”
“Apa?!” pekik Eyang Hagara benar-benar terkejut dengan jawaban anak yang digendongnya itu. Ia sampai berhenti berjalan dan agak mendongak kepada Arda Handara.
“Hahahak!” Arda Handara kian tertawa terbahak melihat reaksi Eyang Hagara.
“Kau sudah mengerti apa itu jatuh cinta?” tanya Eyang Hagara dengan mimik serius mendongak kepada Arda Handara.
“Iya, Eyang. Aku suka dengan anak perempuan dan ingin membuat anak bersamanya. Hahaha!” jawab Arda Handara tetap enjoy dengan tawanya.
“Welleh! Apakah ibundamu sudah mengajarkanmu tentang urusan cinta dan pengetahuan tentang membuat anak?” tanya Eyang Hagara.
“Tentu, Eyang. Buktinya Ibunda bisa membuat aku,” jawab Arda Handara mantap.
“Haaah!” Eyang Hagara hanya mengembuskan napas masygul mendengar jawaban keponakannya itu. “Lalu siapa anak perempuan yang membuatmu jatuh cinta itu?”
“Anak perempuan itu sejak tadi terbayang-bayang dalam ingatanku dan tersenyum selalu di dalam kepalaku,” kata Arda Handara seperti orang besar berotak besar. “Anak perempuan itu adalah Hijau Kemot, Eyang.”
“Apa?!” pekik Eyang Hagara lagi.
“Hahaha!” tawa Arda Handara melihat reaksi Eyang Hagara.
Berawal ketika Pasukan Beruang Biru melakukan selebrasi kemenangan usai mengalahkan Pasukan Ayam Emas dalam Pertandingan Tongkat Bola. Galang Ocot dan rekan-rekannya, termasuk Hijau Kemot, terbang dengan tongkatnya menyisir udara tepian tribun penonton selama beberapa putaran.
Para penonton bersorak girang mengelu-elukan tim kesembilanan itu. Mereka ramai bertepuk tangan dengan meriah. Mereka bangga telah menjadi pendukung Pasukan Beruang Biru. Di antara penonton itu ada Eyang Hagara dan Arda Handara.
Selebrasi tim pemenang itu membuat mereka melintas begitu dekat dengan penonton. Galang Ocot, Hijau Kemot dan rekan-rekan terbang sambil tersenyum lebar dan melambaikan tangan.
Ketika tim itu terbang melintas di depan tribun tempat Eyang Hagara berada, Arda Handara terpana dengan bibir terbuka, tapi tidak sampai ada air terjun mini.
Pandangan Arda Handara fokus hanya kepada satu objek, yaitu wajah cantik berbibir hijau milik Hijau Kemot. Arda Handara merasa bahwa lambaian tangan gadis kerdil itu hanya ditujukan kepadanya. Dengan gerakan slow motion, Arda Handara balas melambai di saat Hijau Kemot melesat pergi.
Kepergian Hijau Kemot membuat Arda Handara tersadar dan berpikir dalam hayalan indah. Entah “indah” yang dimaksud olehnya dalam bentuk apa.
__ADS_1
Seperti mendapat ide dan rencana cemerlang di dalam pikirannya, Arda Handara cepat berdiri serius ketika melihat Hijau Kemot dan rombongan akan melintas lagi untuk kedua kalinya.
“Hijau Kemooot!” teriak Arda Handara sangat kencang, menandingi semua suara penonton yang riuh.
Panggilan Arda Handara yang demikian kencang membuat Hijau Kemot segera fokuskan perhatiannya kepada pemilik suara. Gadis cantik mungil itu melihat wajah tampan Arda Handara yang memiliki jenis berbeda dari wajah-wajah orang cebol pada umumnya. Hijau Kemot bisa langsung menduga bahwa lelaki yang memanggilnya itu berasal dari ras yang berbeda, terlebih di sisinya ada manusia normal, kecuali hidungnya yang tidak normal.
Jika saat itu sudah populer simbol jari love, mungkin Arda Handara akan membrikan silangan ibu jari dan jari telunjuknya kepada Hijau Kemot.
Melihat Arda Handara yang begitu gembira mendada kepadanya, Hijau Kemot pun memberi lambaian balasan dan senyum yang sepahit madu hitam karena terlalu manisnya.
Rupanya kejadian itu membuat Arda Handara selalu membayangkan kecantikan Hijau Kemot. Menurut sang pangeran, kecantikan Hijau Kemot sebelas dua belas dengan kecantikan ibundanya dan kecantikan ibu permaisuri lainnya. Memang, hanya bedanya di ukuran tubuh, bahkan Hijau Kemot lebih pendek dari Permaisuri Sandaria.
“Hijau Kemot itu sudah dewasa, tubuhnya saja yang kecil. Tidak seperti kau yang masih kecil, apa-apamu semua kecil,” kata Eyang Hagara setelah mendapat cerita dari Arda Handara.
“Oh,” desah Arda Handara seolah baru mengerti. Namun katanya kemudian, “Tapi cintaku besar, Eyang.”
“Hahaha!” Kali ini Eyang Hagara yang tertawa. “Dari mana kau tahu bahwa cintamu besar?”
“Ah, Eyang,” keluh Arda Handara dengan mimik kecewa.
