Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 22: Dua Ilmu Dewi Bunga


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


“Ketua, apakah kau tidak mau cari muka di depan Gusti Permaisuri?” tanya Segaris Ayu kepada Genggam Garam yang menikmati menonton huru-hara di pelabuhan, sambil minum kopi Pembajak No.1 di dalam kegelapan di atas Kapal Bintang Emas.


“Apa maksudmu, Ayu?” tanya Genggam Garam.


“Lihat, semua anggota Bajak Laut Malam turun tangan dan bahkan bertarung bertaruh nyawa di pelabauhan. Jika Ketua tidak setor muka dan hanya minum kopi hitam, Gusti Permaisuri bisa-bisa akan memandang rendah Ketua. Percuma jadi ketua jika hanya minum kopi di saat anak buah minum air laut,” kata Segaris Ayu.


“Ah, kau mengganggu masa santaiku saja, Ayu,” gerutu Genggam Garam, lalu berhenti sejenak untuk menghabiskan kopinya. Kemudian katanya lagi, “Menurutmu, apa yang harus aku lakukan?”


“Habisi saja prajurit-prajurit kecil itu, yang penting terlihat hebat. Ingat, Gusti Permaisuri akan menguasai kerajaan negeri ini. Mungkin saja Ketua akan diberi jabatan sebagai kepala desa atau kepala menteri,” kata Segaris Ayu terus memprovokasi pimpinannya itu.


Wanita yang memiliki segaris kecantikan itu sebenarnya tidak sepakat jika semua rekannya berjuang hingga ada yang mati, sementara mereka berdua hanya menonton seperti tidak punya peran akting.


“Ketua adalah pekerja keras, malam berjuang di laut, siang membajak di sawah, di hari libur membajak janda. Bagaimana bisa dalam kondisi seperti ini tiba-tiba menjadi raja malas dadakan? Dewi Centing bisa murka,” kata Segaris Ayu lagi.


 Terbeliak Genggam Garam diingatkan nama Dewi Centing.


“Iya iya iya.” Genggam Garam manggut-manggut.


Dia lalu berdiri dan menghadap ke langit timur yang sudah memutih.


“Puji Dewi Centing,” ucapnya lirih sambil menarik napas panjang. Lalu ia pun menyempatkan diri bersyair, “Langit timur telah memutih, cahaya pelabuhan telah memerah, sudah waktunya penguasa laut menggulung letih, terjun bertempur menggelar amarah.”


“Cantiiik!” ucap Segaris Ayu menyambut syair Genggam Garam.


“Ayo, Cantik. Kita hajar para penjahat lautan itu!” ajak Genggam Garam yang tidak sadar bahwa dia pun penjahat lautan.


“Ayo, Ketuaku yang perkasa!” sahut Segaris Ayu semangat pula.


“Hmm!” gumam Genggam Garam sambil mencolek dagu Segaris Ayu, membuat wanita matang itu tersenyum semanis jeruk layu.


Genggam Garam lalu meninggalkan Kapal Bintang Emas dengan melompat ke laut dan berlari di atas permukaan air. Sementara Segaris Ayu melompat terjun ke air lalu berenang seperti ikan lumba-lumba.


Di pelabuhan.


Dewi Ara terpental oleh ledakan dua panah hitam. Tubuhnya menuju ke air. Namun, keempat lawannya harus kecele karena tubuh permaisuri itu berhenti meluncur menuju air. Tubuh Dewi Ara berhenti dan melayang di udara, di atas air.


Sementara kedua tangannya masing-masing telah menggenggam sebatang tombak sinar biru.

__ADS_1


Sets! Sets!


Dewi Ara melemparkan kedua Tombak Algojo-nya. Target lemparannya adalah Liliur Poi dan Cemuyu Angi yang baru saja bangkit dari jatuhnya.


Sepertinya Dewi Ara memiliki sentimen terhadap kedua wanita itu sehingga targetnya memilih lawan wanitanya. Apakah dia cemburu? Apa dasarnya?


Istri Laksamana Galala Lio dan kekasih Waring Cin itu cepat melompat mengudara menghindar. Mereka memiliki kecepatan yang tinggi.


Wurss! Set!


Pada saat yang sama, Laksamana Galala Lio melesatkan kembali panah hitam dan Waring Cin melepaskan pusaran sinar merah seperti wujud angin puyuh versi mini.


Jess!


Kali ini Dewi Ara tidak malas bergerak. Dia melesat dengan tubuh berputar cepat di udara mengelaki panah hitam dan gelombang pusaran sinar merah yang berdiameter setengah depa. Dewi Ara mengelak dengan melesat ke depan lalu mendaratkan ujung kaki kanannya ke lantai pelabuhan.


Dari sentuhan ujung kaki itu muncullah gelombang sinar hijau melesat cepat dan melebar, seolah melakukan pengecatan terhadap lantai pelabuhan dan apa yang ada di atasnya.


Laksamana Galala Lio dan Waring Cin cepat melompat tinggi mengudara. Mereka bisa menebak seperti apa cara kerja sinar hijau yang menjalar itu.


Namun, sepertinya nahas bagi kedua pasangan mereka yang baru saja menghindari Tombak Algojo. Lilur Poi dan Cemuyu Angi justru bergerak turun pada saat Dewi Ara melepaskan ilmu Dewi Bunga Dua.


