
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Dengan menggunakan kuda-kuda berkualitas terbaik, Senopati Beling Tuwak bersama lima belas prajurit terbaiknya terus menunggangi kuda siang dan malam. Tentunya juga memerhatikan istirahat bagi kuda. Durasi waktu istirahat ditakar dengan ketat. Suplemen vitamin dan pakar urut kuda wajib dibawa.
“Serahkan urusan pengkhianat itu kepadaku, Adi Senopati,” kata Mahapatih Duri Manggala kepada Senopati Beling Tuwak menjelang keberangkatan mengejar Ratu Wilasin.
Pernyataan Mahapatih Duri Manggala bisa membuat Senopati Beling Tuwak tenang dan fokus kepada misi pengejaran.
Di hari itu, ketika mereka usai melintasi daerah perbukitan, mereka bertemu dengan satu rombongan berkuda sejumlah dua puluh satu prajurit berkuda. Para prajurit berkuda itu berseragam biru dan bersenjatakan pedang.
“Gusti, sepertinya di depan sana adalah rombongan Pasukan Pengawal Ratu,” kata prajurit yang berkuda kencang di sisi kanan kuda Senopati Beling Tuwak.
Sementara itu, rombongan pasukan yang memang dipimpin oleh Komandan Kumbang Draga, menengok ke belakang saat mendengar ada suara lari rombongan kuda di sisi belakang mereka. Mereka melihat serombongan pasukan berkuda yang ditunggangi para prajurit berseragam biru putih, tapi berbeda model dengan seragam mereka.
Komandan Kumbang Draga agak terkejut ketika melihat bendera kecil yang terpasang di salah satu punggung prajurit pasukan di belakang itu. Bendera kecil berwarna jingga itu bergambar sketsa wajah macan hitam yang mingkem.
“Senopati Beling Tuwak?” ucap Komandan Kumbang Draga lirih kepada dirinya sendiri. “Apakah dia mengejarku atau ikut mengejar Ratu Wilasin?”
Namun, sebelum pasukan Senopati Beling Tuwak menyusul, Komandan Kumbang Draga memutuskan menghentikan lari kudanya dan memberi tanda kepada dua puluh prajurit pasukannya agar berhenti juga.
Pasukan Pengawal Ratu pun berhenti.
Melihat pasukan pimpinan Kumbang Draga berhenti, Senopati Beling Tuwak pun mengangkat tangannya dengan tanda agar pasukannya memelankan laju kudanya.
Hingga akhirnya, pasukan Senopati Beling Tuwak sampai di sisi Pasukan Pengawal Ratu. Senopati Beling Tuwak menghentikan lari kudanya, membuat kelima belas prajuritnya juga berhenti.
“Senopati, siapa yang kau kejar?” tanya Komandan Kumbang Draga lebih dulu.
“Aku mengejar Gusti Ratu,” jawab Senopati Beling Tuwak jujur.
“Berarti kita searah,” kata Kumbang Draga.
“Benar. Tapi, apakah pasukanmu bisa secepat kami?” tanya Beling Tuwak.
“Pasti bisa,” jawab Kumbang Draga.
__ADS_1
“Ayo! Hea hea hea!”
Beling Tuwak yang lebih dulu menggebah kembali kudanya dan melesat lebih dulu. Pasukannya segera mengikuti.
Kumbang Draga memandang tajam kepergian pasukan Beling Tuwak. Itu bukan pandangan jatuh cinta, tapi pandangan jahat.
“Hea hea!” gebah Kumbang Draga kemudian, menyusul rombongan Senopati.
Pasukan Pengawal Ratu pun mengikuti kepergian pasukan Senopati Beling Tuwak.
Dua rombongan itu terus berkuda menuju Kota Bandakawen. Namun, sebelum mereka tiba di kota pelabuhan itu, mereka sudah dihadang oleh malam hari. Mereka mau tidak mau harus bermalam di sebuah tepian sungai.
Di tempat peristirahatan, Beling Tuwak dan Kumbang Draga berbincang secara wajar, seperti tidak ada perkara muslihat di dalam hati masing-masing. Tidak ada sikap atau kalimat-kalimat yang menunjukkan kecurigaan satu sama lain.
Barulah ketika malam kian larut, kedua punggawa beristirahat dalam kelompok pasukannya masing-masing.
Senopati Beling Tuwak beristirahat di tanah berumput yang dekat dengan onggokan batu-baut besar di pinggir sungai. Suara aliran air sangat terdengar oleh pendengarannya dan sejumlah pasukannya, tetapi lelah tubuh membuat mereka mudah terlelap.
Tidak ada satu pun prajurit dari pasukan Senopati Beling Tuwak yang berjaga. Hal itu karena Kumbang Draga sudah memberi jaminan keamanan.
