
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Hijau Kemot menunjukkan kelasnya sebagai penerbang wanita handal dan pantas diidolakan banyak lelaki Separa.
Ketika dia bertemu dengan Sanda Kolot yang dikawal oleh Mini Menor, dua lemparan bola hijau dari kedua lawannya bisa dia elaki dengan sangat lihai. Padahal lemparan bola itu dalam jarak dekat. Namun, demi selamat dari lemparan itu, dia harus ikhlas hati untuk tidak melempar balas.
Setelah ketiganya saling melewati, ketiganya segera berputar balik dan kembali terbang saling mendatangi dengan tangan menggenggam bola merah.
“Kali ini aku harus melakukan lemparan,” tekad Hijau Kemot kepada dirinya sendiri.
Ia menatap tajam kepada Sanda Kolot yang juga balas memandang tajam kepadanya. Keduanya terbang ingin adu lempar di udara.
Sementara Mini Menor terbang tepat di belakang Sanda Kolot. Itu bagian dari siasat tempur Pasukan Domba Merah.
Saat ini Pasukan Domba Merah unggul dengan delapan penerbang dan Pasukan Beruang Biru tinggal enam orang.
Ketika Hijau Kemot, Sanda Kolot dan Mini Menor semakin saling mendekat, suasana stadion berubah hening, meski tidak hening total. Mereka terdiam tegang menunggu ketegangan pecah karena dua penerbang cantik jelita akan saling timpuk, entah siapa yang akan berubah bonyok.
“Heeeaaa!” teriak para penonton dari nada pelan yang panjang naik ke nada tinggi dan berujung teriakan, ketika ketiga penerbang itu kembali bertemu dan terjadi saling lempar.
West! Set! Dak!
“Aaak!”
“Yeaaah!”
Ketika Hijau Kemot dan Sanda Kolot siap saling melempar bola, tiba-tiba Mini Menor yang berada dekat di belakang Sanda Kolot berubah terbang lebih cepat dan menyalip rekannya ke arah Hijau Kemot.
Manuver Mini Menor itu cukup mengejutkan Hijau Kemot yang bereaksi cepat, karena Mini Menor juga datang sambil melempar bola.
Mini Menor lebih dulu melempar Hijau Kemot dengan bola. Sambil memiringkan tubuhnya menghindari bola lawan, Hijau Kemot juga melempar keras kepada Mini Menor yang melintas begitu dekat dan nyaris menabraknya.
Lemparan Mini Menor meleset, sedangkan lemparan Hijau Kemot menghantam jidat Mini Menor, membuat rekan Sanda Kolot itu menjerit kesakitan seiring tubuhnya yang terlempar jatuh dari tongkat terbangnya.
Sorak pendukung Pasukan Beruang Biru pecah meledak.
Set! Wuss!
Dan pada saat yang sama ketika saling lempar antara Hijau Kemot dan Mini Menor terjadi, Sanda Kolot juga melempar Hijau Kemot. Namun sayang, Hijau Kemot terlalu lihai meliuk bersama tongkatnya, sehingga bola hanya menyerempet giwangnya sehingga pecah dan putus.
“Mini Menor Pasukan Domba Merah guguuur!” teriak Hakim Langit kencang.
Hijau Kemot dan Sanda Kolot kembali saling menjauh. Hijau Kemot cepat terbang memutar balik untuk kembali adu lempar dengan Sanda Kolot. Namun, Sanda Kolot justru terbang terus menjauh.
Hijau Kemot tidak mau kehilangan buruan. Pikirnya, menghadapi dua penerbang saja dia bisa unggul, apalagi hanya satu. Ia pun melesat lebih cepat untuk mengejar Sanda Kolot yang terkesan kabur.
__ADS_1
Namun, Hijau Kemot harus terkejut karena Sanda Kolot terbang ke arah Jangka Kolor dan Kucang Tongol yang terbang menyongsong. Kedua penerbang lelaki itu langsung terbang memburu Hijau Kemot dengan lemparan bola-bola hijau.
