Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Cumi 26: Di Kamar Adipati


__ADS_3

*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*


Setelah selesai melampiaskan hasrat seksual ronde pertamanya, Adipati Kuritan jadi uring-uringan. Meski enak, tapi perasaannya tidak bahagia. Gangguan dua “anak setan” di saat dia sedang berpacu dalam asmara, sangat mengganggu pikirannya. Maka, untuk mengobati kegundahannya, ia harus segera berkerbau dengan wanita cantik yang menjadi tamu di perguruan itu.


Maka diutuslah salah satu pengawalnya yang bernama Suragawa untuk menagih kepada Ketua Dua.


Ternyata Tolak Berang masih berkumpul bersama para petinggi perguruan di pendapa. Dia sedang bimbang, apakah harus memenuhi permintaan Adipati Kuritan atau tidak.


“Aku berat memenuhi permintaan anak itu. Bagaimana mungkin seorang tamu aku sodorkan begitu saja seperti menyodorkan seorang pelacur kepada anak itu?” ujar Tolak Berang kepada para petinggi perguruan yang lebih dari sepuluh orang, termasuk di sana ada Guna Wetong yang hanya menyimak.


“Namun, jika Ketua Dua tidak memenuhi permintaan Gusti Adipati, selain kedudukan sebagai Ketua Dua terancam, perguruan ini akan terancam diputus pasokan makanan dan uangnya,” kata salah satu petinggi perguruan.


“Benar, lebih baik kita korbankan tamu asing itu demi kelangsungan hidup perguruan kita. Jika mereka berani melawan, jumlah mereka hanya beberapa orang saja dibandingkan jumlah kita yang ratusan,” kata petinggi yang lain.


Garda Tadapan yang juga turut hadir, berusaha sumbang suara untuk mengingatkan Tolak Berang.


“Lebih baik jangan Paman lakukan. Tamu kita itu adalah pendekar terhormat,” kata Garda Tadapan.


“Kau tidak berhak bersuara, Garda!” hardik Tolak Berang. Saat ini dia masih marah kepada Garda Tadapan karena telah menghilangkan pusaka Cambuk Usus Bumi.


Maka terdiamlah Garda Tadapan. Ia hanya bisa melirik kepada Guna Wetong yang hanya balas memandang tanpa memberi saran apa pun, baik dengan kata-kata ataupun dengan isyarat bahasa tubuh. Dan Tolak Berang pun pastinya tidak akan mendengarkan peringatan darinya.


Kemudian datanglah Suragawa, murid senior perguruan yang direkrut oleh Adipati Kuritan untuk menjadi pengawal pribadinya. Suragawa dan Deming Joyo adalah sahabat kental Adipati Kuritan.


“Maaf, Ketua Dua. Gusti Adipati sudah tidak sabar ingin didatangkan wanita cantik itu,” ucap Suragawa santun, bagaimanapun Ketua Dua salah satu guru yang pernah mengajarinya selama di perguruan.


“Garda Tadapan, pergilah temui wanita itu dan minta dirinya untuk datang ke kamar Gusti Adipati. Kau yang lebih mengenalnya,” perintah Tolak Berang melempar bebannya kepada Garda Tadapan.


Pemuda bertongkat itu terkejut mendapat perintah itu. Ia segera memandang para petinggi satu per satu, termasuk kepada Guna Wetong.


Di saat para petinggi tidak memberi saran apa-apa, Guna Wetong secara samar memberi kode kedipan mata, bukan bermaksud genit, tetapi menyuruh Garda Tadapan patuh.


“Baik, aku akan menyampaikannya,” jawab Garda Tadapan setelah terdiam beberapa saat.


“Pergilah ke rumahku dan temui wanita itu!” perintah Tolak Berang lagi.


“Baik, Ketua,” ucap Garda Tadapan tanpa berpikir lagi.


Garda Tadapan lalu pergi meninggalkan para petinggi itu. Tanpa dikawal siapa pun, pemuda itu pergi tertatih menuju rumah Ketua Dua.


“Satu lagi, Ketua,” ujar Suragawa kepada Tolak Berang. “Gusti Adipati menanyakan anak siapa yang suka berkeliaran bebas.”


“Oh, itu pasti anakku yang terkecil,” jawab Tolak Berang yakin. “Ada apa dengan putriku?”


“Tidak mengapa, Ketua. Gusti Adipati hanya bertemu dengannya barusan,” kata Suragawa.


Sementara itu di rumah Tolak Berang, Lunar Maya sedang menjamu tamu-tamunya dengan banyak hidangan. Namun, di antara tamu itu tidak terlihat keberadaan Bewe Sereng dan Arda Handara.


“Sore hingga malam nanti, para ketua dan pejabat perguruan akan merundingkan siapa yang layak untuk menempati kedudukan Ketua Satu. Barulah besok pengukuhannya, Dewi,” ujar Lunar Maya kepada Dewi Ara.


