Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pas Buyar 3: Kelompok Ronggo Keling


__ADS_3

*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*


 


“Hea hea hea!” teriak ramai penunggang kuda memasuki Kademangan Bayongan.


“Hea hea hea!”


Warga yang sedang berada di jalan harus buru-buru menyingkir jika mereka tidak ingin celaka oleh tabrak lari.


Lebih dari dua puluh orang berpakaian pendekar menunggangi kuda. Perawakan mereka berbeda-beda dengan bekal senjata berbagai ragam. Usia pun beragam karena tidak ada dua di antara mereka yang hari lahirnya janjian. Dengan jumlah wanita hanya enam orang, maka gerombolan orang berkuda itu didominasi laki-laki.


Namun, jika dinilai, terlihat kuda yang paling depan justru ditunggangi oleh seorang wanita separuh baya, seolah formasi itu berbicara bahwa wanita berpakaian ungu itulah pemimpinnya.


Wanita bersenjatakan dua pedang di punggungnya itu memiliki wajah yang khas dan akan mudah diingat. Bukan karena dia cantik atau warna bibirnya yang merah terang benderang, tetapi karena pada pipi kanannya ada tompel selebar lingkaran jari jempol dan telunjuk. Namun, sebagai pemimpin dari kelompok itu, tidak ada anak buahnya yang berani menertawakannya. Jika dia pemimpin, pastinya punya bahan yang bisa membuat anggotanya takut.


Wanita itu bernama Putri Tompel, ketua dari kelompok pembunuh bayaran Ronggo Keling.


Ronggo Keling sendiri adalah nama pemimpin kelompok itu sebelumnya, yang juga merupakan suami dari Putri Tompel. Namun, tiga tahun yang lalu, Ronggo Keling tewas terbunuh dalam sebuah misi pembunuhan. Putri Tompel kemudian didaulat sebagai ketua baru dan nama suaminya tetap melekat sebagai nama kelompok.


Ronggo Keling termasuk salah satu kelompok pembunuh bayaran yang terus berkembang menjadi besar. Tarif pesanan pembunuhan yang lumayan mahal, yang didukung pemimpinnya tidak memperkaya diri, membuat banyak pendekar yang ingin punya kekuatan dari sebuah keluarga besar ikut bergabung. Banyak pula pendekar-pendekar yang sedang mencari jati diri jadi sasaran rekrutan.


Semakin banyak anggota, maka sebuah komunitas akan semakin kuat. Itu dasar pemikiran Ronggo Keling yang diadopsi pula oleh sang istri.


Kedatangan rombongan pendekar sebanyak itu dan semuanya berkuda seperti satu pasukan, mengejutkan warga Kademangan Bayongan yang jarang didatangi para pendekar. Pasti ada perkara gawat. Itulah dugaan umum para warga.


Di pusat Kademangan, Putri Tompel memberi tanda berhenti kepada pasukannya.


“Kisanak! Ke mari!” panggil Putri Tompel agak keras kepada seorang warga muda.


“Aku, Nyai!” sahut pemuda itu dengan mimik pucat, terlihat sekali raut ketakutan pada wajahnya, tapi dia tetap datang mendekat.


“Di mana kediaman demang di sini?” tanya Putri Tompel.


“Di-di-di sana, Nyai. Yang ada po-po-pohonnya,” ucap si pemuda tergagap sambil menunjuk dengan ibu jari yang gemetar.


“Di sana banyak pohon. Pohon yang mana?” tanya Putri Tompel agak membentak, sebab tunjukan si pemuda bersifat umum ke arah sekumpulan rumah di kejauhan dan banyak pohon di sekitarnya.

__ADS_1


“Ru-ru-rumah yang pagarnya po-po-pohon kates,” jelas si pemuda.


Tanpa berkata lagi, Putri Tompel segera menggebah kudanya meninggalkan si pemuda yang juga buru-buru menjauh. Para pengikut Putri Tompel juga segera mengikuti.


Di sebuah rumah yang pagarnya adalah deretan pohon kates, Demang Bajang dan beberapa centengnya yang ada di halaman terkejut mendengar suara yang tidak biasa, yakni suara lari satu pasukan kuda.


Demang Bajang, Aji Mupung dan para centeng segera melihat ke luaran sana. Meski mereka sudah menduga suara apa yang mereka dengar, tetapi tetap saja mereka terkejut lagi saat melihat pasukan pendekar yang datang dengan jelas ke arah rumah itu.


Demi menjaga agar pagar rumahnya tidak diseruduk kuda-kuda yang berlari kencang mendekat, Demang Bajang segera keluar sampai di pintu pagar yang terbuat dari bilahan bambu. Aji Mupung ikut di sisinya dan para centeng yang berjumlah enam orang ikut di belakangnya.


Meski sudah dekat dengan tujuan, kuda-kuda itu tetap berlari kencang, seolah-olah ingin menabrak pagar rumah Demang Bajang. Sampai-sampai Demang Bajang dan anak buahnya mendelik terkejut dan bergerak cepat hendak melarikan diri.


Namun, ketika jarak sudah sangat dekat, para penunggang itu baru melakukan mengereman mendadak dengan menarik kencang tali kendali kuda.