Set set!
Namun, Hijau Kemot dengan lihai menghindari serangan lalu memilih menyelamatkan diri dari pengeroyokan. Dia terbang menjauh, tetapi Jangka Kolor dan Kucang Tongol cepat memburu.
“Kutil Kenyot Pasukan Beruang Biru guguuur!” teriak Hakim Langit tiba-tiba yang kembali mengejutkan Galang Ocot dan rekan-rekannya.
Penerbang Kutil Kenyot yang dikeroyok oleh Cumi Bentol dan Talang Jenglot di sisi lain, harus menyerah ketika dua bola merah menghantamnya sekaligus.
Katak Songong dan Tarik Cebong memilih melepaskan Greges Epot yang mereka buru demi membantu Hijau Kemot. Keduanya segera berbelok arah dan terbang untuk memburu Jangka Kolor dan Kucang Tongol yang mengejar Hijau Kemot.
Karena para pengejarnya pergi, Greges Epot justru berbalik ganti mengejar Katak Songong dan Tarik Cebong.
Cumi Bentol dan Talang Jenglot yang tidak ada lawan, cepat terbang pula untuk membantu Jangka Kolor dan rekan lainnya. Mereka akan mengeroyok tiga penerbang lawan.
Sementara itu, Gorong Gosong yang melihat Sanda Kolot terbang sendirian, seolah menemukan buruan empuk. Ia pun segera terbang mendatangi penerbang cantik berambut biru terang itu.
Melihat Gorong Gosong memburunya, buru-buru Sanda Kolot mempercepat terbangnya.
“Akan aku bawa kau kepada Pangeran,” ucap Sanda Kolot kepada dirinya sendiri seraya tersenyum kecil.
Sanda Kolot melihat sejenak kepada Pangeran Arda Handara. Ternyata, berkat kelihaian Galang Ocot, Arda Handara justru kembali dalam posisi jadi buruan, tetapi itu tidak membuat bocah tampan itu merasa terintimidasi. Arda Handara menikmati kemampuan hebatnya saat ini.
Sanda Kolot terus terbang sambil sesekali menengok ke belakang. ia kemudian berbelok ke arah bawah, untuk turun ke ketinggian yang setara dengan Galang Ocot dan Arda Handara. Gorong Gosong terus mengikuti dalam jarak yang belum memungkinkan untuk melempar.
Terkejut banyak orang mendengar teriakan Sanda Kolot.
Yang pertama terkejut adalah Hijau Kemot, karena teriakan itu jelas seperti pengumuman ke khalayak ramai bahwa Arda Handara adalah seorang pangeran dan kekasihnya adalah Sanda Kolot.
Yang kedua terkejut adalah Gubernur Ilang Banyol dan para istrinya. Itu sama saja kian memperberat harapannya untuk berbesan dengan seorang raja besar dari Negeri Kesatu.
Yang ketiga terkejut adalah Putri Babi-or karena itu menunjukkan bahwa sang pangeran sudah ada yang memiliki.
Yang keempat terkejut adalah para penonton karena itu adalah kabar yang mengejutkan dan menggembirakan.
Yang kelima terkejut adalah Galang Ocot karena itu berarti Arda Handara tidak akan merebut Hijau Kemot darinya. Ia justru girang dalam hati. Namun, itu tidak menyurutkan niatnya untuk menggebuk Arda Handara.
Adapun bagi Raja Titah Bang-or, itu bukanlah perkara repot. Meskipun Pangeran Arda Handara sudah beristri, itu tidak akan menghalanginya untuk menjadikan pangeran bocil itu sebagai menantu. Raja mah bebas.
Arda Handara sendiri tidak merasa terkejut dengan panggilan Sanda Kolot. Ia hanya tertawa dan justru menyahut.
“Kemarilah, Sayangku!” teriak Arda Handara pula.