“Kami sedang dalam perjalanan ke sebuah negeri yang jauh. Namun, karena kami mencurigai kelompok yang membunuh Pendekar Cambuk Enam adalah orang-orang yang menjadi musuh kami, maka kami terpaksa menumpang bermalam di perguruan ini,” kata Dewi Ara yang hanya memilih minum air.


Sementara Tikam Ginting, Lentera Pyar dan Setya Gogol sibuk makan. Di belakang Lunar Maya siap empat orang pelayan wanita.

__ADS_1


“Izinkan aku menghadap, Dewi!”


Tiba-tiba terdengar seruan Garda Tadapan dari pintu depan yang dijaga oleh dua orang murid perguruan.


Mereka serentak mengalihkan perhatiannya kepada Garda Tadapan.


“Masuklah, Garda!” perintah Dewi Ara.


Garda pun masuk beberapa langkah ke ruang depan, tempat Dewi Ara dan yang lainnya duduk bersantap. Garda Tadapan segera turun berlutut menjura hormat sangat dalam. Padahal Dewi Ara telah melarangnya bersikap seperti itu selama di perguruan tersebut.


Tindakan Garda Tadapan itu membuat Lunar Maya kerutkan kening. Ia heran melihat Garda Tadapan begitu hormat kepada Dewi Ara.


“Ampuni hamba, Dewi. Ampuni hamba!” ucap Garda Tadapan seperti orang yang begitu bersalah kepada Dewi Ara.


“Ada apa?” tanya Dewi Ara dingin.


“Adipati Kuritan … menginginkan Dewi datang ke kamarnya,” jawab Garda Tadapan tanpa berani mengangkat wajahnya sedikit pun.


Mendengar itu, kompak ketiga abdi Dewi Ara mendelik dan menunjukkan reaksi marah. Namun, Dewi Ara segera memberi isyarat tangan agar ketiga abdinya itu diam dan tenang.


“Siapa yang memerintahkanmu?” tanya Dewi Ara tetap tenang, seolah ia tidak terganggu mendengar permintaan itu.


“Adipati memintanya kepada Ketua Dua. Ketua Dua kemudian memerintah aku yang menyampaikan permintaan ini kepada Dewi,” jawab Garda Tadapan dengan perasaan ngeri-ngeri ngilu.


“Antarkan aku kepadanya!” perintah Dewi Ara.


“Tapi Dewi …,” ucap Tikam Ginting, Lentera Pyar dan Setya Gogol bersamaan.


“Apakah kalian meragukanku?” tanya Dewi Ara dengan tatapan dingin menusuk kepada ketiga abdinya itu.


Lunar Maya hanya terdiam menyaksikan drama kecil itu. Apa yang disaksikannya membuatnya menaruh tanda tanya yang menciptakan kecurigaan.


“Sepertinya Dewi Ara ini bukan sekedar seorang pendekar,” batin Lunar Maya.


“Tapi, Dewi. Adipati Kuritan ini sangat suka memperkosa wanita,” kata Garda Tadapan keberatan. Kali ini ia berani mengangkat wajahnya demi agar Dewi Ara menolak.


Namun, Dewi Ara sudah berdiri.


“Antar aku ke kamar Adipati!” perintah Dewi Ara.


“Tapi, Dewi …,” ucap Garda Tadapan sangat berat hati.


Dewi Ara sudah melangkah keluar. Buru-buru Garda Tadapan bangkit dan dengan tertatih mengejar langkah wanita cantik itu.


“Siapa Adipati Kuritan itu?” tanya Dewi Ara kepada Garda Tadapan yang berjalan repot dengan tongkatnya di sisi kanan.


“Dia putra mendiang Ketua Satu. Kedudukan ayahnya sebagai menteri di Istana membuatnya mudah menjadi seorang adipati. Namun, kelakuannya sangat bejat dan binatang. Setiap wanita cantik yang ditaksirnya selalu digagahi, tidak peduli meski wanita itu sudah bersuami. Bahkan banyak wanita yang dibunuhnya karena menolak melayaninya,” tutur Garda Tadapan.


“Jika demikian, mungkin sudah waktunya dia berhenti,” kata Dewi Ara yang membuat Garda Tadapan jadi mengerti, kenapa permaisuri itu mau memenuhi permintaan lancang Adipati Kuritan.


Untuk sampai ke kamar Adipati Kuritan, harus melalui sebuah koridor yang cukup lebar di bangunan panggung pendek itu. Kali ini, pintu masuk koridor dijaga oleh beberapa prajurit, termasuk Suragawa dan Deming Joyo.


Melihat kedatangan Dewi Ara mendekati mereka, para prajurit itu ternganga, terutama Suragawa dan Deming Joyo yang juga dua lelaki yang hobi mendaki gunung dan menjelajahi lembah.

