
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
“Sinar ini bisa dimasuki dengan mudah, tapi kami tidak bisa keluar. Bahkan kesaktian kami tidak bisa menghancurkan dinding ini. Justru kami yang terluka parah,” jelas Lembing Girang kepada Raja Bandelikan.
“Bagaimana ini, Kanda Raja?” tanya Permaisuri Turi Kumala cemas dan bersedih.
“Tidak perlu khawatir. Ini bisa dihancurkan,” jawab Raja Bandelikan menenangkan istrinya. Ia lalu memanggil panglimanya, “Panglima Kumbiang!”
“Hamba, Gusti Raja,” sahut Panglima Kumbiang.
“Kau adalah pejabatku yang paling sakti. Seharusnya kau bisa mengatasi ini,” kata Raja Bandelikan.
“Iya, Gusti,” ucap Panglima Kumbiang.
Panglima Kumbiang lalu maju mendekati bola sinar abu-abu.
“Jika kau memasukkan tanganmu, tanganmu tidak akan bisa ditarik lagi, Panglima!” seru Lembing Girang ketika melihat Panglima Kumbiang hendak menyentuh dinding sinar.
Panglima Kumbiang yang belum mengenal karakter ilmu Penjara Bola Cemburu cepat menarik kembali tangannya.
“Tapi kau harus masuk ke sini untuk menghancurkan dinding sinar ini,” kata Lembing Girang pula.
“Kau ini bagaimana? Tadi kau melarangku menyentuhnya, tetapi menyuruhku masuk!” dumel Panglima Kumbiang.
“Terserah kaulah, Panglima. Kau yang punya kesaktian,” kata Lembing Girang akhirnya.
Panglima Kumbiang lalu mengulurkan tangannya kembali.
Sluf!
Tangan Panglima Kumbiang akhirnya masuk sepergelangan. Dan benar saja, Panglima Kumbiang pun merasakan sensasi ketika ia mencoba menarik kembali tangannya. Tidak bisa mundur. Ia pun agak panik, terlihat dari upayanya menarik tangan dengan sekuat tenaga, bahkan ia kerahkan tenaga dalam.
Melihat hal itu, terbeliak Raja Bandelikan dan sang permaisuri.
“Bagaimana ini, Kanda Raja?” tanya Permaisuri Turi Kumala kian cemas karena melihat sang panglima yang mereka andalkan menunjukkan kewalahan.
Bruss!
Karena tangannya tidak bisa ditarik pulang, tapi justru sebaliknya, Panglima Kumbiang mencoba ilmu apinya. Tangan Panglima Kumbiang yang terjebak memunculkan api biru. Ia mencoba membakar dinding aneh itu.
“Kami sudah mencoba membakarnya,” kata Lembing Girang.
Namun, Panglima Kumbiang tidak mengindahkan perkataan Lembing Girang.
Karena dinding sinar abu-abu itu tidak terbakar seperti kertas atau kayu, Panglima Kumbiang meningkatkan upayanya dengan membuat api itu menyembur seperti api yang didorong oleh aliran gas. Namun, hasilnya nihil.
“Masuk saja, Panglima,” anjur Lembing Girang.
__ADS_1
Akhirnya Panglima Kumbiang memadamkan kesaktian api nasi gorengnya. Ia pun memutuskan maju dan masuk ke dalam.
Ketika Panglima Kumbiang masuk total ke dalam bola sinar, ia mencoba mendorong keluar lagi, tapi sangat keras dinding yang sangat mudah dimasuki itu.
Sebelum melanjutkan melakukan sesuatu terhadap penjara itu, Panglima Kumbiang lebih dulu pergi memeriksa kondisi Pangeran Bangir Kukuh.
“Gusti Raja, kondisi Gusti Pangeran sangat parah. Gusti Pangeran harus segera diobati,” kata Panglima Kumbiang.
“Tunggir Sagak, cepat panggil Tabib Istana ke mari!” perintah Permaisuri Turi Kumala kepada seorang pejabatnya.
“Baik, Gusti,” ucap pejabat tersebut. Ia pun segera berbalik pergi ke kudanya dan melaju pergi.
Sess!
Sementara itu, Panglima Kumbiang telah menyalakan kedua lengannya dengan sinar hijau membara. Radiasi panasnya begitu terasa bagi Pangeran Bangir Kukuh, Lembing Girang dan satu prajurit yang namanya dirahasiakan.
Jika rasa panasnya saja bisa sejauh itu, ilmu yang akan dikeluarkan oleh Panglima Kumbiang pastilah ilmu hebat.
“Hiaaat!” teriak Panglima Kumbiang.
Sess sess!
Panglima Kumbiang lalu meninjukan kedua tangannya tanpa dekat dengan dinding. Dari kedua tinju itu melesat gelombang sinar panjang tanpa putus menghantam dinding. Sinar itu terus mengalir sehingga menyebar terbatas di dinding kurungan.
Kedua gelombang sinar hijau terus mengalir tanpa henti. Akibatnya, hawa panasnya semakin menyengat kulit ketiga orang lainnya.
Panglima Kumbiang terus berusaha menyalurkan tenaga sakti panasnya.
“Panglima hentikan!” teriak Lembing Girang cepat.
Panglima Kumbiang menengok melihat kepada mereka.
“Aaak!” jerit si prajurit karena pakaiannya mendadak menyalakan api. Itu bukan sulap, bukan sihir, tapi api itu muncul terlalu panasnya.