“Baiklah, Komandan,” ucap Senopati Beling Tuwak.
Modal itulah yang membuat Senopati dan pasukannya bisa beristirahat dengan tenang di bawah penerangan dua tiang obor.
Namun, pada dasarnya Komandan Kumbang Draga adalah orang licik yang sudah bermain muslihat sejak beberapa pekan, bukan sejak kecil. Ia dan pasukannya memang penjamin keamanan di malam itu, tetapi dia pula yang menjadi makhluk jahatnya.
Setelah meyakini bahwa Senopati dan kelima belas prajuritnya sudah terlelap pulas, di dalam senyap Kumbang Draga memimpin pergerakan. Ia dan sebagian pasukannya bergerak mengendap-endap mendekati posisi Beling Tuwak. Pedang-pedang mereka sudah terhunus tanpa bicara di tangan-tangan mereka.
Untuk menghindari keterbangunan Beling Tuwak karena mendengar suara langkah kaki meski sangat halus, Kumbang Draga memberi tanda kepada pasukannya agar berhenti dalam jarak beberapa tombak dari posisi tidur Senopati dan anak buahnya. Hanya Kumbang Draga yang melangkah mendekat tanpa suara. Ia mengerahkan ilmu peringan tubuhnya agar sentuhan kakinya pada rerumputan tidak bersuara, seperti hati ketika sedang berbicara.
Pelan-pelan Kumbang Draga mendekati Beling Tuwak. Ketika jaraknya tinggal dua tombak, ia menahan napas agar pergerakannya benar-benar tanpa suara.
Set!
Dan ketika jarak tinggal satu tombak dari tubuh Beling Tuwak yang tidur dengan posisi miring menghadap kepadanya, Kumbang Draga memilih berhenti dan melesatkan pedangnya.
__ADS_1
Ting!
Tiba-tiba satu tangan Beling Tuwak bergerak keluar dari bawah badannya dan sudah menggenggam sebilah keris. Keris itu langsung menangkis pedang yang mengincar batang leher. Seiring itu, sepasang mata sang senopati terbuka lebar.
“Setan!” maki Kumbang Draga terkejut karena dia langsung menyimpulkan bahwa sebenarnya dia sudah terendus oleh Beling Tuwak.
Tiba-tiba semua prajurit yang dalam posisi terbaring, berlompatan bangkit dengan tangan sudah menghunus pedang pula. Suara peraduan bilah pedang dan keris seolah-olah menjadi lonceng komando bagi para prajurit yang aslinya hanya pura-pura tidur.
“Serang!” teriak Kumbang Draga cepat.
“Hiaaat!” teriak sepuluh prajurit yang ikut mengendap bersama Kumbang Draga. Mereka serentak berlari menyerang pasukan Senopati.
Meski berposisi sebagai pihak yang diserang, tetapi pihak Senopati sudah mempersiapkan mental dan pedang yang diselipkan di bawah badan.
Pertarungan antarprajurit pun terjadi. Sepuluh lawan lima belas prajurit. Jumlah personel jelas merugikan bagi anak buah Kumbang Draga yang lebih sedikit.
Meski para prajurit Pasukan Pengawal Ratu adalah prajurit level tinggi, tetapi prajurit yang dibawa oleh Senopati Beling Tuwak adalah yang terbaik dari ribuan prajurit perang. Dalam waktu singkat, prajurit anak buah Senopati bisa menumbangkan separuh dari para penyerang, hingga kemudian bantuan sepuluh prajurit Pengawal Ratu yang berjaga di tempat agak jauh datang ikut menyerang kelompok Senopati.
Di saat para prajurit dua pasukan saling bakutusuk, kedua punggawa pasukan pun saling berhadapan.
Tang ting ting! Tang ting ting!
Seperti itulah bunyi irama peraduan pedang para prajurit.
“Akk! Akh! Hekr …!”
Suara jerit kesakitan diteriakkan susul-menyusul seiring tubuh yang tersayat dan tertusuk pedang, atau juga terpenggal pedang.
Lima belas lawan lima belas prajurit memang seimbang, tetapi prajurit bawahan Senopati Beling Tuwak harus diakui lebih unggul dalam pertarungan. Terbukti, ketika semua prajurit Pasukan Pengawal Ratu gugur semua, anak buah Senopati masih tersisa sembilan orang, dengan rincian empat terluka dan lima masih segar bugar.
Kumbang Draga hanya bisa mendelik marah karena pasukannya dengan tega meninggalkannya seorang diri. Apa hendak dikata, demikianlah faktanya. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Curhat dong, Maaak: Belakangan Author sulit kejar 2 bab sehari. Mohon maaf kepada Readers yg jadi lama menunggu. 😥😥🙏🙏
__ADS_1