__ADS_1


Deming Joyo cepat menelan air liurnya setelah tersadar dari keterpanaannya. Ia tidak mau terlihat seperti orang bego di depan wanita secantik dewi kahyangan itu.


“Gila, beruntung setan Gusti Adipati mendapat wanita secantik ini,” kata Deming Joyo berbisik kepada Suragawa.


“Berdoalah, semoga kita bisa mendapat sisanya,” bisik Suragawa.


Panas sebenarnya telinga Dewi Ara mendengar bisik-bisik dua lelaki mesum itu. Kesaktiannya yang tinggi membuat Dewi Ara bisa mendengar dengan jelas apa yang dibahas oleh Sugarawa dan Deming Joyo. Jangankan ucapan mereka, suara detak jantung mereka pun bisa terdengar oleh wanita yang berusia ribuan tahun itu. Jangan tanya bagaimana bisa Dewi Ara memiliki usia ribuan tahun.


“Wanita yang diminta oleh Gusti Adipati ingin menghadap,” ujar Garda Tadapan kepada para prajurit itu.


“Tunggu, aku akan sampaikan kepada Gusti Adipati,” sahut Deming Joyo. Ia bergegas pergi menyusuri koridor menuju kamar sang adipati.


Singkat cerita, Deming Joyo telah kembali dari kamar sang adipati. Namun, kali ini dia berjalan mengawal Curiasa, istri Adipati Kuritan.


Sejak bisa melihat keberadaan Dewi Ara, Curiasa selalu menatap Dewi Ara yang diam dalam ketenangannya. Dewi Ara bukanlah wanita yang pandai bermain ekspresi.


“Silakan, Nisanak. Pergilah ke satu-satunya kamar yang ada di dalam. Gusti Adipati sudah menunggumu,” kata Deming Joyo.


“Baik,” ucap Dewi Ara.


Dengan tenangnya Dewi Ara naik dan melangkah menyusuri lantai papan menuju ke kamar Adipati Kuritan.


“Aku merasa tidak enak dengan sifat wanita itu,” ucap Curiasa kepada Deming Joyo.


“Itu karena Gusti cemburu saja, karena wanita itu terlalu cantik,” kata Deming Joyo.


“Sepertinya seperti itu,” kata Curiasa.


Sementara itu, Garda Tadapan berbalik pergi. Kepergiannya tidak digubris oleh para prajurit kadipaten itu.


Di dalam kamarnya, yang pintunya terbuka lebar, Adipati Kuritan terdiam terpana dengan mulut agak ternganga, ketika seorang wanita muda lagi cantik jelita muncul berdiri di depan pintu kamarnya. Sikap Adipati Kuritan yang begitu terpukau, perlahan tersenyum dengan tatapan mesum. Sangat jelas pandangan matanya mencoba menelanjangi sosok Dewi Ara dari ujung kaki hingga ke atas kepala. Ketika berjalan, pandangan itu sempat berhenti sejenak pada bagian bawah perut dan dada Dewi Ara.


“Hahaha! Masuklah, Bidadari!” perintah Adipati Kuritan sambil tertawa pelan tapi kental nuansa kegirangan.


Saat itu, Adipati Kuritan dalam kondisi berpakaian lengkap, setelah belum lama usai main polos-polosan bersama istrinya.


Tanpa menjawab, Dewi Ara melangkah masuk ke dalam kamar dan berhenti dalam jarak satu tombak dari sang adipati.


Brak!


Adipati Kuritan menggerakkan sedikit tangan kanannya. Tiba-tiba pintu yang terbuka tertutup sendiri.


“Namamu siapa, Bidadari?” tanya Adipati Kuritan lembut, tapi senyumnya seperti setan yang sudah tidak sabar ingin membajak sawah.


“Dewi Ara. Apa yang Gusti Adipati inginkan dariku?” jawab Dewi Ara lalu balik bertanya.


“Hahaha! Aku memilihmu untuk mendapat kenikmatan dari keperkasaanku. Apakah kau ingin menanggalkan sendiri pakaianmu atau kau perlu bantuanku, Dewi?”


Prats!


“Hah!” pekik Adipati Kuritan terkejut bukan main, ketika tiba-tiba seluruh pakaiannya melesat ke segala penjuru dalam wujud robekan-robekan.


Kini Adipati Kuritan mendapati dirinya berdiri dalam kondisi bugil tanpa sehelai benang pun. Kesenangannya seketika raib dan berubah ketegangan, termasuk “adipati kecil” yang memang sudah tegang dari tadi karena pengaruh obat kuat.

__ADS_1


Sementara Dewi Ara menatap dingin tanpa ekspresi kepada Adipati Kuritan yang kini berdiri bugil dan bingung harus senang atau takut. (RH)


__ADS_2