Terciptalah pemandangan yang “wow” di depan pagar rumah Demang Bajang. Hampir semua kuda meringkik nyaring dengan gaya kedua kaki depan terangkat tinggi-tinggi. Para penunggangnya pun menunjukkan gaya tik tak-nya masing-masing. Namun sayang, momen keren itu tidak bisa diabadikan walau hanya sekedar selembar foto. Hebatnya lagi, tidak ada seekor pun kuda yang menabrak rekan sepacunya. Itu menunjukkan bahwa para pendekar itu mahir dalam berkuda.


“Apakah kau demang di sini, Kisanak?” tanya Putri Tompel agak galak tanpa senyum sedikit pun.


“Benar. Ada ….”


“Kami hanya ingin menanyakan tentang rombongan pendekar berkuda yang di dalamnya ada wanita cantik sebersih orang kerajaan,” tandas Putri Tompel yang cepat memotong kata-kata Demang Bajang. Sepertinya dia tipe wanita yang tidak suka bertele-tele. Yang tidak bertele-tele saja suka dipangkas omongannya, apalagi yang bertele-tele.


“Di mana mereka?” tanya Putri Tompel kembali memangkas ucapan Demang Bajang.


Dalam hati, Demang Bajang emosi, tetapi siapa yang berani melawan para pendekar sebanyak itu.


“Sudah pergi dua hari yang ….”


“Ke arah mana?” tanya Putri Tompel lagi dan memotong lagi.


“Sela ….”


“Hea hea hea!”


Belum selesai satu kata saja, Putri Tompel sudah menggebah pergi kudanya, tanpa mempedulikan Demang Bajang lagi.


“Hea hea hea!” teriak rombongan itu pula menggebah kuda-kudanya mengikuti pimpinannya.

__ADS_1


“Setan laut!” maki Demang Bajang dengan wajah yang benar-benar menunjukkan kemarahan, setelah rombongan itu menjauh. “Baru kali ini ada orang yang berani memotong setiap perkataanku.”


“Apakah Gusti Demang berani kepada mereka?” tanya Aji Mupung.


“Diam, kau!” bentak Demang Bajang sambil mendorong jidat Aji Mupung dengan tangan kanannya. “Aku sedang marah, kau malah membuatku tambah marah!”


“Maafkan aku, Gusti Demang,” ucap Aji Mupung.


Setelah meninggalkan Kademangan Bayongan, Putri Tompel dan rombongannya berkuda kencang menuju selatan.


Mereka harus cepat karena mereka ketinggalan jarak perjalanan selama dua hari.


Untuk menghemat waktu, mereka pun mempersingkat masa istirahat menjadi setengah dari waktu biasanya.


Perkara yang unik bagi kelompok Ronggo Keling, mereka tidak membunuh orang-orang yang tidak berkaitan dengan target yang akan dieksekusi. Mereka berpedoman pada paham bahwa membunuh itu mahal, tidak ada untungnya membunuh orang yang tidak dihargai nyawanya.


Setelah pengejaran satu hari berlalu, pada satu titik, tepat di sebuah pertigaan jalan di kaki bukit berhutan, rombongan Putri Tompel berpapasan dengan satu rombongan pendekar lain yang jumlahnya jauh lebih sedikit, yaitu sepuluh orang pendekar.


Sebagian dari mereka saling kenal karena sesama pendekar pembunuh bayaran, tapi berbeda faksi. Di dalam kelompok sepuluh pendekar yang juga berkuda itu, ada sosok Kerik Gemulai. Namun, bukan dia yang memimpin.


Pemimpin dari rombongan sepuluh adalah seorang lelaki separuh baya lebih sebelas tahun berkepala botak plontos. Perawakannya yang besar tapi tidak jangkung membuatnya secara lahiriah cocok menjadi pemimpin. Lelaki berpakaian merah gelap itu memiliki tato bibir hijau terang di dahinya. Di sabuk putihnya ada susunan logam tipis yang terselip, seperti kipas logam yang dikatup. Orang botak itu sudah ternama di kalangan pendekar bayaran karena juga memiliki kesaktian yang tinggi. Dia bernama Rowo Kejang yang berjuluk Pendekar Kipas Pisau.


Jika rombongan Putri Tompel berkuda dari arah utara, maka rombongan Rowo Kejang berkuda dari barat. Mereka bertemu di pertigaan jalan.


“Apakah kalian juga sedang mengejar Ratu Wilasin?” tanya Putri Tompel tanpa basa basi.


“Benar. Apakah ….”


“Jika ingin bergabung, ikut saja! Hea hea!” kata Putri Tompel memotong kata-kata Rowo Kejang, lalu langsung menggebah kembali kudanya melanjutkan perjalanan.


Tersulut emosi Rowo Kejang karena perkataannya dipotong begitu saja, membuat wibawanya jatuh di muka publik. Namun, kepada siapa Rowo Kejang harus marah jika Putri Tompel sudah melesat lebih dulu.


Rowo Kejang memilih mengikuti kelompok Ronggo Keling di belakang. Kesembilan pendekar lainnya juga ikut. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bantu Like dan Komen Karya Baru Author!

__ADS_1



__ADS_2