Tersenyumlah Sanda Kolot dan sakit hatilah Hijau Kemot.
Dengan tersenyum lebar penuh cinta, Sanda Kolot terbang mendatangi Arda Handara yang di belakangnya mengejar Kapten Galang Ocot. Arda Handara telah menyiapkan bola merah pada ketapel Ki Ageng Naga. Jelas dia akan mengincar Gorong Gosong yang mengejar Sanda Kolot.
__ADS_1
Set!
Sebelum pertemuan Arda Handara dengan Sanda Kolot terjadi, Galang Ocot lebih dulu melesatkan bola merah bermaksud menghajar belakang kepala sang pangeran.
“Ocooot! Ada apa denganmu! Kenapa kau pintar sekali hari ini?!” teriak seorang penonton dengan begitu keras karena terlalu kesalnya.
Yang terjadi adalah bola lemparan Galang Ocot melenceng jauh dari target, seperti lemparan seorang penerbang amatir. Sampai-sampai Galang Ocot terkejut sendiri melihat hasil lemparannya.
“Kenapa lemparanku menjadi terlalu buruk? Ini adalah lemparan terburukku sepanjang sejarah. Pandangan dan gerakanku tidak sejalan,” batin Galang Ocot.
“Galang Ocot payah!”
“Penerbang kumatan!”
“Ocot ceboool!”
“Kerdil tidak berguna!”
Set!
Di saat makian-makian para pendukung menyerang Galang Ocot, dan Sanda Kolot yang bak bidadari semakin dekat, tiba-tiba Arda Handara melesat terlalu cepat karena menekan mata kepala kerbaunya.
“Belelele!” pekik terkejut Galang Ocot melihat kecepatan terbang Arda Handara yang tiba-tiba secepat lesatan bola emas.
“Belelele!” pekik Raja Titah Bang-or dan orang sekitarnya bersama para penonton, baik pendukung sendiri atau pendukung lawan.
Memang, Arda Handara baru kali ini menggunakan kecepatan tinggi level dua. Bagi yang belum tahu, mereka pasti akan terkejut melihatnya.
Arda Handara melintasi sisi Sanda Kolot laksana kilat dan tahu-tahun memelan di depan Gorong Gosong.
“Belelele!” pekik Gorong Gosong karena Arda Handara tahu-tahu telah menghadang di depannya.
Set! Dak!
Telak sekali, bola merah Arda Handara melesat menghantam hidung Gorong Gosong, membuat penerbang cebol itu langsung terlempar dengan tongkat tetap terbang sejenak. Gorong Gosong jatuh tanpa jeritan karena ia langsung tidak sadarkan diri dengan tulang hidung mungkin patah.
Set!
Kejap berikutnya, Sanda Kolot yang melintas di dekat Galang Ocot, melakukan lemparan dalam jarak dekat. Namun, Galang Ocot yang sedang tidak memegang bola, bisa cepat mengelak dengan merunduk di atas tongkatnya.
“Gorong Gosong Pasukan Beruang Biru guguuur!” teriak Hakim Langit yang membuat pendukung Pasukan Domba Merah bersorak penuh gemuruh, juga membuat pendukung Pasukan Beruang Biru kian lemas dan kecewa.
Sebagian besar pendukung Pasukan Beruang Biru sepertinya sudah yakin bahwa tim kesembilanan yang mereka cintai pasti kalah.
Setelah menumbangkan Gorong Gosong, Arda Handara terus melesat terbang. Kali ini ia terbang naik menuju ke arah pertempuran berkelompok yang mengeroyok Katak Songong, Tarik Cebong dan Hijau Kemot.
Meski terkejut melihat kelebihan tongkat Arda Handara, Galang Ocot tetap bertekad mengejar musuh bebuyutan barunya itu. Padahal dia dalam kondisi pengaruh racun ulat bulu bokong priuk, tetapi tidak dia sadari. (RH)
__ADS_1