Wuss! Sets! Bluar!


Liliur Poi melepaskan angin pukulan yang kemudian angin itu berbalik mendorong tubuhnya kembali ke atas. Sementara Cemuyu Angi melesatkan sinar merah berpijar yang kemudian meledak keras menghancurkan lantai pelabuhan.


Sluff! Sluff! Bress! Bress!


“Akk!” jerit Liliur Poi untuk yang terakhir.


“Aakk!” jerit Cemuyu Angi untuk yang terakhir pula.


“Poiii!” teriak Laksamana Galala Lai histeris dari udara menyaksikan kematian istrinya yang mengerikan.


“Bebekkuuu!” teriak Waring Cin pula yang dilanda kehancuran perasaan sehancur duka sang laksamana. Jika Laksamana menjadi duda saat itu juga, maka Waring Cin menjadi duda praijab.


Meski angin pukulan Liliur Poi dan ledakan ilmu Cemuyu Angi bisa mendorong tubuh keduanya naik kembali, tetapi telat. Posisi tubuh mereka sudah lebih dulu terdeteksi oleh sifat ilmu Bunga Dewi Dua, membuat melesatnya sinar hijau ke atas tanpa putus dalam wujud seperti terompet. Sinar itu langsung menjerat kaki kedua wanita tersebut. Saat itu juga, tubuh keduanya hancur dibakar oleh api hijau yang proses bakarnya begitu cepat.


Mengerikan, dalam setarikan napas saja, pakaian, kulit dan daging tubuh Liliur Poi dan Cemuyu Angi terbakar habis.

__ADS_1


Masih untung bagi Galala Lio dan Waring Cin yang bisa menjauhi sinar hijau itu dengan cepat sehingga posisi tubuhnya lepas dari deteksi.


Ketika lapisan sinar hijau yang luas itu hilang, maka kedua wanita itu jatuh dalam kondisi tinggal tulang-belulang berlapis daging hangus berbau sangit.


“Poiii!” teriak Galala Lio lagi ketika mendarat. Dia langsung mendatangi tulang belulang istrinya, tapi tanpa bisa memeganginya karena masih begitu panas.


“Bebekkuuu!” teriak Waring Cin dengan menyebut panggilan kesayangannya kepada kekasihnya.


Kematian kedua wanita itu benar-benar menghancurkan perasaan kedua lelaki perkasa itu, yang tidak hanya perkasa di medan tarung, tapi juga di medan yang lain. Itu juga memunculkan kemurkaan dan dendam yang tinggi.


Kompak keduanya memandang kepada Dewi Ara yang berdiri dengan penuh kedinginan.


“Wanita Ibliiis!” maki Galala Lio murka. Kemudian dia berteriak sangat keras, “Hiaaat!”


Pserrss!


Tubuh Galala Lio yang mengejang memerah tiba-tiba diliputi sinar hijau gelap. Kini, tidak terlihat satu anggota tubuh pun dari Galala Lio. Yang terlihat hanyalah makhluk sinar hijau.


Sets! Zess!


Dengan entengnya Dewi Ara melesatkan tombak sinar birunya dan mengenai sosok Galala Lio. Namun, ilmu hebat Dewi Ara itu justru musnah dan hanya membuat sosok sang laksamana terdorong setindak.


Dag dag dag …!


Kemudian Dewi Ara melepaskan lima hantaman kekuatan Tatapan Ratu Tabir. Tubuh Galala Lio terhentak-hentak sebanyak lima kali yang memaksanya jatuh terjengkang. Namun kemudian, Galala Lio cepat bergerak bangkit tanpa menderita luka serius.


Wurss!


Sementara itu, Waring Cin masih mengandalkan ilmu yang sama, yakni pusaran sinar merah yang mencoba menyentuh sosok Dewi Ara.


Dewi Ara telah siap. Sepasang lengannya sudah diliputi oleh sinar biru bercampur warna putih.


Zwerss! Bresss!


Sebelum ujung pusaran sinar merah mencapai target, Dewi Ara telah mengayunkan kedua lengannya.


Maka, lima sinar biru putih berwujud piringan mata gergaji raksasa melesat cepat pada lima garis lurus. Kelimanya melesat dalam posisi tegak. Dua dari lima sinar biru putih itu menabrak pusaran sinar merah dan membelahnya sekaligus memusnahkannya dari ujung ke pangkal.


Waring Cin terkejut melihat kedahsyatan lima piringan sinar yang tingginya lebih tinggi dari kepalanya itu, bisa menghancurkan kekuatan ilmu pamungkasnya.

__ADS_1


Ia pun cepat melesat untuk menghindar. Namun, lebarnya formasi lima piringan itu dan tingginya kecepatan, membuat Waring Cin tidak luput dari sambaran dua gergaji sinar. Tak ayal, pendekar itu terbagi tiga, bukan hatinya yang terbagi tiga, tetapi tubuhnya.


Galala Lio hanya mendelik di balik sinar hijaunya melihat keganasan ilmu Dewi Bunga Tiga. Namun, dia masih yakin dengan kesaktiannya yang saat ini dia kerahkan. (RH)


__ADS_2