Buru-buru Panglima Kumbiang menghentikan aksinya. Ia cepat membantu si prajurit memadamkan api di pakaiannya. Hampir saja prajurit anonim itu bugil hangus.
“Aaak!” erang ketiga orang itu dengan kulit yang memerah seperti udang rebus. Bahkan wajah mereka melepuh di beberapa titik.
“Panglima Kumbiang, apa yang kau lakukan? Kenapa kau justru mencelakai Pangeran, hah?!” bentak Raja Bandelikan.
“Mohon ampun, Gusti Raja. Dinding sinar ini begitu kuat. Jika ilmu Tinju Lahar Hijau-ku justru akan mencelakai Pangeran, itu berarti aku tidak bisa mencoba ilmu yang lebih tinggi lagi,” kilah Panglima Kumbiang.
“Lalu, apakah kau juga akan terkurung di situ?” tanya Raja Bandelikan siap meluapkan kekesalannya.
“Sepertinya begitu, Gusti Raja,” jawab Panglima Kumbiang.
“Keparat gundul!” maki Raja Bandelikan sambil menendang dinding sinar itu karena terlalu marahnya.
“Gusti Raja!” pekik Panglima Kumbiang, Lembing Girang dan beberapa prajurit yang terkejut.
__ADS_1
Raja Bandelikan terkejut bukan main setelah tersadar apa yang telah terjadi terhadap kakinya. Raja Bandelikan yang memang berdiri dekat dengan dinding sinar, kini berdiri dengan kaki kiri, sementara kaki kanan tersangkut di dinding sinar.
“Kanda Raja!” pekik Permaisuri Turi Kumala terkejut melihat kaki suaminya tersangkut.
Raja Bandelikan cepat menarik kakinya sekuat tenaga, bahkan dia mengerahkan tenaga dalamnya hingga level maksimal. Namun, sebagai seorang raja, Bandelikan pun tidak mendapat bonus atau diskon dari ilmu Penjara Bola Cemburu itu.
“Panglima, bantu aku!” teriak Raja Bandelikan mulai panik.
Panglima Kumbiang lalu segera memegang ujung kaki kanan rajanya, lalu mendorongnya dengan sekuat tenaga, di saat sang raja pun menarik sekuat tenaga.
Krak!
“Aaak!” jerit Raja Bandelikan saat terdengar suara tulang berbunyi pada pergelangan kakinya.
“Kanda Raja!” jerit Permaisuri Turi Kumala pula saat mendengar suaminya menjerit kesakitan.
“Panglima Setaaan!” maki Raja Bandelikan begitu gusar.
“Ampuni hamba, Gusti Raja! Ampuni hamba! Hamba tidak bermaksud mematahkan tulang kaki Gusti!” Panglima Kumbiang pun cepat bersujud di tempatnya dengan penuh penyesalan dan bercampur takut. Takut dihukum mati.
“Kau mau membantuku atau mau membunuhku?” tanya Raja Bandelikan. Lalu makinya lagi, “Semua tidak berguna!”
“Lalu bagaimana ini, Kanda Raja?” tanya Permaisuri Turi Kumala sambil memegangi lengan suaminya.
“Lebih baik Gusti Raja ikut masuk ke sini,” anjur Lembing Girang.
Raja Bandelikan terdiam sejenak memikirkan saran anak pejabatnya itu. Karena tidak menemukan solusi lebih baik, akhirnya sang raja mendorong masuk kakinya lebih dalam.
“Aku masuk saja, Permaisuri,” kata Raja Bandelikan seraya meringis sakit.
“Tapi, nanti Kanda Raja akan terkurung juga,” kata Permaisuri Turi Kumala.
“Aku pun tidak bisa melepaskan kakiku. Dasar kaki tolol!”
Akhirnya sang permaisuri melepas pegangannya pada lengan suaminya. Raja Bandelikan pun melangkah masuk.
“Akk!” jerit Raja Bandelikan yang langsung terjatuh karena kaki kanannya tidak bisa dipakai berpijak. Tulang pergelangan kakinya ada yang patah.
Panglima Kumbiang segera membantu junjungannya.
“Dasar panglima kambing tidak berguna!” maki Raja Bandelikan sambil memukuli panglimanya.
Meski jatuh harga dirinya dipukuli di depan publik yang notabene adalah pasukannya, Panglima Kumbiang pasrah saja. Namun, sebelum pukulan sang raja membuatnya babak belur, pukulan bertubi-tubi itu akhirnya berhenti sendiri.
Demikianlah kondisi terbarunya. Meski mereka terjebak dalam Penjara Bola Cemburu, tetapi kebersamaan selalu terlihat indah, meski pada faktanya tidak ada yang bahagia di antara mereka.
Sementara itu, di kejauhan, Gandang Duko yang masih memerhatikan dari ketinggian tanah bersemak, sedang berpikir lain. Ternyata rencananya yang ingin menjadi pahlawan kesorean, ia ubah.
“Biarkan Keluarga Kerajaan yang bodoh itu merasakan ketololannya sendiri. Ini kondisi bagus untuk menculik Putri Uding Kemala. Aku harus cepat sebelum malam datang,” pikir Gandang Duko.
__ADS_1
Clap!
Gandang Duko tiba-tiba menghilang dari tempatnya. Dengan kecepatan seperti setan, dia pergi naik ke Istana Puncak dengan satu misi jahat. (RH)