Arda Handara lalu memilih turun dari bahu Eyang Hagara. Tindakan Arda Handara itu membuat Eyang Hagara terkejut, karena ia tersadar bahwa keponakannya itu sedang mengambek.
“Jika Eyang tidak suka aku jatuh cinta, lebih baik aku pergi sendiri,” kata Arda Handara lalu meloyor pergi memisahkan diri dari Eyang Hagara.
Ia lalu bergerak cepat untuk tetap bersama Arda Handara yang berlari di antara orang ramai.
“Lebih baik Eyang tidak usah ikut aku, kita sudah tidak bersahabat!” ketus Arda Handara.
“Eeeh jangan seperti itu, Arda. Eyang yang membawamu ke sini, jadi Eyang bertanggung jawab atas keselamatanmu. Di negeri ini juga ada orang jahatnya,” kata Eyang Hagara.
Tiba-tiba ….
“Galang Ocooot, aku ingin menikah denganmu!” teriak seorang wanita kerdil di dalam keramaian, dia adalah penggemar fanatik penerbang Galang Ocot.
“Galang Ocooot, sudah sembilan tahun aku menunggumu!” teriak gadis kerdil penggemar yang lain.
Kesembilanan Pasukan Beruang Biru lewat dengan menaiki kereta burung besar yang ditarik oleh empat ekor burung botak, yang kita kenal dengan nama burung unta. Kereta burung botak itu memiliki sais pengendali, sementara sembilan anggota Pasukan Beruang Biru plus pelatihnya yang bertubuh pendek gendut berdiri di bak kereta yang besar. Kereta itu memiliki empat roda besi.
Kereta burung botak berlari pelan di antara keramaian, apalagi banyak fans yang mengerumuni lari kereta, membuat kereta bergerak lambat. Kebanyakan fans yang ikut berlari mengiringi kereta adalah penggemar perempuan.
“Hati-hati terlindas roda!” teriak sais mengingatkan, karena khawatir ada yang terlindas oleh roda kereta.
Melihat rombongan Pasukan Beruang Biru melintas, kemudian di atasnya ada Hijau Kemot yang merupakan satu dari dua penerbang wanita dalam tim, Arda Handara segera berlari mengejar. Hal itu mengejutkan Eyang Hagara.
__ADS_1
“Hijau Kemooot!” teriak Arda Handara memanggil sambil berlari kencang di antara keramaian.
Namun, Arda Handara melihat Hijau Kemot tidak menengok ke arahnya. Bukan karena Hijau Kemot sibuk bermain gawai, tetapi karena suara kebisingan para penggemar lebih mendominasi, terlebih jika sudah di jalan seperti itu, ia kurang suka meladeni para penggemar.
Karena tidak ditanggapi, Arda Handara berlari lebih kencang seperti “Si Landak”. Ia berlari seperti kucing di antara keramaian.
Pada akhirnya, Arda Handara sampai di sisi kereta burung botak, tetapi dia tidak bisa mendekat karena banyak orang cebol lain yang berlari kecil mengiring kereta itu.
“Hijau Kemot!” panggil Arda Handara kencang sambil melambaikan satu tangan ke atas agar Hijau Kemot memandang kepadanya.
Hijau Kemot mendengar panggilan Arda Handara, karena itulah dia menengok ke arah sumber suara. Dia cepat menangkap visual wajah Arda Handara karena wajahnya berbeda dari yang lain, meski di sekelilingnya juga ada lelaki cebol.
“Hijau Kemot, apakah kau ingat aku?!” tanya Arda Handara dengan berteriak.
Hijau Kemot akhirnya tersenyum kepada Arda Handara.
“Iya, aku ingat!” teriak Hijau Kenyot menjawab jujur. Memang, hal yang berbeda dari biasanya selalu kuat membekas di dalam ingatan.
“Namaku Arda Handara!” teriak Arda Handara.
“Iya! Kau pasti dari negeri asing!” teriak Hijau Kemot pula dengan berteriak.
“Iya! Aku dari Tanah Jawi. Aku jatuh cinta kepadamu! Hahaha!” teriak Arda Handara begitu bersemangat dan gembira.
Kalimat Arda Handara itu membuat Galang Ocot dan rekan-rekannya jadi beralih memandang kepada Arda Handara.
Melihat reaksi dari Galang Ocot dan rekan-rekannya yang lain, Hijau Kemot cepat berkata kepada Arda Handara.
“Sampai jumpa lagi, Arda! Senang kenal denganmu!” teriak Hijau Kemot sambil melambai tanda berpisah kepada Arda Handara.
“Iya. Aku akan menikah denganmu dan membuat anak!” teriak Arda Handara sambil berhenti mengikuti kereta.
Terkesiap Hijau Kemot mendengar kata-kata yang terakhir.
“Hahaha!” tawa sebagian rekan Hijau Kemot mendengar kata-kata Arda Handara.
Sementara Galang Ocot hanya memandang tidak nyaman.
“Hahaha! Ocot cemburu,” kata salah satu anggota tim menertawakan Ketua Pasukan Beruang Biru.
“Hahaha!” tawa yang lain.
Sementara Hijau Kemot hanya tersenyum kecil melihat raut wajah pemuda yang memang mencintainya itu. (RH)
__ADS_1